Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 142 : Pianish vs Violinis jilid 3 (part 2)




Aldrin berdiri tepat di tengah panggung. Lampu masih menyoroti dirinya seorang. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Kemudian memosisikan biolanya di pundak. Matanya melirik ke arah penonton yang menunggu, dan ia mulai menggesek biolanya.


Aldrin memulai nada awal. Lagu pembuka pertama yang ia bawakan adalah Smooth Criminal by Michelle Jackson. Lagu itu bercerita tentang seseorang yang yang akan dibunuh oleh penjahat. Lewat lagu itu seolah ia ingin menyampaikan kejadian yang menimpanya barusan. Lagu beraliran pop disco itu dibuat rock olehnya malam ini dan temponya dipercepat. Menciptakan suasana bergelora di dada bagi siapa saja yang mendengar. Sebuah pembukaan yang memukau dipadu dengan musik rock memukau dari hasil lengkingan biolanya.


Gesekan biolanya yang begitu cepat membuat penonton seakan menahan napas mereka karena takjub akan gerakan tangannya yang lincah. Pria itu memainkan dawai biola dengan piawai. Ia meliuk-liukan badannya senapas dengan nada yang dimainkannya.


Lagu berpindah pada tempo yang pelan. Aldrin mulai melakukan tarian moonwalk dan aksi anti grafity yang sering diperagakan oleh Michelle Jackson. Sontak penampilannya membuat para juri melongo dan penonton pun kian heboh dan histeris. Seolah tak menghiraukan luka-luka di sekujur tubuhnya, ia terus melakukan gerakan moonwalk sambil menggesek biolanya. Teknik permainan biolanya benar-benar memukau.


Aldrin mengakhiri penampilan perdananya dengan memberi sebuah tanda gesekan panjang busur biola. Permainan dawai selama dua menit itu telah berakhir. Namun, suasana gedung itu kembali hening. Diam. Tak ada suara tepukan tangan. Para penonton masih tak berkedip. Seolah masih tersihir dengan permainan indah yang baru saja ia bawakan. Seakan dapat menghentikan waktu, seluruh orang terlihat mematung. Begitupun dengan para juri yang masih ternganga dengan pandangan lurus ke depan.


Hingga salah satu dari empat juri itu berdiri sambil bertepuk tangan. Lalu diikuti ketiga juri lainnya beserta seluruh penonton. Mereka semua kompak berdiri sambil terus menepuk tangan. Memberi apresiasi atas pertunjukan yang baru saja Aldrin persembahkan untuk mereka.



Aldrin tersenyum. Ia bahkan sampai mengeluarkan butiran air mata kebahagiaan. Betapa terharunya ia mendapat respon seperti ini. Sungguh, seluruh luka dan sakit di badannya tak ada apanya, karena hasil yang ia terima begitu manis.


Matanya lalu berkeliling ke deretan kursi VIP. Mencari seseorang yang ia nanti kehadirannya. Namun, mata itu tak kunjung menangkap sosok yang ia harapkan. Senyum yang sumringah terukir di wajahnya perlahan memudar. Ia menunduk di tengah tepuk tangan gemuruh yang masih menghujaninya.


Sesaat, ia sadar. Dia tidak boleh lemah. Masih ada satu lagu lagi yang harus ia persembahkan. Saat ini, suara tepuk tangan telah mereda. Lampu pun menyala seluruhnya.


Masih di sini. Aldrin masih berdiri tegap di tengah panggung megah dan di hadapan jutaan penonton. Ia menarik napasnya sejenak. Lalu memosisikan kembali biolanya di atas pundak. Bersiap untuk mempersembahkan lagu keduanya.


Ia mulai memejamkan matanya. Dan kembali memulai nada awal dari sebuah lagu Coldplay yang berjudul Viva La Vida. Yaitu sebuah lagu indah yang meraih Grammy Award for Song of The Year pada Grammy Award ke-51 tahun 2009. Bahkan lagu ini di-remake David Garret dalam album soloisnya. Di YouTube lagu Viva La Vida versi biola yang dimainkan David Garret telah ditonton hampir 100 juta kali.


Di lagu kedua ini, Aldrin membawakannya dengan penuh penghayatan. Ia memainkannya dengan tempo yang pelan sehingga nada-nada dari lagu itu seakan sampai ke hati setiap para pendengar. Aldrin benar-benar dapat memainkan musik dengan sangat baik. Begitu dalam dan sangat menyentuh. Suara tepuk tangan kembali bergemuruh menemani setiap gesekan biolanya.


Aldrin masih memejamkan matanya. Para penonton dan juri seakan menghilang. Panggung seakan berganti menjadi hamparan Padang rumput yang luas. Kini, hanya ada dia sendiri di dalam dunianya.


