Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 56 : PIL PAHIT



Hari terus berlalu, tak terasa tiga hari telah berlalu. Seperti biasa, Naufal menceritakan perkembangan hubungannya dengan Amaira pada Aldrin.


"Besok aku mengajak dia ke wahana permainan, dan di sana aku bakal menyatakan perasaanku," ucap Naufal penuh keyakinan.


"Yakin? Palingan kamu enggak berani. Kayak yang sudah-sudah!" ejek Aldrin tersenyum miring.


Naufal naik ke atas ranjang, berdiri tegap sambil menunjuk Aldrin yg duduk bersandar di jendela kamarnya.


"Aku berjanji, kali ini aku benar-benar akan menyatakan cintaku padanya. Entah apa yang akan terjadi, aku tetap akan mengatakannya."


Naufal menepuk dadanya yang membusung, menandakan sisi kejantanannya.


Melihat tingkah saudaranya, membuat Aldrin tergelitik. "Oke, aku tunggu hasilnya. Semoga kamu enggak gagap kayak waktu itu!"


"Eh, ajarin aku main biola, dong! Suatu saat nanti, aku akan mengajaknya makan malam romantis lalu memainkan biola di depannya. Seperti yang ada di film-film romantis," ucap Naufal sambil memperagakan gaya orang memainkan biola.


Aldrin hanya dapat tertawa melihat tingkah aneh Naufal. ia memang pribadi yang ceria. Namun, ia tak pernah bertingkah konyol seperti ini. Jatuh cinta memang bisa membuat orang bertindak aneh bahkan terlihat gila. Bukankah begitu?


Naufal meninggalkan kamar Aldrin. Di saat keadaan kamar menjadi sunyi, Aldrin masih duduk termenung di tempat favoritnya. Ia mengingat kembali ucapan Naufal yang mengatakan ingin belajar biola dan akan memainkannya di depan Amaira.


Aldrin tersadar bahwa dulu pernah berjanji akan menunjukkan gesekan biolanya di depan Amaira. Sayangnya, gadis itu tidak pernah melihatnya memainkan biola. Kalau saja saat acara mengenang Sutradara Steve Arnold ada Amaira di sana, gadis itu pasti akan melihat penampilan terbaiknya memainkan dawai biola. Sekarang semua telah berlalu, tak ada gunanya memikirkan yang telah lewat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari yang ditunggu tiba, Naufal mengajak Amaira ke wahana permainan. Wahana pertama yang mereka coba adalah bianglala. Naufal memberanikan diri menggenggam tangan Amaira menuju sangkar bianglala. Petugas membukakan pintu bianglala untuk mereka berdua.


Mereka terlihat bak sepasang kekasih remaja yang imut. Ya, tinggi badan Naufal 170 cm sedangkan Amaira 163 cm. Mereka tidak terlihat jauh berbeda saat berdampingan.


Naufal mempunyai wajah baby face dengan tubuh yang kurus membuatnya terlihat sebagai lelaki imut, apalagi dengan kacamata yang menghiasi wajahnya sehari-hari.



Berbeda dengan Aldrin, ia mempunyai tinggi badan 182cm lebih tinggi dari anak-anak seusianya dan wajahnya tampan menawan. Melihatnya sekilas saja orang-orang pasti tahu jika ia berdarah blasteran. Saat berjalan bersama Amaira, Naufal akan terlihat seperti teman sebaya. Sementara Aldrin lebih terlihat serasi sebagai sepasang kekasih. Ini karena dari segi fisik, Aldrin terlihat cocok berdampingan dengannya, yang mana orang-orang menyukai pria yang lebih tinggi dari wanita.



Wahana mulai berjalan. Pemandangan di atas sangat indah. Matahari sore mulai terbenam. Mereka begitu menikmati momen matahari terbenam dari atas sangkar bianglala.


"Indah sekali!" seru Amaira dengan sepasang mata berbinar.


"Iya, sangat indah!" ucap Naufal sambil menatap wajah Amaira yang begitu takjub melihat senja. Baginya, wajah bahagia Amaira lebih indah dari senja saat ini.


Wahana selanjutnya yang mereka coba adalah roller coaster. Amaira tampak ketakutan naik wahana ini.


"Aku takut ketinggian," ucap Amaira gugup. Ia menghentikan langkahnya seolah ragu untuk menaiki wahana tersebut.


"Enggak apa-apa," balas Naufal sambil menarik tangan Amaira.


"Bagaimana kalau aku mual?" tanya Amaira ragu-ragu.


"Tidak masalah, tapi aku yakin kamu enggak bakal mual apalagi sampai muntah. Percaya sama aku! Ini tidak menakutkan seperti yang kamu pikirkan. Ayo!" Naufal berusaha meyakinkan gadis pujaannya.


