
Setelah hujan cukup mereda, mereka memutuskan untuk pulang. Aldrin mengantar Amaira kembali ke rumahnya. Saat sampai di depan rumah Amaira, Aldrin memintanya masuk.
Namun, gadis itu tetap berdiri di tempat sambil berkata, "Apa boleh aku melihatmu sampai hilang dari pandanganku?"
Mendengar permintaan sederhana kekasihnya, membuat Aldrin merekahkan senyum di wajahnya.
"Baiklah. Aku pergi, ya? Sampai jumpa besok!" ucap Aldrin seraya menghidupkan motornya.
Aldrin lalu memacu kendaraannya dan pergi meninggalkan Amaira. Gadis itu terus memandangi kepergian Aldrin hingga sosok itu mengecil lalu menghilang dari pandangan matanya. Tubuh Amaira masih terlihat basah dan ia segera masuk ke rumahnya.
Aldrin telah sampai ke rumah tepat pukul sepuluh malam. Begitu masuk kamar, ia segera membuka pakaiannya yang basah dan menggantinya dengan pakaian yang kering. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakan dan mengisapnya sambil duduk di jendela yang merupakan tempat favoritnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya. Ia bergegas melangkah menuju pintu kamar. Di hadapannya saat ini, Naufal tengah berdiri dengan rambut yang awut-awutan sambil memegang bantalnya.
"Aku boleh tidur di sini, enggak? AC kamarku mati. aku enggak bisa tidur karena kepanasan," keluh Naufal sambil masuk membawa bantalnya.
"Ini baru jam sepuluh malam dan besok hari libur. Terus, kamu sudah mau tidur? Hidupmu benar-benar membosankan!" cibir Aldrin sambil berjalan masuk ke dalam kamar lalu membuang rokoknya dan menutup jendela kamarnya.
Aldrin langsung mengambil remote AC dan mengatur suhu ruang kamarnya. Sementara, Naufal sedang mengatur tempat tidur. Setelah selesai, ia langsung membanting tubuhnya di atas kasur empuk. Ini pertama kalinya ia tidur di kamar Aldrin.
"Aku ingat, waktu pertama kali kamu datang di rumah ini. Kamu ngetuk pintu kamarku tengah malam minta tidur bareng karena ketakutan tidur sendiri," kenang Naufal dengan ingatan yang melayang pada masa kecil mereka.
Aldrin tersenyum tipis. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Naufal, lalu meletakkan kedua tangannya di belakang kepala seraya mengingat kembali saat pertama kali ia tinggal di rumah itu.
"Iya, itu karena kamar ini sangat besar. Lagian aku enggak pernah tidur sendiri sebelumnya. Aku selalu tidur bersama ayahku," balas Aldrin.
"Kamu tidur di kamarku selama seminggu. Tapi kamu selalu membelakangiku. Sudah gitu, malah enggak mau bicara sama sekali," lanjut Naufal tertawa kecil.
Aldrin kecil adalah sosok yang dingin bak es membeku dan Naufal kecil berusaha mencairkan es tersebut dengan sentuhan kehangatannya. Meskipun kebersamaan mereka saat itu hanya sebulan sebelum Aldrin memutuskan berangkat ke Amerika, tapi selama itu mereka banyak melewati hal-hal indah untuk dikenang di masa sekarang.
Setiap setahun sekali Aldrin akan pulang ke Indonesia dan mereka akan bersama seperti saudara kembar yang tak mau terpisah. Hingga usianya empat belas tahun, Aldrin tak lagi mau pulang dan Naufal mendapat kabar jika saudara tirinya itu sering berbuat onar di asrama sekolahnya. Setelah tiga tahun kemudian, Aldrin kembali menetap di rumah ini dengan sifat yang baru.
Sangat berubah total!
Jika dulu Naufal paham betul dengan kepribadiannya, tetapi sekarang ia tak cukup paham dengan karakter saudaranya itu. Aldrin terlalu banyak berubah. Kadang-kadang Naufal merasa seperti bukan Aldrin yang dikenalnya. Namun, melihat Aldrin tetap baik padanya, membuat ia memahami ada sesuatu yang mungkin saja menjadi penyebab Aldrin berubah.
"Kenapa kita tidak menghabiskan malam ini dengan nostalgia? Kayak main game gitu," usul Aldrin setelah sebuah ide terlintas di otaknya.
"Benar juga. Aku akan mengambil game yang sering kita mainkan dulu," ucap Naufal sambil beranjak menuju kamarnya dengan semangat.
Malam itu mereka habiskan dengan bermain game, kartu dan juga bermain putar penutup bolpoin sama seperti sembilan tahun yang lalu. Dua lelaki tampan itu tertawa bersama melewati satu malam dengan melakukan hal-hal konyol. Mereka membuat kebisingan di tengah lelapnya para manusia hingga suara keduanya menyeberang ke kamar Zaki. Pria itu sampai harus menegur mereka karena tak bisa tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari, keduanya sudah mulai mengantuk dan memutuskan untuk berhenti bermain. Mereka dalam posisi berbaring telentang bersiap untuk tidur. Aldrin telah menghidupkan lampu kamarnya. Ia menarik selimut untuk dipakai bersama.
