Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 91 : Mulai Terkuak



Aldrin bingung mendapati pertanyaan beruntun dari ibunya Bryan. Mengapa ibu itu menanyakan siapa ayahnya? Apa yang harus dijawabnya, sementara ia sendiri tidak tahu. Dulunya ia akan dengan percaya diri mengatakan jika ayahnya adalah Jefri, si Musisi jalanan. Namun, sekarang ia telah mengetahui jika Jefri hanyalah ayah angkat yang membesarkannya.


Perlahan mata besar itu kembali berkaca-kaca, lidahnya seakan kelu dan jantungnya berdenyut sakit.


"Aku ... tidak tahu. Aku belum pernah bertemu dengannya," jawab Aldrin pelan.


Ibu Bryan semakin terperangah. Jantungnya terpukul dan berdetak tak karuan. Darah yang sama, mata yang sama, tatapan yang sama. Apakah ini hanya kebetulan semata? Saat mertuanya mengatakan anak ini mempunyai mata yang mirip dengan suaminya, ia tak terlalu memedulikan. Namun, saat Aldrin menyebut jika Ardhilla adalah ibunya, ia memerhatikan setiap detail wajah lelaki ini.


Bryan mempunyai wajah yg mirip dirinya, tapi wajah Aldrin terlihat seperti suaminya. Mata dan tatapan itu sangat mirip bahkan seperti sebuah kopian. Persis!


Tak lama kemudian, seorang suster keluar dari ruangan. "Keluarga Bryan, kalian boleh melihat pasien sekarang. Pasien sudah sadar!"


Nenek Bryan tak bisa menyembunyikan raut bahagianya mendengar kabar tersebut. Ia langsung berucap syukur pada Tuhan atas kesadaran cucu dari anak laki-lakinya. Ia sempat memegang tangan Aldrin dengan riang seolah ingin berbagi kebahagiaan sebelum bergegas masuk ke dalam ruangan.


Aldrin turut merasakan hal serupa, wajahnya yang sempat menegang berangsur-angsur hilang dan ia langsung bernapas lega. Dengan tak sabar, kakinya hendak melangkah masuk membuntuti nenek yang duluan masuk ke ruangan tersebut. Sayangnya, langkahnya harus terhenti saat sebuah tangan menahan lengannya.


"Kamu tidak boleh masuk!" cegat Ibunya Bryan dengan menarik lengan Aldrin.


Aldrin memandang tangan ibu Bryan yang mencengkram lengannya, lalu kembali menatap wajah ibu itu dengan tatapan heran, seolah hendak bertanya kenapa Ibu ini mencegatnya masuk.


"Aku berterima kasih kamu sudah mendonorkan darahmu untuk Bryan, tapi ... mulai sekarang, jangan menemuinya dan jangan mendekati Bryan!" tegasnya. Tatapan penuh kebencian terpancar dari Ibu itu.


Aldrin mengerutkan dahinya, tak paham dengan maksud ibu itu. "Aku dan Bryan berteman dekat, kenapa Tante larang aku dekat sama dia?"


"Aku membenci ibumu!" Raut wajah ibu itu semakin serius dengan tatapan yang seolah hendak menusuk.


Aldrin terdiam sesaat, menatap bingung ekspresi ibu itu.


"Kenapa?" tanya Aldrin tak paham mencoba mencari jawaban dari kedua bola mata ibu itu.


"Karena Ibumu pernah berselingkuh dengan suamiku, Ayah Bryan!" bisik ibu itu masih dengan tatapan penuh kebencian. Suara pelan itu begitu terdengar ngilu hingga merambat ke hatinya. Namun, Aldrin masih bisa berusaha tenang di tengah rasa keterkejutan yang ia alami.


"Ta-tapi ... yang selingkuh it--itu ... ibuku, bukan aku! Kenapa Tante menyangkut pautkan masalah Tante dengan ibuku," bela Aldrin dengan suara tercekat karena gugup bercampur terkejut.


"Karena kamu anak hasil selingkuhan suamiku dan ibumu!" Suara ibu itu bergetar karena menahan amarah yang meletus bagaikan lelehan magma dari Merapi yang telah tertahan cukup lama.


Aldrin terperanjat, matanya makin terbuka lebar dan mulutnya membentuk huruf O. Dadanya serasa naik turun. Miliaran sel di otaknya seakan membeku.


