
"Anda tidak membesarkan pahlawan, Anda membesarkan anak laki-laki. Dan jika Anda memperlakukan mereka seperti anak laki-laki, mereka akan menjadi pahlawan, bahkan jika itu hanya di depan mata Anda sendiri." -Walter M. Schirra, Sr.
"Ayah ...."
Aldrin kembali mengulang kata itu. Kali ini suaranya lebih besar. Sementara tak jauh dari tempat Aldrin berpijak, Jefri masih terpaku dengan ekspresi wajah tak berkedip.
Saat ini, di depan matanya. Seorang anak laki-laki berusia tujuh belas tahun tengah berdiri dengan gagah. Anak itu adalah anak yang pernah tinggal di sisinya selama tujuh tahun. Anak yang pernah memanggilnya dengan sebutan Ayah. Anak yang ia selamatkan dari ibunya yang ingin menghalanginya hadir di dunia ini.
Ya ...
Jika saat itu Jefri tidak hadir, maka Ardhilla akan menggugurkan janin yang ada di dalam kandungannya. Jika saat itu Jefri tak menolongnya dan menawarkan bantuan untuk merawat bayinya, anak itu mungkin tidak akan lahir. Jika bukan karena kemurahan hati pria ini, remaja yang sedang berdiri saat ini, tidak akan pernah hidup di dunia.
"Ayah ...."
Aldrin kembali memanggilnya. Namun, kali ini suaranya sedikit berserak dan tak mampu untuk mengeluarkan suara lebih besar. Ia merasa seolah pita suaranya sedang terjepit.
"Aldrin ...."
Suara yang begitu ia rindukan datang dari seberang sana. Suara yang begitu menggetarkan hati dan membangun emosinya. Hingga tanpa ia sadari, ada air mata yang menggenang di sudut matanya, siap jatuh membasahi pipinya.
"Ayah!"
"Aldrin!"
Keduanya kompak berlari dari arah yang berlawanan. Mereka berpelukan satu sama lain. Saling terisak dalam kerinduan yang telah bersemayam selama bertahun-tahun. Tak peduli dengan orang sekitar, seolah hanya ada mereka di dunia ini.
Jika perpisahan selalu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi setiap orang yang mengalaminya, sebaliknya pertemuan selalu menjadi momen yang paling mengharukan bagi setiap orang yang terpisah sekian lama, apalagi jika itu sangat lama.
Saat ini, pemandangan mengharukan antara Ayah dan puteranya begitu indah di pelupuk mata. Momen pertemuan yang begitu manis telah terjadi.
Sang ayah memeluk terus mencium dahi puteranya sambil berkata, "Aku merindukanmu, aku merindukanmu ...."
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, karena kau yang meninggalkanku!" ucap puteranya sambil terisak.
"Maafkan aku. Aku menyesal telah meninggalkanmu."
Sang ayah kembali memeluk puteranya dengan erat. Sementara sang puteranya masih meraung dalam pelukan ayahnya. Menikmati setiap detik yang berlalu, mengembalikan masa-masa tanpa kehadiran satu sama lain. Sebuah rindu yang terbungkus indah dengan air mata kebahagiaan.
***
Setelah pertemuan tak disengaja dan mengharu biru, Jefri mengajak Aldrin ke sebuah tempat. Dalam perjalanan menuju sana, Jefri bercerita tentang kehidupannya setelah ia menyerahkan Aldrin pada ibunya. Bagaimana ia bisa bangkit dan bisa menjadi seperti sekarang. Aldrin dengan antusias mendengar kata per kata dari cerita ayahnya.
Mereka lalu turun di sebuah rumah yang tak terlalu besar namun terlihat begitu asri. Jefri memasuki rumah tersebut dan Aldrin mengekornya dari belakang.
"Aku baru membeli rumah ini tiga hari yang lalu. Bagaimana menurutmu, apa kau suka?" tanya Jefri.
Mata Aldrin menatap liar sekeliling ruangan yang begitu sederhana dan tak banyak perabotan. "Rumah ini terlihat begitu nyaman. Seperti rumah idaman yang sesungguhnya."
Jefri tersenyum. "Tidak peduli seperti apa bentuk bangunan rumah. Apakah ia besar ataupun kecil, selama kau mengetuk pintu dan ada seseorang yang menyambut kehadiranmu dengan senyum hangat, itulah yang di sebut rumah idaman."
Aldrin menatap wajah Ayahnya dengan dalam. "Apa yang ayah maksud, keluarga adalah rumah idaman?"
