
Aldrin terkejut menerima tamparan dari Ibunya. "Kenapa kau menamparku?"
"Kalau aku bisa lakukan lebih dari itu, akan aku lakukan!" Amarah Ardhilla meledak seketika.
"Apa kau sudah gila?!" teriak Aldrin dengan nada suara meninggi.
"Kamu yang sudah gila karena ucapanmu sama wartawan!" balas Ardhilla tak kalah pelik.
Aldrin membuang muka, lalu tertawa tanpa suara. "Jadi ini yang bikin kamu lupa dengan status kamu sebagai Nyonya terhormat?" Aldrin menatap tajam ke arah ibunya seolah hendak menantang wanita itu. "Kenapa? Ku malu ya pernah menikah sama pengamen? Karena itu juga kamu bertahun-tahun menyembunyikan aku dari media, 'kan?"
"Aku tidak pernah menikah dengan Jefri dan dia bukan ayahmu!" teriak Ardhilla kembali.
Aldrin terlonjak. Matanya memicing. "Dia bukan ayahku?" ulangnya memastikan kembali ucapan ibunya.
"Ya! Dia bukan ayah kandungmu! Aku sudah lama merahasiakan ini sama kamu. Tapi, aku pikir sudah saatnya kamu tahu semua ini. Jefri bukan ayah kandungmu!" ucap Ardhilla dengan mata yang tajam menyiratkan jika ia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Tidak ... aku tidak percaya! Kau pasti membual," Aldrin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia hanya membantuku selama kau berada dalam kandungan, lalu membesarkanmu sampai umur tujuh tahun. Tapi ... dia bukan ayah kandungmu!" ungkap Ardilla dengan suara bergelombang, "kalau dia benar-benar ayahmu, seharusnya dia tidak pergi setelah aku mengambilmu," lanjutnya sembari terus melempar tatapan tajam.
Aldrin mencerna setiap kata yang diucapkan ibunya. Pikirannya mulai terpengaruh oleh kata-kata wanita itu. Benar, jika Jefri benar-benar ayah kandungnya, mana mungkin akan menyerahkan dirinya begitu saja pada Ardhilla kemudian pergi meninggalkannya tanpa kabar.
"Lalu ... siapa ayah kandungku?" tanya Aldrin dengan suara pelan dengan tatapan yang masih tertancap pada dua bola mata ibunya.
Ardhilla terbungkam. Ia justru memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tak mau berada di posisi seperti ini, Ardhilla bergegas meninggalkan tempat itu. Sayangnya, Aldrin justru mencegat dengan memegang tangannya.
"Siapa ayah kandungku?" tanya Aldrin dengan tatapan mata penuh selidik
"Aku tidak tahu!" jawab Ardhilla melengos.
"Siapa Ayahku? kamu pasti bohong bilang ayah bukan ayah kandungku!" teriak Aldrin mendesak Ardhilla.
"Aku tidak tahu siapa ayahmu karena kau terlahir dari hasil pemerkosaan dan Jefri lah yang menolongku saat itu!" Suara Ardhilla bergetar, matanya tanpa sadar mengeluarkan air mata.
Aldrin terperanjat mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Kelopak matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit terbuka, seluruh tubuhnya gemetar dan dadanya terasa sesak. Sepasang mata miliknya tiba-tiba berair. Perlahan, ia melepas tangannya dari lengan ibunya.
Ardhilla bergegas pergi menuju kamarnya. Seakan tidak peduli jika ucapannya didengar oleh kedua anak tirinya dan para pelayan di rumah itu. Wanita itu masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Ia tertunduk dan menangis. Tangisan itu adalah tangisan derita karena ia harus membohongi anaknya tentang ayah kandungnya yang sebenarnya.
Beberapa tahun silam, ia mengatakan pada Jefri jika bayi yang dikandungnya adalah hasil pemerkosaan agar pria itu mau menolongnya, dan hari ini ia menggunakan alasan yang sama pada anaknya sendiri agar anaknya berhenti bertanya hal yang tidak mungkin untuk dijawab. Dia menyadari jika dia telah kejam pada anaknya.
Masih di tempat yang sama, Aldrin terdiam kaku. Ia benar-benar terguncang. Otaknya berusaha mencoba mengingat kembali ucapan ibunya. Anak hasil pemerkosaan? Benarkah dia anak hasil pemerkosaan? Apakah itu yang membuat ibunya meninggalkan dirinya dari kecil?
"Aldrin!" Naufal mendekatinya mencoba menenangkannya. Ia tahu saat ini saudaranya itu sedang mengalami guncangan hebat.
"Aldrin!" panggil Naufal sekali lagi seraya mencoba menyentuh bahunya. Aldrin menepis tangan Naufal dengan perlahan. Kakinya mencoba melangkah. Terasa berat. Seperti masuk di kubangan lumpur. Hingga ia hanya mampu menggeser langkahnya. Terseok-seok, melewati Zaki yang masih berdiri dan memandangnya dengan tatapan iba. Para Pelayan terburu-buru masuk ke dapur saat melihat Aldrin melangkah gontai menuju lantai atas.
