
Sambil tetap menatap dalam wajah gadis yang begitu cantik, Aldrin berkata, "Aku dulunya pecandu Alkohol. Aku sering menghabiskan malamku di bar untuk menikmati seteguk demi seteguk minuman itu. Itulah kenapa aku sering tertidur di kelas, karena setiap malam kuhabiskan untuk bersenang-senang di kelab. Kamu tahu enggak, kenapa aku enggak jadi berangkat ke Singapura?" Mata Aldrin terlihat tak berdaya. "karena ayah ninggalin aku. Malam sebelumnya aku pulang dalam keadaan mabuk dan bertepatan saat ayah sedang menerima tamunya. Aku membuatnya malu dan kecewa," lanjutnya.
Amaira tersentak kembali mendengar pengakuan Aldrin. Namun, ia masih setia menunggu pengakuan Aldrin berikutnya.
"Saat aku di Amerika, aku pernah hampir membunuh temanku hanya karena ia mengejekku. Dia mengatakan itu menggunakan bahasa Portugis, mungkin dia berpikir aku enggak bakal paham. Gara-gara emosi, Aku sampai cekik dia. Kalau saja guru tak melihat kami, mungkin dia sudah mati." Aldrin menatap wajah Amaira, melihat ekspresi diam gadis itu. Ia membasahi bibirnya yang kering karena dinginnya udara malam. "Aku pernah mencoba narkoba jenis ganja, dan itu yang membuat ayah akhirnya menyuruhku pulang ke Indonesia. Dia enggak mau aku semakin terjerumus," ucapnya lagi.
Amaira melonggarkan pelukannya. Wajahnya mulai terlihat berbeda dari sebelumnya. Namun, Aldrin masih juga tak berhenti mengungkap masa lalunya.
"Aku juga penganut **** bebas. Aku sering bergonta-ganti pasangan. Bahkan aku melakukan itu hanya sekedar kesenangan. Apa yang dikatakan kakak tiriku benar. Aku pernah membawa gadis yang usianya seumuran dia ke kamarku. Aku ... juga melakukannya dengan Angel. Dia menyerahkan kegadisannya secara sukarela padaku," ungkap Aldrin dengan nada bergetar.
Amaira sangat terkejut mendengar ungkapan yang baru keluar dari mulut Aldrin. Secara refleks, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Aldrin. Matanya masih terbelalak seolah tak terima dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia berdiri sambil tetap menatap Aldrin dalam keheningan.
Aldrin seperti mengerti akan reaksi Amaira. Ia ikut berdiri dan mengambil tangan Amaira. "Tapi kau jangan khawatir, aku bersih. Aku telah cek ke laboratorium, aku bebas penyakit," ucap Aldrin berusaha meyakinkan Amaira.
Amaira menunduk sambil menggelengkan kepalanya, ia melepaskan tangannya dari tangan Aldrin.
"Ini terlalu berat Aldrin." Amaira menaikkan pandangannya, menatap Aldrin yang mulai menampakkan wajah cemasnya. "Aku bisa menerima asal-usulmu. Aku bisa menerima masa lalumu yang pemabuk, hampir membunuh temanmu, dan juga mencoba narkoba. Tapi ... untuk satu hal itu, aku ...." Amaira tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia hanya bergeming menatap Aldrin yang memasang wajah belas kasihan.
Angin malam tiba-tiba berembus. Membawa dingin dan mengantarkan kesepian yang menyertakan kepedihan di dalamnya. Membujuk hati yang menjadi kaku seketika. Menggoyahkan pikiran dan perasaan yang diterpa dilema. Keduanya menjadi hening seketika. Hanya saling bertukar pandang dengan bibir yang terkatup rapat. Romantisme mereka telah berhenti sampai di sini.
Aldrin membasahi bibirnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya pelan. "Pikirkan baik-baik sebelum memutuskan apakah ingin melanjutkan hubungan ini atau enggak."
