
Aldrin tersadar akan kehadiran Naufal. Dengan segera, ia menggeser tempat duduknya untuk membuat jarak antara dirinya dan Amaira. Naufal masuk ke dalam perpustakaan dengan membawa tiga botol mineral.
"Kukira kalian sementara kerjakan tugas," ucap Naufal sambil menyerahkan botol mineral.
Aldrin terlihat canggung. Jantungnya berdebar-debar. Ia seperti maling yang hampir tertangkap basah. Dalam hatinya bertanya, apakah kemesraannya bersama Amaira tadi tertangkap oleh Naufal? Namun, melihat reaksi Naufal saat ini, sepertinya cowok berkacamata itu tak melihat apapun.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Aldrin berjalan ke area parkir bersiap untuk pulang. Naufal mengejarnya dari belakang. Aldrin menoleh. Naufal menyerahkan dua buah tiket nonton. Aldrin mengernyitkan matanya, sementara Naufal memintanya untuk mengambil tiket film itu.
"Kenapa bukan kamu saja yang nonton?" tanya Aldrin.
"Ini film kesukaan Amaira. Waktu itu aku pernah mengajaknya nonton bareng, tapi kak Maria kasih kabar kamu pop masuk rumah sakit. Jadi, aku batalin. Tadi aku ngajakin lagi, tapi ternyata dia sudah menonton Film itu," terang Naufal memasang wajah kecewa.
Aldrin tertegun mendengar penjelasan Naufal. Bagaimana bisa saudaranya itu rela membatalkan nonton bersama dengan orang yang disukainya hanya karena dirinya? Bukankah itu artinya Naufal masih lebih mementingkan dirinya dibanding apa pun. Bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia bahkan mengkhianati Naufal saat ini.
"Kamu suka banget, ya, sama dia?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari mulut Aldrin.
"Kamu masih tanya kayak gitu setelah melihat segala usaha aku untuk dekat? Dia cewek pertama yang aku suka!" tegas Naufal, "Ya sudah aku pergi dulu." Naufal masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi.
Tak lama setelah Naufal pergi, ponsel Aldrin berdering. Ia langsung menerima panggilan telepon itu. Ternyata Bryan yang meneleponnya dan memintanya datang lapangan basket. Aldrin pun bergegas pergi. Di sana, ia melihat anggota geng Bryan yang kemarin hampir memerkosa Amaira sedang dipukuli Bryan.
"Aldrin, kasih tahu gua hukuman apa yang pantas mereka terima! Biar gue kasih!" erang Bryan sambil memegang salah satu kerah anak buahnya.
"Aldrin, kita benar-benar tidak tahu kalau cewek itu pacarmu. Andai kami tahu, kami enggak bakal menuruti kemauan Angel," ucap salah satu di antara mereka. Wajah orang itu memar-memar karena habis dipukuli Bryan.
"Tidak perlu! lupakan saja kejadian itu. Tapi, jangan pernah menampakkan wajah kalian di depan Amaira," sahut Aldrin dengan wajah dingin.
Bryan melepaskan salah satu di antara mereka lalu menghampiri Aldrin seraya menepuk pundaknya. Ia menyerahkan sebuah undangan kelas VIP. "Oh ya, gue undang lo acara keluarga gue malam ini. Jangan lupa datang, ya! Ajakin juga pacar lo. Ada banyak Artis terkenal di sana."
"Entar, pikir-pikir dulu," jawab Aldrin. Sebab, dia tidak suka pergi ke tempat umum.
"Gue sangat berharap lo bisa datang. Lo, 'kan, dah gue anggap kayak saudara sendiri!" pinta Bryan sekali lagi.
"Okey, aku akan datang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Ardhilla baru saja selesai melakukan wawancara bersama tabloid ternama. Ia menyerahkan tas mewahnya ke Siska—asistennya, lalu memasang kacamata menuju mobil mewah yang telah menunggunya. Ia dan Siska masuk ke mobil. Rupanya, supir dan juga manajer telah lama menunggu di mobil.
"Tolong lihat 'kan jadwalku malam ini!" ujar Ardhilla pada asistennya.
"Jadwalmu malam ini kosong," jawab asisten yang berperawakan wanita pria.
"Tapi, malam ini kamu dapat undangan VIP yang di selenggarakan Rumah Produksi MLC entertainment. Malam ini akan ada acara mengenang tuju belas tahun wafatnya Sutradara Steve Arnold beserta karya-karyanya," ujar Manajer Ardhilla yang duduk di samping supir.
Ardhilla mendadak bungkam. Napasnya terasa berat. Sudah tujuh belas tahun ia tak pernah mendengar nama mantan pacarnya itu. Sudah selama itu pula ia melupakan masa lalunya bersama mantan yang meninggalkan seorang anak untuknya. Sedih dan benci berkumpul menjadi satu saat nama itu terdengar kembali.
"Aku tidak akan hadir," tolak Ardhilla dengan wajah yang datar.
