Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 59 : Mengubah Jati Diri Demi



Barberman itu memerhatikan foto yang ditunjukkan oleh Naufal.


"Rambutmu tidak terlalu panjang, tidak bisa dimodel seperti ini. Cowok di foto ini mempunyai rambut yang lebih panjang."


"Ayolah! Aku mau model rambut seperti ini. Warnai juga rambutku sama seperti yang ada difoto ini. Tenang, aku akan memberimu tip!" bujuk Naufal setengah berbisik pada orang itu.


Barberman menghela napas sesaat. Ia mengambil peralatannya lalu mulai mengganti gaya rambut Naufal sesuai permintaannya.


Sebenarnya, Naufal bukanlah lelaki yang peduli penampilan. Meskipun dari golongan orang berada, penampilannya sehari-hari sangat sederhana. Rambutnya pun tidak pernah dibikin macam-macam. Namun, malam ini ia bertekad mengganti gaya rambutnya seperti Aldrin.


Naufal terus memandangi wajahnya di cermin memerhatikan rambutnya yang mulai berjatuhan dipotong oleh barberman. Kata-kata Amaira masih menggema di benaknya.


Jika mencintaimu adalah suatu kebodohan. Aku mau menjadi orang paling bodoh sedunia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam menyedihkan itu telah berlalu, berganti pagi yang membawa sejuta harapan. Matahari mulai mengintip dari balik awan, cahayanya yang terang membawa kehangatan bagi orang-orang. Naufal memakai seragam sekolah lalu memasang dasi di lehernya. Ia duduk di sisi ranjang sambil memasang sepatunya lalu berdiri mengambil almamater sekolah untuk dikenakan ke tubuhnya.


Naufal menatap cermin besar yang menggantung di dinding kamarnya. Remaja lelaki berwajah imut yang sehari-hari memakai kacamata itu, kini berubah 180 derajat. Rambutnya telah di cat berwarna keemasan. Yah, walaupun gaya rambutnya tidak sama persis seperti Aldrin, tapi tetap tidak mengurangi ketampanannya.



Masih menatap bayang dirinya di depan cermin, Naufal bergumam, "Ini seperti bukan diriku!" Naufal memerhatikan penampilannya secara saksama. "Apa aku terlihat seperti Aldrin? Apa yang kurang, ya?" pikirnya seraya menangkup wajah dengan sebelah tangan, "hmmm ... mungkin karna tidak memakai anting-anting makanya terlihat sedikit beda!"


Naufal keluar dari kamar setelah puas melihat wajahnya di cermin. Secara bersamaan, Aldrin pun keluar dari kamarnya. Mata Aldrin membeliak seketika saat berhadapan dengan Naufal.


"Apa aku tidak salah lihat? Ini benar-benar kamu?" seru Aldrin seraya menatap Naufal dari ujung kaki hingga ujung rambut. Perubahan total saudara tirinya membuat berandalan sekolah itu tak mengerjapkan mata.


Naufal yang tampak malu-malu, hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tertawa bodoh. Terlihat jelas jika ia tampak kikuk.


"Aku ... aku sedang mengidolakan boyband BTS. Jadi, aku mengikuti model rambut salah satu member-nya," jawab Naufal asal-asalan.


Sejujurnya, Naufal tidak pernah tahu seperti apa boyband BTS itu. Ia hanya tahu nama boyband itu karena siswi-siswi di kelasnya kerap bercerita tentang boyband asal negeri gingseng tersebut.


Semakin kikuk, Naufal bergegas berlalu dari hadapan Aldrin. Sayangnya, Aldrin justru menarik lengannya sehingga membuat mereka saling berhadapan.


"Kamu lupa pakai kacamata!" tegur Aldrin sekadar mengingatkan.


"Aku ... aku pakai softlens bening khusus mata minus," jawab Naufal sambil menunjuk kedua bola matanya dengan jari tengah dan telunjuk.


Mendengar jawaban Naufal, tak pelak membuat mata Aldrin melotot seolah hendak meloncat. Bengong. Sampai-sampai mulutnya terbuka setengah. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia melihat Naufal mengubah gaya rambutnya. Bahkan, sampai rela menanggalkan kacamatanya. Padahal, lelaki yang jago mengerjakan soal fisika itu sering dijuluki murid teladan karena penampilannya yang sesuai dengan standar sekolah mereka.


