
Pagi hari telah menyapa. Amaira terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengingat kembali semalam ia berbicara dengan seseorang yang tak dikenalinya melalu telepon. Ia menatap ponselnya, dilihatnya sebuah pesan masuk.
"Hai, Jelek! Selamat pagi!"
Rupanya pesan singkat itu berasal dari cowok misterius yang menghubunginya semalam. Ia tersenyum tipis lalu membalas pesan tersebut dengan ucapan yang sama.
Kemudian, ia bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi, Amaira mengambil seragam sekolahnya yang di gantung. Tiba-tiba, ia teringat kembali peristiwa dua hari yang lalu di perpustakaan. Saat itu, seorang guru melecehkan dirinya. Ini membuatnya kembali ketakutan, dan menjadi penyeba ia tak masuk sekolah kemarin. Tentu saja dia masih trauma dengan kejadian di perpustakaan.
"Amaira, kamu mau ke sekolah, 'kan?" Terdengar suara teriakan ibunya dari balik pintu.
"Iya, Bu," jawab Amaira yang langsung bergegas memakai baju seragam.
Amaira adalah anak ke dua dari dua bersaudara. Ayahnya seorang PNS di kantor gubernur Jakarta, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Kakaknya sedang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Indonesia. Ia masuk ke sekolah itu, karena Ayahnya ingin ia mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah, Naufal masuk ke ruang kelas dengan ceria sambil menyapa teman-temannya. Pandangannya beralih pada sosok yang ada dalam pikirannya selama dua hari terakhir. Rupanya, Amaira telah datang lebih dulu. Gadis itu duduk di kursinya sambil mengambil buku dari tasnya.
Naufal bergegas menghampirinya, memosisikan dirinya duduk di depan bangku Amaira.
"Kamu sudah sehat?" tanya Naufal dengan semangat.
Amaira melirik ke arahnya, mata mereka saling bertemu. Gadis itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan. Lalu, ia kembali membaca bukunya. Untuk sesaat, Naufal terdiam. Namun, ia kembali mengingat apa yang harus ia tanyakan pada gadis itu.
"Apa kemarin alergimu kambuh?" Naufal bertanya kembali.
Amaira menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala. Gadis ini benar-benar pelit mengeluarkan kata.
"Terus, kamu sakit apa?" tanyanya kembali.
Belum sempat Amaira menjawab, terdengar suara yang mencuri perhatiannya. Pandangan Amaira dan juga Naufal terarah pada sosok dua orang yang baru saja tiba di kelas. Keduanya adalah Aldrin dan juga Angel.
"Al, semalam gue telepon kok nomor lo sibuk melulu. Lagi ngapain, sih, semalam?" tanya Angel sambil memegang lengan Aldrin.
"Hp-ku mati," jawab Aldrin singkat sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Aldrin, kita enggak pernah jalan-jalan kayak pasangan lain. Malam ini, kan, malam minggu, gimana kalau kita keluar?" ajak Angel sambil mengalungkan tangannya di lengan Aldrin.
Aldrin melepaskan tangan Angel dari lengannya, lalu bertanya pada Naufal yang masih duduk di depan Amaira. "Malam nanti, bukannya kamu ngajak aku keluar?"
Naufal tampak bingung dengan pertanyaan dari Aldrin. Bukankah mereka tidak janjian untuk keluar? Namun, tiba-tiba ia mengerti. Dengan cepat ia menjawab, "Oh iya, aku hampir lupa. Malam ini kamu sudah janji mau menemaniku ke toko buku."
Angel memasang wajah cemberut. "Heh, kalian berdua lebih baik jadian saja!"
Angel kembali ke tempat duduknya sambil bersungut-sungut. Melihat ekspresi Angel, Aldrin dan Naufal kompak menahan tawa.
Bel pelajaran pertama telah berbunyi. Semua murid masuk di kelas dan bersiap menerima pelajaran pertama. Pak Angga masuk ke ruang kelas mereka. Ia mengajar bahasa inggris di jam pertama.
Pupil mata Amaira melebar ketika ia melihat guru itu. Ia tak menyangka jam pertama akan dilewatinya bersama pria yang sudah melecehkannya dua hari yang lalu.
Tiba-tiba Amaira mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya gemetar. Ia menunduk sambil meremas ujung roknya. Bahkan, kakinya seolah hendak mundur hingga menimbulkan suara bangku yang tergeser. Aldrin langsung menoleh ke arahnya. Ia memerhatikan gadis itu menunduk dengan badan gemetar.
Aldrin mulai mengambil cemilannya dalam tas. Ia memakan cemilan tersebut sambil mengangkat salah satu kakinya ke atas meja. Ujung sepatunya itu sampai menyentuh tempat duduk Naufal.
"Turunkan kakimu! Kalau Pak Angga lihat, dia bakal marah," ujar Naufal dengan suara yang kecil.
Beberapa puluh menit berlalu, Pak Angga telah selesai menjelaskan topik pelajaran hari ini. Semua siswa tampak tenang selama pelajaran berlangsung.
