
Pagi mulai menyapa. Cahaya mentari mulai masuk melalui ventilasi kamar. Jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit. Aldrin membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat. Ia mengusap kedua matanya agar kesadarannya kembali total. Matanya beralih menengok jam dinding kamarnya. Ia terkejut seketika. Sudah mau jam sepuluh pagi? Tidak! Dia terlambat bangun. Ia akan pergi ke Singapura bersama Ayahnya dan juga Zaki.
Aldrin beranjak dari tempat tidurnya. Ia bergegas menuju kamar mandi. Hanya tinggal lima belas menit lagi, waktu yang tersisa untuk dia bersiap. Sementara ia belum memasukkan pakaiannya dalam koper. Lima menit kemudian, Aldrin keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaian. Sejenak terdengar suara mesin mobil yang dipanaskan. Aldrin mempercepat gerakannya. Dengan buru-buru ia mengancingkan kameja putihnya lalu memasang dasi di lehernya.
Tiba-tiba Aldrin tersadar akan sesuatu, ia berlari ke arah balkon dan melihat mobil Ayahnya keluar dari pintu gerbang. Aldrin terkejut. Ia ditinggal Ayahnya! Tak tinggal diam, dia segera berlari dari lantai dua menuju lantai bawah dan terus berlari keluar rumah mengejar mobil ayahnya dengan telanjang kaki.
"Ayah! Tunggu aku!" Teriak Aldrin.
"Ayah!" teriaknya berkali-kali.
Aldrin berlari mengejar mobil Tuan Adam dan terus berteriak sekuat tenaga memanggil ayahnya berharap mobil itu berhenti.
Sementara di dalam mobil, Tuan Adam tampak sibuk dengan tablet smartphone di tangannya. Di sebelah Tuan Adam, tampak Zaki sedang memperbaiki posisi jas yang ia kenakan. Secara spontan ia berbalik ke belakang dan melihat samar-samar Aldrin mengejar mobil mereka.
"Ayah," panggil Zaki.
"Ya," jawab Tuan Zaki dengan tetap fokus pada tabletnya.
"Apa Ayah serius tidak akan mengajak Aldrin?" tanyanya dengan ragu-ragu.
"Dia masih tidur dan dia mungkin masih dibawa pengaruh alkohol. Biarkan dia beristirahat dan merenungi kesalahannya," jawab Tuan Adam.
Zaki menoleh ke belakang sekali lagi, bayangan Aldrin yang masih mengejar mereka masih terlihat walaupun dengan jarak yang cukup jauh. Ia ragu apakah harus mengatakan pada ayahnya jika Aldrin sedang mengejar mereka atau tidak.
Mobil berbelok ke arah kanan, dan bayangan Aldrin menghilang. Zaki mengurungkan niatnya untuk mengatakan pada ayahnya. Bukannya ia tak perlu bersimpatik pada anak itu? Dulunya dia sangat meremehkan adik tirinya itu karena pikirnya Aldrin hanya sekedar menang tampang. Namun, setelah acara dinner malam itu, itu sedikit mengakui jika Aldrin tidak benar-benar bodoh dan dia harus waspada pada adiknya itu. Jika tidak, bukan tidak mungkin posisinya sebagai satu-satunya calon Presiden Direktur akan diambil oleh Aldrin!
Aldrin tak lelah berlari. Bajunya belum terkancing sempurna, dasi yang hanya bergantung seadanya dan kakinya tak beralaskan apapun. Ia menghentikan langkahnya ketika mobil itu berbelok dan menghilang dari arah pandangnya.
Napasnya masih tersengal-sengal. Pandangannya menjadi sayup dan raut wajahnya terlukiskan kekecewaan mendalam.
"Aaarrgggghhhh!"
Aldrin berteriak penuh kekesalan dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri. Ia berbalik badan dan berjalan pelan kembali ke rumahnya. Saat masuk ke ruang makan, ia melihat sebuah kue ulang tahun besar yang di atasnya ada sejumlah lilin yang telah terbakar.
Kue itu bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun Ayah'. Sontak ia baru mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahun ayah sambungnya itu. Bukankah ia telah mempersiapkan kado spesial untuk ayahnya? Ia berlari ke kamarnya, mengambil kado yang telah dibungkus seindah mungkin dengan rangkaian kata-kata indah mengandung ucapan selamat dan terima kasih.
Kesadarannya telah kembali. Ia mengingat semalam mabuk berat lalu muntah di hadapan orangtuanya dan beberapa tamu yang tak dikenalinya. Mungkinkah ia ditinggal pergi ayahnya karena peristiwa semalam? Karena kebodohannya? Karena janji yang tak ditepatinya?
Alkohol membuat ia bahagia dan menjadikan masalahnya hilang seketika. Namun, alkohol juga membuat ia harus menanggung konsekuensi dari janji yang ia buat, yaitu janji ingin merubah diri menjadi lebih baik.
