Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 77 : Jefri (?)



Aldrin masih memosisikan dirinya duduk menunggu di depan kamar ganti. Anak kecil lucu yang menghampirinya tadi memegangnya serta menggoyang-goyangkan tangannya. Cowok dengan tindikan di telinga kirinya itu berusaha melepaskan tangan anak kecil dari tangannya dengan lembut. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan balita berjenis kelamin laki-laki itu. Balita tadi lalu menarik-narik almamater Aldrin. Namun, ia tetap cuek sembari menunggu Amaira.


Balita itu terus saja menarik bajunya hingga ia merasa risih. Aldrin melototkan matanya ke arah anak itu, berusaha menakutinya. Bukannya takut, yang ada balita itu malah tertawa melihatnya. Cowok berambut pirang itu tampak kesal, ia menggertakkan giginya.


Sayup-sayup terdengar suara teriakan wanita memanggil-manggil sebuah nama.


"Jefri! Jefri! Jefri!"


Aldrin tersentak mendengar nama yang ia rindukan itu. Ia berdiri secara spontan sambil memegang pundak anak itu mencari-cari sumber suara.


"Jefriiiiii!"


Tiba-tiba seorang wanita menghampirinya sambil berlari. Aldrin tampak kebingungan melihat wanita itu seperti hendak menangis. Ia langsung menarik anak kecil yang dipegang Aldrin, kemudian memeluknya sambil terisak.


"Kamu dari mana saja, Jefri? Ibu mencarimu," ucapnya disela-sela tangisan.


Balita itu hanya tersenyum sambil menunjuk Aldrin. Sontak, Aldrin membulatkan matanya itu, lalu buru-buru berkata, "Aku enggak ngapa-ngapain dia!"


Wanita itu menghapus air matanya. "Kayaknya Jefri suka sama kamu. Terima kasih, ya. Aku sudah keliling cari nih anak selama dua jam sampai hampir putus asa."


Ibu itu lalu mengajak anaknya pergi. Balita laki-laki itu berbalik, melambaikan tangannya pada Aldrin.


"Da-dah!"


Aldrin berdiri terpaku. Seketika, wajahnya menjadi sendu. Ia kembali teringat ayahnya. Jika secara tiba-tiba ia bertemu dengan anak kecil yang mempunyai nama sama seperti ayahnya, mungkinkah ia juga akan bertemu dengan sang pemilik nama asli itu?


"Kamu di mana? Aku mencarimu!" Tanpa sadar, ia mengulang apa yang barusan wanita itu katakan.


"Aku sudah berkeliling mencarimu selama sembilan tahun sampai hampir putus asa." Ia melanjutkan lagi ucapannya dengan tatapan kosong. Seketika matanya memerah.


"Aldrin," Panggil Amaira yang baru keluar dari ruang ganti.


Amaira telah mencoba satu gaun pilihan Aldrin. Aldrin cepat-cepat membuyarkan lamunannya. Pandangannya beralih ke arah Amaira yang telah memakai gaun.


"Gaun itu jelek, tidak cocok di badanmu. Coba ganti yang lainnya," cetus Aldrin.


Amaira mengangguk. Ia juga merasa gaun itu terlalu terbuka untuknya. Ia kembali masuk ke ruang ganti dan memakai gaun berikutnya, kemudian kembali keluar, memperlihatkan gaun yang telah ia pakai.


Aldrin menggelengkan kepalanya, dan menyuruh gadis itu kembali menggunakan gaun pilihannya yang lain. Amaira keluar lagi dengan menggunakan gaun yang baru. Aldrin tampak berpikir sejenak sambil menatap Amaira dari atas ke bawah. Ia kembali menggelengkan kepalanya dan menyuruh gadis itu menggunakan gaun terakhir yang ia pilih.


Amaira menghela napas kasar, tetapi tetap mengikuti perintah pacarnya. Ia membuka gaun yang dipakainya dan memakai gaun terakhir. Ia kembali keluar dengan malu-malu karena gaun ini terlalu mengekspos dadanya.


