
Di kamar yang serba bernuansa pink, Amaira terhenyak bangun setelah suara dering ponsel memekakkan telinganya. Mulai terlihat jelas jarum jam dinding kamarnya mengarah ke angka satu dini hari. Gadis itu segera meraih ponselnya yang berbunyi, dan mendekatkannya ke telinga.
"Hallo." Amaira menerima panggilan telepon itu di tengah rasa kantuk yang melandanya.
"Kamu sudah tidur, ya? Aku ganggu, enggak?" Suara Aldrin datang dari sambungan telepon.
"Tidak," jawab Amaira pelan dengan satu tangan mengucak matanya.
"Suara mengantukmu sangat imut," puji Aldrin, sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
Amaira hanya bergeming sambil menarik napas perlahan. keheningan melanda keduanya selama beberapa detik, hingga Aldrin kembali membuka suara.
"Maaf, aku tidak bisa membawamu masuk. Saat mau keluar, aku dicegat panitia. Kamu marah enggak sama aku?" tanyanya penuh sesal.
"Tidak pa-pa. Untung Naufal enggak sengaja lewat, jadi aku minta dia antar aku pulang," jawab Amaira sembari mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
"Maafkan aku." Suara tak berdaya penuh penyesalan keluar dari mulut Aldrin.
"Lupakan saja! Apa ... acaranya seru?" potong Amaira.
"Iya. Oh, ya. Kamu bisa buka jendela sekarang, enggak?" pinta Aldrin dengan suara sedikit serak.
Amaira tampak heran dengan permintaan Aldrin. Tetapi ia mengikuti perintah cowok itu, dan segera beranjak turun dari tempat tidur lalu menyingkap tirai jendela kamar. Dari lantai dua kamarnya, ia melihat Aldrin berdiri di depan motor sambil melambaikan tangan ke arahnya. Seketika, senyum ceria terbit dari wajah cantik Amara. Ia memandang tak berkedip ke arah Aldrin sambil dengan tetap meletakkan ponsel di telinganya.
"Kenapa kamu ke sini malam-malam gini?"
"Selesai acara, aku langsung pulang dan lewat sini "
Amaira terdiam kembali, matanya tak lepas memandang Aldrin yang berdiri di depan pagar rumahnya. Rasa kantuknya telah pergi seketika.
"Amaira ...." Aldrin memanggilnya dengan suara lembut.
"Ya."
"I miss you ...."
Amaira tersenyum, wajahnya merona seketika.
"Too ...." balas Amaira menunduk malu-malu sambil meremas tirai jendela kamarnya.
"I love you," ucap Aldrin kembali.
"Too ...."
Mereka kembali saling memandang lalu tertawa bersama.
"Tidurlah!" pinta Aldrin di ujung pembicaraan mereka.
"Hmm ... kamu juga. Cepat pulang biar enggak telat ke sekolah." Amaira mengingatkannya.
Aldrin tersenyum mengangguk.
"Mimpi Aldrin ya, jangan mimpiin Indah terus!" ucap Aldrin sambil mengedipkan satu matanya.
Amaira tertawa lepas mendengar kalimat gombalan Aldrin. Cowok itu mengakhiri panggilan teleponnya dan melakukan sun jauh sebelum ia melajukan motornya meninggalkan rumah Amaira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari telah menyapa dengan indah. Aldrin merapikan dasi sekolahnya lalu memasang almamater. Dari penampilannya, cowok itu telah bersiap menuju ke sekolah. Ia keluar dari kamarnya bersamaan dengan Naufal yang juga keluar dari kamarnya.
"Kamu bangun kepagian lagi, ya? Ini masih jam enam lewat dan lagi-lagi kamu sudah siap ke sekolah?" tanya Naufal dengan ekspresi terheran-heran.
"Diamlah! Berisik banget, sih" gerutu Aldrin sambil mengerucutkan bibirnya. Namun, sesaat kemudian ia melemparkan pertanyaan pada Naufal. "Bagaimana semalam dengan Amaira?"
