
Di tengah lamunannya, tiba-tiba sebuah tangan menariknya. Naufal terkejut saat Er memaksanya masuk ke dalam pantai. Hal itu membuat setengah dari pakaian naufal basah terkena air pantai. Tak sampai di situ, Er juga menyiram wajah Naufal yang sontak membuatnya terkejut.
Tak tinggal diam, Naufal ikut membalas apa yang dilakukan Er. Mereka saling siram-menyiram hingga keduanya sama-sama diterjang ombak pantai. Mereka masih asyik kejar-kejaran sepanjang pantai di bawah sunset yang begitu indah.
Setelah cukup lelah, mereka memutuskan duduk di pasir putih sambil menatap deburan ombak yang menghempas pantai. Sejenak, keduanya sama-sama terlihat sedang mengatur napas masing-masing. Er menatap wajah lembut Naufal yang tanpa menggunakan kacamata. Terlihat sekujur tubuh hingga rambutnya basah karena hantaman ombak.
"Apa yang buat lo suka sama dia?" tanya Er seketika.
Naufal sedikit terkejut mendengar pertanyaan Er. Namun, ia paham maksud pertanyaan gadis itu.
"Tidak ada alasan."
Er mengernyitkan mata karena tak mengerti maksud cowok itu.
"Aku menyukainya tanpa alasan," ulang Naufal mempertegas ucapannya.
"Bukannya dia pacar saudara lo?"
"Iya."
"Terus, kenapa lo masih malah suka sama dia?"
Naufal menatap Er sambil tersenyum. "Karena aku enggak minta balasan dia untuk suka sama aku juga."
Er bergeming. Sementara mata Naufal berputar menatap air laut yang mulai menjauh. "Mencintai secara sepihak memang menyakitkan karena kita harus siap-siap diabaikan. Tapi, itu tidak lagi membuatku sakit ketika aku memutuskan untuk mencintainya tanpa berharap lebih. Meskipun dia tak pernah sedikit pun menoleh padaku."
Er masih menatap wajah Naufal. Ia sedikit mengerti dengan maksud cowok itu.
Hari mulai gelap, indahnya senja telah terkikis oleh langit gelap. Mereka memutuskan untuk pulang. Naufal mengantar Er pulang ke rumahnya. Mobil telah sampai depan gang tempat lokasi rumah Er.
"Cepat balik sana! Jangan lupa ganti bajumu dan minum air hangat untuk menjaga suhu tubuhmu."
Ucapan Naufal yang penuh perhatian membuat Er terenyuh. Gadis itu menarik sebuah ikat rambut berwarna merah yang menguncir rambutnya selama ini. Rambut Er langsung terurai indah setelah ia melepas benda yang selalu membuat rambutnya seperti ekor kuda. Ia lalu mengambil tangan Naufal dan memasangkan ikat rambut itu ke tangan kanan Naufal.
Naufal menatap ikat rambut yang telah terpasang di pergelangan tangannya.
"Apa ini?"
"Anggap saja ini hadiah untuk lo sebagai ucapan terima kasih gue karena telah menemani gue hari ini."
Saat mengatakan kalimat itu, wajah Er berubah menjadi sendu. Ada sebuah kalimat yang ingin ia katakan tapi tertahan di pangkal lidahnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku akan selalu bersedia menemanimu selama aku ada waktu," ucap Naufal lembut.
Er memaksa untuk tersenyum, ia menunduk dan terlihat menelan salivanya. Wajahnya masih menunjukkan kesedihan yang berusaha ia tutupi dengan senyuman palsu.
"Apa ada yang ingin lo katakan sama gue?" tanya Er.
"Pulanglah!" ucap Naufal.
Er mengangguk, ia membuka sabuk pengamannya dan akhirnya keluar dari mobil Naufal kemudian berjalan lemah menuju lorong rumahnya. Baru tiga langkah ia keluar dari mobil itu, terdengar suara klakson. Er berbalik dan melihat Naufal dari kaca mobil yang terbuka.
"Besok aku akan jemput kamu sepulang sekolah! Tunggu aku di depan gerbang!" teriak Naufal.
Er menunjukkan ekspresi tak berdaya. Ia kembali memaksakan bibirnya untuk tersenyum sambil mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang rumah, Naufal berjalan menapaki anak tangga. Ia memutuskan mengintip kamar Aldrin yang telah kosong, tak ada satu pun benda-benda Aldrin yang terletak di sana. Ia melihat ke arah jendela, di tempat itu Aldrin sering duduk sambil merokok. Senyum tipisnya terukir sejenak saat mengingat kembali hari-hari yang mereka lewati berdua di kamar itu. Ia kembali menutup pintu dan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Naufal mengambil sebuah kotak berbentuk hati yang disimpan di nakas. Ia membuka kotak itu, terlihat sebuah jepitan rambut wanita berwarna pink yang juga berbentuk hati. Itu adalah jepitan rambut yang diberikan Amaira saat pertama kali ia ingin mengungkapkan rasa sukanya tapi gagal.
Naufal mengambil jepitan rambut itu keluar dari kotak tersebut. Ia lalu melepas ikat rambut yang diberi Er tadi, dan meletakkan ikat rambut itu ke dalam kotak, menggantikan posisi jepitan rambut Amaira.