"Any question (ada pertanyaan)?" tanya Pak Angga menggunakan bahasa Inggris.
Tak satu pun siswa yang menjawab, tanda mereka sudah sangat paham dengan penjelasan guru tersebut.
Seketika mata pak Angga menangkap sosok murid yang tertidur di bangku sudut paling belakang. Guru itu melempar penghapus papan tulis ke arah Aldrin. Sampai-sampai ia terbangun kaget usai menerima sebuah lemparan penghapus yang melayang di kepalanya.
"Heh, kau yang tidur di sana! Cepat ke sini! Buat contoh kalimat langsung dan tidak langsung seperti yang sudah kujelaskan!" perintah Pak Angga.
Aldrin masih terkejut dengan apa yang baru saja diterimanya. Matanya melirik sekeliling dan menyadari saat ini ia menjadi pusat perhatian seisi kelas. Aldrin pun menatap Pak Angga dari tempat duduknya.
Seisi kelas menjadi hening.
"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat ke sini dan buat yang kuperintahkan!" pinta Pak Angga kembali.
Aldrin masih bergeming. Namun, matanya menatap tajam ke arah guru itu seolah hendak menerkamnya
"Kenapa masih duduk? Aku perhatikan dari tadi kau hanya tidur selama pelajaran berlangsung. Murid sepertimu hanya akan merusak citra sekolah ini!" cibir Pak Angga dengan suara meninggi.
Aldrin masih tak menjawab. Ia malah mempertajam tatapannya ke arah guru itu. Matanya mulai menyala. Tangannya membentuk kepalan tinju. Setelah sekian menit terdiam, Ia akhirnya berdiri. Kemudian melangkahkan kaki menghampiri guru itu. Ia mengambil spidol dari tangan Pak Angga.
Aldrin mulai menulis kata-kata yang membentuk sebuah kalimat dalam bahasa inggris. Sementara Pak Angga berdiri membelakangi Aldrin yang sedang menulis. Tak lama kemudian seisi ruangan menjadi heboh. Mereka terkejut membaca kalimat yang ditulis Aldrin saat ini.
Pak Angga menyadari kehebohan yang terjadi di ruangan. Ia menatap seluruh siswa yang saling berbisik sambil menunjuk tulisan tangan Aldrin. Pak Angga yang tak bisa melawan rasa penasarannya, akhirnya menengok ke belakang dan membaca hasil pekerjaan Aldrin.
Mata guru itu terbelalak seketika tatkala membaca tulisan besar di papan tulis.
Selesai menulis, Aldrin membalikkan badannya menghadap ke seluruh siswa yang duduk rapi di tempat mereka masing-masing.
"Biarku terjemahkan artinya," ucap Aldrin sambil menunjuk papan tulis dengan spidol, "Guru kita yang terhormat ini, adalah guru bejad yang berbuat hal tak senonoh di perpustakaan kepada siswinya yang masih polos. Kalian yang merasa perempuan, harus berhati-hati padanya!" ucap Aldrin menerjemahkan tulisannya di papan tulis.
Aldrin menoleh ke arah guru tersebut. Ia menyunggingkan sudut bibirnya ke atas. Tentu saja memberikan senyum ejakan. Wajah Pak Angga merah membara. Semua murid tambah heboh dan saling bertanya apakah benar yang di katakan Aldrin.
Aldrin mendekati pak Angga lalu berbisik, "Guru sepertimu hanya akan merusak citra sekolah!"
Ucapan Aldrin bagaikan sebuah tamparan baginya. Baru beberapa menit yang lalu ia mengatakan bahwa murid seperti Aldrin hanya merusak citra sekolah dan sekarang kata-kata itu dipulangkan murid itu kembali padanya.
Aldrin berjalan kembali menuju tempat duduknya dengan santai. Pandangannya menuju ke gadis bermasker yang duduk bersebelahan dengannya. Gadis itu menaikkan pandangannya. Tatapan mata mereka saling bertemu. Aldrin tersenyum lebar sambil mengedipkan satu matanya ke arah gadis itu. Gadis yang bernama Amaira itu menundukkan kepalanya dan tersenyum lebar dari balik maskernya.
Suasana kelas kian gaduh. Pak Angga buru-buru menghapus tulisan yang tertulis di papan tulis. Betapa malunya ia saat ini. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Tatapan murid-murid membuatnya seakan hendak lenyap dari muka bumi. .
"Diam! Diam Semua!" teriak Pak Angga.
"Apa benar yang dikatakan Aldrin, Pak?" tanya salah satu siswa.
"Jika benar Bapak melakukan itu, Bapak tidak seharusnya menjadi guru!" sahut anak lainnya.
"Ya ... Bapak harus keluar dari sekolah ini!" teriak siswa lainnya.
Pak Angga terdiam. Bukannya menjawab satu per satu pertanyaan siswa, ia malah segera mengemasi barangnya dan keluar dari kelas tersebut.