Lagu memasuki bagian reff. Secara mengejutkan David Garret maju ke atas panggung dengan membawa biolanya. Penonton semakin dibuat heboh dan histeris tatkala mereka melakukan duet bersama!



Aldrin memasuki nada tinggi nan melengking. Semetara Sang raja biola menyusul untuk melengkapinya. Rasanya begitu cepat, dan ia harus memainkan nada penutup, bersama dengan gesekan biola David yang mengiringi dengan sempurna. Kemudian selesai.


Aldrin berdiri dengan masih memegang biola di sebelah tangannya. Ia tersenyum menghadapi penonton lalu menatap wajah sang idolanya yang kini berhadapan langsung dengannya. Apakah ini sebuah mimpi? Ya, dulu ia sering bermimpi ingin bertemu dengan David Garrret. Sekarang mimpi itu telah menjadi kenyataan. Bahkan mereka tampil berdua di atas panggung megah.


Sang raja biola memeluknya seraya berbisik, "Good perfomance!"


Dari tempat duduk penonton, Zaki menatapnya dengan tatapan kosong. Ia dapat merasakan perbedaan antusias penonton saat dirinya tampil dan saat ini. Sementara Naufal tersenyum ikut bangga dan terharu dengan apa yang ia lihat saat ini.


Tanpa terasa waktu membawa mereka ke pembacaan nominasi pemenang penghargaan. Aldrin duduk di deretan kursi yang tak jauh dari tempat Zaki duduk. Kursi di sampingnya kosong, menandakan jika Ardhilla benar-benar tidak datang memenuhi permintaan puteranya itu. Baik Zaki maupun Aldrin sama-sama menampakkan wajah tegang. Bersiap untuk mendengar pengumuman di kategori mereka.


"Sekarang ... waktunya untuk mengumumkan penghargaan musisi termuda paling berbakat se-Asia," papar MC sebelum mengumumkan nama pemenang.


Aldrin menunduk. Ia memejamkan mata seraya berdoa untuk kemenangannya. Suasana tegang kembali tercipta. Penonton tak kalah penasaran ingin mengetahui pemenang di kategori itu.


"Dan ... pemenangnya Adalah ...." MC sengaja menjeda ucapannya agar penonton makin penasaran.


Ia mengarahkan pandangannya ke depan penonton lalu tersenyum lebar.


"Zaki Ardhani!"


MC meneriaki satu nama yang diiringi tepukan tangan penonton. Aldrin membuka kedua matanya. Ekspresinya menjadi datar. Tatapan matanya kosong. Matanya menciptakan sebuah kekecewaan yang mendalam. Ia kembali menunduk. Sedih. Kecewa. Namun, itu yang harus ia terima. Bukan namanya yang disebut. Dia bukan pemenang!


Ayah, Amaira ... maafkan aku ...


Pada saat yang sama, Zaki tampak terkejut saat namanya menggema di seluruh stadion yang begitu megah. Matanya membulat seketika. Jantung seakan berhenti berdetak. Ada sebuah perasaan yang sulit untuk dideskripsikan dalam dirinya saat ini. Entah bahagia atau terharu.


Zaki berdiri dengan gagah. Disambut pelukan bahagia dari manejernya dan ucapan selamat dari Naufal. Ia masih memandang lurus ke depan. Sepertinya ia butuh sebuah tamparan kecil di pipinya, agar ia benar-benar yakin bahwa kemenangannya bukan sebuah ilusi ataupun halusinasinya. Kemenangannya adalah nyata!


Zaki berjalan menuju ke atas panggung. Ia melewati Aldrin yang berdiri menantinya. Keduanya saling berhadapan dengan tatapan saling bertukar.


"Selamat, ya!" ucap Aldrin pelan sambil mengulurkan tangannya sambil memaksakan senyum.


Zaki masih menatap Aldrin yang tersenyum. Ia dapat mengetahui mata Aldrin penuh kekecewaan yang mendalam. Dengan senyum penuh kesombongan, ia menerima uluran tangan Aldrin. Keduanya saling berjabat.


"Terima kasih," balas Zaki.


Ia lalu melangkah maju menaiki panggung besar nan megah. Sebuah piala penghargaan kini berada di tangannya.


Zaki menghela napas sejenak. Matanya menyapu seisi penonton. Senyum penuh kemenangan tercipta dari bibir indahnya.


"Tapi, saat aku masih kecil. Ayahku mengajari satu hal padaku. Jangan mengambil yang bukan milikmu!"


Suasana menjadi hening sesaat. Zaki menahan salivanya dan terus melanjutkan ucapannya, "Jangan mengambil yang bukan milikmu! Ayahku selalu menekan kalimat itu padaku. Dan sekarang, aku akan mempraktekkan amanat ayahku."


