
Pak surya tampak bingung mendengar pertanyaan beruntun dari Aldrin. "Saya tidak tahu Tuan, Satpam kita yang menerima paket tadi," jawabnya.
Aldrin bergegas lari meninggalkan kepala asisten menuju halaman rumah tepatnya pos dekat pintu gerbang rumahnya. Ia mendatangi satpam setempat dan mengulang pertanyaan yang sama ia tanyakan pada kepala asisten.
"Tolong katakan siapa yang ngirim biola itu? Siapa namanya? Bagaimana ciri-cirinya?" desak Aldrin dengan mata berbinar.
"Tuan, saya enggak ingat jelas siapa pengirim biola itu. Yang saya tahu, dia laki-laki berjas rapi, terus ... pake mobil mewah. Dia cuma bilang biola itu untuk Tuan. Habis itu langsung pergi," jelas satpam.
Aldrin tampak bingung. Seorang laki-laki berjas rapi dan bermobil mewah? Apakah itu ayahnya? Tidak! Ayahnya hanyalah orang biasa. Seharusnya satpam mengatakan jika orang itu berpakaian lusuh, bukan?
Tidak lama kemudian sebuah mobil masuk ke dalam rumah melewati dirinya. Rupanya Tuan Adam dan Zaki baru saja pulang dari Singapura. Aldrin melihat ayahnya yang masuk ke dalam rumah bersama Zaki. Ia segera menyusul mereka.
"Ayah," panggil Aldrin.
Tuan Adam menoleh dan melihat Aldrin berdiri dengan wajah penyesalan. Mereka lalu masuk ke dalam ruang kerja Tuan Adam.
"Ayah, maafin aku atas kejadian waktu itu," ucap Aldrin menunduk.
"Jangan meminta maaf untuk mengulang kesalahan yang sama lagi," tegas Adam.
Aldrin terdiam. Ia masih menunduk dan tidak mampu untuk menatap wajah ayah sambungnya.
"Ambillah ini!" perintah Tuan Adam.
Aldrin menatap Tuan Adam dan melihat sebuah buku tebal yang diberikan pria tua itu padanya.
"Ini buku ilmu dasar perusahaan. Ambil dan pelajarilah. Besok kamu sudah masuk sekolahkan? Itu artinya masa magangmu sudah berakhir. Kamu hanya bisa pelajari buku itu di waktu senggang," jelas Tuan Adam.
"Ayah ... aku ingin jadi pemain biola saja!"
Adam mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Aldrin.
"Maafin aku Ayah. Setelah aku pikir-pikir, napasku ada di dalam musik. Bakatku memainkan biola. Sama seperti Naufal yang ingin menjadi dokter, aku juga memilih untuk menjadi pemain biola saja. Tolong masukkan aku ke kumpulan violinis Indonesia, aku ingin menjadi pemain biola profesional yang suatu hari bisa mengadakan konser tunggal," pinta Aldrin.
Adam mendengar pernyataan Aldrin dengan seksama. "Baiklah, bukankah dulu aku pernah menawarimu untuk sekolah musik di Los Angeles? "
"Aku ... aku ingin di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusanku," ucapnya penuh permohonan.
Aldrin memberanikan diri menatap wajah ayahnya. Mata mereka saling bertukar. Tuan Adam tersenyum dan mengangguk. Aldrin ikut tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada ayah sambungnya itu.
Bukankah beliau terlalu baik padanya? Untuk kesekian kalinya, pria itu membuka tangannya untuk Aldrin. Untuk kesekian kalinya, pria itu menarik Aldrin dari jurang yang hendak menelannya.
Ini sudah terlalu banyak! Sangat banyak! Sudah terlalu sering ia berikan maaf dan juga pertolongan untuk anak yang pikirannya masih labil itu.
Aldrin keluar dari ruangan Tuan Adam menuju kamarnya. Ia kembali menatap biola indah yang masih terpasang di kotak antik. Ia mengelus biola itu dengan penuh kasih sayang.
Waktu kecil, ayah sering mengajakku bermain petak umpet. Dan sekarang aku yakin, kamu sedang mengajakku bermain petak umpet. Di manapun kau bersembunyi, aku akan segera menemukanmu, Ayah.
