
Aldrin mengakhiri ciuman lembutnya. Jempolnya mengusap bibir Amaira. Mereka kembali saling bertatapan dengan senyum yang merekah di bibir masing-masing.
Sebelum Aldrin mengenal Amaira lewat saluran telepon, ia tak pernah mendengar suara gadis itu secara langsung, dan juga tak pernah bercakap langsung dengannya. Berbeda dengan Amaira, ia langsung bisa mengenali suara cowok yang sering meneleponnya itu. Ia tahu si pemilik suara itu adalah teman sebangkunya, seorang cowok berandalan yang banyak kali menolongnya.
"Ayo kita pulang!" ajak Aldrin yang di ikuti anggukkan Amaira.
Aldrin memasangkan helm di kepala Amaira. Ia mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Aldrin mengantar Amaira sampai depan pintu rumah.
Ibu Amaira membuka pintu. Ia terkejut melihat Amaira baru pulang bersama seorang lelaki berambut emas yang memakai tindikan di telinganya.
"Kenapa jam begini baru pulang? " tanya Ibu Amaira dengan nada khawatir.
"Kami baru saja selesai kerja kelompok, Tante," jawab Aldrin dengan semangat.
Ibu Amaira menengok ke arah Aldrin yang berdiri di samping Amaira. Ia segera membawa masuk Amaira dan langsung menutup pintu rumah. Aldrin berdiri terpaku di depan pintu rumah Amaira yang telah tertutup.
"Selamat malam, Tante. Aku pulang dulu," ucap Aldrin dari balik pintu yang tertutup.
Setelah mengantar Amaira pulang, Aldrin melajukan motornya menuju ke kelab malam yang sering ia kunjungi. Di sana ia melihat Angel bersama teman-temannya sedang asyik berjoget menikmati musik DJ.
Aldrin menghampirinya, lalu menarik Angel untuk ikut bersamanya. Ia membawa Angel ke pojok ruangan. Ia menyandarkan tubuh Angel ke dinding. Angel tersentak. Ia mengeluh pergelangannya sakit karena Aldrin menariknya secara paksa.
Namun, mimik Angel berubah tegang ketika melihat wajah Aldrin yang menakutkan. Matanya menyala, pupilnya membesar, urat syaraf tampak tegang di lehernya menandakan bahwa ia benar-benar sangat marah. Ekspresi ini tak pernah Angel lihat sebelumnya.
Aldrin merogoh sesuatu di dalam saku celananya yang membuat Angel ketakutan berkali-kali lipat. Bagaimana tidak, pria itu tengah memegang pisau lipat.
"Al-Aldrin apa yang lo mau lakukan?" Rasa takut terlukis di wajah Angel, seluruh badannya gemetar.
Aldrin menaikkan sudut bibir ke atas. Ia mulai mendekatkan pisau lipatnya ke wajah Angel sambil berkata dengan perlahan, "Seharusnya kamu tahu apa yang akan aku lakukan."
"Aldrin ... jangan! Jangan lakukan itu!" Angel semakin ketakutan saat Aldrin mulai menggaris pipinya memakai pisau itu.
"Oh iya, aku lupa. Selama ini aku belum pernah kasih peringatan. Dengarkan aku! Ini peringatan yang pertama, kalau kamu coba sakiti Amaira lagi, aku tidak segan-segan untuk menyayat-nyayat wajahmu dengan pisau ini," ancam Aldrin. Suara cowok itu begitu lembut, tapi sorot matanya tajam seperti memancarkan api.
Angel mulai merasakan perih di pipinya akibat sayatan kecil pisau itu, "Ke–kenapa lo peduli banget sama dia? "
"Karena aku sayang sama dia, aku cinta sama dia," tegas Aldrin dengan suara meninggi, "jadi, aku tidak akan biarkan kamu atau siapapun melukainya. Luka sayatan ini sebagai peringatan agar kamu terus ingat itu."
Aldrin melipat kembali pisaunya dan menyimpannya di saku celana. kemudian ia pergi meninggalkan Angel yang masih tak percaya akan apa yang baru saja cowok itu lakukan padanya.
