Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 64 : Gara-gara Angel



Keesokan paginya, Aldrin melangkah menuju kelas. Dari dekat, terlihat Amaira juga berjalan menuju kelas dengan kaki yang masih terpincang-pincang. Keduanya saling berhadapan di depan kelas dan sama-sama canggung.


"Kaki kamu masih sakit?" tanya Aldrin ragu-ragu sambil menatap ke bawah, melihat kaki Amaira yang terpasang sepatu.


"Sudah tidak terlalu."


Aldrin mengangguk diam sambil tetap melihat ke bawah. Ia pun masuk ke kelas dan Amaira mengikutinya dari belakang. Aldrin menyapa teman-temannya. Seperti biasa, kehadirannya selalu mengundang perhatian seisi kelas.


Jam pertama hari ini adalah pelajaran olahraga. Siswa-siswi berganti seragam mereka dengan pakaian olahraga lalu menuju gedung olahraga. Guru memerintahkan mereka melakukan praktek bermain basket. Mereka di pisah antara laki-laki dan perempuan, yang mana lapangan sebelah kiri diisi perempuan, sedangkan lapangan sebelah kanan diisi laki-laki.


Amaira memilih duduk sambil menonton teman-temannya bermain basket. Pandangannya lalu tertuju pada siswa laki-laki yang juga sedang bermain.


Aldrin memasukkan bola basket ke dalam keranjang berkali-kali diiringi teriakan para siswi yang menonton. Gadis itu tersenyum melihat setiap gerakan lentur Aldrin dari kejauhan. Sedang asyik menonton, ia harus terganggu ketika salah satu teman Angel menghampirinya.


"Hei, gantiin gue main sana! Gue capek banget!" pintanya sembari mengelap keringat.


Amaira bangkit dan berjalan dengan susah payah masuk ke lapangan berbaur dengan beberapa siswi yang sedang bermain. Kakinya yang masih pincang membuatnya hanya diam di tempat. Salah satu siswi melempar bola ke arahnya. Amaira menangkap bola itu dan memaksakan diri untuk berlari. Angel mendekat lalu menabraknya hingga jatuh ke lantai.


"Aaahhhhh!" pekik Amaira seketika.


Amaira merintih kesakitan sambil memegang pergelangan kakinya. Sontak, teman-temannya berkumpul menghampirinya. Aldrin melihatnya terjatuh. Ia bergegas menghampiri Amaira yang kesulitan berdiri. Sayangnya, Naufal lebih dulu berlari menghampiri gadis itu. Dengan cekatan, Naufal membopong tubuh Amaira lalu membawanya ke ruang UKS.



Di ruang UKS, Naufal membaringkan tubuh Amaira di atas ranjang yang berada di ruangan itu. Ia membuka sepatu Amaira dengan maksud ingin mengobatinya, tapi gadis itu justru mencegatnya.


"Jangan!" larang Amaira sambil menepis tangan Naufal, "jangan di buka! Aku ... aku tidak mau kamu melihat memarnya. Itu jele banget!" ucap Amaira sambil menunduk malu.


Naufal tertawa kecil. "Enggak pa-pa kok. Tapi kalau kamu risih aku enggak bakal maksa. Kalau gitu kamu istirahat saja di sini!"


Naufal pun meninggalkan Amaira untuk beristirahat. Ia membuka pintu UKS lalu keluar dari ruangan tersebut.


Aldrin berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Amaira gimana? Dia ... dia tidak kenapa-kenapa, 'kan?" Aldrin menunjukkan rasa khawatirnya sambil memegang kedua pundak Naufal.


"Dia baik-baik saja kok. Kenapa kamu panik?" tanya Naufal heran.


Aldrin terdiam sejenak. Ia menyadari sikapnya terlalu berlebihan. Ia melepas tangannya, lalu bernapas pendek.


"Aku cuma khawatir karena kakinya terkilir waktu bareng aku," terangnya.


Setelah memastikan Amaira baik-baik saja, Aldrin pun pergi. Naufal masih termenung seraya menatap kepergian Aldrin. Ia merasa ada yang janggal dengan ekspresi Aldrin barusan. Namun, ia segera menepis semua itu lalu memutuskan kembali ke gedung olahraga.


Di ruang UKS, Amaira masih berbaring sambil berdiam diri. Ia mencoba bangun dan menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil menengok sekeliling ruangan. Tak lama kemudian, terdengar suara kenop pintu terbuka. Angel datang menghampirinya sambil tersenyum.


"Cuma disenggol doang lo langsung jatuh? Drama banget, sih?" Angel bersedekap seraya menatapnya dengan sinis.


Amaira memilih tak membalas ucapan Angel.


"Ah, gue tahu! Lo berusaha cari perhatiannya Aldrin, 'kan? Sayangnya ... gue lihat dia enggak peduli tuh! Awalnya gue sempat khawatir kalau Aldrin bakal marah dan mengancam lagi kayak waktu itu, ternyata enggak. Apa ... jangan-jangan lo dicampakkan juga, ya?" duga Angel sambil tertawa miris.


Masih belum puas, dia melanjutkan ucapannya. "Gue pikir Aldrin akan anggap lo beda dari gue dan cewek-cewek lainnya. Nyatanya kita bernasib sama!" Tawa Angel pecah seketika, kemudian terhenti untuk kembali berkata, "tapi gue senang. Setidaknya gue tahu kalau Aldrin pacaran sama lo tuh mungkin cuma karena penasaran saja."


Angel merasa sangat puas melihat Amaira yang hanya diam dan tak membalas ucapannya. Ia lalu memutuskan keluar dari ruangan itu. Saat membuka pintu, ia tersentak melihat Naufal tengah berdiri di hadapannya dengan mata yang menatap tajam.


"Bikin kaget gue aja lo!" keluh Angel sambil memegang dadanya.


"Apa maksudmu katakan semua itu sama Amaira?" tanya Naufal dengan ekspresi yang lain dari biasanya. Rupanya, ia mendengar apa yang Angel bicarakan di ruangan itu.


Angel tersenyum tipis. "Gue cuma kasihan sama dia karena nasib dia sama kayak gue!"


Setelah menjawab, Angel pun beranjak. Namun, Naufal justru menarik lengan gadis itu hingga membuat tersandar kembali di pintu. Gadis itu terkejut dengan sikap Naufal.


Masih mencengkram kuat lengan Angel, Naufal kembali melemparkan pertanyaan. "Apa yang kamu maksud ... Aldrin pernah pacaran sama Amaira?" tanya Naufal dengan mata melotot tajam.


Angel tertawa kecil. "Kamu dekat sama Aldrin, bahkan kalian serumah tapi kok enggak tahu kalau mereka pacaran?" Angel bertanya kembali sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Oh ia, gue lupa! Lo kan suka sama Amaira jadi mungkin Aldrin sembunyikan ini sama kamu. Dengarkan gue baik-baik, gue enggak tahu saat ini hubungan mereka seperti apa. Tapi yang gue tahu, dulunya Aldrin sangat tergila-gila sama cewek itu. Dia bahkan hampir bunuh gue saat coba jebak tuh cewek!"