Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 103 : Hari Pertama di Perusahaan



Maria tampak serius menyaksikan sepasang kekasih yang tengah bermesraan ria di taman itu. Entah sudah berapa lama ia berdiri menatap keduanya. Sempat terpikir di benaknya, waktu itu ia pernah meminta Aldrin mengajarinya memainkan biola. Namun, sekarang ia melihat cowok itu malah mengajari gadis lain.


Zaki adalah seorang pianis. Namun, sekali lagi, Zaki tak pernah memainkan piano spesial untuknya, apalagi mengajarkannya bermain piano seperti yang Aldrin lakukan saat ini. Dia memang bukan tipe cowok romantis dan Maria cukup memahaminya selama dua tahun mereka bersama. Hanya saja, akhir-akhir ini ia merasa bosan dengan hubungan yang dijalaninya bersama pria itu. Entah apa alasannya, yang jelas saat ia berkomunikasi dengan Zaki rasanya seperti sudah hambar dan tak seperti dulu lagi.


Maria memalingkan pandangannya dan melihat Naufal berdiri dengan tatapan sendu. Cowok berkacamata itu memerhatikan saudaranya bersama gadis yang ia sukai sedang merajut kasih. Bibirnya tersenyum tapi matanya tak bisa berbohong jika saat ini ia sedih.


Er, bukannya kita impas saat ini? Bukan cuma kamu yang malam ini tersakiti, tapi aku juga mengalaminya. Dan ini sudah yang kesekian kalinya ...


Maria berjalan melangkah ke arah Naufal. "Naufal, kok aku baru lihat kamu?" tegur Maria yang membuyarkan lamunan Naufal.


"Aku baru saja pulang, apa makan malam kalian berjalan lancar?"


"Iya, semua menu hidangan sangat lezat."


"Omong-omong, ayahku suka enggak sama Amaira?"


"Aku ... kurang tahu. Beliau enggak banyak ngomong tapi kayaknya ayahmu mendukung mereka berdua."


"Oh ... baguslah! Kak Maria aku masuk kamar dulu." Naufal pamit dan langsung pergi menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Selang beberapa detik, Zaki menghampiri Maria. "Kamu mau pulang? Aku antar sekarang, ya? Aku masih harus menyelesaikan beberapa kontrak perusahaan."


Maria mengangguk. "Iya, aku juga lelah dan besok harus ke studio untuk pemotretan sampul majalah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, seorang pelayan masuk ke kamar Aldrin membawakan beberapa kotak yang menyerupai bingkisan. "Ini dari Tuan Adam."


Pelayan itu menyerahkan kotak persegi panjang. Aldrin membuka isi kotak itu, tampak beberapa setelan jas kantor, kameja, sepatu pantofel dan juga dasi.


Aldrin mulai mencobanya satu per satu. Ia berdiri di depan cermin besar lengkap dengan setelan jas dan dasi yang telah dipakainya.


"Halo semua ... namaku Aldrin," ucapnya di depan cermin.


Aldrin lalu mengernyit di depan cermin. "Sudah benar enggak, yah?" gumamnya menarik turunkan sepasang alis.


Aldrin mengambil ponselnya membuka sebuah mesin pencarian internet. Ia menulis kata kunci 'Cara memperkenalkan diri di depan Staf'. Ada banyak artikel yang bermunculan terkait dengan kata kunci yang ia kirim. Ia mulai membaca salah satu artikel itu, lalu kembali mempraktekkannya di depan cermin.


Di hari Senin pagi yang cerah, semua orang kembali menjalani rutinitas mereka. Hari ini Aldrin bersemangat sekali. Ia memasang dasi berwarna gold di kerah kameja lalu memakai jas berwarna navy. Ia memandangi dirinya sendiri di cermin.


Cowok yang biasanya tampil kasual itu, kini terlihat lebih rapi dengan setelan jas yang ia kenakan dan rambut hitam pekat yang juga tersisir rapi. Tak lupa pula dengan sepatu pantofel yang terpasang di kakinya. Benar-benar merubahnya dari anak remaja menjadi pria dewasa yang tampan.



"Keren banget! Kamu sudah kayak CEO muda!" puji Naufal sambil menatapnya dari ujung kaki hingga atas rambut.


Aldrin menarik senyum di bibirnya ketika mendengar pujian Naufal. Ia turun dari tangga bersama Naufal yang tak henti-hentinya memberinya semangat. Ia tersenyum dan menemui ayahnya yang telah bersiap menuju kantor perusahaannya.


Tuan Adam menatap penampilan Aldrin yang begitu rapi dan terlihat berbeda dari biasanya.


"Kamu pergi bersama ayah saja," pinta Tuan Adam sambil masuk ke dalam mobil yang telah siap.


Aldrin terkejut mendengar perintah ayahnya. Namun, lelaki tampan itu mengikutinya, lalu masuk ke mobil dan duduk berdampingan dengan tirinya. Sepanjang jalan, ayah dan anak itu hanya saling terdiam.


Di tengah keheningan yang bertahan, sebuah tangan menyentuh punggung tangan Aldrin. Ia menunduk menatap tangan pria tua itu, lalu pandangannya beralih menatap wajah ayahnya.


"Belajarlah sungguh-sungguh!" ucap Tuan Adam.


Aldrin tersenyum mengangguk. Ia memperhatikan wajah ayah tirinya dan telah menua. Dulunya ia tak pernah peduli dan begitu membenci ayah tirinya. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah ia mengetahui Jefri bukanlah ayah kandungnya, ia mulai menerima Adam sebagai ayah sambungnya. Itu semua karena lelaki tua ini tak pernah berhenti untuk memberi perhatian dan kasih sayang yang tak terlihat padanya.


Adam benar-benar seperti Naufal yang dulunya juga tak diterima Aldrin. Namun, dengan kegigihan dan kehangatannya akhirnya dapat mencairkan hati Aldrin yang membeku saat itu.


Mereka akhirnya sampai di perusahaan besar. Tuan Adam dan Aldrin turun dari mobil diikuti Zaki juga yang baru tiba. Mereka bertiga memasuki kantor perusahaan dan langsung disambut hormat oleh para karyawan kecil mereka. Beberapa karyawan langsung berkumpul setelah ketiganya lewat.


"Anak muda yang di samping Pak Adam itu, apa anaknya juga?" tanya salah karyawan.


"Kudengar seperti itu. Dia masih SMA dan akan magang di perusahaan ini selama sebulan."


"Masih SMA rupanya? Ternyata tidak kalah cakep dari manajer Zaki, ya!"


"Aku jadi makin semangat kerja!"


Tuan Adam, Zaki dan Aldrin menaiki lift ke lantai enam, di mana tempat berkumpulnya para staf inti perusahaan. Aldrin hanya dapat terus mengekor ayah dan kakak tirinya. Setelah itu, Tuan Adam memasuki sebuah ruangan pertemuan. Di sana, telah hadir beberapa para pemegang saham, jajaran direksi, direktur keuangan dan personalia, komisaris, serta manajer-manajer bagian.


Tuan Adam memperkenalkan Aldrin kepada mereka sebagai anaknya yang ketiga, lalu meminta Aldrin untuk memperkenalkan dirinya sendiri.


"Halo, saya Aldrin Ardhani, putra Pak Adam Ardhani. Saya akan magang di kantor ini selama dua minggu. Mohon dukungan dan bantuannya," ucap Aldrin penuh percaya diri.


.


.


.


bagaimana babak baru kehidupan Aldrin? nantikan terus kelanjutannya ya