Angel menahan segala kekesalannya, ia berteriak dengan penuh emosi sambil memukul dinding dengan kepalan tangannya. Ia mengusap darah di pipinya akibat goresan pisau Aldrin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Suara dering ponsel berbunyi saat Amaira baru saja selesai mandi. Ia segera meraih ponselnya dan menerima panggilan telepon.
"Halo."
"Ini aku," ucap Aldrin dari balik saluran telepon.
"Hum ... Aku tahu, aku masih menyimpan nomormu kok."
"Iya."
"Oke. Aku menunggumu di kelas."
Aldrin mengakhiri panggilan teleponnya. Ia merapikan dasinya lalu memakai almamater sekolahnya. Saat membuka pintu kamarnya, secara bersamaan Naufal pun baru saja keluar dari kamarnya.
"Apa aku tidak salah lihat? Ini masih jam enam lewat sepuluh menit dan kamu keluar dari kamar dalam keadaan siap ke sekolah?" ucap Naufal terlongong-longong. Pasalnya, Aldrin tidak pernah bangun sepagi ini, apalagi dalam keadaan siap berangkat ke sekolah.
"Aku bangun terlalu pagi, terus enggk tidak bisa tidur lagi. Jadi, aku putuskan untuk mandi saja," jawab Aldrin sedikit gugup.
Aldrin selalu bangun jam tujuh pagi dan dia akan berangkat sekolah pada jam tujuh lewat tiga puluh menit. Namun, saat ini dia keluar dari kamarnya sepagi ini dengan keadaan berseragam rapi dan menggendong tasnya. Tentu saja membuat Naufal terkejut.
"Bagaimana dengan tugas sejarah kalian? Kamu jangan bikin repot dia, ya," ucap Naufal sambil menuruni anak tangga bersama Aldrin.
Aldrin terdiam sejenak. "Belum selesai."
"Ya. masih ada waktu seminggu untuk menyelesaikan tugas. Kamu harus ikut terlibat dalam tugas itu jangan biarkan dia kerjakan sendiri," kata Naufal kembali.
**
Di sekolah, Amaira berjalan melewati taman. Penglihatannya terarah pada Angel yang berdiri tepat tak jauh dari tempatnya berjalan saat ini. Tampak sebuah plester tertempel di pipi Angel.
Amaira tetap berusaha tak acuh seolah tak melihat keberadaan Angel. Saat gadis itu melewatinya, Angel langsung mengucapkan kalimat sindiran. "Gue pikir setelah kejadian kemarin, lo bakal trauma datang ke sekolah. Ternyata mental lo kuat juga."
Amaira berhenti melangkah, ia memutar tubuhnya lalu berkata, "Dulu aku takut, sekarang tidak lagi. Karena dia telah berjanji akan selalu melindungiku."
"Dasar tidak tahu malu!" umpat Angel dengan penuh kebencian.
"Kamu sangat menyedihkan," balas Amaira dengan suara pelan. Ia langsung berlalu pergi meninggalkan Angel yang begitu terkejut mendengar ucapannya.
"Dia semakin kurang ngajar sejak Aldrin terus membelanya!"
Angel menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal, tapi sesaat kemudian ada pemandangan yang mencuri perhatiannya. Di hadapannya saat ini, tampak Naufal tengah menghampiri Amaira.
"Aku punya tiket nonton Film yang akan kita nonton waktu itu, bagaimana kalau sore ini kita nonton lagi," ajak Naufal pada Amaira.
"Maaf, tapi waktu itu ... setelah kamu pergi aku menonton film itu sendirian. Soalnya aku tertarik dengan filmnya," tolak Amaira dengan raut wajah setengah menyesal.
"Tidak masalah. Aku merasa senang dengarnya. Setidaknya, kamu tidak datang sia-sia waktu itu," ucap Naufal sambil tersenyum.
"Terima kasih. Aku mau masuk kelas dulu," ucap Amaira.
Amaira melangkah pergi meninggalkan Naufal. Saat cowok itu masih tak berkedip memandang kepergiannya, Angel datang menghampirinya.
"Kayaknya lo suka sama Amaira. Ada sesuatu yang ingin gue katakan. Ini berkaitan dengan Amaira dan juga Aldrin."
"Amaira? Aldrin?" Naufal memasang wajah bodoh lalu bertanya kembali, "Ada apa dengan mereka berdua?" tanyanya kembali dengan penasaran.