Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 48 : Bersama Hujan



Malam itu sangat gelap, tak ada bintang-bintang yang menggantung di atas langit. Aldrin dan Amaira sedang bersama. Sepasang kekasih itu tengah berada di toko buku menghabiskan malam Minggu mereka di sini. Ini bukan pertama kalinya Aldrin datang ke toko ini. Meskipun ia jarang membaca, setidaknya dia sering menemani Naufal ke sini untuk belanja buku. Sekarang, ia datang ke sini untuk menemani Amaira membeli buku.


Amaira memilih-milih buku bacaan, sementara Aldrin hanya mengekornya dari belakang. Keduanya terlihat bagai pasangan romantis meskipun tanpa pegangan tangan. Di mana si cewek sibuk memilih buku, sementara cowoknya setia menunggunya.


Orang-orang memerhatikan mereka tampak iri. Sungguh pasangan remaja yang sempurna, ceweknya cantik bak boneka, dan cowoknya pun tidak kalah tampan dengan rambut blonde dan tindikan anting kecil di telinga kirinya.


Sepulang dari toko buku, mereka berboncengan dengan motor besar kesayangan Aldrin.


"Amaira, pegangan yang kuat, ya. Sebentar lagi hujan. Kalau tidak cepat-cepat kita bisa kena hujan," ujar Aldrin memerintahkan kekasihnya.


"Iya," jawab Amaira setengah berteriak.


Aldrin menambah gas untuk melajukan motornya. Amaira menundukkan kepala, berlindung di balik punggung Aldrin sambil memeluk pinggangnya dengan erat. Tidak lama kemudian, rintikan gerimis sudah mulai turun perlahan membasahi jalanan. Gerimis itu langsung berubah menjadi hujan. Hujan yang amat deras. Tak ayal, sepasang kekasih itu diguyur hujan, tanpa mantel maupun jas hujan.


"Al, kita berlindung dulu, yuk! Hujannya semakin deras," ajak Amaira. Gadis itu berteriak agar suaranya didengar oleh telinga Aldrin, karena bunyi hujan menimbulkan suara yang cukup berisik.


Aldrin tidak menjawab, tapi telinganya berhasil menangkap sempurna suara Amaira. Dengan segera, ia membelokkan motornya ke arah pertokoan yang tutup dan sepi. Mereka turun dan berteduh di sana. Baju mereka basah kuyup di guyur hujan.


Amaira menggosok kedua telapak tangannya untuk menciptakan kehangatan. Tampaknya, ia kedinginan. Aldrin memandangi bibir Amaira yang bergetar menahan dinginnya kota Jakarta saat ini. Dengan sigap, ia melingkarkan tangannya ke tubuh Amaira dari belakang, memberikan kehangatan pada tubuh kekasih. Amaira tersentak kaget dalam pelukan cowok tampan itu.


Sejujurnya, suasana hati Aldrin sedang tidak bagus. Sejak bertanya pada ibunya sore tadi tentang perekrutan Erwin Gutawa dan mendapatkan jawaban yang tidak jelas. Namun, di depan gadis yang dicintainya ini, ia masih bisa mengendalikan itu semua. Meredam emosinya, lalu bersikap hangat pada gadis itu meskipun hatinya sedang tidak stabil. Entah mengapa, ia selalu menyukai kebersamaan mereka. Merasa sangat tenang dan tidak tahu bagaimana mendefinisikan rasa yang ia alami saat ini.


Mereka masih berdiri di sana. Sementara hujan masih turun dengan gembira. Mungkin saat ini hujan sedang bahagia bertemu bumi. Seperti sepasang kekasih itu yang tak saling bicara tapi lewat bahasa tubuh mereka terbaca suasana yang bahagia.


"Jangan pernah lari dariku, oke?" bisik Aldrin di telinga gadis yang telah ia pacari.


Amaira yang diam dalam pelukan Aldrin, hanya bisa mengangguk kecil.


"Kamu tahu tidak, dulu aku tidak takut hujan. Tapi sekarang aku jadi takut," ucap Aldrin sambil memandangi derasnya hujan.


"Soalnya ... sekarang aku lagi bawa anaknya orang. Kalau dia sakit, aku bisa dimarahi orangtuanya," ujar Aldrin diiringi tawa kecil.


Amaira ikut tertawa. Hening. Tiba-tiba mereka sama-sama terdiam. Aldrin membalikkan badan Amaira, memosisikan gadis itu berhadapan dengannya.


"Sepertinya aku sudah jatuh kepelukanmu, sama seperti hujan yang jatuh ke bumi saat ini," ungkap Aldrin sambil menatap dalam bola mata Amaira.


Amaira terdiam. Dia tampak malu dan hanya mampu menunduk.


"Jangan menunduk! Lihat aku!" pinta Aldrin.


Amaira tetap menunduk tanpa berani menatap Aldrin yang berada di depannya.


"Kau keras kepala, ya! Baiklah, aku akan memberimu hukuman kecil."


Aldrin mengangkat dagu Amaira, lalu membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu secara tiba-tiba. Ia menciumnya dengan singkat. Bahkan Amaira masih tak percaya apa yang ia alami barusan.


Aldrin melengkungkan kedua bibirnya membentuk senyuman sempurna. "Lihat aku!" pintanya sekali lagi.


Kali ini Amaira memberanikan diri menatap mata cowok tampan itu. Ia bisa merasakan aroma tubuh Aldrin yang begitu memikat. Di pertokoan yang sepi, dengan hanya bercahayakan lampu jalanan, keduanya saling bertatapan.e


Aldrin mulai mendekat kembali ke arahnya. Entah kenapa, secara refleks ia memejamkan matanya seolah siap dengan apa yang akan ia terima. Sesuatu yang lembut dan basah kembali menyentuh bibirnya.


Amaira hanya bisa terpaku dan bingung harus berbuat apa. Perlahan dia mulai menikmati ciuman kekasihnya yang di iringi nyanyian air dari atas langit.