Aldrin memandanginya dengan matanya yang tak berkedip. Amaira tersipu malu melihat ekspresi Aldrin. Ia menunduk sambil menggigit sedikit ujung bibirnya.


Masih dengan mata yang tak berkedip, Aldrin bersuara, "Gaun itu ... lebih jelek dari tiga gaun tadi. Kamu bahkan lebih kelihatan cantik pakai seragam sekolah dari pada yang ini."


Amaira membulatkan matanya. Ia terkejut mendengar ucapan Aldrin. Rupanya ia salah mengartikan ekspresi Aldrin. Alih-alih mendapat pujian, cowok itu malah mengeluarkan kalimat cibiran. Mengesalkan, bukan?


"Pakai ini!" pinta Aldrin menyerahkan baju itu.


Amaira kembali masuk ke ruang ganti. Selang beberapa menit kemudian, ia keluar dengan menggunakan gaun putih itu. Aldrin yang sedang berdiri tiba-tiba terpana melihatnya.


"Gaun ini sangat cocok untukmu!" sahut Aldrin tersenyum.


Aldrin lalu memanggil pramuniaga dan mengatakan mau gaun itu. Pramuniaga memuji selera fashion Aldrin dan mengatakan jika gaun itu limited edition dan tinggal satu-satunya di gerai toko mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Naufal menuruni eskalator dengan tetap membawa barang belanjaannya. Ia berjalan menuju pintu keluar Mall. Samar-samar, ia mendengar suara perempuan memanggil namanya. Naufal berbalik dan melihat Er berlari menghampirinya.


"Kenapa kamu ada di mana-mana? seperti hantu aja!" cela Naufal.


"Hei, apa lo enggak sadar kalau kita selalu dipertemukan oleh waktu?" balas Er mengatur napasnya.


"Bukan sengaja dipertemukan, tapi kamu yang selalu mengekor aku!"


"Apa lo bilang? Waktu gue tawuran, bukannya lo yang duluan samperin dan suruh gue masuk ke mobil?"


Naufal terbungkam. Ia lalu mengalihkan pembicaraan. "Kamu ke sini mau apa?"


"Gue cuma lagi mau bersenang-senang sambil menghindari pacar gue!" jawab Er, matanya lalu tertuju pada tas belanjaan yang dipegang Naufal. "Eh, lo belanja baju ya ...."


Naufal menunduk ke bawah, melihat kembali gaun yang baru saja dibelinya. Terbesit di pikirannya untuk memberikan gaun itu pada Er.


"Ini untuk kamu. Ambil aja!"


Mata Er terbuka lebar. Namun, ia langsung mengambil barang itu dari tangan Naufal lalu mencoba mengintip apa yang terisi dalam kotak segi empat itu.


"Hah ... ini gaun? Kenapa lo kasih gue? Apa lo enggak salah?"


Naufal menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ambil aja! Orang yang mau kuberi, enggak suka sama gaun itu."


"Kalau tuh orang aja enggak mau, apalagi gue," keluh Er menyerahkan kembali gaun tersebut.


"Ambil saja untukmu! Kalau enggak suka, bantu aku buang di tempat sampah," ucap Naufal segera beranjak pergi.


Er kembali menatap isi tas belanjaan itu dan menemukan struk belanjaan. Ia terkejut melihat harga gaun itu hingga secara spontan menutup mulutnya. Ia pun kembali mengejar Naufal.


"Hei, gaun ini mahal banget. Harganya sama kayak biaya hidup gue selama satu tahun, lebih baik lo rupiahkan saja untuk gue. Pasti gue bakal terima dengan senang hati," bujuk Er sambil menyengir.


Naufal kembali menatapnya. "Gaun ini tidak ada urusannya lagi denganku. Lebih baik kamu jual kembali supaya bisa kau uang kan," ujar Naufal kesal dan cepat-cepat berlalu meninggalkannya


"Hei bodoh! Mana ada orang yang mau beli gaun semahal ini. Kecuali orang-orang kaya seperti lo!" teriak Er kesal.