
Aldrin kembali bersekolah setelah terbaring di rumah sakit selama tiga hari. Wajahnya masih tampak memar di beberapa bagian. Namun, ia sudah bisa berjalan tegak seperti biasa.
"Woi, Aldrin lo sudah sembuh, ya? Siapa yang mukul lo? Bilang sama gue, biar gue membawa anak buah-buah gue buat kasih pelajaran!" ucap Bryan yang menghampirinya sambil merangkul.
"Kalau aku tahu orangnya, aku duluan yang balas perbuatan mereka," jawab Aldrin sambil membalas rangkulan teman basketnya itu.
"Makanya kalo ada apa-apa cerita ke gue dong! Lo itu sudah gue anggap kayak adik sendiri!" ucap Bryan, "Sorry, nih, gue enggak sempat jenguk lo. Gue baru tahu kalau lo di Rumah Sakit. Rencananya pulang sekolah ini mau lihat elu. Eh, lo malah sudah masuk sekolah."
Aldrin mengabaikan kalimat yang baru saja Bryan lontarkan. Matanya malah fokus ke arah Naufal dan Amaira yang berjalan melewati mereka. Tampaknya Naufal makin dekat dengan gadis bermata bulat itu.
Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah, dan mereka sudah sedekat itu. Apa mereka sudah jadian?
"Lihat! Cewek yang kita naksir itu kayaknya pacaran sama tuh anak, deh!" seru salah satu teman Bryan sambil menunjuk ke arah Naufal.
"Bukannya cowok itu teman sekelasnya? Dia siswa yang mendapat juara 1 tingkat umum di sekolah ini setiap semester. Dia juga anak Adam Grup. Wajar kalau itu cewek pilih dia," ujar mereka kembali.
"Ya, benar! Kita ini anak yang bandel di sekolah. Walaupun gue enggak kalah cakep dan kaya, cewek kayak dia pastilah pilih cowok kutu buku." Bryan menyambung pembicaraan temannya.
Mendengar pernyataan teman-teman basketnya, Aldrin hanya tertegun. Sejujurnya, ia sepaham dengan mereka. Gadis teladan yang hobi menghabiskan waktunya di perpustakaan itu pasti lebih memilih cowok pintar seperti Naufal.
Aldrin menuju lokasi syuting sinetron yang berada di sekolahnya. Ia melihat Maria yang sedang dipoles. Rupanya gadis yang berprofesi sebagai artis itu menyadari kehadiran Aldrin. Ia memerintahkan asistennya untuk berhenti memoles wajahnya. Ia lalu menghampiri Aldrin. Senyum manis terlempar dari bibirnya.
"Kamu sudah sembuh?"
"Iya."
"Aku senang kamu sudah membaik. Waktu aku bawa ke Rumah Sakit, kau kayak mayat hidup, loh!" kenang Maria sembari tertawa keci
"Terima kasih sudah bawa aku ke Rumah Saki. Maaf bikin repot," ucap Aldrin dengan senyum yang terkilas di bibirnya. Ia merasa bersalah pada gadis yang menjadi kekasih kakak tirinya itu.
"Itu hal biasa. Kamu, 'kan, adik pacarku. Sudah seharusnya dong aku lakukan itu," balas Maria dlsambil mengusap lengan Aldrin.
Aldrin kembali tersenyum tipis mendengar ucapan Maria. Gadis itu lalu meninggalkannya karena harus bersiap-siap melakukan adegan baru.
"Aku punya dua saudara, yang pertama, dia sudah kerja di perusahaan ayahku. Dia disiapkan ayahku untuk menjadi Presiden Direktur perusahaan. Jadi, perusahaan itu akan menjadi miliknya nanti," cerita Naufal sambil berjalan.
"Ayahmu akan menyerahkan perusahaan sepenuhnya sama kakak pertamamu?" Amaira mengulang apa yang baru saja Naufal katakan. "Bagaimana denganmu dan saudaramu yang satunya?" tanya Amaira.
"Aku sih dari awal sudah bilang sama ayahku kalau aku tidak mau masuk perusahaan. Aku mau menjadi dokter. Aku ingin mendedikasikan profesiku untuk membantu orang-orang yang kurang mampu dalam pengobatan. Untungnya, ayahku sangat mendukung cita-citaku," jelas Naufal sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan saudaramu yang satunya?" tanya Amaira kembali.
"Dia ...." Naufal tampak berpikir sesaat, "sangat sulit untuk menebak kemauannya. Dia tidak pernah berbicara tentang masa depannya. Dia hidup hanya untuk hari ini. Besoknya lain lagi. Mungkin seperti itu jalan pikirannya. Tapi, aku berharap suatu saat nanti dia bisa berubah," lanjut Naufal sambil membayangkan wajah Aldrin dan sikapnya setiap hari.
Dari kecil Naufal mempunyai cita-cita menjadi dokter. Dia tidak berkeinginan untuk masuk ke perusahaan ayahnya. Dia ingin menjalani hidup sesuai keinginannya. Berbeda dengan Zaki yang dari kecil sudah mempelajari bisnis keluarganya. Itulah sebabnya, Tuan Adam akan menyerahkan jabatan presiden direktur pada Zaki suatu hari nanti.
Ardhilla mengetahui itu semua. Oleh karena itu, dia selalu menuntut Aldrin untuk bisa seperti Zaki. Sebab, ia mengincar harta suaminya. Sayangnya, yang berhak atas perusahaan itu hanya Zaki. Ardhilla berharap, jika Aldrin bisa seperti Zaki, suatu saat nanti mungkin suaminya akan memberi sebagian saham ke Aldrin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aldrin masuk ke kelas. Semua siswa di kelas itu langsung mengepungnya menanyakan kabarnya. Wajahnya masih penuh bekas memar dan dahinya masih di perban.
"Seharusnya lo kasih tahu gue kalau lagi di Rumah Sakit," ucap Angel penuh perhatian seraya memegang wajahnya.
Aldrin menepis tangan Angel. Ia menuju tempat duduknya. Pandangannya terarah pada Amaira yang tengah duduk bercerita bersama Naufal yang ternyata tengah duduk di bangkunya.
Naufal menyadari Aldrin tengah menuju ke arahnya. "Aku kura kamu belum mau sekolah," ucap Naufal sambil berdiri dari bangku Aldrin yang ia duduki lalu berpindah tempat ke bangkunya.
"Tadinya aku pikir, kalau enggak sekolah bakalan happy, ternyata di Rumah Sakit lebih menyebalkan!" gerutu Aldrin sambil meletakkan tasnya di atas meja. Ekor matanya melirik ke arah Amaira yang juga menatapnya.
Jam pelajaran Sejarah telah dimulai. Guru membagi kelompok belajar. Tiap kelompok terdiri dari dua orang. Guru menyebut nama-nama kelompok yang dibaginya menurut urutan tempat duduk.
"Aldrin, kamu satu tim dengan Amaira!" ucap Guru.
Aldrin dan Amaira sama-sama terkejut. Secara serentak, mereka menoleh dan saling bertatapan.