Naufal kembali mengingat kebersamaan ia dan Er hari ini. Saat tersenyum padanya, saat menggenggam tangannya, saat merangkulnya dan saat meneriakinya dengan mengatakan sangat menyukainya. Tanpa peduli pandangan aneh orang sekitar. Ya, itulah Er. Cewek yang kepribadiannya berbeda jauh dengan Amaira, gadis yang ia sukai.
"Selamat tinggal, Amaira. Kubiarkan cintaku pergi bersama perahu kertas. Jika kamu memang takdirku, aku yakin cinta akan kembali berlabuh pada dermaga yang memang miliknya," ucapnya sambil menatap perahu kertas yang baru saja dihanyutkan bersama jepitan rambut berbentuk hati.
Perahu kertas itu menandakan jika ia telah siap melepaskan segala rasanya pada Amaira dan siap untuk membuka hati yang baru. Cinta adalah soal hati. Tak bisa dipaksa. Ia akan datang menyapa hati yang ingin disinggahinya, dan akan pergi dengan sendirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu hari telah terlewatkan lagi. Sepulang sekolah, Naufal mengendarai mobilnya menuju tempat penjualan bunga. Ia memilih untuk membeli setangkai bunga mawar. Setelah itu, ia kembali mengemudikan mobilnya menuju sekolah Er. Sesuai janjinya semalam, ia akan menjemput gadis tomboi itu sepulang sekolah.
Dengan sabar, ia menunggu Er di depan pintu gerbang sekolah. Matanya mengawasi satu per satu siswa perempuan yang keluar berharap jika itu adalah Er. Namun, sudah lebih dari setengah jam Er belum juga muncul. Ia melihat salah satu teman Er berjalan keluar. Naufal keluar dari mobilnya untuk mengejar orang tersebut.
"Permisi, apa kamu lihat Er? Dia sudah keluar, belum?"
Teman Er menatap heran ke arah Naufal. Namun, sepertinya ia tahu jika Naufal sangat dekat dengan Er.
"Apa kamu enggak tahu, Er sudah pindah. Dia enggak lagi sekolah di sini!"
Naufal tampak bingung. "Memangnya dia pindah sekolah ke mana?" tanyanya buru-buru.
"Aku enggak tahu. Dia sudah enggak sekolah di sini selama seminggu. Kakaknya memutuskan pulang kampung dan dia terpaksa harus ikut kakaknya," papar teman Er.
Mata Naufal membulat seketika. Dadanya seakan terpukul mendapat kabar kepergian Er yang mendadak.
"Ke mana dia pergi? Di mana kampungnya?" tanya Naufal mendesak dengan nada panik.
"Aku enggak tahu. Yang kutahu ... hari ini dia berangkat dengan menggunakan kereta. Mungkin dia masih ada di stasiun sekarang."
Naufal langsung pergi menuju stasiun kereta. Sesampainya di sana ia langsung berlari masuk mencari Er di antara keramaian orang. Matanya berkeliling berusaha menangkap sosok gadis tomboi yang ia cari. Ia berusaha menghubungi nomor Er, tapi tidak tersambung. Naufal melihat sesosok gadis yang berperawakan mirip Er berjalan membelakanginya. Ia segera berlari ke arah gadis itu.
"Er ...." Naufal menepuk pundak gadis berbaju merah.
Gadis itu berbalik menghadap ke Naufal. Wajah gembira Naufal berubah tak berekspresi seketika.
"Maaf, aku salah orang," ucap Naufal ketika gadis yang ia tegur ternyata bukanlah Er.
Naufal tak menyerah, ia masuk ke dalam kereta yang penuh akan penumpang. Ia memeriksa setiap penumpang yang ada dalam kereta. Namun, tak satupun dari mereka adalah Er.
Bunyi tanda kereta akan segera berangkat telah terdengar. Naufal keluar dari kereta tersebut. Ia duduk di bangku tunggu stasiun. Helaan napas berkali-kali terdengar dari cowok berkaca mata itu. Matanya masih menerawang memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Berharap salah satu dari mereka itu adalah Er. Ponselnya tak pernah lepas dari telinganya berusaha menyambungkan panggilan teleponnya ke Er, namun tetap saja tak kian tersambung.
Siang telah berganti sore, dan sore telah berganti malam. Sudah tujuh jam Naufal duduk menunggu di sini. Di stasiun kereta. Jam telah menunjukkan pukul 22.10 WIB. Stasiun mulai sunyi, dan para petugas telah siap-siap untuk pulang. Namun, lelaki yang berseragam sekolah itu, masih duduk menunduk sambil memegang mawar yang telah layu. Desiran angin malam seolah berbisik padanya untuk menyerah.
.
.
.
.
bersambung.
apakah Er akan kembali? atau perannya terhenti sampai sini?
apakah Aldrin akan menikahi Amaira?
apakah hubungan Aldrin dan Zaki akan membaik suatu saat nanti?
apakah ardhilla akan mendapatkan kurma?
nantikan terus episode-episode anti-klimaks novel ini