"Kamu harus hadir. Rumah produksi akan remake kembali Film pertamamu yang disutradarai oleh mendiang Steve. Peranmu akan diisi artis pendatang baru yang bernama Maria. Kalau kamu tidak hadir, wartawan akan mengungkit skandal hubungan gelapmu dengan dia lagi!" saran manajer.
"Itu sudah sangat lama, dan tidak ada bukti apa pun kalau aku pernah menjalin hubungan dengannya!" bentak Ardhilla dengan nada tinggi.
"Kamu harus datang kalau kamu mau dibilang profesional dalam bekerja!" tangkas Manajernya.
Ardhilla terdiam sesaat, seraya berpikir. Ia menoleh ke samping, lalu berkata pada Siska. "Hubungi desainer sekarang juga! Suruh mereka siapkan gaun malam terbagus untuk kupakai. Telepon juga Bennu. Katakan padanya aku akan ke studio makeup-nya jam enam sore."
"Aku minder, kayaknya aku salah kostum, deh!" ucap Amaira malu sambil melihat sekeliling orang berpakaian formal.
"Enggak pa-pa. Kamu tetap cantik seperti ini kok." Aldrin mempererat genggaman tangannya.
Mendengar ucapan Aldrin, membuatnya sedikit tenang. Ia bisa menepis rasa tidak percaya dirinya sekarang.
"Aku enggaknyangka kalau Bryan itu anak mendiang Sutradara terkenal dan juga cucu mantan Menteri. Pantas saja dia sangat berkuasa di sekolah," ujar Amaira sambil menoleh sekeliling hotel.
"Kamu tahu enggak, waktu pertama kali aku masuk ke sekolah itu, aku berkelahi dengannya. Aku pukuli dia sampai rahangnya hampir tergeser, loh!" Aldrin tertawa mengenang peristiwa itu.
Amaira terkejut. "Kamu tidak boleh seperti itu sama orang.
"Dia yang duluan menggangguku!" Aldrin membela dirinya, lalu melanjutkan ucapannya, "sebenarnya melihat dia, aku merasa seperti bercermin pada diriku sendiri, sifat kami sangat mirip!"
"Masa' sih?" Amaira tampak antusias. Namun, secar mendadak ia merasa ingin buang air kecil. Ia meminta Aldrin menunggunya di luar.
Aldrin berdiam diri sambil menunggu Amaira. Matanya ke sana kemari melihat tamu-tamu yang masuk. Begitu banyak tamu dari kalangan artis papan atas, sutradara terkenal dan juga produser ternama.
Ardhilla turun dari mobilnya. Ia memakai gaun hitam panjang yang begitu elegan. Polesan makeup-nya natural tapi tetap meninggalkan kesan glamor. Ia masuk ke dalam hotel dengan penuh percaya diri.
Ketika baru melangkah masuk, mata Ardhilla membesar seketika. Pasalnya, matanya menangkap sosok remaja laki-laki yang mirip dengan putranya berdiri tak jauh darinya.
Ardhilla tampak penasaran. Ia ingin memastikan apakah itu benar-benar Aldrin. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menemui remaja laki-laki yang diduga mirip Aldrin. Ternyata benar, bukan hanya mirip, tetapi pemuda itu benar-benar putranya.
Ardhilla terlonjak seketika. Wajahnya menjadi kaku. Dadanya terasa berat. Seperti ada batu besar yang menindihnya. Ia menutup mulutnya yang setengah terbuka karena terkejut.
Seketika, ia merasa kiamat kecil menghampirinya. Bagaimana tidak berlebihan seperti sekarang? Ini adalah acara mengenang tujuh belas tahun kematian Sutradara Steve Arnold, ayah kandung dari putranya! Dan sekarang putranya datang ke sini, ikut menghadiri acara tersebut.
Di tengah rasa kagetnya, ia melangkah cepat menghampiri Aldrin. "Aldrin, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan masih memasang wajah terkejut.
Aldrin menoleh. Ia pun terkejut melihat kedatangan ibunya. Belum sempat menjawab, Bryan datang menghampirinya.
"Hei, Bray! Akhirnya lo datang juga! Gue kira enggak bakal datang!" sambut Bryan sambil merangkulnya.
Bryan menoleh ke arah Ardhilla yang berdiri di depannya. "Eh, Tante. Tante bukannya Ardhilla? Tante Artis yang dulunya sering bermain film yang disutradarai ayahku, 'kan?"
Bagai mendapat serangan badai beruntun, wanita itu makin terkejut saat mendengar ucapan Bryan. Tenggorokannya terasa kering dan lehernya seakan tercekik. Ia kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Kamu ...." Ardhilla tak mampu melanjutkan ucapannya dan hanya mampu menunjuk ke arah Bryan dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan.
"Ya ... Saya Bryan Arnold. Putra tunggal mendiang Steve Arnold." Bryan menyambung perkataan Ardhilla sambil mengulurkan tangan.
Seketika, mulut Ardhilla terbuka secara spontan.
Hayo... hayoo adakah yang mengenal visualnya Bryan? yup dia adalah Yamazaki Kento. kento ini terkenal yaa di indonesia sama kaya bang Haruma miura, dia meranin Film Dead note 1 sebagai L dan banyak dorama2 yang terkenal.