
Aldrin menutup teleponnya. Ia baru ingat, jika sedang melakukan tes DNA saudara antara dia dan Bryan untuk membuktikan apakah mereka berasal dari ayah yang sama.
Aldrin segera mengganti bajunya dan bersiap menuju ke rumah sakit.
Aldrin mengambil hasil tes DNA yang diserahkan pihak rumah sakit di dalam amplop putih panjang. Ia membuka amplop putih tersebut dan mengeluarkan kertas di dalamnya dengan tangan yang gemetar. Ia menutup mata serta menarik napas dalam-dalam sebelum membacanya. Sepertinya, dia berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu, mempersiapkan diri untuk menerima hasil yang tertera dalam hasil tes.
Cowok tampan itu lalu mulai membaca apa yang tertulis dalam kertas dengan teliti. Setelah selesai membaca hasil tes DNA, Aldrin hanya terdiam. Ia kembali memasukkan kertas itu ke dalam amplop. Wajahnya tanpa ekspresi. Tidak senang dan tidak pula sedih.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, apakah Bryan masih di Jakarta? Ini sudah dua minggu, mungkin saja ia telah pergi ke Paris. Dari pada menduga-duga yang tak pasti, Aldrin mengambil ponselnya lalu menghubungi Bryan. Ponsel tersambung, dan terdengar suara Bryan di seberang sana.
"Hallo."
"Bryan, kamu di mana?"
"Gue? Gue di Bandara. Gue akan terbang ke Paris satu jam lagi."
Mata Aldrin yang terlihat tak bersemangat membulat seketika. Mulutnya terbuka namun ia kesulitan untuk mengolah kata-kata. Ingin menjelaskan sesuatu tapi lidahnya seakan tertempel di langit-langit. Ia menatap kosong ke depan.
"Halo Aldrin, kenapa lo telepon gue? Suara Bryan dari saluran telepon menyadarkannya.
Aldrin menelan salivanya sebelum ia berkata dengan penuh semangat, "Bryan, aku akan ke sana sekarang. Tunggu aku di sana! Aku akan ke sana segera. Jangan pergi dulu sebelum aku datang! Ada yang mau aku bilang sama kamu!"
Bryan mengerutkan dahi serta memicingkan matanya saat mendengar perintah dari Aldrin. Belum sempat ia bertanya kembali, Aldrin telah memutuskan sambungan telepon.
Aldrin langsung berlari keluar Rumah Sakit menuju tempat parkiran motor. Ia segera menaiki motornya, memasang helm di kepalanya dan melajukan kendaraannya menuju bandara. Ia ingin cepat sampai ke sana untuk bertemu Bryan. Setidaknya ia harus mengatakan sesuatu sebelum Bryan berangkat dan entah kapan pulang kembali.
Aldrin menambah laju gas motornya. Sangat laju! Membuat jalan untuknya seakan membelah lautan merah. Angin begitu kuat menerpa tubuhnya, membuat jaketnya meronta-ronta seolah hendak melepaskan diri. Ia berharap, pesawat yang dinaiki Bryan tidak lepas landas sewaktu ia masih dalam perjalanan.
Kurang lebih satu jam, Aldrin telah sampai di bandara. Secepat mungkin ia berlari menuju pintu keberangkatan luar negeri dengan memegang amplop berisi hasil tes DNA. Namun, kedua bola matanya tak dapat menangkap sosok yang dicarinya.
Aldrin semakin gusar, ia mencoba untuk menghubungi Bryan. Baru saja ia meletakkan ponsel di telinga kanannya, sepasang matanya menangkap sosok cowok ber-sweater abu-abu dengan earphone di telinganya hendak menuju ruang tunggu. Ya, itu Bryan!
Aldrin bergegas menghampiri cowok itu dan menepuk pundaknya. Bryan menoleh ke belakang dan langsung membuka earphone yang terpasang di telinganya.
"Hei, Aldrin. Gue enggak nyangka lo bakal datang ke sini," ucap Bryan dengan wajah yang sedikit terkejut.
Aldrin tampak menarik napasnya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Bryan, tapi tak tahu harus memulainya dari mana.
"Lo kenapa?" tanya Bryan sesaat setelah melihat mimik gugup Aldrin yang tak seperti biasa.
"A–apa ... apa aku boleh tahu di mana ayahmu dimakamkan?" tanya Aldrin dengan bibir gemetar.
Sekali lagi, bibir Aldrin seakan terkunci sehingga tak dapat mengeluarkan kata apa pun. Terasa amat sulit walau hanya memuntahkan satu kata saja. Masih dengan menatap dalam Bryan, tangan yang gemetar itu menyerahkan sebuah amplop putih di tangannya kepada Bryan.
"Apa itu?" tanya Bryan sambil melihat sebuah amplop di tangan Aldrin.
"Bu–buka ... dan bacalah!" pinta Aldrin dengan penuh permohonan.
Bryan mengambil amplop itu dari tangan Aldrin lalu mulai membuka isi amplop itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat lain, Jefri sedang bermain golf. Sekretarisnya datang menemuinya hendak menyampaikan sesuatu. Jefri menghentikan permainannya dan mengelap wajahnya dengan handuk putih.
"Ada apa?"
"Manajer Ardhilla tadi menghubungiku, Tuan."
"Apa ada yang ingin mereka sampaikan?"
"Ardhilla meminta dipesankan kamar hotel yang bersebelahan dengan kamar Anda, untuk acara malam nanti."
Jefri nampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata kembali. "Tidak masalah, urus semuanya!"
"Baik, Tuan."
Jefri menatap kosong ke depan sambil memegang stik golf. Sebuah senyum samar tercetak di wajahnya.
Uang bisa mendekatkan siapapun, dan bisa membuat orang lupa diri. Dulu, kamu meninggalkanku karena uang dan sekarang kamu juga mendekatiku karena uang. Bukankah begitu?
Jefri kembali fokus melakukan driving golf. Ia memegang stik golfnya dan mengayunkan stik ke arah bola. Dengan satu pukulan, bola itu langsung masuk ke dalam lubang. Pria itu tersenyum puas.
.
.
.
DNA adalah singkatan dari deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat. Tes DNA atau tes genetika adalah prosedur yang digunakan untuk mengetahui informasi genetika seseorang. Dengan tes DNA, seseorang bisa mengetahui garis keturunan dan juga risiko penyakit tertentu. Ada tiga jenis tes DNA : Autosomal, Y-DNA dan mtDNA. Aldrin mengambil tes Y-DNA yang mana jenis tes tersebut dilakukan untuk pria dan melacak DNA kembali melalui keturunan yang berasal dari pihak Ayah.
pengertian DNA dan sedikit info tentang tes DNA bersumber dari website alodokter.com