
Sudah sejam. Amaira masih berdiri menunggu kehadiran lelaki yang berjanji akan menemuinya di sini. Matanya mencari-cari sesosok cowok yang memegang bunga mawar. Sesekali ia mengecek ponselnya, berharap mungkin cowok itu akan menelponnya.
Warna jingga di langit perlahan berubah menjadi gelap. Dengan masih memakai seragam sekolahnya, ia tetap menunggu di sana. Terlihat di lututnya ada luka goresan yang mengeluarkan sedikit darah. Luka itu disebabkan karena ia terjatuh saat dikejar Angel dan kawan-kawannya.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Amaira berdiri, Aldrin berdiri di balik pohon. Ia terus memantau gadis itu. Sejenak, cowok itu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan melakukan sebuah panggilan. Panggilan itu tersambung langsung ke nomor Amaira.
Amaira yang masih menunggunya, dibuat terkejut dengan suara dering ponselnya. Gadis itu melebarkan senyumnya saat mengetahui panggilan itu berasa dari cowok misterius yang hendak ia temui.
"Halo," sapa Amaira mengawali pembicaraan.
"Kamu sudah di sana, belum?" tanya Aldrin sambil memandangi Amaira dari kejauhan.
"Iya. Aku tunggu kamu dari tadi. Kenapa kamu belum ke sini?"
Aldrin berdahem. Dengan dingin ia menjelaskan, "Aku minta maaf. Sepertinya kita tidak usah bertemu di sana. Gimana kalau kita ganti tempat?"
"Di mana?" tanya Amaira.
"Hum ... bagaimana kalau kita check-in ke hotel. Kayaknya asyik, deh! Bisa sambil bersenang-senang, kan?"
Amaira terkejut. Ia membulatkan matanya mendengar ajakan cowok itu.
"Aku tidak menyangka kamu berpikiran seperti itu. Kupikir kamu akan perlakukan aku berbeda. Ternyata kamu malah menganggap aku seperti cewek murahan!" Amaira langsung menutup panggilan teleponnya. Ia beranjak pergi.
Aldrin melihat kepergiannya dengan tatapan sendu. Ia memang cowok yang tidak suka basa-basi dan lebih suka berterus terang. Ia tidak pandai bersandiwara untuk menutupi belangnya. Ia akan mengatakan apa yang ia suka. Tetapi saat ini, ia mengatakan hal itu supaya Amaira tidak menunggunya. Agar gadis melupakannya atau bahkan mungkin membencinya dan tidak lagi menghubunginya.
Aldrin tiba di rumah. Tuan Adam beserta keluarga sedang menikmati hidangan makan malam. Mereka menoleh ke arah Aldrin yang baru saja pulang dengan masih berseragam sekolah.
"Aldrin, kamu sudah makan, belum?" tanya Ardhilla.
Pertanyaan Ardhilla tak direspon. Aldrin hanya berlalu bergegas menaiki tangga menuju lantai atas.
Aldrin masuk ke kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Kelopak matanya terpejam. Ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu, yaitu ketika mereka pertama kali saling kenal lewat telepon salah sambung. Kenapa bisa ia tidak menyadari jika gadis itu adalah teman sekelasnya? Apa karena gadis itu tidak pernah mengobrol dengannya?
Entahlah! Saat ini otaknya tak mampu berpikir keras. Ia membuka matanya. Tangannya menyelusup saku jaket untuk mengambil ponselnya. Ia menatap layar ponsel. Mungkin gadis itu tak akan lagi menerima panggilan teleponnya. Lagi pula ia juga tak akan menghubungi gadis itu lagi. Hubungan mereka berakhir sampai di sini. Ya, cukup sampai di sini!
Keesokan harinya, Aldrin menuju ke sekolahnya dengan kendaraan kesayangannya. Di tengah jalan, ia melihat Maria yang berdiri kebingungan di depan mobilnya yang terparkir. Aldrin menghentikan motornya tepat di samping pemain sinetron itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aldrin membuka helmnya.
Maria menengok ke samping. Tangannya langsung memegang dada. Ia terkejut melihat Aldrin yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Syukurlah kamu lewat. Mobilku mogok. Sutradara dari tadi meneleponku terus. Aku butuh tumpangan, kebetulan aku akan syuting di sekolahmu selama beberapa bulan ke depan," tutur Maria dengan wajah memelas.
"Iya, kita, 'kan, satu tujuan. Lagian aku lagi menyuruh asistenku ke sini biar bawa mobilku ke bengkel."
