Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 30 : Terkejut!



Pagi kembali menyapa, artinya satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Di bawah tangga sekolah menuju lantai dua, Naufal dan Amaira saling berhadapan. Hari ini, laki-laki berkacamata itu memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Amaira, siswi yang sekarang ini menjadi populer karena paras cantiknya.


"Amaira, ada yang mau kubilang sama kamu."


Naufal memberanikan diri menatap dalam sepasang bola mata milik gadis cantik itu. Ia berusaha mengabaikan rasa gugupnya. Namun, wajahnya gagal menampakkan raut santai saat mata mereka saling bertemu. Keringat mulai berkumpul di dahinya. Telapak tangannya basah. Lututnya gemetar. Lidahnya mulai terasa kaku.


"A–Aku ... aku, me–menyukai .... " Naufal berbicara terbata-bata. Raut tegang itu terlihat jelas di wajahnya. Jantungnya berdegub kencang. Telapak tangannya semakin berkeringat.


"Kau menyukai apa?" Amaira mengerutkan dahinya.


"A–aku ... me–me–menyukai ...." Naufal seperti orang gagap yang kesulitan mengeluarkan kata-kata. Namun, ia masih berusaha membuka mulutnya yang terkatup. "Aku menyukai ... jepitan rambutmu!" Jari telunjuknya menunjuk sebuah jepitan berbentuk hati yang menghiasi rambut indah Amaira. Ucapan itu spontan keluar dari mulutnya. Padahal, bukan itu yang akan ia katakan. Entah kenapa bibirnya tak mendengar perintah otaknya.


Dari balik tembok, Aldrin tengah mengintip keduanya. Ia tak bisa menahan diri untuk mencibir saat mendengar kalimat bodoh yang dikeluarkan Naufal.


"Astaga, kenapa dia bisa sebodoh itu? Dia sangat pintar di semua mata pelajaran. Tapi tiba-tiba IQ-nya terjun bebas begitu berhadapan dengan orang yang ia sukai," gumam Aldrin sambil terus memantau dari balik tembok.


Aldrin kembali memerhatikan keduanya. Ia melihat Amaira memegang penjepit yang baru saja Naufal tunjuk, melepaskan benda itu dari rambutnya, dan menyerahkannya pada Naufal.


"Kamu suka ini, 'kan? Ambil saja!"


Naufal melihat jepit rambut berbentuk hati di telapak tangan Amaira. Dengan gemetar, ia mengambil jepit rambut itu dari tangan Amaira. Wajah cowok jenius itu terlihat memerah.


Setelah Naufal mengambil jepitan itu, Amaira langsung berbalik hendak menaiki tangga.


"Tu–tunggu!" Naufal menahannya kembali.


Gadis itu menoleh ke arahnya sembari mengerutkan sepasang alisnya. Mereka kembali beradu pandang.


Aldrin yang masih mengintip di balik tembok kembali bersemangat. "Ayo! Ini waktunya kau katakan padanya!" gumam Aldrin dengan senyum merekah.


Naufal mencoba membuka suaranya kembali. "S–se–sebenarnya yang ingin kukatakan pa-padamu ... " Ia menjeda ucapannya sembari menarik napas. "A–apa ... apakah kau, ma–ma ..." Lagi-lagi Naufal kesulitan mengolah kata-kata. "A–apa, ka–kau ma–mau ... mau ... Mau ..."


Amaira dengan sabar menanti kalimat yang akan dikatakan oleh cowok itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara bel tanda pelajaran pertama dimulai. Hingga pikiran Naufal menjadi buyar. Ia bahkan lupa dengan apa yang harus ia katakan.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya gadis itu dengan pelan. Suara lembutnya membuat jantung Naufal berpacu lebih kencang. Bukannya tenang, ia malah makin gugup.


"Maksudku, a–apakah ... apa kamu mau masuk kelas? " ujarnya secara spontan.


"Iya, bel sudah berbunyi. Ayo kita masuk," ajak Amaira.


Naufal mengangguk. "Iya, duluan saja."


Amaira meninggalkan Naufal bergegas menaiki tangga. Naufal menatapnya dari belakang sembari mengembuskan napas kasar.


"Oh God ... ngatain cinta doang sudah kayak orang yang kena azab di sinetron. Kayaknya kamu butuh kopi sianida, deh!" Suara kesal Aldrin datang dari arah belakang selepas kepergian Amaira.


