Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 101 : Menggantikan Posisinya di Hatimu



Maria menarik tangan Zaki lalu membawanya pergi agar tak bertindak lebih jauh.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu di depan pacarnya? Mereka bisa putus karena ulahmu, tahu!"


"Yang aku katakan semuanya benar, kok! Aku cuma heran saja, kenapa ayah sangat percaya sama dia yang mau menikahi pacarnya. Gara-gara itu ayah mengizinkan dia masuk ke perusahaan."


"Bukannya itu bagus? Dia saudaramu meskipun kalian enggak terikat darah. Kenapa kamu bisa bersikap gitu sama saudara tirimu?"


Zaki terdiam. Ia menghela napas. Matanya beralih ke tempat lain. Ia tak mungkin akan menceritakan konflik berkepanjangan antara ia dan Aldrin, atau lebih tepatnya ia tidak tahu harus memulai dari mana cerita tentang awal mula mereka bermusuhan karena itu semua tanpa alasan. Ya, tidak ada alasan yang jelas mengapa mereka tidak saling menyukai selain karena ketidakcocokan satu sama lain sedari kecil.


Aldrin dan Amaira sama-sama terdiam. Aldrin tak berusaha menjelaskan apa pun sementara Amaira juga tak mengeluarkan pertanyaan apapun. Ketika Amaira melangkah mengikuti arah Zaki dan Maria pergi, Aldrin langsung menarik lengannya.


"Apa kamu enggak mau tanya sama aku tentang yang baru saja Zaki katakan?" tanya Aldrin yang akhirnya membuka suaranya.


"Aku percaya sama kamu!" ucap Amaira dengan lemah.


Aldrin seperti merasa sedang dalam keadaan tak berdaya. Tadinya ia berpikir gadis itu mungkin akan pergi meninggalkannya, atau paling tidak mengeluarkan kata-kata kekecewaan padanya. Namun, Amaira malah mengatakan percaya padanya? Bukankah itu membuatnya makin merasa bersalah.


"Sebenarnya yang dikatakan Zaki—"


"Aku percaya sama kamu." Belum sempat Aldrin menyelesaikan ucapannya, Amaira langsung memotong.


Aldrin menatap lekat mata gadis itu. "Kenapa kamu selalu percaya sama aku?"


"Karena percaya yang sesungguhnya adalah ketika kamu tetap percaya meskipun itu sulit dipercaya. Entah itu benar atau tidak. Aku tetap percaya sama keyakinanku yang memilih kamu. Kamu dan aku saat ini, kita sama-sama maju melangkah meninggalkan masa lalu yang telah lewat," ucap Amaira dengan segaris senyum.


Aldrin tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Amaira lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ruang makan. Tuan Adam telah duduk di meja makan dan memosisikan duduk di tengah seperti memimpin jamuan itu. Aldrin mengambil posisi duduk di samping kiri tuan Adam berdekatan dengan Amaira. Sementara Ardhilla, Zaki dan juga Maria berada di samping kanan tuan Adam.


"Ke mana Naufal?" tanya Tuan Adam melirik ke lantai atas.


"Dia pergi dengan temannya. Tadi dia sudah minta izin padaku," ucap Ardhilla.


Mereka mulai menikmati hidangan. Aldrin mengambilkan beberapa menu ke piring Amaira.


"Ini menu favoritku kamu harus coba" ucap Aldrin sambil menuang menu itu ke piring Amaira.


"Ini juga enak, dicoba ya!" lanjut Aldrin melakukan hal yang sama.


"Sudah, jangan banyak-banyak." Amaira terlihat malu-malu.


"Enggak pa-pa. Makanan ini dibuat spesial untuk kita berdua, yang lainnya itu cuma bantu habisin saja," balas Aldrin.


Maria memperhatikan keduanya yang terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ia tak mengerti dengan dirinya saat ini, ada rasa cemburu menggerogoti dirinya. Pikirnya, mungkin karena Zaki terlalu jaim dan tidak seapa-adanya seperti Aldrin.


"Kalau boleh aku tahu, apa pekerjaan ayahmu?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Ardhilla, menghentikan Amaira yang sedang menyantap hidangannya.


"Ayahku PNS di kantor Gubernur," jawabnya.


"Oh, begitu!" Ardhilla tersenyum kembali.


"Ingat, hari Senin kamu sudah masuk ke perusahaan dan ikut membantu kakakmu," kata Tuan Adam pada Aldrin.


Aldrin mengangguk, tatapannya beralih ke Zaki yang juga menatapnya. Mereka saling melempar pandangan sinis.


"Gimana denganmu Zaki, kapan kamu berencana menikahi pacarmu?" tanya Tuan Adam.


Baru saja Zaki ingin menjawab pertanyaan Ayahnya, Maria langsung berkata, "Maaf, Om! Aku belum mau menikah, dan aku belum siap menikah di usia muda. Aku masih mau berkarir sebagai artis."


Zaki tersentak mendengar ucapan Maria. Ia memang sependapat dengan Maria. Namun, mendengar Maria mengucapkan hal itu secara gamblang membuatnya sedikit sakit hati.


"Iya aku setuju sama Maria. Aku juga belum mau menikah di usia muda," jawab Zaki seadanya.


