Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 84 : Awal Perubahan



Minggu sore, di depan rumah Amaira, Aldrin turun dari motornya dan membuka helm yang terpasang di kepalanya. Sejenak, Ia menatap wajahnya di spion motor lalu berdiri di depan pagar. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan lewat udara.


Sekarang, ia seperti terlahir kembali. Rambut baru berwarna hitam dengan berpakaian yang rapi. Sebelum melangkahkan kakinya, ia membuka anting yang ada di telinga kirinya dan membuang di tong sampah yang tepat berada di sampingnya.



"Aldrin, aku sudah nunggu kamu dari tadi," sahut Amaira yang baru keluar dari rumahnya. Ia terkejut melihat penampilan terbaru Aldrin yang terlihat rapi dengan rambut yang hitam legam.


"Kenapa kamu natap aku kaya gitu?" tanya Aldrin memegang batang lehernya karena salah tingkah.


"Kamu ganti gaya rambut?"


"Iya, kelihatan keren gak, sih? "


"Hmmm ... iya. Tapi, kamu nyaman enggak sama kamu yang sekarang?," tanya Amaira yang menatap lekat ke arahnya.


"Nyaman-nyaman saja kok."


Amaira tersenyum. "Oke, ayo, kita masuk!"


Amaira mengajak Aldrin menemui Ibu dan Ayahnya yang sedang duduk bersantai di ruang tamu. Gadis itu memperkenalkan Aldrin sebagai pacarnya.


Aldrin menyapa kedua orangtua Amaira. "Halo, Om, Tante, Saya Aldrin, pacarnya Amaira." Aldrin mengulurkan tangannya seraya menunduk.


Ayah Amaira memasang kacamatanya, memerhatikan Aldrin secara saksama. Ditatap seperti itu, membuat Aldrin hanya diam dengan wajah yang seakan menahan napas.


"Kamu bukannya cowok yang waktu itu berambut pirang, pakai anting-anting dan celana sobek," ujar Ayah Amaira sebagai kalimat pertamanya.


"Wah ... hebat! Ingatanmu kuat, ya! padahal umurmu sudah lumayan tua!" seru Aldrin dengan mata yang terbelalak takjub.


Jawaban Aldrin yang spontan dan tidak sopan membuat Ayah dan Ibu Amaira tercengang.


Amaira buru-buru berkata pada orangtuanya. "Ayah, Ibu, Aldrin lama tinggal di Amerika jadi dia kurang paham berbahasa indonesia yang baik."


Ibunya menoleh pada Amaira seraya berkata, "Amaira, kamu masuk ke dalam saja. Biarkan Ayahmu bicara sama dia."


Amaira dan Aldrin saling menatap, Aldrin mengangguk pada Amaira, memberi kode jika ia harus mengikuti perkataan ibunya. Gadis itu masuk ke ruang keluarga dan langsung ditarik kakaknya yang dari tadi mengintip.


"Bukannya pacarmu, cowok yang datang menjemputmu malam itu?" tanya kakaknya sambil sesekali melihat kembali ke arah Aldrin yang duduk di ruang tamu bersama Ayahnya.


"Bukan. Dia hanya temanku dan juga saudaranya," jawab Amaira.


"Hah? Jadi dia sama cowok waktu itu bersaudara, gitu? Tapi, aku kok enggak asing lihat wajah cowok ini,di mana ya?" Kakak Amaira tampak berpikir keras sambil kembali mengintip ke ruang tamu. "Ahh ... wajahnya kayak cowok pemain biola yang viral beberapa hari ini!" ujarnya kembali.


"Iya, memang benar. Itu dia!" jawab Amaira.


"Masa? Berarti dia anak artis dong?" tanya kakaknya kembali dengan mata yang membulat tajam.


Amaira kembali mengangguk sambil tersenyum senang.


Di ruang tamu, Aldrin dan Ayah Amaira duduk berhadapan. Ibu Amaira datang membawakan segelas teh hangat untuknya. Kemudian wanita itu duduk di samping suaminya.


"Begini, Om ...." Aldrin berdeham sejenak. "Kedatanganku ke sini selain memperkenalkan diri sebagai pacar Amaira, aku juga mau minta izin." Aldrin menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena gugup. Ia tampak gemetar.


Bapak itu masih memperhatikannya dengan saksama tanpa berkata apa pun.


Aldrin memegang kedua lututnya, mencoba mengatasi kegugupannya. "Aku mau menikahi anak Om setelah lulus nanti. Saat kami naik kelas 3, waktu belajar kami hanya delapan bulanz setelah itu kami akan mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan. Dan aku ... akan menikahinya."