Naufal membalikkan badannya menghadap Aldrin yang berdiri tak jauh darinya. "Enggak tahu kenapa pikiranku tiba-tiba buntu pas lagi berhadapan sama dia. Lagian, kalau tiba-tiba menyatakan perasaan, bukannya itu aneh? Kami belum terlalu mengenal satu sama lain."


"Ya sudah. Terserah kamu saja! Ayo masuk kelas!" ajak Aldrin seraya menepuk pundak Naufal.


Begitu sampai depan ruang kelas, Angel menghampiri Aldrin. Gadis itu tak terima karena diputuskan secara tiba-tiba. Rupanya semalam lelaki itu mengirim pesan teks pada Angel yang berisi ajakan mengakhiri hubungan mereka.


"Apa smsku kurang jelas?" ketus Aldrin.


"Salah gue apa, sih? Kita baru saja jalan dua minggu. Terus masa kamu langsung minta putus?" tanya Angel dengan mimik kecewa.


Aldrin hanya diam dan terus berjalan. Sementara Angel mengejarnya dari belakang. "Aldrin, kasih dulu alasannya! Bukannya kita cocok. Terus kamu pernah puji aku pas main di hotel," lanjut Angel setengah berbisik.


Aldrin masuk ke kelas dan Angel tetap mengekornya dari belakang. Aldrin lmeletakkan tas di atas mejanya, lalu berkata, "Alasannya sederhana, ada orang yang aku suka. Paham?"


"Siapa, siapa orang itu?" selidik Angel.


"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.


Angel memukul meja karena kesal. Rasanya seperti hendak berteriak. Bagaimana bisa Aldrin mencampakkannya begitu saja? Ia adalah primadona sekolah yang diidam-idamkan seluruh siswa laki-laki. Sekelas Bryan pun tergila-gila padanya. Namun, Aldrin malah memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Bahkan, di saat hubungan mereka baru jalan dua minggu!


Angel menatap wajah Aldrin yang datar. Ia benar-benar tak berperasaan. Untuk sekadar memberi kata maaf pun enggan ia lakukan. Masih kesal, Angel melempar pandangannya ke arah Amaira yang sedari tadi duduk sambil mendengarkan pembicaraan mereka.


Angel tampak malu. Ia cepat-cepat berjalan menuju bangkunya. Amaira menoleh ke samping mencoba mengintip Aldrin yang langsung merebahkan kepalanya di atas meja sambil memejamkan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa bel tanda pulang telah berbunyi. Semua siswa tampak senang. Aldrin buru-buru keluar kelas sambil menggandeng tas ranselnya di pundak. Ia telah menunggu momen ini dari pagi. Tentu saja tak sabar untuk bertemu gadis misterius yang ia kenal melalui sambungan telepon.


Saat memasuki area parkiran, Bryan datang menghampirinya. "Main basket, yuk, Al!"


"Maaf Bray, untuk hari ini aku tidak bisa. Aku ada janji dengan seseorang," tolak Aldrin menunjukkan raut bahagia.


"Yah ... sayang banget kalau begitu."


Setelah berbicara dengan Bryan, Aldrin langsung menunggangi motornya. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan rata-rata. Sementara di sisi lain, Amaira berjalan pelan menuju pintu gerbang. Ia menatap jam di tangannya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Angel bersama empat kawannya berdiri di hadapannya. Sepertinya Angel masih belum puas menyakitinya.


Amaira menggelengkan kepalanya. Kakinya berjalan mundur menghindari mereka.


Tidak, tidak. Aku harus segera pergi. Aku harus segera menemuinya. Dia akan menemuiku sore ini. Dia menungguku sore ini. Aku harus segera datang ....


Amaira berlari meninggalkan mereka. Ia berusaha melangkahkan kaki selebar mungkin agar cepat sampai ke pintu gerbang. Dari arah belakang, Angel dan kawan-kawannya pun turut mengejarnya. Tasnya berhasil ditarik salah satu dari mereka. Ia jatuh terseret. Lututnya berdarah. Tak menyerah, ia berusaha bangkit dan berdiri. Ia kembali berlari. Namun, Angel menggapai pundaknya. Tubuhnya langsung disandarkan ke dinding. Gadis malang itu terpojok di sudut ruangan. Tak bisa berkutik.


