
Senyum di wajah Ardhilla memudar seketika saat mendengar pernyataan Jefri.
"Bukannya kamu bilang padaku saat itu, kamu masih mencintaiku sampai sekarang?" ucap Ardhilla dengan mata tak berkedip.
"Benar. Aku mencintaimu, tapi aku tidak punya keinginan untuk bersama denganmu. Bagiku, tinggal bersama Aldrin itu sudah membuatku bahagia," balas Jefri dengan tatapan tajam.
Mata Ardhilla menjadi tak fokus, bola matanya berkeliaran. Napasnya terasa sesak, namun ia berusaha mengendalikan dirinya agar tak terlihat kalut.
"Aldrin adalah anakku."
"Aku tahu."
"Aku ibunya dan dia sangat menyayangimu. Apa salahnya jika kita membentuk sebuah keluarga."
Ardhilla berusaha mempengaruhi jalan pikiran Jefri. Ia mengetahui pria itu selalu tak berdaya dengan permintaannya. Sayangnya, itu adalah Jefri yang dulu bukan yang sekarang.
"Tapi, Aldrin memintaku untuk tidak bersamamu."
Mata Ardhilla semakin membulat. Bibirnya terlihat gemetar.
"Anak itu ...." Ardhilla tak mampu melanjutkan ucapannya. Hanya terlihat tangan kanannya membentuk sebuah kepalan tinju.
"Sepertinya kamu tidak begitu mencintai anakmu sendiri."
Ardhilla menatap tajam Jefri. Tampaknya ia tersinggung dengan ucapan pria itu. "Aku tidak mencintai anakku?" Ia mengulang ucapan Jefri. "Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan mengambilnya dari tanganmu sepuluh tahun yang lalu!" tekan Ardhilla.
"Bukankah kamu mengambilnya karena kau tidak bisa memiliki anak lagi?"
Ardhilla memalingkan wajahnya. Ia tak menyangka akan mendapat serangan dari pria itu.
"Aku benar, 'kan? Kamu tidak benar-benar menyayangi puteramu!"
"Aku menyayanginya. Aku membebaskan dia melakukan apa saja semaunya. Bahkan aku tidak pernah melarang pergaulannya. Itu karena aku sangat menyayanginya." Ardhilla mencoba menyangkal tuduhan Jefri.
"Karena kamu terlalu membebaskannya, makanya ia terjerumus dalam pergaulan yang salah!" Nada suara Jefri meninggi.
Ardhilla mengernyitkan matanya.
Jefri melanjutkan kembali ucapannya, "Aku mengetahui segala hal tentangnya. Karena selama ini aku memantaunya dari jauh ... memantau kalian berdua."
Tubuh Ardhilla semakin bergetar. Ia kehabisan kata-kata. Tadinya ia berpikir akan sangat mudah menaklukan hati pria ini. Apalagi ia mengenal watak Jefri yang begitu lembut dan gampang tersentuh. Namun, sekali lagi pria itu telah berubah. Bukan cuma berubah dari segi status, tapi juga sikap.
"Aku kembali untuk kalian berdua, tapi sepertinya kamu sama sekali tidak berubah. Kau selalu mementingkan dirimu sendiri," ucap Jefri mengakhiri pembicaraan mereka.
Pria itu mengambil sapu tangan untuk membersihkan mulutnya, lalu merapikan jasnya sebelum ia berdiri dan pergi meninggalkan Ardhilla yang berdiam bodoh.
Ardhilla kembali ke apartemennya. Ia langsung membanting tas Hermes miliknya di atas sofa. Malam ini ia benar-benar seperti kehilangan muka. Ia mendapatkan penolakan dari Jefri. Bahkan pria itu mengucapkan kalimat-kalimat pedas, seolah sedang melempar kotoran di wajahnya.
"Arrrgghhhh!" teriaknya kesal sambil menghempaskan seluruh alat makeup yang terletak di meja riasnya. Pikirannya menjadi kacau.
Ia menggugat cerai Adam tanpa meminta harta gono-gini yang banyak, berharap ia bisa segera menikah dengan Jefri dan mendapatkan harta Jefri sepenuhnya. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ia malah tak mendapatkan apa pun dari Jefri. Tidak cintanya, tidak pula hartanya. Dia malah membuang mesin pencetak uangnya selama ini, yaitu Adam.
