Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 117 : Labirin Waktu



Bryan mengambil amplop dari tangan Aldrin. Namun, ia terkejut melihat isi amplop yang diserahkan Aldrin. "Aldrin, Lo mau ngasih lihat apa sama gue? Amplop ini kosong!"


Mata Aldrin terbelalak seketika. Seolah tak percaya, ia merebut amplop itu dari tangan Bryan dan memastikan isi dalamnya. Benar-benar kosong! Dadanya menjadi sesak seketika. Rasa panik menerjangnya.


"Isinya jatuh. Ya ... pasti jatuh! Tunggu aku di sini! Aku akan cari isi amplop ini. Tolong jangan ke mana-mana dulu," ucap Aldrin memelas yang disambut wajah bingung Bryan.


Aldrin langsung berlari meninggalkan Bryan. Ia berusaha mencari hasil tes DNA yang terjatuh. Mungkinkah kertas itu jatuh saat ia mengendarai motornya? Aldrin mencoba mengingatnya kembali. Tidak! Amplop itu masih utuh dengan isinya saat ia turun dari motornya begitu sampai di bandara ini.


Aldrin mulai menelusuri setiap jejak yang ia lewati barusan. Arah pandangnya menunduk ke bawah berusaha mencari lembar kertas yang terlipat. Dalam hatinya terus berdoa agar ia dapat menemukan kertas itu. Sebuah hasil tes DNA yang menjadi bukti jika ia dan Bryan mempunyai ikatan darah.


Pandangannya tertuju pada seorang Office boy yang sedang memungut sebuah kertas. Ia berlari ke arah office boy itu.


"Pak, Pak, tunggu! Jangan dibuang! Biar aku lihat dulu isinya," pinta Aldrin sambil merebut kertas berlipat itu dari tangan office boy.


Aldrin terburu-buru membuka isi kertas itu.


HAAHHH!


Ia menarik napas lega dan spontan memeluk sang office boy, hingga membuatnya terheran-heran.


"Terima kasih. Terima kasih banyak. Terima kasih!" Aldrin berkali-kali mengucapkan kata itu pada pria yang memegang alat pel itu.


Office boy itu hanya dapat mengangguk-anggukan kepala, ikut senang melihat wajah ceria Aldrin. Ia dapat menebak jika isi kertas itu tentu sangat penting.


Aldrin memutar badan dan segera berlari kembali ke tempat Bryan menunggunya. Hatinya begitu senang seperti sedang memenangkan undian berhadiah. Langkah larinya semakin dekat ke tempat Bryan berdiri. Ia tersenyum lebar sambil memegang erat bukti tes DNA itu.


Namun, langkahnya terhenti seketika saat ia melihat Bryan sedang dikelilingi keluarganya. Ada sekitar lima orang yang tengah bersamanya, dan dua orang di antaranya adalah ibu dan nenek Bryan. Satu per satu dari mereka memeluk Bryan. Diiringi tangis haru perpisahan.


Adegan itu begitu hangat di pandangan mata Aldrin. Dimana seorang anak yang akan menempuh pendidikan diantar keluarganya dengan tangisan haru mengiringi perpisahannya dengan keluarga. Beberapa wejangan keluar dari mulut manis seorang ibu bersamaan dengan sapuan lembut di kepala anaknya yang sebentar lagi akan pergi.


Bukankah ini adalah pemandangan yang begitu hangat dan indah di pelupuk mata? Sayangnya, adegan itu diperankan oleh Bryan dan Aldrin hanya sebagai penonton diam-diam.


Aldrin memutar badannya. Ia mencengkram kuat amplop yang dipegangnya. Perlahan, ia melangkahkan kaki meninggalkan Bryan yang masih bercumbu mesra dengan keluarganya.


Apa yang aku lakukan di sini? Ingin memberi tahu padanya jika aku adalah adiknya? Atau memberi tahu aku anak ayahnya dari wanita lain? Tidak! Aku tidak setega itu menghancurkan kehangatan keluarga mereka. Hasil tes DNA ini hanya untuk menjawab rasa penasaranku. Cukup aku yang mengetahui jika kami mempunyai ikatan darah. Dan Bryan tidak perlu tahu apapun.


Aldrin terus berjalan melangkah meninggalkan Bryan. Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil namanya.


"Aldrin!"


Aldrin berhenti melangkah. Matanya menengok ke kanan-kiri mencari sumber suara.


"Aldrin!"


Sekali lagi terdengar suara yang memanggil namanya. Suara itu kali ini makin tajam di pendengarannya. Seorang gadis menghampirinya dari samping, dan itu adalah Angel.


