Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 70 : Baru Saja Dimulai



Sepasang kekasih yang kembali merajut cinta itu telah tiba di sekolah. Aldrin dan Amaira turun dari motor. Cowok berambut blonde itu langsung menggenggam tangan Amaira dan menariknya berjalan bersamanya. Gadis itu terdiam di tempat, menolak untuk bergerak.


"Kenapa?" tanya Aldrin.


"Bagaimana hubunganmu dengan Naufal?" Amaira balik bertanya.


"Lihat ke bawah!" seru Aldrin menundukkan pandangannya.


Amaira menatap ke bawah dan melihat Aldrin memakai sepatu yang berbeda warna dan motif di kaki kanan dan kirinya. Sepatu sebelah kanan berwarna merah sedangkan sepatu kiri berwarna biru. Sepatu merah tampak lebih kecil dari pada sepatu biru.


"Kenapa sepatumu tidak sama kiri dan kanannya?" Alis Amaira tampak saling bertautan.


"Karena salah satu sepatunya terpasang di kakiku." Suara laki-laki terdengar dari arah belakang.


Amaira memutar tubuhnya ke belakang. Ia tersentak melihat Naufal berdiri dengan memakai sepatu yang sama seperti Aldrin. Ia juga telah kembali ke jati dirinya semula, memakai kacamata dan rambutnya kembali menjadi hitam.


"Kita berdua adalah sepasang sepatu. Walaupun kita tidak sama persis tapi serasi. Walaupun langkah kita tidak pernah kompak, tapi selalu satu tujuan dan saling melengkapi," ucap Naufal sambil merangkul Aldrin.


"Dan kamu akan berjalan pincang jika salah satu sepatumu hilang. Begitupun dengan kita, jika ada di antara kita yang pergi, maka hidup tak akan sama seperti sebelumnya," sambung Aldrin sambil membalas merangkul Naufal.


Amaira tersenyum lega melihat kedua cowok itu begitu kompak. Ada perasaan haru menerpa dirinya melihat kekuatan persahabatan mereka. Naufal, Aldrin dan Amaira berjalan ke kelas bersama. Satu tangan Aldrin merangkul Naufal sementara satu tangannya lagi menggenggam tangan Amaira.


Angel melihat mereka bertiga berjalan bersama dengan kompak. Ia terkejut melihat Aldrin dan Amaira yang saling berpegangan tangan, sementara di sampingnya ada Naufal.


"Gue pikir mereka sudah putus, ternyata mereka masih berhubungan sampai sekarang!" Angel ternganga. Ia benar-benar tak habis pikir. Sungguh menjengkelkan baginya melihat pemandangan itu.


Bryan yang kebetulan sedang bersamanya, langsung ikut berkomentar, "Lo belum bisa lupain Aldrin? Gimana kalau kita berdua pacaran? Gue enggak kalah tampan kok dari Aldrin! Lagian kita sudah berteman lama dari kecil."


Angel menoleh pada Bryan yang menyengir padanya. Ia menatap kesal ke arah cowok itu sambil mengangkat bibir atasnya membentuk seringai lebar, kemudian langsung beranjak pergi. Bryan menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap punggung Angel yang semakin jauh.


"Bukannya kita sama? Lo belum menyerah untuk dapatin Aldrin, dan gue belum menyerah untuk dapatin lo," gumam Bryan dengan senyum samar.


 


Di tempat lain, Ardhilla baru saja tiba di kantor manajement artis yang menaunginya selama ini. Gayanya hari ini tampak kasual dengan blazer yang melekat di tubuhnya. Wajahnya yang begitu anggun selalu membuat artis-artis pendatang baru terpanah melihatnya. Meskipun usianya telah menginjak tiga puluh tujuh tahun dan telah memiliki satu anak yang mengecap bangku SMA, tidak membuat dirinya terlihat seperti seorang ibu. Malah seperti seorang gadis dua puluhan.


"Aku punya berita besar, dan aku yakin kamu pasti pasti sangat suka dengan berita ini!" ucap manajer Ardhilla di ruangannya.


"Berita apa itu?" tanyanya dengan tenang.


"Ada seorang pengusaha asal timur tengah yang ingin mengontrak kamu menjadi brand ambassador."


"Pengusaha asal Timur tengah?" Ardhilla menyipitkan matanya, ini pertama kalinya pengusaha luar negeri hendak mengontraknya.


"Dia adalah pemilik Alfath Grup yang memiliki banyak sektor bisnis. Kudengar, dia akan membangun sebuah Yayasan untuk anak jalanan di Jakarta, dan dia akan mengontrakmu sebagai artisnya!" Manajer yang duduk di hadapannya, memberi penjelasan dengan sangat menggebu-gebu.


"Jika dia ingin mengontrakku, berikan dia nilai kontrak yang fantastis. Katakan padanya aku tidak mau jika nilai kontraknya kecil. Aku tahu, pengusaha-pengusaha asal timur tengah adalah orang-orang yang sangat royal," tegas Ardhilla yang begitu tertarik dengan profil pengusaha yang hendak mengontraknya.


"Tentu saja. Apalagi kudengar dia hanya menginginkan kamu sebagai ambassador produknya, selain kau dia tidak tertarik dengan artis lain," lanjut manajernya.


"Siapa nama pengusaha itu?" tanya Ardhilla penasaran.


"Hussain Al-Fath. Dia adalah salah satu Milliarder yang tinggal di kota Dubai," jawab manajer dengan mata berbinar-binar.


Mata Ardhilla terbuka lebar seketika. Ia makin penasaran dengan sosok yang baru saja diinfokan manajernya.


Di sekolah, jam istirahat telah tiba, Aldrin mengajak Amaira ke perpustakaan. Ia menutup kedua mata gadis itu dengan tangannya lalu menuntun berjalan ke suatu tempat di dalam ruangan itu. Aldrin menghentikan langkahnya. Dengan tetap menutup mata Amaira, ia memberi aba-aba.


"Satu, dua, tiga."


Aldrin melepas tangannya dari mata Amaira. Pandangan mata gadis itu langsung tertuju pada sebuah ukiran di sudut tembok perpustakaan. Tampak sebuah tulisan kecil yang tertulis nama Aldrin dan juga Amaira yang di tengahnya terdapat simbol hati. Jika dibaca menjadi 'Aldrin mencintai Amaira'.


Gadis itu terkesan. Ia kesulitan untuk berkata-kata karena terlalu takjub untuk melihat apa yang ada di dinding tersebut. Seakan musim semi tengah hadir di hatinya, penuh bunga dan warna yang indah.


"Kapan kamu membuatnya?" tanya Amaira dengan mata yang berbinar.


"Waktu itu ... ketika kita berdua terkurung di perpustakaan. Aku mengukirnya dalam kegelapan dan hanya menggunakan kuku tanganku," jawab Aldrin sambil tersenyum.


Aldrin memegang kedua tangan Amaira. Ia menggenggam hangat tangan putih itu, lalu berkata, "Aku akan membuatmu bahagia."


Kisah cintaku dengan gadis perpustakaan baru saja dimulai. Semoga setelah ini, takkan ada badai yang menghampiri hubunganku dengannya. Semoga saja tetap akan seperti ini ...