Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 33 : Skandal Video Maria



Di kediaman Tuan Adam, Naufal membuka sebuah kotak kecil yang berisi jepitan rambut milik Amaira. Ia mengambil jepitan berbentuk hati tersebut seraya berkata sendiri, "Kamu adalah cinta pertamaku. Jadilah pacarku!"


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Zaki melangkah terburu-buru memasuki kelab malam. Kerlap kerlip cahaya lampu di kelab itu menyilaukan matanya. Ia belum pernah ke sini sebelumnya. Sebab, ia memang anti dengan dunia malam. Ia tak akan menginjakkan kakinya di tempat ini, jika bukan karena temannya yang merupakan pemilik kelab malam ini menghubunginya.


Zaki menghampiri temannya saat ia memasuki ruang utama bar.


"Kenapa kamu memanggilku ke sini?" tanya Zaki dengan datar.


"Dia adik lo, 'kan?" tanya pemilik kelab itu sambil menunjuk Aldrin yang tengah terkapar dan tak sadarkan diri di sofa panjang.


Zaki menghela napas panjang. "Apa lagi yang dibuat anak itu?"


"Dia mabuk berat dan berkelahi dengan pengunjung di sini. Gara-gara dia bar gue jadi sunyi kayak gini! Semua pengunjung lari ketakutan tahu, enggak!" serunya kesal, "Pas gue lihat baik-baik, gue baru sadar kalau dia adik lo. Makanya gue langsung hubungi lo," lanjutnya menceritakan kronologi yang baru saja berlangsung di tempat itu.


Zaki terdiam sesaat dengan rahang yang mengetat. Ia menatap sekeliling ruangan. Kelab itu memang sunyi tak berpengunjung. Ada banyak pecahan botol berserakan. Beberapa kursi dan meja porak poranda.


Zaki kembali menghela napasnya. Ia mengebas rambut depannya seraya berkata tanpa ekspresi. "Oke, aku akan bawa dia pulang. Beri tahu aku berapa kerugianmu, aku akan menggantinya."


Setelah melakukan kesepakatan dan mengganti kerugian yang adik tirinya perbuat, Zaki membawa pulang Aldrin yang masih mabuk berat. Sepanjang jalan, ia menutup hidungnya karena tak kuasa menahan bau alkohol yang tajam dari tubuh Aldrin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah, Tuan Adam tengah bersantai menikmati teh di ruang tengah bersama Ardhilla. Keduanya tersentak ketika melihat Zaki yang baru saja pulang. Pasalnya, Zaki masuk bersama Aldrin yang dipapah oleh supir mereka.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Adam sambil berdii.


"Seperti biasa, anak ini selalu membuat keributan. Aku sudah tidak tahan dengannya. Kenapa juga kita harus membawanya ke sini? Dia benar-benar tidak berguna!" geram Zaki dengan emosi yang tertahan di dadanya.


"Zaki, tenanglah! Apa yang Aldrin lakukan? Biar aku beri tahu padanya supaya dia tidak membuat masalah lagi." Ardhilla menghampiri anak tirinya, berusaha menenangkan Zaki yang sedang emosi.


"Ibu, aku minta maaf. Tapi aku sangat jijik melihat kelakuannya. Seharusnya dulu ibu tidak membawanya ke sini!" tampik Zaki sambil menunjuk Aldrin yang sedang dipapah supir mereka.


"Sudah! Sudah!" tegur Tuan Adam berusaha meredam emosi Zaki yang meluap.


"Ayah selalu bebasin dia berbuat semaunya. Seharusnya Ayah kembalikan dia sama Ayahnya! Dia lebih cocok jadi gembel dari pada tinggal bersama kita!" erang Zaki dengan lantang.


"Bawa masuk dia di kamarnya!" pinta Tuan Adam pada supir yang memapah Aldrin.


"Baik, Tuan."


Supir lalu menuntun Aldrin menuju kamarnya. Aldrin terbaring di atas ranjang. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga membawakan air hangat untuknya. Setelah pelayan itu keluar, Aldrin mengambil ponselnya. Ia tampak menghubungi seseorang.


"Kirim video itu sekarang!" perintah Aldrin pada orang yang diteleponnya. Pada saat ini, mata Aldrin memancarkan bola api yang membara. Senyum licik terbit dari mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Maria berjalan terburu-buru memasuki gedung agensi tempat Aktor dan Aktris bernaung. Gadis itu datang memakai atasan blouse dan celana pendek yang menampakkan kaki jenjangnya. Ia melangkahkan kakinya selebar mungkin agar segera sampai ke sebuah ruangan. Begitu sampai, ia langsung membuka pintu ruangan dan melihat manajernya telah duduk di sana.


"Sudah lihat postingan akun gosip hari ini, belum?" tanya manajernya sambil menyerahkan sebuah smartphone-nya.


Maria memosisikan duduk di samping manajer sambil mengambil smartphone yang diserahkan padanya. Ia melihat sebuah postingan video dari akun gosip berpengikut terbesar di instagram. Video yang berdurasi lima detik itu menampakkan dirinya seperti sedang berciuman dengan seseorang. Postingan tersebut sontak membuat matanya melebar karena terkejut.


"Ini ... ini bukan aku! Iya, ini bukan aku! Ini pasti editan!" sanggah Maria sambil menutup mulutnya yang ternganga.


"Apa kamu yakin ini bukan kamu?" tanya manajer dengan pandangan tajam.


Wajah Maria memucat. Ia menonton video itu kembali. Ia yakin tak melakukan hal seperti dalam video tersebut. Namun, orang di dalam video tersebut sangat mirip dirinya.


"Seingatku, beberapa hari yang lalu aku membawamu pulang dari diskotik yang ada dalam video itu. Saat itu, pacarmu menanyakan keberadaanmu, dan aku langsung menghubungi ponselmu. Tapi, seorang pria menerima panggilanku dan menyuruhku untuk datang menjemputmu di sana," lanjut Manajernya seraya mengingat kejadian yang hampir sepekan hari yang lalu.


Maria mencoba mengingat-ingat kembali kejadian sepekan lalu. Ya, malam itu dia datang ke diskotik dan minum beberapa gelas wine. Kemudian seseorang datang menghampirinya, tapi dia tak mengingat apapun lagi setelah itu. Apa mungkin orang tersebut ingin menjebaknya untuk menurunkan popularitasnya?


Maria dilanda panik seketika. Ia tampak khawatir dan gugup. "Bagaimana ini? Tolong urus semuanya. DM akun-akun gosip itu, suruh mereka hapus postingan itu. Kalau perlu bayar mereka. Kalau mereka tidak mau, kamu bisa ancam mereka lapor ke kantor polisi!


"Terlambat! Postingan itu sudah tersebar di mana-mana. Bahkan di lambe turah sudah ada sepuluh ribu komentar dari netizen. Rata-rata dari mereka mengkhawatirkan hubunganmu dengan Putra sulung Adam grup. Bahkan tak sedikit yang berasumsi kalian telah putus," ucap Manajer Maria dengan serius.


Maria menghela napasnya. "Bagaimana ... bagaimana jika Zaki sampai melihatnya? Kenapa aku sampai seceroboh ini? Aku tidak ingat apa-apa."


Maria semakin kalut. Ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari ponselnya. Terlihat dari layarnya, suara panggilan telpon itu berasal dari Zaki.