"Lo lagi ngapain di sini?" tanya Angel heran.


"Aku baru saja menemui Bryan, kamu sendiri ngapain di sini?" Aldrin balik bertanya.


"Gue ngantar biar. Kita bakal LDR-an dan mungkin bakal berjumpa setahun sekali," ucap Angel kesal bercampur sedih.


Aldrin menyadari sesuatu setelah melihat ekspresi Angel. "Angel, kamu dan Bryan ... apa kalian ... " Aldrin ragu untuk melanjutkan.


Angel tertunduk, wajahnya sedikit memerah. Dengan malu-malu ia mengangguk. "Ya, kami berdua telah berpacaran."


Aldrin tersenyum ikut merasa senang. "Selamat, ya! Semoga hubungan kalian langgeng."


Aldrin tersentuh mendengar sebuah ucapan tulus dari mulut gadis itu. Angel adalah gadis pertama yang dipacarinya saat pulang ke Indonesia. Gadis itu yang dulunya tak berhenti mem-bully Amaira sehingga membuat ikatan cinta yang bersemi antara ia dan amaira semakin kuat.


"Angel... maafin aku. Maaf ... aku pernah nyakitin dan campakin kamu." Sebuah permintaan maaf keluar dari mulut manis Aldrin.


Angel terkejut. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang dulunya pernah menggores pipinya dengan pisau belati itu meminta maaf padanya.


"Enggak masalah kok. Asal lo tahu saja, meskipun hubungan kita hanya dua minggu, tapi gue akui lo cowok pertama yang bikin gue susah move-on." Angel tertawa.


Aldrin ikut tertawa kecil.


"Oh iya, gue temui Bryan dulu. Sedikit lagi dia akan berangkat," lanjut Angel.


"Iya, tolong kasih tahu, aku pulang karena ada urusan mendadak," sahut Aldrin.


"Sip," jawab Angel.


Angel kembali menemui Bryan sementara Aldrin memutuskan untuk meninggalkan bandara.


Satu langkah,


Dua langkah,


Tiga langkah,


Langkah keempat begitu terasa berat. Sesaat, Aldrin berbalik kembali menatap ke dalam bandara. Namun, ia tetap memutuskan untuk pergi.


Beberapa menit lagi pesawat akan lepas landas. Bryan masih berdiri menunggu Aldrin. Sementara keluarganya menyuruhnya agar cepat masuk. Dengan berat hati, ia mengucapkan salam perpisahan pada keluarganya dan juga Angel.


Bryan telah duduk di kursi pesawat. Ia membuka aplikasi galeri foto lalu melihat foto-fotonya bersama Aldrin yang mereka abadikan di kafe malam itu. Sesaat, ia mengingat kembali sebuah amplop yang di berikan Aldrin padanya. Meskipun ia tak sempat melihat isi amplop itu, tapi ia sempat membaca deretan tulisan yang ada di amplop itu. Sebuah kata 'DNA' tertangkap di mata telanjangnya.


Ingatannya kembali membawanya ke peristiwa sebulan yang lalu, yaitu saat ia siuman setelah operasi akibat luka tusukan.


"Bryan, kamu jangan berteman lagi sama yang namanya Aldrin," ucap Ibunya ketika berbicara empat mata dengannya di ruangan itu.


"Kenapa? Bukannya dia yang donorin darah untuk aku?" tanya Bryan.


"Bryan, kamuharus tahu, ibunya itu dulu berselingkuh sana ayah kamu saat ibu mengandung kamu," ucap Ibu Bryan sambil menahan air mata ketika mengingat kejadian masa lampaunya.


Bryan terhenyak. "Itu artinya ... artis Ardhilla adalah bekas selingkuhan ayah, gitu?"


Ibu Bryan mengangguk cepat berharap anaknya dapat memahami ucapannya. Sebenarnya, ia tak ingin mengingat kembali masa-masa itu. Namun, melihat Aldrin dekat dengan anaknya spontan mengembalikan luka yang pernah suaminya goreskan di hatinya.


"Terus, kenapa? Itu kan sudah kejadian lama! Ayah sudah meninggal. Lagian Aldrin enggak ada hubungannya dengan itu," sahut Bryan yang tak mengerti.


"Apa kamu tidak paham? Anak itu mempunyai darah yang sama dengan kamu! Dan sampai sekarang, ibunya menyembunyikan identintas Ayahnya."


Bryan kembali terperangah. Matanya melotot seakan hendak meloncat keluar. Meskipun tak dijelaskan secara terperinci, ia mengetahui maksud dari ibunya.


.


.


.