
Adam terpukul mendengar ucapan Detektif itu. Meskipun ia hanya bertemu dua kali dengan Jefri, tapi hatinya ikut sedih mendengar kabar tersebut.
"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada Anda lagi, Pak." Detektif itu kembali bersuara.
"Apa itu?"
"Saya mendapat kabar, tiga tahun lalu ada seorang detektif asal Los Angeles yang mencari informasi tentangnya."
"Detektif dari kota Los Angeles?"
Ingatan Adam langsung tertuju pada Aldrin. Jika tiga tahun lalu ada detektif asal Los Angeles yang mencari keberadaannya, detektif itu pasti suruhan Aldrin. Mungkin, itukah yang menyebabkan Aldrin menghabiskan banyak uangnya? Apakah untuk menyewa seorang detektif?
Tidak.
Bukan itu poin pentingnya! Bukan soal dia menghabiskan banyak uang saat berada di Los Angeles. Namun, yang terpenting adalah dia lebih dulu mengetahui status Ayahnya yang hilang! Juga, kemungkinan jika Ayahnya telah meninggal!
Detektif itu melanjutkan ucapannya, "Dan hasilnya sama seperti perkiraan saya selama ini. Jika tiga tahun yang lalu dia masih hidup atau hanya sekadar kabur, seharusnya sekarang saya bisa mendapatkan informasi lebih tentangnya!"
Adam tertegun. Apakah itu yang membuat Aldrin yang saat itu masih berusia empat belas tahun, tak mau pulang lagi? Dan di usianya yang ke lima belas tahun, Aldrin bertekad pergi sendiri ke Dubai mencari ayahnya. Setelah kepulangannya dari Dubai, semuanya berubah!
Dia berubah. Saat kecil, Aldrin memang bocah yang dingin. Namun, di balik itu semua ia adalah pribadi yang kuat, mandiri, dan juga anak yang baik. Hal ini berbanding terbalik saat usianya menginjak lima belas tahun. Ia tumbuh menjadi pribadi yang liar dan hilang arah.
Adam pun tersadar. Selama ini, ia hanya mempermasalahkan perubahan sikap anak sambungnya. Tanpa pernah mencari tahu penyebab mengapa ia menjadi seperti itu. Anak seusianya rentan mengalami gangguan psikis seperti depresi. Tak ada seorang pun dari mereka yang bertanya, apa yang ia rasakan? Apa yang ia alami? Mereka hanya bertanya kenapa dan kenapa anak itu berubah.
Setelah Detektif itu pergi, Adam menyandarkan tubuhnya di kursi. Pria berusia lima puluh empat tahun itu menatap foto keluarga yang terpajang di meja kerjanya. Di foto itu, semuanya menunjukkan senyum terbaik mereka. Hanya Aldrin yang diam tanpa ekspresi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah, Amaira terus berjalan membuntuti Aldrin dari belakang. Secepat apa pun Aldrin melangkahkan kakinya, Amaira tetap berusaha menyesuaikan langkahnya.
Aldrin mengembuskan napas kasar. Bagaimana caranya agar gadis itu berhenti membuntutinya? Masih kesal, tiba-tiba matanya terarah pada lokasi syuting sinetron di sekolah mereka. Ya, tak jauh dari tempatnya berpijak, ia bisa melihat Maria baru saja menyelesaikan syutingnya dan menuju tempat peristirahatan.
"Maria!" panggil Aldrin.
Hanya sekali panggil, Maria langsung menoleh ke arah Aldrin. Pemain sinetron itu melempar senyum lalu bergegas menghampiri Aldrin. Namun, lagi-lagi Maria dibingungkan dengan sesosok gadis yang berada di belakang Aldrin, yaitu Amaira.
Saat menemui Aldrin, Maria berusaha mengintip kebelakang seraya mengulas senyum tipis ke arah Amaira.
"Tumben kamu ke sini, Al."
"Cuma kebetulan lewat kok."
Tak terasa waktu begitu cepat bergulir. Siang telah berganti malam, matahari telah berganti dengan ribuan bintang di langit pekat. Tuan Adam baru saja sampai di kediamannya. Sepertinya, ia memilih untuk pulang lebih awal dari biasanya.
