
6 episode terakhir
"Melihatmu ... aku jadi ingat pada seseorang," ujar Naufal sambil menatap saksama ke arah gadis itu.
"Benarkah? Maksud Kakak ... aku mirip dengan orang yang Kakak kenal?"
"Iya ... hampir mirip!"
"Apa orang yang mirip denganku itu, orang penting di hidupmu?"
Naufal terdiam seketika. Ia tampak berpikir lalu menjawab kembali, "Sangat penting!"
Gadis itu tersenyum riang sambil berkata, "Aku sangat senang jika aku benar-benar mirip dengan orang yang terpenting di hidupmu."
Naufal ikut tersenyum. Ia lalu menatap ke arah langit gelap. Sementara gadis itu kembali bersuara. "Kakak, apa kamu mau menjumpaiku di sini tiap hari?"
Pandangan Naufal kembali padanya. Ia menatap heran pada gadis itu, tentu saja bingung dengan permintaan yang baru saja gadis itu lontarkan.
"Jika tidak sibuk, aku pasti akan menjengukmu!"
"Kamu harus berjanji!" ucap gadis itu kembali sambil mengerutkan bibirnya.
Naufal mendekatinya lalu menyodorkan jari kelingking ke arah Keyla. "Aku berjanji!"
Keyla kembali tersenyum, ia langsung ikut menyodorkan jari kelingkingnya untuk disatukan dengan milik Naufal. Malam ini, di atas atap gedung rumah sakit, Naufal mengikat janji untuk selalu menjenguk gadis yang mempunyai penyakit jantung bawaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman orangtua Amaira, ayah dan ibu Amaira sedang duduk dengan wajah sedih. Mereka telah mendengar kabar jika Aldrin mengalami kecelakaan dan tengah koma saat ini.
"Bagaimana kalau Aldrin tidak kunjung sadar? Anak kita mungkin akan menjadi janda di usia muda," isak ibu Amaira yang gusar dengan masa depan putrinya.
Ayah Amaira hanya membisu, tapi wajahnya terlihat sedang berpikir keras. Orangtua mana yang tak sedih jika anaknya sedang ditimpa musibah?
Ibu Amaira kembali berkata dengan nada penuh penyesalan. "Andaikan waktu itu aku tidak memaksamu untuk menyetujui pernikahan mereka ...."
Ayah Amaira langsung memotong ucapan istrinya, "Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Lebih baik kita doakan saja keselamatan Aldrin, karena bagaimanapun dia adalah menantu kita."
Ibu Amaira mengangguk. Ia menghapus jejak air mata di pipinya. Ia menyadari jika saat ini ia begitu egois, hanya memikirkan Amaira tapi lupa bahwa bagaimanapun Aldrin juga telah menjadi anggota keluarga mereka. Dia hanyalah seorang ibu yang takut akan masa depan anaknya.
"Aku yakin ... Amaira kuat menjalaninya. Dia telah memilih jalan menikah di usia muda, dan dia harus menerima konsekuensi cobaan rumah tangga. Jadi, kita harus menguatkannya!" sambung ayah Amaira.
Naufal dan Jefri masuk ke kamar rawat Aldrin. Jefri meminta Amaira untuk pulang bersama Ardhilla agar bisa beristirahat di hotel yang telah pria itu sediakan. Malam ini, Aldrin akan dijaga olehnya dan juga Naufal. Amaira menuruti permintaan Jefri. Dengan berat hati, ia diantar pulang Naufal menuju hotel.
Suasana begitu hening ketika tinggal Jefri dan Aldrin yang masih koma di dalam kamar itu. Jefri mengambil tangan Aldrin, menatapnya begitu dalam dengan penuh kasih sayang. "Bangunlah, Aldrin! Bukankah kita akan mengadakan konser bersama? Bukankah setelah kompetisi, kau akan mengajak istrimu berbulan madu ke Eropa? Bangunlah, ada banyak yang menunggumu!"
Tak terasa satu hari telah berlalu, matahari kembali menampakkan dirinya. Sinarnya menerobos masuk ke ruang perawatan Aldrin. Naufal mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dirinya yang baru saja terlelap dari tidur sepanjang malam. Ia bangkit dan menyadari bahwa ini telah pagi. Semalam, ia dan Jefri menjaga Aldrin hingga keduanya tertidur. Namun, begitu bangun, Jefri sudah tidak ada di ruangan itu, sementara kondisi Aldrin masih seperti hari-hari biasa. Sama sekali belum mengalami perubahan.
Naufal masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Begitu keluar, ia langsung melihat Amaira yang baru saja tiba di kamar itu dengan penampilan sederhana. Lingkaran gelap bawah mata terlihat jelas, menandakan wanita itu kurang tidur.