Zaki menatap sejenak sebuah piala yang berada dalam genggamannya. "Hari ini, aku beradu dengan Aldrin untuk memperebutkan piala ini. Aku mengakui penampilannya malam ini sangat spektakuler. Aku rasa juri dan penonton juga sepakat. Untuk itu, aku merasa piala ini lebih tepat jatuh ke tangannya."


Saat mengucapkan kalimat itu, suara Zaki bergetar. Sementara MC mengerutkan keningnya. Para juri saling memandang walau tanpa bersuara. Aldrin yang sedari tadi diam menunduk, langsung mengangkat kepalanya.


Suasana masih begitu hening. Zaki kembali menatap piala indah yang terbuat dari kaca kristal. Ia lalu kembali membuka suaranya, "Aldrin, terimalah penghargaan ini dariku."


Mata Aldrin membulat. Pupilnya melebar. Ia merasa seperti menerima sebuah angin lembut yang bertiup ke arahnya.


"Aldrin, ambillah piala ini. Terimalah sebagai hadiahku untuk pernikahanmu. Walaupun juri tak memenangkanmu, tapi aku yakin mereka pun sepakat, kau lebih pantas menerima penghargaan ini," ucap Zaki tanpa keraguan.


Seisi gedung yang tadinya hening menjadi riuh. Suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Sangat riuh. Panjang dan tak ada habisnya. Dari arah penonton, Naufal melakukan hal yang sama. Ia terus menepuk kedua tangannya. Tepukan tangan ini ia persembahkan untuk kebesaran hati Zaki. Sungguh ia benar-benar kagum dan bangga memiliki kakak laki-laki seperti Zaki. Yang mampu menyerahkan apa yang telah ia genggam.


Keempat juri kompak berdiri sambil ikut menepuk tangan. Ya, andaikan Aldrin datang lebih cepat. Pastilah ia yang akan memenangkan kategori ini. Sayangnya, ia datang saat juri telah memutuskan mengkualifikasinya. Sehingga penampilannya tadi hanya terhitung sebagai hiburan.


Kini, suara tepukan tangan itu diiringi dengan teriakan penonton yang memanggil namanya secara bertubi-tubi.


"Aldrin ... Aldrin ... Aldrin ..."


Nama itu terus menggema seisi gedung. Raungan suara penonton yang memanggil namanya terus mengelilinginya. Aldrin berdiri. Ia membalikkan badannya ke arah penonton. Matanya berbinar memancarkan cahaya bintang yang berkilau. Rasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya. Ini tidak mungkin! Ia ingin memercayai penglihatannya, tetapi takut jikalau ini hanyalah sebuah ilusi yang memainkan harapannya. Ia menghadap ke atas panggung. Melihat Zaki masih berdiri di atas sana sambil melemparkan senyum ke arahnya. Dengan setia menunggu kehadirannya di atas panggung untuk mengambil piala itu.



Aldrin melangkah menuju ke atas panggung. Ia kembali berhadapan dengan Zaki. Sambil tersenyum, Zaki menyerahkan piala itu padanya. Dengan tangan gemetar, Aldrin mengambil piala yang diidam-idamkannya. Dalam hitungan detik, piala itu berpindah ke tangannya.


Para penonton dan juga juri tersenyum haru menyaksikan sebuah adegan manis di atas panggung. Dari Zaki dan juga Aldrin, mereka dapat mengambil pelajaran berharga tentang sebuah arti perjuangan. Menang kalah bukan menjadi tolak ukur manusia dianggap hebat.


Aldrin menghadap ke arah penonton. Ia memajukan wajahnya untuk mendekati mic yang tertempel di podium.


"Terima kasih kuucapkan untuk semua orang yang berada di acara malam ini. Terutama untukmu," ucap Aldrin sambil mengarahkan pandangannya ke Zaki yang masih berdiri di sampingnya.


Aldrin tersenyum. Ia kembali menatap ke arah penonton.


"Piala ini akan kupersembahkan khusus pada seseorang," ucapnya sesaat sambil menarik napas. Matanya mulai berkaca-kaca tak kuasa menahan kebahagiaan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Dalam hidupku, aku mencintai dua hal. Biola dan Amaira, istriku."


.


.


.


.


.


bersambung....


jangan lupa untuk mendengarkan ilustrasi lagu2 ada di 2 chapter terakhir ini ya..


Yiruma Rover flows in you (piano version)


Lagend by Franz Liszt (piano version)


Henry Suju smooth Criminal viollin version


David Garret Viva la Vida. (tapi saat mendeskripsikan Aldrin main, aku lebih suka dengar versi Daniel Jang soalnya lebih lembut dan sesuai imajinasi ku)


cek di yutub


like, vote seikhlasnya dan komeng