Aldrin melempar kado itu ke dinding. Ia terduduk di lantai, bersandar di tempat tidurnya dengan kedua kaki lurus ke depan. Ia tidak kesal karena ditinggal ayahnya. Sungguh! Dia hanya kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa teguh pada pendirian.
Terlalu berat!
Ia telah membayangkan betapa indah hari ini, sebab akan menyerahkan kado pertamanya pada sang ayah. Lalu ikut bersama ayahnya ke Singapura bertemu para pebisnis muda di Asia. Namun, semua itu tinggal angan-angan yang telah hancur karena kebodohannya sendiri. Ia tak bisa menyerahkan kado ulang tahun, dan ditinggal pergi ayahnya.
Benar-benar bodoh!
Aldrin telah berusaha keras selama hampir dua minggu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang tak biasa ia tempati. Di mana ia harus berpakaian formal dan berbahasa sopan. Demi masa depan yang lebih baik, ia menahan rindu untuk bertemu kekasihnya dan menahan diri untuk bersenang-senang dengan kawan-kawannya serta melupakan biolanya. Bahkan hari libur sekolah dipakai full untuk berkerja. Namun, saat ini sudah tak ada artinya lagi. Semua telah sia-sia dan mungkin saja Ayahnya tak dapat mempercayainya lagi.
Aldrin bangun berdiri. Ia keluar dari kamarnya menuju kamar Naufal. Ia langsung membuka pintu dan melihat Naufal sedang membaca buku.
"Apa ayah sangat marah padaku?" tanya Aldrin tanpa basa basi.
Naufal nampak berpikir sejenak. "Mungkin. Tapi, dia tidak berbicara apapun tentangmu. Kami merayakan ulang tahunnya pagi-pagi sekali. Lalu ayah dan kakak langsung bersiap ke bandara. Sedang Ibu akan bermalam di hotel karena sibuk dengan kerja samanya bersama Perusahaan Dubai yang mengontraknya."
Aldrin terdiam mendengar penjelasan dari Naufal. Sebaliknya Naufal memerhatikan ekspresi wajah Aldrin yang nampak lesuh tak bersemangat.
"Kudengar kau mabuk berat semalam!" kata Naufal.
Aldrin hanya mengangguk membenarkan apa yang barusan Naufal ucapkan.
"Jika aku jadi ayah, mungkin aku juga akan kecewa padamu."
"Ya... ya... " Aldrin memalingkan wajahnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku melanggar janji untuk berubah. Bahkan mungkin jika Amaira tahu dia pasti juga akan kecewa," lanjut Aldrin sambil menarik napas.
"Sepertinya kau tidak sungguh-sungguh berubah dari hatimu. Kau hanya berubah demi seseorang. Makanya kau tidak bisa konsisten," ucap Naufal sambil menutup bukunya lalu membuka kacamatanya.
Aldrin menatap Naufal seolah bertanya apa maksud dari perkataan saudara sekaligus sahabat terbaiknya.
"Aldrin, jika kau ingin berubah ... berubahlah demi kebaikanmu! Berubahlah karena kau ingin benar-benar menjadi lebih baik. Bukan karena kau berjanji pada ayah dan juga ingin merebut hati orangtua Amaira. Jika hanya terpaksa, untuk apa kau melakukannya? yang ada kau malah kembali ke dirimu semula, 'kan?"
Aldrin terdiam, merenungi setiap kalimat yang keluar dari mulut Naufal. Ya, perubahan yang ia lakukan bukan dari hatinya, tapi karena Amaira. Ia menyayangi gadis itu dan ingin membuktikan pada orangtua Amaira bahwa ia memang layak untuk menikahinya. Oleh karena itu ia datang memohon pada ayahnya untuk belajar bekerja di perusahaan yang sebenarnya ia tak suka. Bahkan berhenti memainkan alat musik biola. Semua itu demi Amaira. Bukan dari keinginan dirinya sendiri.
"Ubahlah tujuanmu untuk merubah diri menjadi baik. Apakah hanya demi seseorang? Ataukah karena tubuh dan ragamu memang layak dihargai. Jika kau berubah demi kebaikan dirmu sendiri, maka kau tidak akan mudah goyah. Bukankah hidup kita begitu berarti?" lanjut Naufal.
Aldrin mengangguk setuju dengan ucapan Naufal. Perasaannya menjadi lebih baik setelah mendapatkan nasehat dari sahabat kecilnya itu. Ia kembali ke kamar dan mendapati ponselnya sedang berdering. Ia menatap layar ponsel dan melihat nomor yang tidak ia kenali.
"Halo."
"Halo, Ini dengan Aldrin Ardhani?"
"Iya."
"Kami dari Rumah Sakit. Hasil tes DNA yang Anda ajukan telah keluar sejak tiga hari yang lalu. Silahkan datang ambil ya."
.
.
.
.
bersambung...
jangan lupa nampol jempol dan komennya π