"Aku tidak bisa tidur semalaman karena terlalu senang. Tahu enggak, aku antar dia ke rumahnya. Terus ibunya suruh aku masuk. Kebetulan ibunya lagi bikin pudding dan dia ngasih ke aku. Baik banget, 'kan?" ujar Naufal dengan menggebu-gebu. Raut senang tercetak jelas di wajahnya.
Aldrin tertegun seketika. Ia teringat saat mengantar Amaira pulang. Ibu Amaira bahkan tak mau bicara pada dan langsung menutup pintu seolah-olah tak melihat keberadaannya.
"Aku juga lihat foto-foto kecil Amaira. Ternyata dari kecil sudah cantik banget. Ibunya bilang, Amaira gadis yang pemalu. Jadi semakin semangat aku jagain dia, terutama dari cowok-cowok buaya darat kayak kamu!" cetus Naufal kembali.
Wajah Aldrin menggelap seketika. Ia melepaskan pandangannya ke tembok, berusaha menutupi wajah cemburunya. Kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Aldrin dan Naufal telah berada di sekolah. Bel pelajaran belum berbunyi, tetapi murid-murid mulai mempersiapkan alat tulis dan buku tugas mereka. Naufal menghampiri Aldrin yang tengah berdiri dari tempat duduknya. Cowok berkacamata itu melempar sebuah buku di atas meja Aldrin.
"Ini PR kimiamu hari ini, sudah kukerjakan semua!" Dia kembali meletakkan buku lainnya. "Ini catatan pelajaran Bahasa Indonesia, aku menulis catatan ini selama kamu sakit supaya kamu enggak ketinggalan pelajaran," terang Naufal.
Aldrin memandang dua buku yang diserahkan Naufal padanya. Ia lalu menggeser buku tersebut ke arah Naufal, dan meletakkan bukunya di atas meja.
"Aku sudah mengerjakan PR dan aku sudah mencatat semua pelajaran selama tidak masuk," ucap Aldrin sambil menunjukkan buku tugasnya.
Mata Naufal membulat seketika "Serius? Kamu kerjakan PR kimia sendiri?"
Naufal yang tidak percaya, langsung mengambil buku Aldrin untuk mengeceknya.
"Iya, aku kerjakan PR itu asal-asalan. Yang penting itu hasil kerjaku. Jadi, mulai sekarang kamu enggak perlu kerjakan semua tugas sekolahku, karena aku akan mengerjakannya sendiri," jelas Aldrin sambil menepuk bahu kiri Naufal.
Naufal masih bengong. Heran. Sampai-sampai mulutnya ternganga. Ia menoleh ke arah Aldrin yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Aldrin berjalan lurus sembari menghela napas panjang.
Maafkan aku...
Mulai sekarang jangan lagi bersikap baik padaku.
Jangan lagi kerjakan tugasku!
Jangan lagi berikan contekan untukku!
Jangan lagi membantuku!
Karena aku telah mengkhianatimu, menghianati persahabatan kita.
Jika nanti kamu telah mengetahui ini semua, jangan sungkan untuk membenciku, karena aku memang layak menerima kebencianmu.
Aldrin berjalan menuju ke perpustakaan sekolah. Ia membuka pintu perpustakaan dan melihat Amaira duduk di sana menantinya dengan senyum hangat. Ia membalas senyuman hangat gadis itu. Sepertinya perpustakaan menjadi tempat favorit mereka untuk bersama dan merajut kasih. Di perpustakaan pula, awal cerita mereka di mulai. Saat ia tak sengaja menolong gadis itu.
Untuk pertama kali dalam hidupku, seseorang menyambut kehadiranku dengan senyuman tulus.
Untuk pertama kali dalam hidupku, aku tak mau kehilangannya.
Untuk pertama kali dalam hidupku, aku ingin miliki dia sepenuhnya.
Maaf jika aku egois.
Maaf jika ini terlalu jahat untukmu.
Akan kuterima segala konsekuensinya nanti, karena dasarnya aku bukan orang baik sepertimu ....