Saat pria itu turun dari mobil, sebuah alunan merdu dari gesekan biola menyapa indera pendengarannya. Seolah suara biola itu memang dikhususkan untuk menyambut kedatangannya.
Adam mendongak ke atas, tepatnya di balkon kamar Aldrin. Terlihat jelas, dari atas balkon anak tirinya itu sedang memainkan senar biola. Saat ini Aldrin tengah memainkan lagu Snow Flower by Mikha. Sebuah lagu sendu yang menggambarkan suasana hatinya saat ini.
Adam melangkah asuk ke rumah dengan terburu-buru. Ia meminta pelayan untuk membawa tasnya ke ruang kerja. Pria berkacamata itu menapaki tangga menuju lantai atas. Langkahnya terhenti tepat di pintu kamar Aldrin yang sedikit terbuka. Pelan-pelan, ia membuka pintu itu lalu melangkah ke kamar yang tak pernah ia masuki sebelumnya.
Rupanya, Aldrin menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ia menghentikan permainan dawainya, seraya menoleh ke belakang. Matanya terbuka lebar melihat Adam sedang berdiri tak jauh darinya.
Aldrin mengerjapkan matanya berkali-kali. Pasalnya, ayah sambungnya itu tak pernah mendatangi kamarnya. Biasanya Adam akan menyuruh Aldrin ke ruang kerjanya jika ingin menegur atau menasihatinya. Lalu, ada angin apa yang membuat ayah tirinya itu ke sini?
"Kenapa Tuan ke sini?" tanya Aldrin heran. Dari balkonnya, ia masuk ke kamar, menyimpan kembali biolanya dalam tas lalu duduk di tepi ranjang.
"Suara merdu alunan biola yang membawaku ke sini," ucap pria tua itu sambil ikut duduk di sampingnya.
"Aku bukan profesional," ucap Aldrin menyengir bodoh.
Adam menatap dalam wajah anak sambungnya. Tiba-tiba tangannya merambat ke tangan Aldrin lalu menggenggamnya dengan penuh kehangatan.
Aldrin tersentak. Bagaikan ada sebuah aliran listrik yang menyengat kulitnya. Ia menatap tangan tua berkerut yang berada di punggung tangannya. Ini pertama kalinya Adam memegang tangannya. Aldrin mencoba melepaskan diri dari genggaman Ayah tirinya, tapi lelaki tua itu semakin menggenggam erat tangannya.
"Aldrin, mulai sekarang aku akan menggenggam tanganmu dan ikut merasakan apa yang kamu alami," ucap pria itu sambil menatap dalan kedua mata Aldrin. Mungkin saat ini ia merasa iba pada anak itu. Namun, hatinya benar-benar tulus ingin merangkul anak tirinya.
Aldrin membatu. Sepasang alisnya tampak bergelombang. Ia sama sekali tak mengerti maksud perkataan ayahnya, atau lebih tepatnya tak memercayai pendengarannya saat ini. Bagaimana tidak, ia dan ayah sambungnya hanya bertemu di meja makan. Kadang-kadang mereka berbicara di ruang kerja jika ia berbuat masalah di sekolahnya. Namun, saat ini seorang Presiden direktur Grup yang tak punya waktu banyak itu justru datang ke kamarnya, lalu mengulurkan tangannya dengan penuh kehangatan. Bukankah ini sebuah lelucon?
Masih tertegun, Aldrin tiba-tiba dikejutkan dengan ucapan ayahnya. "Aldrin, kembalilah ke Amerika! Aku akan menyekolahkanmu di sekolah musik, dan wujudkan mimpimu menjadi seorang violinist!"
Rekomendasi instrumen violin version dari Author keceh nan melankolis :
yiruma kiss the rain violin version
yiruma my memory violin version
snow flower/yuki no hana violin version
cek di youtube yaa.... 3 lagu ini bisa jd pengantar bobo. dengerin sambil ngayalin Aldrin yang mainin ok haha...