Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 66 : Dia Milikku!



Siang itu, matahari begitu terasa panas. Sinarnya yang terik membakar kulit, membuat orang yang melintas di bawah teriknya akan mencari perlindungan agar tak terpancar olehnya. Namun, dua anak remaja itu tak peduli dengan udara siang yang begitu panas.


Saat ini, mereka berada di tengah lintasan lari yang begitu sepi. Ya, hanya ada mereka berdua di sana. Ditemani oleh emosi dan keegoisan yang menggerogoti diri mereka masing-masing.


"Bersedia ...."


Naufal mulai memberi aba-aba karena tidak ada wasit dalam pertandingan mereka. Tangan keduanya mulai lurus ke bawah menyentuh tanah. Mereka mencondongkan bahu sedikit ke depan dan masing-masing kaki mereka di letakkan di garis start.


"Siap!"


Keduanya mulai mengangkat panggul melebihi tinggi bahu. Kaki mereka diluruskan. Terlihat masing-masing dari mereka mulai mengambil napas dalam-dalam. Keduanya bak atlet profesional yang beradu dalam turnamen.


"Mulai!"


Mereka mulai berlari di garis lintasan masing-masing. Untuk sementara, keduanya berada di posisi yang sejajar tanpa ada yang mendahului. Pandangan mereka tetap lurus ke depan, fokus untuk meraih garis finis.


Naufal, Selama ini aku selalu mengalah sama kamu ketika kita melakukan lomba lari. Tapi, tidak untuk kali ini. Izinkan kali ini saja, aku menunjukkan kemenanganku! Hanya sekali ini ...


Aldrin menambah kecepatan larinya, ia melangkahkan kakinya selebar mungkin. Tak lupa pula ia menggerakkan kedua tangannya ke arah dagu. Lelaki berwajah blasteran itu melaju cepat, meninggalkan Naufal yang juga terus berlari kencang.


Aldrin, aku tahu selama ini kamu selalu mengalah jika kita melakukan lomba lari. Meskipun kemampuan lariku tidak begitu bagus, aku akan tunjukkan padamu, jika saat ini aku menang bukan karena kamu sengaja mengalah.


Naufal mempercepat gerakan kedua kakinya, ia berusaha mencapai batas maksimal kecepatan larinya. Saat ini, ia mulai mengejar ketertinggalannya. Dia telah berada di belakang Aldrin, dan hampir mensejajarkan posisi Aldrin berlari.


Kedua remaja ini terus berlari untuk menyentuh garis finis. Tak peduli dengan keringat yang mengucur deras di wajah mereka. Keduanya berlari bukan untuk memperebutkan piala atau pun piagam. Tidak pula untuk membawa nama sekolah mereka. Tapi, hanya masalah sepele bagi orang dewasa, yaitu memperebutkan gadis yang mereka cintai.


Naufal telah mendahului Aldrin. Kini, ia berada di depan. Tak jauh dari itu, garis finis telah di depan mata mereka. Hanya butuh sepersekian detik mereka akan menyentuh garis itu. Aldrin makin melajukan gerakannya hingga mereka sama-sama sejajar. Tinggal dua langkah lagi, keduanya yang sama-sama di posisi sejajar itu mencapai garis finis. Dan ... Aldrin menjatuhkan tubuhnya ke depan. Kaki kanannya menginjak garis finis!


Aldrin terus berlari, tapi kecepatannya telah diperlambat. Keduanya sama-sama berhenti berlari sambil mengatur napas mereka yang begitu tak beraturan.


Hah ... Hah ... Hah ...


Bunyi hembusan napas itu terdengar kuat keluar dari keduanya. Peluh mengalir ke wajah mereka hingga turun ke dada. Keduanya mengusap keringat dengan baju mereka masing-masing.


Aldrin menoleh ke arah Naufal yang membungkuk dengan kedua tangan di lututnya sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"Aku ... menang! Dan dia ... milikku! Oke?" tegas Aldrin di sela-sela napasnya yang masih terputus-putus seolah hendak mendeklarasikan kemenangannya.


Naufal mengangguk pelan sambil mengacungkan jempol kanannya ke arah Aldrin, menunjukkan jika ia menerima dengan sportif hasil dari pertandingan yang mereka telah lakukan. Ia membaringkan tubuhnya di tengah lapangan lintasan lari, disusul Aldrin yang juga ikut berbaring di sampingnya.


Napas keduanya terdengar mulai stabil. Naufal memejamkan mata, sambil berusaha menelan ludahnya sendiri. Kulit wajahnya ia relakan dijamah sinar matahari siang yang begitu panas.


"Kita juga tidak pernah menyukai hal yang sama," balas Aldrin.


"Kita tidak pernah memperebutkan sesuatu," lanjut Naufal.


"Dan juga tidak pernah bertengkar untuk sesuatu." Aldrin kembali membalasnya.


Naufal menarik napas dalam lalu menghembuskan ke udara. Mulutnya yang terbuka berusaha mengolah kata-kata dengan mata yang sedikit berair.


"Dia cinta pertamaku!" ucap Naufal sambil menatap terik matahari.


Aldrin menoleh ke arahnya, melihat wajah sendu Naufal. "Dia juga cinta pertamaku!"


"Aku menyukainya dan jatuh cinta pada pandangan pertama!" lirihnya begitu terdengar serak.


"Aku menyukainya ... bahkan sebelum aku melihat wajahnya, bahkan ... sebelum aku mengetahui identitasnya. Aku jatuh cinta ... karena rasa nyaman yang kumiliki padanya!" ucap Aldrin dengan nada yang tersendat-sendat karena inilah kejujuran dari hatinya yang selama ini ia sembunyikan.


Naufal terkekeh. "Bagaimana kamu bisa bilang tidak melihat wajahnya, sementara kalian duduk berdekatan!"


"Aku kenal dia lewat telepon salah sambung. Nomornya tiba-tiba masuk di hp-ku. Sejak itu kami saling kenal tanpa saling tahu jika kami sekelas," jelasnya.


Aldrin mencoba menjelaskan ke Naufal bahwa posisinya tidak salah. Jika ia tahu gadis yang menghubunginya adalah Amaira, pasti ia akan menjauhinya sejak awal. Hanya saja, mereka tidak saling mengetahui identitas asli satu sama lain sehingga ia harus terjerat dalam cinta segi tiga yang begitu rumit.


Naufal tercengang mendengar penjelasan Aldrin. Nomornya tiba-tiba masuk di ponsel Aldrin? Tidak, nomor itu masuk karena dia sendiri yang menghubunginya menggunakan ponsel milik Aldrin. Itu artinya, dia lah yang menjadi penghubung kisah cinta mereka berdua.


Naufal mengusap wajahnya dengan satu tangan. Telapak tangannya menutup mulutnya. Ia tertawa bodoh. Bukan karena lucu. Bukan! Bukan pula sedang menertawakan Aldrin, tapi ia tertawa mengejek dirinya sendiri. Menertawakan kebodohannya.


Dan inilah kebodohanku diatas kebodohan lainnya...


.


.


.


.


bersambung....


Author Yu ikut ngos-ngosan ngetik part ini, seperti ikut berlari bareng mereka berdua, padahal kan cuma diam di tempat πŸ˜‚. jangan lupa like dan komen yaa... yang belum kasih bintang 5 tolong kerelaannya ya...