Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 65 : Naufal vs Aldrin



Mendengar ucapan Angel, tak ayal membuat Naufal terpukul. Sementara, Angel langsung pergi begitu saja meninggalkan Naufal yang mengalami guncangan hati. Lelaki itu menyangga tangannya di pintu, sedikit menunduk sambil mengingat kembali ucapan Angel yang baru beberapa menit yang lalu.


Pelan-pelan, Naufal berjalan lemah meninggalkan ruangan UKS itu. Ia terduduk di sudut tangga. Wajah tampan itu tampak kaku.


Aldrin, sejak kapan kamu berhubungan dengan Amaira di belakangku? Bukannya kamu sudah lama tahu kalau aku sangat menyukainya? Kenapa kamu malah mengkhianati aku lalu bertindak seolah mendukungku?


Belum sembuh hatinya mengetahui Amaira menyukai Aldrin, kini ia harus menerima kenyataan jika Aldrin dan Amaira pernah memiliki hubungan khusus. Sekarang yang ingin ia ketahui, apakah hubungan itu benar-benar terjadi? Apakah Aldrin memacari Amaira karena memang juga menyukainya? Atau hanya karena rasa penasaran saja seperti hubungannya dengan para gadis lainnya.


Amaira keluar dari ruang UKS menuju ke ruang kelasnya. Ia duduk sendiri di kelas karena teman-temannya masih berada di gedung olahraga. Suara pemberitahuan pesan masuk terdengar dari ponselnya. Ia langsung membuka pesan tersebut. Sunggingan senyum tercetak di bibirnya setelah membaca isi pesan. Dengan segara, ia bergegas keluar dari kelas menuju ke suatu tempat.


Di sisi lain, Aldrin menuju ruang ganti sambil membawa sebotol air mineral. Dari jauh terdengar suara teriakan yang memanggil namanya. Ketika menoleh ke belakang, tampak Naufal tengah berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?" tanya Aldrin yang melihat wajah panik Naufal.


"Aku lihat Amaira dibawa Angel ke atap gedung! Kayaknya dia mau melakukan sesuatu deh sama Amaira," seru Naufal dengan napas yang begitu tak beraturan.


Aldrin langsung menjatuhkan air mineralnya dan berlari secepat mungkin menuju atap gedung. Naufal memutar badan secara perlahan, menatap kepergian Aldrin dengan wajah yang berubah menjadi dingin seketika.



"Aldrin, aku hanya menjebakmu, karena aku cuma ingin tahu perasaanmu!" gumam Naufal yang terus menatap kepergian Aldrin.


Aldrin berlari tergesa-gesa menyelusuri anak tangga. Perlu melewati empat lantai untuk sampai di atap gedung. Begitu sampai, ia melihat Amaira berdiri di sana. Cowok berkulit putih itu langsung menghampiri Amaira seraya menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan.


"Apa yang terjadi sama kamu? Kamu ... kamu enggak apa-apa? Apa mereka menyentuhmu lagi?" Aldrin memberi pertanyaan beruntun dengan wajah penuh kekhawatiran.


Dahi Amaira tampak berkerut melihat ekspresi Aldrin dan segala pertanyaan dengan nada cemas yang terlontar untuknya.


"Aldrin ... aku ... aku ... enggak kenapa-kenapa," jawab Amaira sambil memegang kedua tangan Aldrin yang menangkup wajahnya.


Aldrin melepas kedua tangannya dari wajah cantik gadis itu dengan perlahan. Dia masih menatap Amaira dengan cemas dari bawah ke atas untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar baik.


Tanpa sadar, Naufal tengah menyaksikan keduanya dari belakang.


"Omong-omong, kamu dekat banget, ya, sama tuh anak. Aku cuma bisa berharap dia tidak menikam kamu dari belakang,"


Terngiang kembali di ingatan Naufal, ketika Zaki memperingatinya.


Naufal mengulas senyum tipis di wajahnya, menundukkan kepala seraya berbalik dengan pelan.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja!" Aldrin mundur beberapa langkah menjauhkan tubuhnya dari Amaira, memberi sebuah jarak antara mereka. "Aku ... aku pergi," ucapnya kembali seraya berbalik membelakangi gadis itu.


Amaira bergeming. Tak ada yang dapat ia ucapkan selain menatap kepergian Aldrin dengan wajah yang sedu. Beberapa helaian rambutnya beterbangan diterpa angin siang itu.


Jam mata pelajaran akhir di kelas mereka kosong karena guru tidak hadir. Aldrin berjalan menuju ke area lintasan lari yang berdekatan dengan gedung olahraga. Dari jauh, ia melihat Naufal yang masih memakai pakaian olahraga sedang melakukan peregangan otot.


"Kenapa panggil aku ke sini?" tanya Aldrin menghampiri Naufal.


Menatap tajam, Naufal melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Aldrin yang berdiri tak jauh darinya.


BHUUK!


Satu kepalan tangan mendarat ke wajah Aldrin, tepatnya di sudut bibir. Lelaki itu tersungkur dan memegang bibirnya. Ia terperanjat dengan apa yang baru saja Naufal lakukan.


"Kenapa kamu pukul aku?" tanya Aldrin sambil berdiri. Ia sangat kaget menerima pukulan dadakan yang dilayangkan Naufal.