"Kenapa lo menghindar? Lo sudah berani, ya, sama kita?!" teriak Angel dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


Amaira bergeming. Namun, matanya menatap tajam ke arah Angel. Secara tiba-tiba ia memukul kepala angel dengan tasnya.


Angel tersentak. Ia meringis kesakitan. Amaira mendorong salah satu dari mereka yang berusaha menahannya. Ia berhasil kabur dari mereka dengan berlari sekuat tenaga.


Aku akan segera ke sana, tunggulah aku! Aku akan menemuimu segera.


Amaira masih terus berlari. Napasnya tersengal-sengal. Peluhnya bercucuran di seluruh tubuh dan wajah cantiknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldrin baru saja membeli setangkai mawar merah dari toko bunga. Tak lupa ia melihat dirinya di cermin yang tersedia di toko itu. Ia berusaha memperbaiki gaya rambutnya dengan jari-jarinya sambil merekahkan senyum. Setelah membeli bunga, ia kembali menaiki motor sport kesayangannya menuju tugu Monas.


Aldrin telah sampai di tugu Monumen Nasional. Sore ini, tak terlalu banyak orang di monumen itu. Ia bisa melihat dengan jelas setiap orang yang lewat. Matanya berkeliling terus mengawasi sosok yang ia cari, yaitu gadis yang memegang setangkai bunga mawar.


Tak jauh dari tempatnya berpijak, terlihat seorang gadis masih berpakaian seragam yang sama dengannya, memegang setangkai bunga mawar yang sama sepertinya.


"Ah itu dia!"



Dengan senyum yang mengembang indah, Aldrin bergegas berjalan menuju gadis itu.


Satu langkah. Wajah gadis itu mulai tampak di penglihatannya. Jantungnya mulai berdebar-debar. Jujur, sensasi seperti ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Semakin dekat, wajah gadis itu semakin jelas tertangkap oleh matanya. Senyum lebar terpatri di wajah tampannya hingga memamerkan deretan gigi putihnya.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Sedikit lagi kakinya akan mencapai tempat gadis itu menunggu.


Namun, tiba-tiba senyum yang mengembang di bibirnya hilang seketika. Apa yang dilihat Aldrin saat ini, membuatnya benar-benar terlonjak. Gadis yang memegang setangkai mawar merah itu, bukan sosok yang baru dilihatnya. Ya, gadis yang berdiri sekarang sangat familiar. Dia sangat mengenalnya.


Gadis itu adalah Amaira! Gadis yang merupakan teman sekelasnya. Gadis yang duduk bersebelahan dengannya.


Gadis yang disukai Naufal!



Aldrin terhenti. Kakinya seakan tertancap di tanah. Tak bisa bergerak. Amaira tak melihatnya, tetapi ia bisa melihatnya dengan jelas dari jarak sekian langkah gadis itu berdiri. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa gadis yang ada di depannya sekarang bukanlah gadis misterius. Namun, setangkai bunga mawar di tangan gadis itu menjadi bukti bahwa Amaira adalah gadis yang diteleponnya setiap hari.


"Jika suatu saat nanti kita menyukai gadis yang sama ..."


"Itu tidak mungkin terjadi. Seleraku sudah pasti berbeda denganmu"


"Tapi jika itu benar terjadi, kita menyukai gadis yang sama. Bagaimana?"


"Aku akan mengalah, memberikan dia padamu."


"Apa kamu yakin?"


"Tentu. Aku tidak akan kehabisan stok cewek. Jadi, jika kita menyukai gadis yang sama, aku akan mengalah untukmu."


Seperti sebuah rekaman, tiba-tiba ia mengingat kembali percakapannya dengan Naufal. Pembicaraan itu seolah terputar kembali dalam ingatannya.


"Jika kita menyukai gadis yang sama, aku akan mengalah untukmu."


Sekali lagi, ucapan yang keluar dari mulutnya waktu itu terngiang kembali. Saat ini Aldrin masih terdiam. Ekspresi wajahnya tampak semakin kaku seperti sebuah patung. Dengan perlahan ia membalikkan badannya, membelakangi gadis yang masih berdiri menunggunya.



Aldrin melangkahkan kakinya. Terus berjalan. Jaraknya sudah semakin jauh dari tempat Amaira berdiri. Ia membuang mawar di tangannya, sebelum memutuskan pergi meninggalkan tempat itu.


bersambung...