
Malam hari, Tuan Adam mengajak Zaki dan Aldrin untuk ikut dinner bersama rekan bisnis dari berbagai negara. Acara makan malam tersebut sangat privat karena hanya dihadiri Pebisnis Indonesia dari kalangan atas dan juga dihadiri pebisnis luar negeri seperti Singapure, Jepang, Cina, Korea, Amerika hingga Eropa.
Tuan Adam memperkenalkan kedua anaknya dengan pebisnis-pebisnis ternama. Mereka saling berinteraksi dengan menggunakan bahasa Inggris. Salah satu dari pebisnis ternyata berasal dari negara Spanyol dan dia tidak begitu fasih berbahasa Inggris. Sang Interpreter-nya ternyata belum juga hadir sehingga membuat pebisnis asal Spanyol yang bernama Tuan Leandro itu kebingungan.
Secara tiba-tiba Aldrin mendekati Tuan Leandro dan berbicara padanya menggunakan bahasa Spanyol di depan banyak pebisnis hingga mengejutkan Tuan Adam dan juga Zaki.
"Hola! Soy Aldrin. Encantado," sapa Aldrin pada Tuan Leandro.
"Si, soy Leandro. Encantada," sapa balik Tuan Leandro yang sedikit terkejut karena ada orang Indonesia yang menyapanya menggunakan bahasa Spanyol.
"Tuan, jika anda tidak keberatan. Aku bisa menjadi Interpreter Anda," ucap Aldrin masih dengan menggunakan bahasa Spanyol.
"Kau mengetahui bahasa Spanyol?" tanya Tuan itu memakai bahasa Spanyol juga.
"Iya, saat aku bersekolah di Los Angeles, aku mempunyai banyak kawan yang berasal dari negara Meksiko. Aku juga sering ikut mengamen dengan musisi jalanan yang berasal dari Negara Meksiko. Dari mereka aku belajar bahasa Spanyol," jawab Aldrin.
"Kau bisa memainkan alat musik?" tanyanya kembali dengan mata terbuka lebar karena takjub.
"Ya, tapi hanya Biola."
Orang itu semakin takjub mendengar jawaban dari Aldrin. Pemuda yang masih berusia 17 tahun ini fasih berbahasa Spanyol dan lebih mengagumkan ia hanya mempelajarinya secara otodidak dari pengamen jalanan asal Meksiko.
Tuan Leandro lalu memuji Aldrin di depan Tuan Adam dengan bahasa Inggris seadanya. Ia berkata bahwa Aldrin anak yang hebat karena mampu menguasai bahasa Spanyol dan juga pandai memainkan biola.
Tuan Adam tersenyum menerima pujian dari pebisnis asal Spanyol itu. Sejujurnya, pria itu juga terkejut mengetahui Aldrin fasih berbahasa Spanyol. Ia hanya mengetahui anak itu fasih berbahasa Inggris dengan mempelajarinya dalam waktu singkat.
Mungkin, memang benar setiap anak punya kehebatan dan bakat masing-masing. Aldrin memang tak sepintar Zaki dan Naufal jika berhubungan dengan ilmu perhitungan. Namun, ia bisa dengan cepat menguasai bahasa asing.
Aldrin akhirnya menjadi penerjemah lisan Tuan Leandro. Setiap Tuan Leandro berbincang dengan lawannya dia akan menjadi menerjemahkan percakapan mereka. Tuan Adam terus tersenyum bangga melihat anak tirinya yang sangat berbeda malam ini. Jika biasanya anak itu terlihat ugal-ugalan, tapi malam ini ia begitu terlihat elegan dengan wawasan bahasa asing yang ia miliki.
Mungkin King of Quote "Don’t Judge By The Cover" cocok untuk penggambaran Aldrin saat ini. Jangan pernah menilai orang dari tampilan luarnya saja!
Zaki menatap ayahnya yang terlihat bangga pada adik tirinya. Ia merasa kesal dan juga iri melihat malam ini Aldrin seperti menjadi bintang diantara pebisnis yang hadir. Sementara dia hanya bisa duduk diam di samping ayahnya.
Acara makan malam selesai. Dan Tuan Leandro mengucapkan banyak terima kasih pada Aldrin karena telah sangat membantunya. Ia memberi kartu namanya sebelum pergi. Aldrin tersenyum melihat kartu nama salah satu pebisnis dunia. Tiba-tiba sebuah tepukan di pundaknya mengejutkan dirinya. Ia menoleh ke samping dan melihat Ayahnya berdiri sambil tersenyum hangat.
"I am proud of you." Sebuah pujian terlontar dari Tuan Adam yang artinya mengatakan jika ia bangga pada Aldrin.