Jefri tersenyum sambil mengangguk pelan. Ia mengelus kepala Aldrin hingga rambutnya menjadi berantakan. "Kau sudah sangat pintar rupanya ..." Jefri mengambil napas perlahan, kemudian berkata, "Aldrin, tinggallah bersama Ayah di sini?"
"Ayah ... apa kehadiranmu di apartemen tadi karena ingin bertemu ibuku?" Pertanyaan tiba-tiba muncul dari mulut Aldrin.
Jefri terdiam seketika, raut wajahnya bahagianya berubah menjadi datar. Sementara Aldrin menunggu jawaban ayahnya dengan cemas. Berharap, ayahnya menjawab tak sesuai dugaannya.
"Ya ... " jawab Jefry dengan suara suram sambil mengangguk pelan.
Ia menghela napasnya sambil kembali berkata, "Aku mencintai ibumu. Dari dulu ... hingga kini.
Ekspresi bahagia yang tergambar di wajah Aldrin perlahan memudar. "Bukankah kalian dulunya tidak terikat pernikahan? Ayah dulunya hanya membantunya, 'kan?"
Jefry kembali mengangguk. "Itu benar. Tapi ... aku mencintainya dan dulunya cintaku bertepuk sebelah tangan, itu fakta."
Aldrin membelalakkan matanya. "Apakah perceraian ibu dan suaminya, ada hubungannya denganmu?" Aldrin memberi pertanyaan dengan sedikit mendesak.
"Itu keputusan ibumu sendiri. Aku tidak pernah memaksanya untuk menerimaku dan tidak berniat merebutnya dari Ayah tirimu," jawab pria itu tak berdaya.
Aldrin memegang tangan pria yang sudah ia anggap ayahnya sendiri. "Ayah, aku tidak melarang kau mencintai siapapun. Aku tidak melarang kau menikahi siapapun. Asal bukan dia. Jangan dia! Aku tidak setuju. Dia tidak pantas untukmu." Aldrin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jefri memalingkan matanya tanpa daya. Ia tak sanggup merespon permohonan Aldrin. Bahkan dia sangat tertekan tentang masalah ini.
"Ayah?" Aldrin memanggilnya sekali lagi dengan wajah penuh permohonan.
Jefry mengangguk tak berdaya dengan senyum yang samar. Ia tidak bisa menggambarkan ekspresi batinnya saat ini. Tak ingin merusak momen bahagianya dengan putera angkatnya, ia terpaksa harus memenuhi permohonan Aldrin.
"Janji?"
Aldrin menyodorkan jari kelingkingnya. Jefri memaksa untuk tersenyum lalu ikut menyodorkan jari kelingkingnya.
Sementara di apartemen, Ardhilla tampak terus menghubungi Jefri. Namun, panggilan itu tak kunjung terjawab. Ardhilla melempar ponselnya ke atas ranjangnya. Ia memekik kesal.
Tak lama kemudian terdengar suara dering ponselnya. Ardhilla dengan segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, Jef."
"Ini aku, Kuasa Hukummu."
Ardhilla terkejut mengira yang meneleponnya adalah Jefri. "Ada apa?"
"Surat ceraimu akan keluar dalam tiga hari. Cepat diproses karena kalian berdua tidak pernah menghadiri sidang."
"Oke. Baiklah!"
Ardhilla tersenyum. Ia berpikir, mungkin Jefri tak mau menemuinya karena ia masih terikat sebagai istri Adam. ketika surat cerai keluar, mungkin saja Jefri akan mendekatinya lagi.
Beberapa jam berlalu, Jefry melihat ke dalam kamar. Tampak, Aldrin telah tertidur lelap. Ia lalu duduk di teras samping rumah menikmati segelas kopi. Diambilnya sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Ia kembali mengingat ucapan Aldrin. Sambil menutup matanya, ia melempar cincin berlian itu ke dalam kolam ikan.
.
.
.
.
gays, kalian mungkin menganggap part Jefri dari TKW diangkat menjadi anak orkay itu halu banget ya. Padahal ini bukan sesuatu yang baru gays. yang kalian tahu mungkin TKI babak belur di negara timur tengah karena disorot media. tapi ada banyak juga TKI yg sukses di sana. orang2 Arab itu baik2 loh. tetangga gua udah dianggap kek saudaranya sendiri, diumrohin satu keluarga pulang jadi tuan tanah.
ada juga yg dapat warisan yg jumlahnya fantastis hanya karena dia merawat tuannya dengan tulus. jadi, di dunia ini ga ada yg ga mungkin.