Dengan berat hati ia harus mengeluarkan kalimat itu. Tadinya ia berpikir Amaira akan menerima segala masa lalunya. Ternyata gadis itu keberatan saat mengetahui Aldrin seorang penganut having ****. Ia mengetahui negara ini masih tabu akan kehidupan ****. Masyarakat di Indonesia masih berpegang teguh pada prinsip hubungan **** setelah menikah. Tak banyak dari mereka menilai buruk pada orang-orang yang berhubungan di luar pernikahan. Untuk itu, Aldrin memahami sikap penolakan Amaira saat ini.
Lama saling terdiam, Aldrin pun memutuskan mengantar Amaira kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan mereka masih terus memelihara keheningan. Tak ada pelukan hangat yang melingkar di pinggangnya, tak ada canda tawa yang terlontar dari keduanya. Hanya diam dan senyap.
Aldrin pulang dengan wajah penuh guratan kesedihan. Sang kepala asisten menyapanya sembari menyampaikan sebuah info. "Tuan, ada paket kiriman atas nama Anda dari seseorang. Sudah saya letakkan di dalam kamar Tuan."
Aldrin hanya menoleh tanpa berkata apa pun. Jujur, ia tak dapat menangkap apa yang baru saja dikatakan pria itu. Ia memilih menuju ke kamarnya.
Aldrin membuka pintu kamar dengan tak berdaya. Ia bersandar di tiang pintu.
Apakah kau akan mengakhiri hubungan kita?
ย
Tiba-tiba, matanya menangkap sosok benda yang tergeletak di atas ranjang. Saat ia mendekat,
dilihatnya sebuah kotak yang terbungkus indah. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia segera membuka pembungkus kotak berukuran persegi panjang. Sebuah biola antik nan mahal terpampang di depan matanya. Tangannya yang gemetar mencoba menyentuh biola itu.
Suara dari masa lalu terngiang kembali di telinganya.
Tanpa terasa air mata Aldrin jatuh. Bibirnya kembali gemetar.
"Aโayah ... apa kamu masih hidup?"
Aldrin tersadar, dengan cepat ia berlari keluar kamar menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Bahkan napasnya terdengar tak beraturan. Ia masuk ke dapur menemui asisten-asisten rumah tangga yang sedang berkumpul.
"Di mana kepala asisten?" tanyanya mendesak.
"Dia sedang berada di ruang kerja Tuan." Salah satu dari mereka menjawab.
Aldrin bergegas berlari ke ruangan tersebut. Ia membuka kasar pintu ruangan kerja ayahnya tapi tak mendapatkan seorang pun di sana. Ia berlari kembali menelusuri tiap sudut rumahnya yang begitu luas bak istana. Dari jendela kaca besar Aldrin melihat kepala asistennya sedang berada di taman bunga. Aldrin berlari menuju ke arahnya.
"Pak Surya!" teriak Aldrin memanggil nama kepala asistennya.
Pria itu menoleh ke Aldrin yang bernapas tersengal-sengal.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya.
Aldrin memegang kedua pundak Kepala Asistennya. Matanya yang memerah terlihat membesar.
"Tolong katakan padaku siapa yang mengirim biola itu? Siapa namanya? Bagaimana ciri-cirinya?" Aldrin menyerbunya dengan rentetan pertanyaan.
.
.
.
.
bersambung.
catatan kaki :
having s3x : melakukan hubungan badan tanpa adanya cinta, hanya napsu semata. berbeda dengan making love yang melibatkan emosi dan perasaan yang tentunya ada cinta di dalam ๐๐
masalah aldrin kapan bertemu bapake? tenang pasti akan bertemu. saya penulis yang membuat cerita dan menyelesaikan konflik berdasarkan insting saya bkn desakan pembaca. tak jarang penulis yang mengikuti desakan pembaca, alhasil cerita mereka yang telah tertata rapi menjadi flat bahkan rusak dan terdapat hole plot didalam cerita itu. jadi, seperti biasa saya cuma bisa bilang nikmati aja alur yang telah aku ciptakan hehe...