Sementara di dalam hotel. Asisten Jefri memberi laporan jika ia telah mengirim biola itu langsung ke rumah Aldrin. Jefri begitu senang mendengarnya. Bukan ia tak mau menemui anak yang diasuhnya dari bayi itu, tapi sejak ia pulang ke Indonesia, ia selalu mencari tahu tentang aktivitas Aldrin. Ia tahu jika Aldrin telah masuk ke perusahaan ayah tirinya. Pria itu hanya tak ingin membuat Aldrin bingung dengan kehadirannya. Pada akhirnya, bukankah Aldrin akan memilih antara dia dan Tuan Adam? Ya, ia tak mau anak itu menghadapi dilema. Melihatnya bahagia itu sudah cukup untuk Jefri.
Jefri berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati udara malam. Ia menoleh ke balkon samping. Ya, ada Ardhilla di sana. Kamar mereka bersebelahan.
"Kau belum pulang?" tanya Jefri.
Ardhilla menatap Jefri yang hanya diam dan begitu menikmati keindahan kota Jakarta yang dipenuhi hiruk pikuk dan keramaian kendaraan di jalan raya.
"Jika aku boleh tahu, kenapa sampai saat ini kau masih sendiri?" tanya Ardhilla secara tiba-tiba.
Jefri terdiam untuk beberapa detik. "Karena aku masih mencintainya ...."
Ardhilla memicingkan matanya tapi belum merespon ucapan Jefri.
Jefri menoleh ke arah Ardhilla. "Dulu aku mencintainya ... dan sekarang masih mencintainya. Hanya saja bedanya dulu aku tidak punya apa-apa jadi tak pantas untuk mencintainya. Sekarang pun lebih tidak pantas, karena ia telah menikah."
Ucapan Jefri membuat jantung Ardhilla terpukul. Meskipun tak menyebutkan siapa wanita yang ia cintai, tapi Ardhilla tahu yang dimaksud Jefri adalah dirinya.
Jefri membalikkan badannya hendak masuk kembali ke kamarnya. Namun, suara panggilan Ardhilla menghentikan langkahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menyapa kembali, satu hari telah terlewati berganti dengan hari baru yang membawa harapan. Hari ini, hari pertama Aldrin masuk sekolah lagi sebagai siswa kelas 3. Ia merapikan dasinya lalu memakai almamater sekolahnya.
Sebuah suara ketukan pintu terdengar dari balik kamarnya. Aldrin langsung membuka pintu kamar.
"Selamat pagi, Kakak kelas tampan, " sapa Naufal begitu ceria lengkap dengan pakaian seragamnya dan juga ransel sekolah.
"Selamat pagi, Kakak kelas jenius, " balas Aldrin dengan senyum merekah.
Keduanya menuruni anak tangga bersama menuju ruang makan. Tampak Tuan Adam dan Ardhilla telah duduk di sana.
"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu," sapa Naufal sambil mengambil tempat duduknya.
"Mana kakakmu Zaki?" tanya Tuan Adam.
"Aku tidak melihatnya. Sepertinya dia sudah ke kantor karena mobilnya sudah tidak ada," jawab Naufal.
"Anak itu sedang patah hati. Dia menyakiti dirinya sendiri dengan tidak mau makan. Di sana juga tidak menyentuh makanan sama sekali. Dia kembali seperti waktu ibunya meninggal," ujar Adam sedikit cemas.
"Tenang saja! Nanti aku akan coba bujuk" sahut Ardhilla sambil mengelus pundak suaminya.
"Aku terlalu memanjakan dia, sehingga dia tidak bisa menjadi anak yang kuat. Kalian berdua jangan mengikuti sikapnya! Jangan rapuh hanya karena wanita! Jangan menahan wanita yang ingin pergi dari kehidupan kalian. Jika dia ingin pergi, biarkan ia pergi. Tidak ada gunanya menahan seseorang yang hatinya telah pergi," ucap Adam pada Naufal dan juga Aldrin.
Ucapan Adam membuat Ardhilla terdiam sejenak. Ia memikirkan kembali kalimat yang baru saja Adam keluarkan.
'Jangan menahan wanita yang ingin pergi dari kehidupan kalian. Jika dia ingin pergi, biarkan ia pergi. Tidak ada gunanya menahan seseorang yang hatinya telah pergi.'
.
.
.
bersambung...