Hari ini Er tampil sangat berbeda dari biasanya. Ia memakai gaun putih yang pernah Naufal berikan padanya. Rambutnya yang selalu dikuncir, sekarang terurai indah dan ia memakai sepatu ballet pink yang berhiaskan pita di depannya.


Naufal menatapnya bergeming, ia seakan terpaku pada sosok gadis yang berada di hadapannya sekarang. Mata Er terlihat berkilau seperti bintang yang bercahaya. Seutas senyum manis yang terukir di bibir tipisnya, membuat Naufal makin terpana padanya.


Er berdeham, mencoba menyadarkan Naufal yang masih terpaku tak berkedip melihatnya.


"Er ... ini benar-benar kamu?" tanyanya seolah tak percaya.


Wajah Er terlihat merah merona karena malu. "Ayo kita masuk, gue enggak sabar buat nonton." Er tidak menjawab pertanyaannya malah langsung masuk ke dalam mobilnya.


Mereka tiba di bioskop dan langsung masuk ke gedung setelah membeli tiket film. Hari ini mereka memutuskan menonton film romansa yang berjudul 'Cinta Pertama'. Keduanya terlihat begitu serius menonton sambil menikmati popcorn yang di pegang Naufal di tangan kirinya. Tangan mereka saling bertemu saat keduanya mengambil popcorn secara serempak. Mata Naufal dan Er saling bertukar, keduanya menjadi salah tingkah.


"Ini pegang saja," ucap Naufal sambil memberi popcorn pada Er.


Er mengambilnya dari tangan Naufal lalu tetap melanjutkan tontonannya. Film telah berakhir. Satu per satu orang dalam ruangan keluar. Naufal dan Er juga ikut keluar. Er melihat beberapa pasangan yang keluar dengan saling menggenggam tangan. Ia menatap Naufal yang berjalan lurus di sampingnya. Ia memberanikan diri untuk memegang tangan Naufal.


Naufal terkejut. Ia menatap tangan putih yang memegang tangannya. "Jangan kayak gini, nanti orang-orang menyangka kita pacaran," tolaknya lembut sambil melepaskan tangannya dari pegangan Er.


Er sempat terdiam beberapa detik. Namun, dengan cuek ia malah merangkul tangan Naufal dan menariknya berjalan dengan cepat. Kelakuannya sontak membuat Naufal terkejut, meskipun akhirnya hanya pasrah.


Mereka memutuskan untuk pergi ke kafe tempat anak muda bercengkrama. Suasana malam minggu, membuat kafe tersebut banyak dikunjungi pasangan muda-mudi. Naufal dan Er memilih duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Mereka memesan minuman dan juga aneka dessert yang tersedia di dalam menu kafe. Keduanya saling terdiam seperti bingung harus berbuat apa.


Naufal adalah tipe cowok yang mudah bergaul. Ia selalu bisa mencairkan suasana ketika bersama teman-temannya dan juga bersama Amaira sekali pun. Namun, bersama Er ia selalu lebih banyak diam. Entah karena Er terlalu mendominasi atau karena belum terbiasa bersama gadis yang selalu menemaninya saat sedang melarikan diri dari patah hati yang menghampirinya.


Begitu pula Er saat ini. Gadis yang biasanya sangat cerewet itu kini berubah total menjadi lebih kalem dan tidak banyak bersuara. Keduanya diam-diam saling mencuri pandangan. Mata keduanya saling bertemu tapi dengan buru-buru mereka kembali menatap ke depan.


Setelah menikmati hidangan kafe, keduanya memutuskan pulang. Malam ini, mereka melewatinya dengan sama-sama gugup. Tidak banyak saling bicara malah lebih banyak saling membisu.


Naufal mengantar Er pulang ke rumahnya. Di perjalanan, Naufal menoleh ke arah jam tangannya.


"Semoga mereka sudah selesai makan malam," ucap Naufal berbicara pada dirinya sendiri. Ia menghentikan mobilnya tepat di lorong kecil tempat Er tinggal.


"Terima kasih telah menemaniku malam ini," ucap Naufal tersenyum hangat.


Er menatap Naufal dengan penuh arti. "Lo masih sulit ya lupain dia?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulut Er dengan pelan.


Naufal terdiam beberapa saat. Ia menunduk sambil menganggukkan kepalanya.


"Seberapa sulit buat lupain dia?"


Naufal menelan salivanya, dengan tetap menunduk ia menjawab, "Sebenarnya, aku belum pernah mencoba buat lupain dia."


"Mau enggak gue bantu buat lupain dia?" ucap Er kembali.


Naufal menaikkan pandangannya, menatap Er yang juga masih menatapnya dengan tatapan penuh arti. Ia belum bisa memahami maksud dari perkataan Er barusan.


"Gue ... suka sama lo. Bisa enggak, lo menerima gue buat gantiin posisi dia di hati lo? "


Ucapan Er mengejutkan Naufal seketika. Ia masih menatap mata gadis itu. Ada seberkas sinar yang terpercik di kedua bola matanya, sebuah sinar yang sarat akan harap. Namun, Naufal masih tak mengeluarkan sepatah kata pun.



.


.


.