
Naufal bergegas menghampiri Aldrin dan Naufal. Tatapannya beralih pada Amaira yang memegang lengan Aldrin.
"Maaf, aku baru baca sms-mu! Pulang sekolah aku menolong cewek yang lagi dikejar terus aku antar pulang. Aku sama sekali tidak dengar suara telepon," sesal Naufal menceritakan kejadian sore hari.
"Kita sudah terkurung selama tiga jam, tahu! Tuh Amaira jatuh, kakinya terkilir. Terpaksa aku gendong sepanjang jalan!" keluh Aldrin seraya berkacak pinggang.
"Apa? Kamu jatuh?" Naufal memerhatikan kaki Amaira menunjukkan wajah khawatirnya.
"Enggak apa-apa, cuma terkilir, kok!" jawab Amaira tersenyum.
"Lapar, nih! Cacing-cacing sudah minta makan!" gerutu Aldrin sambil memegang perut.
Naufal menggaruk kepalanya lalu berkata, "Sebagai permintaan maaf, gimana kalau aku traktir kalian!"
Aldrin menatap Amaira yang berada di sisinya, cowok berambut blonde itu mengedipkan matanya. Amaira mengangguk ke arah Naufal tanda setuju.
"Tapi, kita mau makan di mana?" tanya Naufal bingung.
"Gimana kalau kita ke pusat jajanan malam saja?" ajak Amaira memberi ide.
"Ide bagus, aku belum pernah ke sana. Bagaimana denganmu?" tanya Naufal.
"Terserah," jawab Aldrin singkat.
Mereka pun beranjak pergi. Naufal memerhatikan cara berjalan Amaira yang sedikit pincang. Ia menuntun gadis itu masuk ke mobilnya. Aldrin menaiki motornya dan duluan pergi.
Sesampainya di sana, Naufal dan Amaira turun dari mobil. Rupanya, Aldrin telah lebih dulu sampai dan menunggu mereka. Ia menghampiri keduanya. Amaira terlihat susah berjalan. Kedua cowok itu menatapnya penuh iba.
"Ayo naik ke punggungku, biar kugendong!" tawar Naufal.
Aldrin mendorong tubuh Naufal ke samping lalu berkata, "Tubuhnya berat sekali, kamu enggak mampu gendong dia. Lebih baik aku saja yang gendong. Ayo ke punggungku!"
Amaira terkejut mendengar ucapan Aldrin. Bukankah saat menggendongnya tadi cowok itu mengatakan kalau tubuhnya sangat ringan? Kenapa sekarang malah mengatakan kalau tubuhnya sangat berat?
Ketahuilah, wanita akan mudah kesal dan tersinggung jika membicarakan berat badan!
"Jangan anggap remeh! Walaupun tubuhku tidak atletis tapi aku mampu mengangkat dua karung beras sekaligus," bantah Naufal tak mau kalah, "ayo kugendong!" Naufal menawarkan bantuan sekali lagi sambil berjongkok.
"Beratnya lebih dari tiga karung beras! Aku saja yang gendong!" celetuk Aldrin turut berjongkok.
Amaira menjadi bingung melihat Aldrin dan Naufal berjongkok di hadapannya, saling menawarkan bantuan untuk menggendongnya. Lebih-lebih ia harus mendengar Aldrin menyamakan berat badannya dengan tiga karung beras.
Amaira pun membuka suara. "Aku cuma terkilir tapi masih bisa jalan kok. Kalian enggak perlu gendong aku. Lagian ini tempat umum, aku malu."
Akhirnya, mereka berjalan sambil melihat jajanan yang dijual sepanjang jalan. Bagi Naufal ini pengalaman pertamanya masuk area ini. Sebab, dari kecil ia terbiasa makan di restoran, sedangkan Amaira sering ke sini bersama kakak perempuannya. Kehidupan keluarga Amaira berasal dari ekonomi kelas menengah, sedangkan Naufal berasal dari keluarga ekonomi kelas atas.
Bagaimana dengan Aldrin sendiri? Ya, ini juga pertama kalinya ia ke sini sejak pulang dari Amerika. Namun, tempat ini tidak asing lagi baginya. Sembilan tahun lalu, ini merupakan lokasi ia dan ayahnya mengais rezeki. Mereka selalu mengamen di sini. Menginjakkan kaki di tempat ini seakan membawanya di kehidupan sembilan tahun yang lalu.
Mereka memutuskan untuk makan di salah satu kedai yang menjual bakso. Ketiganya duduk lalu memesan makanan. Sambil menunggu makanan tiba, Naufal mengajak Aldrin dan Amaira untuk berfoto bersama. Ia mengambil ponselnya dan berpose di depan kamera sementara Aldrin dan Amaira berada di belakangnya. Aldrin mendekatkan wajahnya ke wajah Amaira sambil menatap layar ponsel Naufal. Secara tak sadar tangan kirinya merangkul bahu Amaira. Gadis tersentak mendapati tangan Aldrin yang merangkulnya. Ia melirik wajah Aldrin yang tersenyum di depan kamera.
CIKLIK!
Gambar terambil tepat saat Amaira menatap wajah Aldrin. Beberapa pose telah mereka abadikan. Naufal berhenti mengambil welfie saat makanan telah sampai. Mereka sama-sama menikmati semangkok bakso dan es teh manis.
Tiba-tiba Amaira terbatuk-batuk, Naufal dan Aldrin memberinya tisu secara bersamaan. Amaira menatap dua cowok tampan yang kompak menyodorkan tisu padanya. Aldrin menarik kembali tangannya, dan tisu yang ada di tangannya dipakai untuk mengelap keringat di dahinya. Amaira pun mengambil tisu dari tangan Naufal.
Setelah makan, mereka memutuskan pulang ke rumah. Aldrin menaiki motornya dan melaju kencang meninggalkan Naufal dan Amaira yang juga akan segera pergi. Naufal mengantar Amaira ke rumahnya. Selama di perjalanan, mereka hanya saling diam sampai Naufal memilih membuka suara untuk memecahkan keheningan.
"Apa hari ini kamu senang?" tanya Naufal sambil tetap menyetir mobil.
Amaira menatap wajah Naufal yang fokus melihat ke depan. Ia mengangguk perlahan sambil tersenyum.
"Saat aku membaca pesan pertamamu, awalnya aku panik dan menyalahkan diriku sendiri. Tapi, saat aku baca pesanmu yang kedua, dan kamu bilang terjebak bareng Aldrin, aku agak lega, setidaknya ada Aldrin yang menjagamu di sana," lanjut Naufal.
Lagi-lagi Amaira hanya diam dan tertunduk. Naufal menolehkan pandangan ke Amaira, lalu kembali berkata, "Aku ikut bahagia, karena seharian ini kamu bersama orang yang kamu sukai."
Amaira memandang wajah Naufal yang tersenyum, ia pun membalas senyuman Naufal.
"Makasih," ucap Amaira pelan.
Naufal tak membalas ucapan Amaira. Ia malah kembali fokus melihat ke depan sambil terus menyetir.
Kebodohanku yang pertama adalah mengikuti siapa yang kamu sukai. Kebodohanku yang kedua adalah ikut bahagia melihatmu bersama orang yang kamu sukai. Aku tidak tahu, kebodohan-kebodohan apalagi yang akan kulakukan selanjutnya ....
.
.
.
.
.
bersambung