Dengan mata yang berapi-api Naufal menarik kerah baju Aldrin sambil berteriak, "Kamu tahu aku suka sama dia, tapi kenapa kamu masih mendekatinya sampai pacaran juga sama dia?!"


Aldrin terlonjak. Matanya melebar. Untuk sesaat lidahnya keluh. Apa yang ia bayangkan selama ini akhirnya terjadi. Naufal mengetahui segalanya. Ia telah berusaha menyembunyikan semuanya dari sahabatnya itu, tetapi ternyata kebohongan yang tersimpan rapi itu hanya berakhir sia-sia.


"Aku ... aku ... cuma iseng kok." Aldrin yang begitu gugup, mencoba menyangkal.


Naufal melepaskan tangannya dari kerah baju Aldrin. Wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya. Ia mengalihkan pandangannya, menatap lurus seolah menolak bertatapan dengan Aldrin.


"Hubungan aku sama Amaira cuma sebentar kok, kita sudah putus." Aldrin berusaha mengklarifikasi.


Aldrin tidak menyangkal jika dirinya memang bersalah, tetapi ia berusaha mengelak karena tidak ingin membuat Naufal tersakiti dengan kenyataan yang sebenarnya jika dirinya dan Amaira saling mencintai.


Aldrin meneguk ludahnya yang terasa pahit. Saat ini dilema menerpa dirinya. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Semua sudah terbongkar dan tidak ada gunanya berkilah.


Menunduk, Aldrin menunjukkan wajah penuh penyesalan seraya berkata, "Maaf, aku ... telah mengkhianatimu. Tapi aku dan dia sudah enggak ada hubungan apa pun. Aku akan benar-benar menepati janjiku, kita menyukai gadis yang sama dan aku mengalah padamu!"


"Aku tidak mau kamu mengalah cuma karena mau tepati janji!" ucap Naufal dengan pandangan lurus ke depan.


Aldrin menyipitkan matanya. "Terus gimana?"


"Ayo kita bertarung sekarang! Aku dan kamu akan berlari. Siapa yang duluan menyentuh garis finis dia lah yang layak dekati Amaira, dan yang kalah harus mundur!"


Mendengar ajakan Naufal, Aldrin lantas melengos seraya tertawa hampa. Ia menarik sudut bibirnya ke atas, lalu berkata, "Kamu enggak perlu buang-buang waktu. Lagian aku sudah menyatakan mundur kok!"


Setelah berkata, Aldrin melangkah pergi. Namun, Naufal berusaha mencegatnya.


"Jangan jadi pecundang! Ayo kita bertarung! Apa kamu takut enggak bisa menang lawan aku? Kamu selalu kalah 'kan kalau lomba lari bareng aku?"


Aldrin membisu. Bukannya menerima tantangan Naufal, ia justru mendorongnya ke samping lalu pergi dengan berjalan lurus.


Naufal berbalik dan berteriak. "Aldrin, ayo lawan aku!"


Aldrin enggan menanggapinya.


"Jangan jadi pecundang! Kamu kalah sebelum berperang!"


Aldrin masih tetap berjalan lurus.


"Woi, pengecut! Cepat ke sini! lawan aku! Jangan jadi orang penakut!"


Aldrin tetap berjalan seolah tidak peduli dengan teriakan sahabat sekaligus saudara tirinya itu.


"Kamu enggak gentle! Kamu pecundang!"


Tak menyerah, Naufal kembali berteriak padanya mengeluarkan kalimat-kalimat umpatan.


"Aldrin, kamu bukan laki-laki sejati! Lo banci!" hina Naufal penuh penekanan.


Aldrin masih tetap tak meresponnya. Untuk berbalik pun, enggan ia lakukan.


"Dasar banci! Penakut! Banci!" teriak Naufal penuh umpatan.


Percuma! Aldrin tetap tak acuh. Dia semakin menjauh.


"Aldrin, ganti saja celanamu dengan rok mini! Kamu benar-benar jadi banci!"


Segala cibiran terus keluar dari mulut Naufal, tapi tak dihiraukan oleh Aldrin. Ia tetap berjalan lurus meninggalkan Naufal yang terus memakinya.


Tak tinggal diam, Naufal masih terus berteriak untuk membakar emosi sahabat kecilnya itu.


"Aldrin, aku membencimu!" teriaknya kembali, "kalau kamu enggak balik ke sini, kita enggak usah berteman lagi! Enggak usah bicara sama aku lagi!"


Langkah kaki Aldrin terhenti. Ia berkacak pinggang, membasahi bibirnya yang kering, menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya ke udara. Sambil mengusap rambutnya ke belakang, ia berbalik dan berjalan cepat menuju ke arah Naufal yang masih meneriakinya.


Aldrin berdiri tepat di garis star lintasan lari. Ia meletakkan lutut kaki belakangnya pada ujung kaki depan dengan jarak satu kepal tangan. Kedua lengannya ikut lurus sejajar.


"Apa kamu siap?" tanya Aldrin yang telah melakukan star jongkok di garis lintasan dengan pandangan lurus ke depan.


Naufal tersenyum masam, ia berdiri di samping Aldrin, melakukan hal yang sama dengan apa yang Aldrin lakukan saat ini.


"Aku siap .... "


Keduanya sama-sama telah melakukan star jongkok di garis lintasan lari.