Aldrin berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah, ayo naik!"
Maria tersenyum. Ia segera menaiki motor Aldrin. Kedua tangannya berpegangan di jaket cowok jangkung itu. Sepanjang jalan keduanya tak banyak bicara. Hanya saling diam. Aldrin menambah laju gas motor agar segera sampai di sekolah. Rambut panjang Maria beterbangan dibawa angin.
Sesampainya di sekolah, Aldrin langsung memarkirkan motornya di area parkir. Maria dan Aldrin turun dari motor. Rupanya, siswa-siswa yang berada di sekitar itu mengenali Maria. Tak ayal, mereka langsung mengerumuninya untuk meminta tanda tangan dan foto bersama. Maria tampak kewalahan menghadapi mereka. Sementara Aldrin meninggalkannya begitu saja.
Aldrin masuk ke kelas. Matanya langsung tertuju pada Amaira yang telah tiba di sekolah terlebih dahulu. Saat ini, gadis itu duduk sambil membuka buku pelajaran jam pertama. Aldrin menatap bergeming padanya. Sebelumnya ia tak pernah memedulikan gadis itu. Bahkan tidak pernah tertarik meskipun begitu banyak cowok-cowok yang mendekati gadis itu.
Namun, semua menjadi berbeda. Takdir berkata lain. Gadis yang dua kali tak sengaja ia tolong itu ternyata adalah sosok gadis misterius yang selalu mengobrol dengannya di telepom. Sekarang, tatapannya ke gadis itu berubah.
Aldrin berjalan menuju bangkunya. Ia mengambil posisi duduk tegap. Sepertinya ia menjadi canggung. Takut jika gadis itu mengetahui bahwa dialah cowok yang selama ini menghubunginya.
Tiba-tiba Amaira berdiri dan berjalan ke depan. Naufal langsung mengekornya dari belakang. Mata Naufal langsung beralih pada sebuah perban kecil yang melekat di lutut gadis itu.
"Kenapa dengan lututmu?" tanya Naufal.
"Terluka karena jatuh," jawab Amaira pelan.
"Kapan?" tanya Naufal khawatir
"kemarin."
"Kenapa bisa jatuh?"
Amaira terdiam sesaat. Ingatannya melayang pada kemarin sore. Dengan pelan ia menjawab, "Lagi buru-buru menemui seseorang."
Aldrin mendengar perbincangan Naufal dan Amaira yang membahas soal luka di lutut gadis itu. Ia menebak gadis itu terjatuh pasti saat ingin menemuinya. Ia ingin meminta maaf. Namun, sangat lucu jika dia tiba-tiba mengatakan maaf tanpa alasan. Lebihnya lagi, mereka tidak pernah berinteraksi.
Sepanjang pelajaran, Aldrin tidak lagi tidur seperti biasa. Ia terus menatap Amaira dari tempat duduknya. Setiap gerak gerik Amaira tak lepas dari pandangannya. Ada perasaan yang sangat sulit dijelaskan dan hanya bisa terlihat dari bola matanya.
Tanpa ia sadari, Angel mengamati mereka. Sangat terlihat jelas dari pantauannya jika Aldrin terus menatap Amaira. Tentu saja dia tahu, tatapan itu milik seseorang yang sedang jatuh cinta. Hal ini membuatnya langsung mengambil kesimpulan, mungkinkah gadis yang di sukai Aldrin adalah Amaira? Itulah sebabnya Aldrin tiba-tiba memutuskannya?
Maria mengambil istirahat setelah selesai syuting. Sinetron terbarunya saat ini bertema anak sekolahan dan berlokasi di sekolah Aldrin.
Maria mengambil minuman dingin. Ia bersandar sejenak di kursi. Samar-samar pendengarannya menangkap suara indah alunan biola. Ia menuju arah sumber suara tersebut. Matanya menangkap sosok cowok berseragam dengan rambut berwarna emas sedang memainkan biolanya di bawah pohon yang rindang.
Ya, ia sedang melihat Aldrin memainkan dawai. Instrumen yang dibawakan saat ini sama dengan yang dimainkan saat di pesta kelulusan Zaki.
Maria masih setia mendengar alunan suara yang menyayat. Ia menatap kagum ke arah Aldrin. Jari-jari Aldrin begitu mahir memainkan biola. Getaran dawai yang dimainkan mampu menimbulkan suara yang membuat hatinya terenyuh. Jiwanya seakan hanyut ke dalam musik yang dimainkan Aldrin.