Sesaat, terlintas dalam pikirannya tentang hubungan antara dirinya dan Amaira. Sungguh, ini benar-benar mengganjal hati dan pikirannya karena ia tahu Naufal sangat menyukai Amaira.
"Apa kamu enggak mikir buat suka sama cewek lain selain Amaira?" tanya Aldrin tiba-tiba.
"Masalahnya jantungku cuma berdetak kencang saat bersama dia." ucap cowok berwajah lembut itu. Naufal mengalihkan pandangannya ke atas, menatap langit-langit kamar seraya berkata kembali, "Sampai sekarang aku belum punya keberanian untuk bilang suka sama dia. Ada rasa khawatir kalau aku sudah keduluan orang lain. Tapi, setiap ke sekolah terus lihat dia lagi sendiri, aku merasa tenang. Dia seperti sebuah barang antik yang meskipun aku tidak bisa memilikinya, orang lain pun sama," lanjut Naufal dengan mata berbinar-binar dan senyum tipis yang menggantung di wajahnya.
Aldrin terdiam. Membisu. Tidak ada yang bisa ia katakan. Ia mengalihkan badannya membelakangi Naufal.
"Ayo tidur! Aku sudah ngantuk," ujar Aldrin memaksakan matanya untuk terpejam.
Satu hari telah terlewati. Di Minggu yang cerah, Amaira berjalan memasuki lift lalu menekan tombol angka tujuannya. Ini adalah kawasan apartemen elit.
"Apa ini rumahnya?" gumam Amaira ragu.
Ia menekan tombol bel. Tak lama kemudian seseorang langsung membuka pintu.
"Hei, Amaira lo datang juga akhirnya!" ujar Bryan seraya mempersilakan gadis itu masuk.
Begitu Amaira masuk, ia terkejut karena di dalam apartemen itu banyak orang sedang berjoget ria menikmati musik DJ. Laki-laki dan perempuan tampak berbaur satu sama lain. Bahkan berapa botol minuman keras terlihat di sana.
Ini adalah apartemen milik Bryan. Aldrin yang menyuruh gadis itu datang ke sini. Tadinya Aldrin mengatakan bahwa Bryan mengadakan pesta kecil-kecilan. Nyatanya, ini adalah pesta anak-anak gaul ibukota. Amaira pun tampak menyesal ke tempat itu.
"Lo mau minum?" tawar Bryan sambil mengambil sebotol bir lalu menuangkan ke dalam gelas untuk diminumnya sendiri.
Amaira menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Mana Aldrin?" tanyanya sambil menelisik seluruh ruangan yang penuh dengan orang-orang berjoget.
"Oh ... kayaknya lagi di kamar gue. Coba lo lihat!" jawab Bryan sambil menunjuk ruang dapurnya.
Amaira kembali menggeleng. Mana mungkin ia masuk ke kamar laki-laki.
"Udah, gak papa. Cek aja dia di kamar gue! Terus panggil ke sini!" Bryan sepertinya tahu rasa canggung Amaira.
Dengan ragu, Amaira berdiri lalu bergegas menuju kamar Bryan. Saat membuka pintu, matanya menangkap sebuah pemandangan yang mencengangkan sekaligus membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ia melihat Aldrin sedang berpelukan dan berciuman dengan wanita lain di tepi ranjang!
Amaira terlonjak! Itu benar-benar Aldrin. Ia tak salah lihat! Bahkan ketika ia mengerjapkan matanya, yang muncul di hadapannya tetaplah Aldrin bersama dengan perempuan yang tak dikenalinya.
Amaira menutup mulutnya. Dadanya terasa sesak. Seperti tertusuk ribuan jarum. Ia berlari mengambil tasnya dan keluar dari apartemen Bryan dengan segera.
Waktu telah mempertemukan Amaira dengan malam. Gadis itu duduk meringkuk di lantai kamarnya seraya menunggu telepon dari Aldrin. Berharap kekasihnya bisa menjelaskan sesuatu yang sangat jelas tertangkap oleh matanya. Namun, ponselnya tak kunjung berdering. Sesekali ia tampak melihat ke layar ponsel. Tidak ada bunyi pesan, apalagi suara telepon. Ia pun melewatkan satu malam dengan hati yang kalut.
Waktu begitu cepat berputar. Tak terasa telah pagi. Amaira terburu-buru menuju perpustakaan saat mendapat pesan singkat dari Aldrin yang menunggunya di sana. Ia membuka pintu perpustakaan dan melihat Aldrin sedang duduk diam di meja tempat mereka mengerjakan tugas bersama
Amaira berjalan menghampiri Aldrin. Ia heran, wajah cowok berambut pirang itu tampak dingin.
"Aku mau putus!" ucap Aldrin menyambut kedatangan gadis itu.