Ibu Bryan langsung masuk ke dalam ruangan setelah mengucapkan kalimat-kalimat yang mengandung sengatan petir.


Aldrin masih membisu. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, matanya ke sana-sini tak tentu arah. Apakah yang dikatakan ibu itu betul? Bukankah beberapa hari yang lalu ibunya mengatakan jika dia anak hasil dari pemerkosaan? Lalu kenapa sekarang ada yang mengatakan dia adalah anak hasil hubungan terlarang dari seorang suami yang berselingkuh.


Aldrin mengambil ponselnya di saku celana dengan terburu-buru, kemudian menekan menu dan membuka sebuah aplikasi selancar internet. iaa mulai mencari artikel yang berhubungan tentang kedekatan Ibunya bersama mendiang Steve Arnold. Beberapa artikel terkait muncul di mesin pencarian. Ia mulai membuka satu per satu artikel terkait dan membacanya. Salah satunya artikel yang membahas tentang dirinya yang kemungkinan adalah anak dari mendiang Steve Arnold. Saat ia viral, wartawan memburu segala berita yang menarik tentangnya, termasuk isu tentang Ayah kandungnya yang dirahasiakan Ardhilla.


Aldrim membuka isi artikel itu lalu membacanya. Tulisan itu hanyalah sebuah asumsi yang tak terbukti. Mereka menulis hal tersebut karena Ardhilla mengklarifikasi ucapan Aldrin jika ia pernah menikah dengan pengamen jalanan. Karena konfirmasi tersebut, sehingga wartawan kembali membuat artikel tentang siapa ayah kandungnya dan mengaitkan isu perselingkuhannya dengan sang sutradara beberapa tahun silam.


Aldrin menutup matanya dan menggigit bibirnya begitu kuat agar air matanya tak keluar. Jika benar apa yang dikatakan Ibu Bryan, apa ini yang membuat dia dan Bryan begitu sangat dekat? Setiap kali melihat Bryan, ia seperti berkaca pada dirinya sendiri. Sifat dan karakter mereka sama dan keduanya sama-sama terkenal sebagai biang keributan di sekolah mereka.


Aldrin menutup matanya dengan kedua tangannya, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. Di kepalanya mengandung sejumlah pertanyaan, kenapa dan kenapa. Apa ini yang membuat ibunya memilih mengatakan dirinya anak hasil pemerkosaan dibanding mengakui anak hasil hubungan gelap? Tidak! Tidak penting apakah dia anak hasil pemerkosaan atau anak hasil selingkuhan. Bukankah intinya sama saja? Ia anak dari benih yang salah dan terlahir dari hubungan yang salah. Seketika, ia merasa dirinya sangat hina.


Aldrin berjalan sempoyongan menuju pintu keluar gedung Rumah Sakit. Pandangannya nanar, entah karena efek dari pasca donor darah atau kah karena info yang baru diketahuinya. Cowok itu beberapa kali bertabrakan dengan orang-orang yang lewat karena tak fokus. Suara ibu Bryan terngiang terus di pikirannya, seperti sebuah dongeng cerita horor.


Sejujurnya, alam hati kecilnya ia berharap, semoga dia benar-benar anak mendiang Steve Arnold. Meskipun harapan itu terdengar lucu, setidaknya jika itu benar-benar terjadi, ini membuatnya mengetahui siapa ayahnya. Jika itu benar-benar terjadi, ia tahu masih mempunyai saudara dari ayahnya, dan ia juga masih bisa melanjutkan hidupnya lebih baik lagi.


Sementara itu, Bryan telah dipindahkan di ruangan VIP. Beberapa temannya masuk ke ruangan dan menemuinya yang masih terbaring lemah.


"Mana Aldrin?" tanya Bryan memperhatikan satu per satu kawannya.


"Tadi dia ada, tapi tiba-tiba menghilang. Mungkin dia sudah pulang istirahat karena dia baru saja selesai mendonorkan darahnya sama lo," jawab salah satu temannya.


"Aldrin mendonorkan darah untuk gue?" ulang Bryan tak yakin dicampur ekspresi terkejut.


"Iya!" jawaban serempak datang dari teman-temannya.


"Ternyata kita berdua punya banyak persamaan, bahkan darah kita pun sama," ucapnya sambil tertawa kecil.


.


.


.