"Berapa usiamu sekarang?" tanya Ayah Amaira.


"Tujuh belas tahun, tapi tahun depan aku delapan belas tahun, Om."


"Di usia delapan belas tahun kamu akan menikahi putriku?"


Aldrin mengangguk cepat sambil melebarkan senyumnya.


"Bagaimana kamu bisa memberi kehidupan anakku kalau kamu saja baru lulus SMA dan tidak punya pekerjaan!"


"Jangan khawatir, Om. Ayahku Presiden direktur perusahaan Adam Grup dan Ibuku Ardhilla, dia Artis. Tante mungkin kenal artis itu," ucap Aldrin dengan percaya diri.


"Tapi anakku bukan menikahi ayahmu atau pun ibumu. Yang akan menikah itu kalian berdua, dan kamu pun bukan presiden direktur atau artis. Kalau kamu berpikir untuk menghidupi putri kami dari suar lelah orangtuamu, itu artinya kamu belum dewasa dan belum siap menikah."


Aldrin tertunduk diam. Ini pertama kalinya dengan bangga ia menyebutkan jabatan dan profesi kedua orangtuanya untuk membuat orangtua Amaira terkesima. Namun, ternyata ia salah. Orangtua Amaira justru melontarkan kalimat menohok untuknya.


"Kalian masih muda. Aku mengerti kalian sedang mabuk asmara, tapi pernikahan bukan mainan. Pernikahan bukan seindah yang kalian pikirkan. Aku mengizinkanmu pacaran dengan anakku, tapi tidak untuk menikah muda!" ucap Ayah Amaira sambil berdiri hendak beranjak.


Aldrin kembali mengangkat kepalanya, menatap dalam bola mata Ayah Amaira. "Aku akan buktikan pada Om, kalau saat ini aku sangat serius dengan pernyataanku. Aku akan memantaskan diri selama setahun ini, agar kamu bisa menerimaku!"


Ayah Amaira hanya diam dan tetap memutuskan pergi ke ruang tengah. Amaira menghampiri ibunya yang masih di ruang tamu bersama Aldrin.


"Ibu, aku mau menikah sama Aldrin setelah tamat SMA, kami berdua saling cinta." Amaira mencoba merayu Ibunya.


Ibunya tersenyum membelai rambut Amaira. "Kalian masih cinta-cinta monyet, satu tahun itu waktu yang lama. Dalam setahun, apa saja bisa terjadi, mungkin bisa putus atau ada di antara kalian akan ada yang berpaling."


"Itu tidak mungkin terjadi, Tante," balas Aldrin.


Ibu Amaira terdiam mendengar ucapan Aldrin lalu kembali menatap Amaira. "Sayang, bukannya setelah tamat SMA kamu mau kuliah di Universitas Indonesia?"


"Tenang saja, Tante. Aku tetap mengizinkan Amaira kuliah meskipun dia sudah jadi istriku. Aku juga akan membebaskan dia berkarir." Lagi-lagi Aldrin menjawab pertanyaan ibu Amaira yang bukan untuknya. Namun, ibu itu memilih untuk tak menggubris ucapannya.


"Ibu dulu menikah dengan ayahmu di usia 22 tahun, sedangkan ayahmu 27 tahun. Itu pun kami sering cekcok. Bagaimana dengan kalian berdua yang menikah muda di usia yang sama?" lanjut Ibunya kembali berbicara pada anaknya.


"Kata orang umur tidak menjamin kedewasaan. Terbukti, kan, meskipun Ayah Amaira menikah di usia 27 tahun tapi dia sering bertengkar dengan Tante." Aldrin kembali menyela ucapan ibu amaira.


Ibu itu menatap Aldrin dengan kesal. Kali ini ia memutuskan meninggalkan keduanya di ruang tamu. Aldrin dan Amaira saling bertatapan. Cowok yang baru saja mengganti warna rambutnya itu tersenyum hangat padanya.



"Jangan khawatir, kita jalani saja dulu. Aku akan mencari kerja sambilan agar bisa mengumpulkan uang untuk pesta pernikahan kita nanti." Aldrin menyentuh punggung tangan mungil milik Amaira.


"Apa kamu akan mengatakan ini sama orangtuamu juga?" tanya Amaira.


Aldrin terdiam sejenak. "Ya, aku akan mengatakan hal ini besok!"


.


.


.