"Ini untukmu!" ucap Amaira sambil menyerahkan sekotak makanan.
Naufal mengambil kotak makanan itu seraya berkata, "Seharusnya kamu enggak perlu repot-repot bawa ini."
"Enggak apa-apa," jawab Amaira tersenyum hangat.
"Oh iya, aku punya kenalan di Rumah Sakit ini, dia pasien penyakit jantung. Usianya dua tahun lebih muda dari kita. Kamu mau enggak aku aja berkenalan sama dia?" tanya Naufal.
"Boleh," jawab Amaira.
Naufal langsung mengajak Amaira menuju ke kamar rawat Keyla, gadis pelukis yang baru dikenalnya. Saat memasuki kamar tersebut, Keyla tampak senang begitu melihat kedatangan Naufal.
Naufal langsung mengenalkan Amaira pada Keyla. "Keyla, ini Amaira. Dia sahabat baikku."
Amaira tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya. Keduanya saling berjabat tangan dan kenalan satu sama lain.
"Kakak, kamu cantik sekali. Sudah punya pacar, belum?" tanya Keyla penasaran.
Amaira tersenyum tipis. "Aku sudah menikah!"
"Sudah menikah? Sepertinya usiamu tidak jauh beda denganku. Aku penasaran dengan wajah suami kakak! Seharusnya dia ganteng biar serasi sama Kakak!" seru Keyla yang membuat wajah Amaira berubah.
Naufal langsung memotong cerita dengan pura-pura menanyakan hasil lukisan Keyla semalam. Keyla dengan antusias menunjukkan hasil lukisannya semalam pada Amaira. Amaira tertegun saat melihat model lukisan tersebut adalah Naufal, sontak ia langsung memuji hasil lukisan Keyla. Mereka asyik bercerita bersama.
"Kakak, apa kamu bisa merias wajahku?" tanya Keyla.
"Bisa. Tapi, aku enggak punya peralatan makeup."
"Tidak masalah! Aku punya."
Keyla langsung mengambil kotak kecil yang berisi peralatan makeup sederhana berupa bedak, eyeshadow, lipstik dan blush on. Amaira mulai merias wajah Keyla dengan peralatan seadanya. Sesekali Keyla akan menatap wajahnya di cermin. Sementara Naufal hanya berdiri terpaku sambil menyaksikan Amaira yang begitu lihai mendandani Keyla.
"Tidak juga. Aku mulai belajar dandan ketika aku akan menikah. Itu karena aku ingin merias wajahku secantik mungkin di depan Suamiku," jawab Amaira sambil menyapukan eyeshadow berwarna peach di tulang pipi Keyla.
"Kakak, menurutmu ... bagaimana hasil riasan Kak Amaira?" tanya Keyla pada Naufal yang masih setia menemani mereka.
"Sangat cantik! karena orang yang dimakeup sudah cantik alami," puji Naufal sambil mengacungkan dua jempol.
Keyla tersipu malu, ia menundukkan pandangannya. Ini pertama kalinya ia dipuji seorang cowok.
Tanpa terasa waktu telah memasuki malam hari. Setelah saling bercerita yang memakan waktu berjam-jam lamanya, Amaira memutuskan untuk kembali ke ruang tempat Aldrin dirawat.
Saat telah hampir sampai, ia bertemu dengan Tuan Adam yang juga baru tiba dari Jakarta. Amaira mempersilakan Tuan Adam untuk masuk melihat keadaan Aldrin.
Tuan Adam masuk ke ruangan itu. Dilihatnya sosok yang terbaring tak sadar di atas ranjang lengkap dengan peralatan medis. Ia memosisikan duduk di samping ranjang tempat Aldrin berbaring. Setelah duduk, pria tua itu mengambil sebuah kertas lusuh berisi tulisan panjang.
Kertas itu diberikan guru Bahasa Indonesia saat Tuan Adam datang berkunjung di sekolah itu sebagai donatur. Kata guru tersebut, kertas itu merupakan hasil tulisan tangan Aldrin waktu ia menyuruhnya menulis karangan deskriptif tentang Ayah.
Tuan Adam memasang kacamatanya lalu mulai membaca barisan kalimat yang begitu menyayat hatinya. Ia tak kuasa membendung air matanya saat membaca kata demi kata yang tertulis dalam kertas tersebut. Ia sudah tak mampu untuk melanjutkannya lagi. Pria itu membuka kacamatanya, lalu mengambil sapu tangannya untuk mengusap sudut-sudut matanya yang basah.
Tuan Adam mengambil tangan Aldrin, digenggamnya tangan lemah itu sambil berkata lirih, "Aku pernah berjanji padamu untuk selalu menggenggam tanganmu dan ikut merasakan apa yang kau derita. Sampai sekarang, aku masih akan melakukannya."