Mendapat tatapan tak berkedip dari Aldrin, membuat Naufal melayangkan pertanyaan. "Aku ganteng, enggak?"


Belum habis rasa terkejutnya, lagi-lagi Aldrin hanya bisa terlongong-longong mendengar pertanyaan Naufal. Benar-benar membingungkan! Dia tidak pernah se-narsis ini sebelumnya. Dia tidak pernah memedulikan apakah dia akan terlihat tampan atau tidak di mata orang-orang. Namun, kali ini ia melontarkan pertanyaan yang sangat menggelitik.


"Aku tampan, tidak?" tanya Naufal sekali lagi, karena penasaran dengan pendapat Aldrin tentang penampilannya.


Masih bengong, Aldrin melangkahkan kakinya mendekati Naufal, kemudian berbisik, "Kau terlihat ... ANEH!"


Setelah berkata, Aldrin pun meninggalkan Naufal yang tak terima dikatakan aneh. Menurutnya, Aldrin mungkin takut jika ia menyaingi penampilannya sebagai cowok terpopuler di sekolah.


Aldrin dan Naufal turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Rupanya tuan Adam, Ardhilla dan juga Zaki telah duduk di sana dan lebih dulu menyantap sarapan. Lucunya, ketiga orang itu tak kalah terkejut melihat Naufal. Sadar jika orangtua dan kakaknya melempar tatapan heran ke arahnya, Naufal mencoba mengalihkan perhatian dengan mengucapkan salam pada mereka.


"Selamat pagi semua!" sapa Naufal sambil menarik kursi lalu mendudukinya.


"Kenapa kau mengubah gaya rambutmu seperti itu? Kau itu masih pelajar. Gaya rambutmu tidak mencerminkan seorang pelajar teladan!" tegur Tuan Adam pada Naufal.


Naufal bergeming seraya menundukkan kepala. Ia tak berani membantah ucapan ayahnya yang memang benar.


"Tidak apa-apa, dia masih muda sudah saatnya bergaya, 'kan?" bela Ardhilla memberi pengertian pada suaminya.


"Ada pepatah lama yang mengatakan, berteman dengan penjual minyak wangi, akan tercium bau wangi. Sebaliknya berteman dengan tukang sampah hanya akan tercium bau busuk," sindir Zaki sambil melirik ke arah Aldrin yang sibuk mengoles selai di roti tawar.


Menyadari jika ia disindir oleh Zaki, Aldrin memilih diam dan tak menghiraukan perkataannya. Lelaki yang duduk di samping Naufal itu malah asyik melahap rotinya.


"Kakak, apa yang aku lakukan tidak pernah dipengaruhi oleh siapapun!" ucap Naufal menanggapi sindiran kakaknya.


Zaki tertawa sinis, mulutnya kembali melontarkan kalimat pedas. "Kau masih saja membela parasit itu! Jelas-jelas kamu ikuti gaya rambutnya. Hanya tinggal memakai tindikan maka kalian akan mirip seperti upin-ipin."


"Kakak, aku hanya mengikuti apa yang pernah kamu lakukan. Apa kamu lupa yang kita bicarakan semalam?"


Ucapan Naufal membuat mulut Zaki terbungkam. Raut wajahnya berubah seketika.


Aldrin yang memilih diam, tak bisa menahan diri untuk membalas cibiran Zaki. "Ternyata gayamu yang aneh hari ini karena kamu berguru dengan tukang sampah! Seharusnya kamu tuh berguru sama tukang minyak wangi!" Aldrin bangkit dari duduknya seraya menghambiskan potongan terakhir roti di tangannya. Sebelum beranjak, ia kembali menoleh ke arah Zaki. "Hati-hati kau akan ikut busuk seperti dirinya!" lanjutnya menyindir sambil menarik sudut bibirnya ke atas.


Aldrin memutuskan menyudahi sarapannya, kemudian pergi tanpa berpamitan.