Mereka pun akhirnya menaiki wahana yang memacu adrenalin itu. Keduanya duduk di barisan kedua. Amaira memejamkan mata dalam-dalam dengan bibir yang mengerut, wajah cantik itu menegang. Tiba-tiba ia merasakan sebuah genggaman tangan. Ia membuka matanya perlahan, ternyata tangan yang menggenggamnya adalah milik Naufal.


"Jangan takut!" ucap Naufal menenangkan dengan lembut.


Wahana mulai jalan dan semua pengunjung kompak berteriak, tak kecuali Amaira dan juga Naufal.


"Aaaaaaaaaaaaaaa ..."


"Huuoowwwooooooooo ..."


Naufal menggenggam erat tangan Amaira. Kali ini wajahnya yang menjadi menegang. Sebaliknya Amaira begitu menikmati wahana itu.


Roller coaster pun berhenti. Pengunjung satu persatu turun meninggalkan wahana itu. Amaira dan Naufal juga beranjak pergi. Namun, ada yang berbeda dengan Naufal. Sejak turun dari wahana itu, ia tak banyak bicara. Cara berjalannya pun gontai.


Amaira yang memerhatikan reaksinya langsung bertanya, "Kamu kenapa?"


"Hooeeekkkkkk!"


Naufal muntah!


Naufal muntah berkali-kali. Amaira panik melihatnya. Ia berusaha menepuk-nepuk belakang pundak Naufal. Cowok itu terus memuntahkan isi perutnya. Padahal awalnya ia tampak percaya diri dan berusaha menenangkan Amaira yang ketakutan. Sekarang, malah dia yang muntah.


Sebenarnya wajar, karena ini pengalaman pertamanya naik roller coaster. Namun, alih-alih membuat kesan indah di hadapan orang yang disukai, ia malah membuat hal yang memalukan dirinya sendiri.


Amaira buru-buru membelikan sebotol air mineral dan menyodorkan pada cowok berkaca mata itu. Naufal langsung meneguk air mineral tersebut.


"Bagaimana?" tanya Amaira penuh kekhawatiran.


"Sudah mulai enakan," jawabnya malu-malu.


Mereka memutuskan untuk pergi ke kafe terdekat lalu memesan sebuah dessert dan minuman.


Meskipun tlah kau semaikan cinta


Dibalik senyuman indah


Kau jadikan seakan nyata


Seolah kau belahan jiwa


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta


Kau kekasih hati


Suara alunan lagu milik kahitna dinyanyikan oleh penyanyi akustik kafe itu. Liriknya yang dalam membuat Amaira tersentak seolah menjadi pengikat kenangannya bersama Aldrin. Sejenak, ia tersadar akan sesuatu. Ya, ia melupakan satu hal. Naufal adalah satu-satunya orang yang mengenal Aldrin lebih jauh. Mereka bersahabat.


Di lain sisi, Naufal mulai gugup. Hari ini ia berencana untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi ia harus menyatakan perasaannya hari ini juga.


"Ada yang ingin kukatakan!"


Mereka kompak mengucapkan kalimat itu. Keduanya sama-sama terkejut, lalu menjadi salah tingkah.


"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Naufal gugup.


"Kamu saja dulu," jawab Amaira kaku.


"Enggak pa-pa. Kamu duluan saja! Setelah itu baru aku!" balas Naufal. Keduanya saling tolak-menolak untuk mengungkapkan suatu hal.


"Baiklah. Ini, ini tentang Aldrin," ucap Amaira dengan suara pelan bercampur rasa gugup.


Mendengar nama Aldrin disebut membuat Naufal menyipitkan matanya.


"Kenapa dia?" Kali ini cowok berkacamata itu mulai santai.


"Dia mulai berubah," ucap Amaira dengan ragu-ragu.


"Berubah?" Naufal kembali mengernyitkan mata. "Dia memang sering berubah. Suasana hatinya tidak bisa ditebak. Seperti bunglon!" lanjut Naufal sambil tertawa kecil.



Amaira menarik napas panjang. Tiba-tiba ia memegang tangan Naufal lalu berkata, "Naufal, aku tahu kamu dekat banget sama Aldrin.Tolong katakan sama dia ...." bibir Amaira gemetar seketika, ia memalingkan wajahnya berusaha sedikit tenang. "Bilang sama dia kalau aku suka sama dia. Aku sangat menyukainya!" sambung Amaira dengan lirih.


Bagai menelan Pil pahit, mata Naufal membulat seketika. Ia tak bisa menahan rasa terkejutnya dari apa yang didengarnya barusan.


"Ka–kamu ... kamu suka sama Aldrin?"