Tuan Adam terisak seketika, ia mempererat genggaman tangannya. "Kau masih kuanggap seperti anakku meskipun kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Bagiku kau tetap remaja kecil yang butuh arahan orangtua meskipun telah berstatus seorang suami."
Tuan Adam menunduk dalam-dalam. Kertas berisi curahan hati Aldrin menjadi basah seketika karena linangan air mata pria itu. Tak lama kemudian, Jefri dan Ardhilla masuk ke ruangan itu. Tuan Adam langsung mengusap kedua matanya dan berdiri menghampiri mereka.
Dengan suara terbata-bata sambil menahan tangis, Ardhilla menceritakan jika Aldrin saat ini mengalami mati otak. Tak hanya itu, ia juga memiliki kartu donor organ resmi. Ardhilla juga menceritakan bagaimana dokter memintanya untuk menandatangani surat penghentian segala pengobatan dan peralatan medis jika Aldrin tak kunjung mengalami perubahan.
Tanpa diduga, Amaira mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu. Matanya terbuka lebar, jantungnya seakan berhenti berdetak, seluruh tubuhnya gemetar, hatinya seperti tersiram air panas mendidih. Ia tak sanggup mendengar pembicaraan mereka.
Benar-benar tak sanggup!
Hingga perempuan berusia delapan belas tahun itu memutuskan pergi. Saat ia berlari menjauhi kamar tersebut, bertepatan dengan kedatangan Naufal yang baru saja menemani Keyla berkeliling Rumah Sakit. Tak ayal, Naufal pun berbalik dan beralih mengejar Amaira.
"Amaira!" panggil Naufal sambil terus mengejarnya.
Perempuan itu tak memedulikan teriakan dan panggilan Naufal. Ia terus berlari menuju luar gedung Rumah Sakit. Namun, Naufal masih setia mengejarnya. Dengan cekatan, lelaki itu meraih lengan Amaira hingga langkah mereka terhenti.
"Kamu kenapa?" tanya Naufal cemas.
Amaira masih memunggungi Naufal dan menolak untuk menatapnya. Sepertinya Naufal memahami perasaan Amaira saat ini. Oleh sebab itu, ia memilih melepaskan tangan perempuan berambut panjang itu.
"Oke, kalau kamu enggak ingin cerita sama aku!"
Naufal mulai melangkah mundur menjauhi perempuan itu. Ia memang bukan tipe lelaki pemaksa seperti Aldrin maupun Zaki. Ia selalu menghormati privasi orang lain, dan bersedia menunggu sampai orang itu benar-benar siap menceritakan segala keluh kesah padanya.
Menyadari Naufal telah menjauhinya, Amaira lantas berbalik sambil berteriak, "Jangan pergi!"
Suara Amaira menghentikan langkah kaki Naufal. Lelaki berwajah teduh itu kembali berbalik dan menoleh ke arah Amaira yang menatapnya dengan tatapan memelas. Kedua insan itu saling bertukar pandang dari jarak lima langkah di tempat mereka berpijak.
Naufal dapat melihat jelas, saat ini Amaira sedang berusaha keras menahan air matanya agar tak tumpah. Dengan bibir yang melengkung ke bawah dan tatapan yang mulai memudar, Amaira mencoba membuka suara, "A-apa aku bo-boleh meminjam pundakmu?"
"Tentu saja!"
Kaki Naufal langsung melangkah cepat menghampiri Amaira yang berdiri tak jauh darinya. Dengan sekejab, tangannya meraih kepala perempuan itu untuk disandarkan ke dadanya. Sontak, pertahanan Amaira pun pecah. Ia menangis terisak di pelukan Naufal. Air matanya mengalir deras bak tanggul air yang jebol. Ini adalah jenis tangisan memilukan.
Mereka saling berpelukan di bawah cahaya rembulan yang bersembunyi di balik awan gelap. Adegan ini sungguh sangat indah dan baru terjadi di sepanjang hidup Naufal. Tak pernah terbayangkan di benaknya, perempuan yang pernah ia cintai, saat ini sedang menangis di pelukannya. Apakah ini mimpi?
Tidak.
Ini nyata!
Seperti ini, sudah cukup baginya.
Namun, sayangnya, tangisan Amaira bukan untuknya, melainkan untuk orang yang perempuan itu cintai.
Seakan larut oleh keadaan, Naufal pin mengencangkan pelukannya. Namun, pikiran rasionalnya tiba-tiba berjalan, seakan hatinya sedang berbisik padanya dan memberinya kesadaran.
Dia bukan milikmu! Jika dia milikmu, maka akan selalu jadi milikmu! Jika dia bukan milikmu, bahkan sekalipun dia kembali, tetap bukan untuk menetap di hatimu dan kau tetap tak kan bisa memilikinya!
.
.
.
.