Dengan pandangan yang lurus, ia menapaki anak tangga. Tiba-tiba kaki lemas seperti tak bertulang. Untungnya, tangannya dengan cepat memegang pegangan tangga agar tak terjatuh. Ia kembali bangkit dan berjalan dengan susah payah menuju kamarnya.
Aldrin menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia bersandar di daun pintu, lalu roboh ke lantai. Pertahanannya telah pecah. Air matanya menyeruak. Ia menangis! Menangis pilu. Tangisan itu menggaung di kamarnya. Ia berusaha menutup mulutnya agar suara tangisannya tak terdengar.
Sejenak, ia masih mengingat rasa malu, tetapi memikirkan kembali apa yang dikatakan ibunya membuatnya lupa.
Ia terbaring di lantai dengan posisi menyamping dan menangis meraung-raung. Ia terus menangis dan memukul-mukul lantai kamarnya. Air mata yang mengalir dari sudut matanya kini membasahi lantai. Dia benar-benar dirundung pilu.
Aldrin tidak pernah sesedih ini. Sungguh! Dia pribadi yang kuat. Mengingat apa yang telah ia lakukan selama ini, membuatnya tak bisa membendung segala kesedihannya. Bagaimana tidak, dia telah menyia-nyiakan masa remajanya dengan mencari ayah yang bukan ayah kandungnya. Ia sungguh bodoh karena berharap suatu saat nanti ayahnya akan datang padanya. Kenyataannya, mereka tak terikat hubungan darah apapun. Lebih menyakitkan, darah yang mengalir di tubuhnya tidak jelas asal usulnya.
Sejenak ia berpikir, apakah ini yang membuat ibunya meninggalkannya sejak kecil? Sebab, dia bukan anak yang diinginkan. Atau lebih tepatnya, mungkin seharusnya dia tidak terlahir. Sebab, dia hanya manusia yang terbentuk dari benih liar!
Di balik pintu kamarnya, Naufal berdiri membisu seraya mendengarkan tangisan pilu dari saudaranya. Lelaki itu melepas tangannya di gagang pintu, mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Aldrin. Membiarkan Aldrin menenangkan dirinya sendiri. Bukankah menangis merupakan bagian dari menumpahkan penderitaan untuk mendapatkan kelegaan hati?
Para ART mereka bergosip ria di dapur. Mereka membicarakan kembali apa yang baru saja diucapkan oleh Ardhilla.
"Pantas saja den Aldrin punya sifat liar karena dia enggak jelas," ucap salah satu ART mereka.
Para ART terdiam saat mengetahui Zaki berada di belakang mereka.
"Kami menggaji kalian bukan untuk bergosip! Kalau sampai berita ini terdengar keluar, memecat kalian seharusnya menjadi hukuman yang paling ringan untuk kalian terima!" tegas Zaki mencoba memberi peringatan.
Malam hari, kota Jakarta dilanda hujan deras. Di kamar hotelnya, Jefri duduk sambil menonton siaran televisi yang menampilkan wawancara Aldrin bersama wartawan. Tak lama kemudian asistennya menemuinya.
"Sudah satu jam dari yang disepakati! Makanan sudah siap dan mulai mendingin. Seluruh kota Jakarta hujan deras. Sepertinya anak itu tidak akan datang!" ucap asisten.
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggunya satu jam lagi, kau boleh pergi!" pinta pria yang telah berganti nama menjadi Yussef.
Asistennya menunduk lalu pergi. Jefri lalu berdiri, membuka sebuah kotak yang berisi sebuah biola antik yang ia dapatkan dari hasil lelang. Biola itu di gadang-gadang menjadi biola termahal. Rencananya malam ini, ia akan menghadiahkan biola itu pada Aldrin, anaknya yang ia rindukan!
Hujan semakin deras mengguyur kota Jakarta. Amaira keluar rumah menggunakan payung setelah menerima pesan dari seseorang. Ia berjalan dengan hati-hati menerobos hujan menuju taman kompleks perumahannya. Dari jauh, ia melihat Aldrin duduk di bangku tamanm. Duduk menunduk tanpa perlindungan di badannya. Tubuh lelaki itu basah kuyup karena seperti menikmati guyuran air dari atas langit.
Amaira bergegas lari ke arahnya. Memayungi lelaki itu. "Aldrin, kamu ngapain di sini?" teriak Amaira karena suara hujan begitu keras terdengar.
Aldrin mengangkat wajahnya melihat Amaira yang berdiri di hadapannya. Dengan cepat, ia berdiri dan langsung memeluk Amaira. Gadis itu terperanjat menerima pelukan Aldrin yang sangat erat. Tanpa sadar, ia menjatuhkan payungnya ke tanah.