Aldrin terenyuh mendengar pujian yang keluar pertama kali dari mulut ayah sambungnya.
"Terima kasih Ayah, berkatmu aku banyak mempelajari banyak hal dan juga menambah pengalamanku," balas Aldrin dengan mata berbinar.
Sementara di sisi samping Tuan Adam, Zaki hanya berdiam menatap kesal keduanya. Bukannya ia tak bisa tampil keren malam ini seperti biasanya, hanya saja karena pikiran yang berkecamuk di kepalanya membuat ia tak bisa fokus melakukan apapun. Pada akhirnya ia hanya bisa diam mematung selama acara berlangsung.
Sementara Aldrin saat ini benar-benar berada di atasnya. Itu sangat menjengkelkan! Untuk tipe cowok yang hampir mendekati kata sempurna seperti Zaki harus dikalahkan adik tirinya yang selalu menjadi biang masalah di rumah mereka.
Pulang ke rumah, aldrin langsung masuk di kamar Naufal menceritakan pengalaman yang ia dapatkan malam ini bersama orang-orang hebat. Naufal ikut senang mendengarnya. Setidaknya ia tahu sedikit demi sedikit Aldrin telah menampakkan perubahan dari segi sikap dan pola pikir. Satu perubahan yang terlihat begitu nampak adalah Aldrin sudah tidak pernah menyentuh alkohol!
"Iya, dia ingin aku lebih mengenal para bisnisman muda di sana."
"Berapa lama kau akan di sana?"
"Hanya dua hari, setelah itu kita akan kembali bersekolah juga, 'kan,?" ucap Aldrin sambil melihat sebuah kado yang sementara dipacking di atas ranjang
"Apa yang kau bungkus itu?" tanya Aldrin.
"Oh ini buku, rencananya akan aku hadiahkan untuk ulang tahun ayah besok lusa," jawab Naufal.
"Itu artinya ulang tahun ayah bertepatan saat kami akan ke Singapura?" tanya Aldrin kembali.
"Iya," jawab Naufal.
Tiba-tiba Aldrin tertarik ingin berbuat hal serupa. Naufal dan Zaki selalu rutin memberi hadiah ulang tahun kepada ayah mereka tiap tahun. Dan mereka juga selalu kompak membuat kejutan pesta kecil-kecilan. Mendadak terbesit di pikirannya ingin memberi kado untuk ayah tirinya yang selama ini telah menerima ia seperti anak kandung sendiri.
**
Malam telah tergelincir ke hari lain. Menciptakan pagi yang cerah membuka harapan baru. Hari ini adalah hari Minggu. Sebenarnya hari ini ia akan mengajak Amaira menemaninya membeli hadiah untuk ayahnya. Hanya saja Amaira mengatakan jika ia harus membantu ibunya membuat kue untuk acara arisan di rumahnya. Sehingga mau tak mau Aldrin hanya pergi sendirian.
Aldrin memasuki sebuah toko fashion besar berlabel luar negeri. Ia melihat-lihat dasi yang terpampang di etalase lalu memilih salah satu dasi yang dianggapnya paling bagus dan membelinya. Rencananya, ia akan menghadiahkan dasi itu pada Tuan Adam.
Aldrin keluar dari toko itu sambil menenteng dasi yang telah di bungkus kado dan tertempel sebuah kartu ucapan. Ia menggantung hadiah itu di stang motornya dan mengambil helm untuk dipasang di kepalanya. Ia menatap wajah tampannya di kaca spion.
Seketika ia teringat, jika ia sudah lama tak berkunjung ke rumah masa kecilnya, yaitu rumah kecil di pemukiman kumuh. Ya, tepatnya sudah hampir dua minggu sejak ia magang di perusahaan, Aldrin tak lagi datang ke rumah itu. Ia langsung melajukan motornya menuju lokasi pemukiman kumuh tempat ia di besarkan.
Aldrin telah sampai di lokasi rumah lamanya. Namun, ia terkejut saat melihat lokasi pemukiman kumuh itu telah rata dengan tanah. Hanya ada beberapa kendaraan berat yang berdiri kokok ditengah puing-puing reruntuhan bangunan yang telah hancur. Seketika matanya membulat, wajahnya memucat, dan dadanya sesak. Ia langsung berlari diantara puing-puing reruntuhan itu.
Bersambung
.
.
.
.
.
Catatan kaki :
Bahasa Spanyol adalah bahasa yang digunakan secara resmi sebagai bahasa nasional orang Meksiko.
Interpreter adalah seorang penerjemah bahasa yang mengalihkan bahasa lisan dari bahasa satu ke bahasa yang lain secara langsung dalam waktu yang sama.
jangan lupa like dan komen yaa...