"Tenanglah Ardhilla! Kamu masih punya anak perusahaan Adam grup. Ya ... ya ... Aku masih bisa mengelola perusahaan itu dengan bantuan Zaki." Ardhilla mencoba menenangkan dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Jefri juga telah kembali ke rumahnya. Ia kembali duduk termenung. Sebenarnya ini adalah momen yang telah lama ia tunggu. Di mana ia, Ardhilla dan juga Aldrin bersama kembali dalam sebuah keluarga. Sepuluh tahun yang lalu, ia memutuskan pergi ke Dubai mengadu nasibnya. Demi mengembalikan dua orang yang paling ia sayangi.
Namun, setiap angan dan harapan tak selalu berjalan mulus. Sudah di depan mata tapi harus menolak cintanya sendiri demi Aldrin. Ya, dia harus mengorbankan salah satu di antara mereka. Dan akhirnya ia harus memilih mengorbankan wanita yang ia cintai.
Suara langkah kaki seseorang membuyarkan lamunan Jefri. Ia menengok ke belakang dan melihat Aldrin menghampirinya dengan membawakan segelas kopi. Aldrin mengetahui ayahnya peminum kopi dari ia masih kecil.
"Ini kopi buatanku, semoga takarannya pas." Aldrin meletakkan secangkir kopi di atas meja.
Jefri mengambil cangkir itu. Aroma khas kopi mulai tercium di hidungnya. Ia lalu menyeruput kopi tersebut.
"Takaran yang pas!" Ucap Jefri setelah mencicipi kopi buatan Aldrin.
Aldrin tersenyum. "Ayah enggak niat cari istri gitu?"
Pertanyaan Aldrin membuat Jefri terkejut. Namun, pria itu masih bisa tersenyum. "Aku tidak ingin memberimu ibu tiri."
"Jangan pedulikan aku, Yah. Aku sudah besar. Ayah harus mencari wanita yang benar-benar mencintai Ayah dan menikahlah dengannya! Bahagiakan dirimu sendiri."
Ucapan Aldrin membuatnya terenyuh. Sayangnya, Aldrin tak mengerti jika ayah angkatnya itu mencintai ibunya.
"Lagipula, aku akan menikah setelah tamat sekolah nanti."
Ucapan Aldrin membuat dahi Jefri mengerut. "Kamu mau menikah?"
Aldrin tersenyum sambil mengangguk. "Ya, aku akan menikahi pacarku setelah lulus. Aku akan memperkenalkan dia pada Ayah."
Jefri tersenyum. Ia menangkap ekspresi di wajah anaknya saat ini. Senyuman dan sorot mata Aldrin yang begitu berbinar masih sama seperti dulu. Anak itu akan menunjukkan ekspresi seperti itu jika sedang dilanda kebahagiaan.
"Saat aku berjumpa kembali denganmu, aku merasa kamu masih seperti bocah. Tidak kusangka, ternyata pikiranmu sudah dewasa." ujarnya.
"Apa Ayah akan mengizinkan aku menikahi pacarku setelah tamat sekolah?" tanya Aldrin ragu-ragu.
Jefri menghela napasnya, "Jika aku melarangmu, kamu pasti akan memaksaku untuk menuruti keinginanmu, 'kan?"
Aldrin menyunggingkan senyumnya. "Ternyata kamu bisa menebak jalan pikiranku!"
Keduanya nampak tertawa bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Amaira tengah sibuk membaca buku di perpustakaan. Sementara Aldrin berjalan mendekatinya dengan mengendap-endap pelan. Aldrin menutup mata gadis itu dari belakang.
"Aldrin ...." Sahut Amaira.
Aldrin menarik kedua tangannya dari mata Amaira dan memosisikan duduk di samping gadis itu. Ia menggoda gadis itu dengan melontarkan sebuah pertanyaan, "Duduk sendiri di sini apa kamu enggak takut diganggu setan gitu?"
Amaira tertawa sejenak. "Setannya, kan, kamu!"
Aldrin mengerutkan bibirnya. "Enak saja!"
Aldrin memandangi wajah cantik Amaira. Tangannya menyelipkan rambut panjang gadisnya ke belakang telinga sambil berkata, "Maaf kalau akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan tidak punya waktu untukmu."
Amaira memegang tangan Aldrin yang masih menyentuh rambutnya. Ia menatap dalam wajah Aldrin. "Tidak masalah, aku tahu kamu bekerja keras untuk masa depanmu."
"Bukan masa depanku. Tapi ... masa depan kita." Aldrin mengoreksi ucapan Amaira.
Senyum manis terukir di wajah gadis itu mendengar ucapan kekasihnya yang menggetarkan hati dan jiwanya. Ia tahu, Aldrin sedang berusaha keras untuk meluluhkan hati ayahnya yang masih tidak mau menerimanya dan tidak mengizinkan mereka untuk menikah dini.
.
.
.
.