Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 67 : Poor Boy :(




Amaira berjalan menuju ke perpustakaan, menyusuri taman sekolah yang dihuni beberapa pepohonan dan bunga-bunga indah.


"Amaira!"


Teriak seseorang dari belakang sana. Amaira menoleh ke belakang dan melihat Naufal yang masih memakai pakaian olahraga berlari padanya. Terlihat baju itu penuh keringat, rambutnya begitu lembab seperti habis keramas, serta wajahnya memerah akibat terbakar sinar matahari.


"Naufal, kamu dari mana saja? Aku tidak melihatmu setelah dari ruang UKS," tanya Amaira melihatnya dengan mimik heran karena cowok itu seperti tengah kelelahan.


Naufal mengabaikan pertanyaan Amaira, ia malah fokus dengan apa yang akan disampaikan pada gadis itu.


Sejenak, ia menghela napasnya sebelum berbicara. "Amaira, ada yang ingin kukatakan sama kamy. Dengarkan baik-baik! Kamu tidak perlu merespon ini, kamu hanya perlu mendengarnya. Oke?"


Dengan tubuh yang membungkuk dan suara yang terdengar gemetar dicampur napas yang masih terengah-engah, Naufal mencoba bicara.


"Namaku Naufal Ardhani. Umurku tujuh belas tahun, cita-citaku menjadi dokter. Dan ... aku menyukaimu ... aku menyukaimu, Amaira!" ucap Naufal dengan tegas dan lancar sambil setengah menunduk.


Mata Amaira melebar seketika diikuti dengan mulut yang setengah terbuka. Ia terperangkap dari rasa keterkejutan saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Naufal. Apakah laki-laki yang telah ia anggap sebagai satu-satunya sahabatnya ini sedang menyatakan perasaan padanya?


"Na–naufal, aku—"


"Stop! Jangan bicara!" Naufal memotong ucapan Amaira, seolah tak mengizinkan ia bersuara. "Aku tidak butuh jawabanmu ... aku tidak butuh kamu bakal terima atau menolak perasaanku. Aku cuma mau kamu dengarkan ini. Mendengar isi hatiku," ucap Naufal dengan mata yang berkaca-kaca.


Cowok itu kembali menunduk sambil berkata, "Aku Naufal Ardhani. Umurku tujuh belas tahun. Aku belum pernah pacaran dan aku sangat menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu selama ini. Aku menyukaimu, Amaira! Aku menyukaimu!"


Amaira masih bingung dengan apa yang ia dengar saat ini. Bagaimana tidak, Naufal terus mengatakan itu padanya dan tidak memberinya kesempatan untuk bicara.


"Namaku Naufal Ardhani. Umurku tujuh belas tahun. Aku menyukaimu. Aku menyukai Amaira Latisya, teman sekelasku! Jangan tanya alasan aku menyukaimu, karena aku pun tak tahu jawabannya!" Sekali lagi Naufal mengulang ucapannya dengan suara yang lantang dan wajah yang tak ada keraguan. Segala rasa malu dan gugupnya telah hilang bersamaan dengan rasa kecewa atas kekalahannya.


Naufal tak punya konsep untuk memikirkan kata-kata indah yang akan disampaikan sebagai pernyataan perasaannya. Ia hanya menyampaikan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Naufal jangan seperti ini ...," ucap Amaira pelan sembari meneguk ludahnya sendiri karena tenggorokannya terasa kering.


"Jangan bicara! Jangan bersuara!" potong Naufal kembali, "tolong dengarkan saja, cukup dengarkan!" lanjut Naufal sambil mengangkat satu tangannya memberi instruksi agar Amaira tidak berbicara.


Jujur, sama sekali tidak terpikir oleh Amaira jika ia akan mendengar pernyataan cinta yang begitu konyol dari cowok teladan di sekolah ini. Meskipun sebelumnya Naufal sudah menunjukkan cintanya pada gadis itu, tetapi ia tak pernah peka.


Amaira berdiri terpaku seakan sulit untuk bergeser maupun bergerak. Ia bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Takut jika perkataannya justru akan menyakiti Naufal.


Naufal menarik napasnya perlahan. Ia berusaha menciptakan senyum di wajahnya. "Sekarang ... aku sudah lega. Aku tidak butuh jawabanmu. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Karena aku tahu, tidak ada aku di hatimu. Hanya ada Aldrin. Tapi, kau selalu kutempatkan di relung hatiku," ucapnya kembali seraya menepuk dadanya.


Naufal langsung berbalik membelakangi Amaira yang masih terperangkap dalam kebingungan. Ia tak ingin Amaira melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia tak ingin Amaira tahu jika dia sedang rapuh saat ini. Ia hanya ingin gadis itu melihatnya sebagai sosok lelaki gentle.


Ada suatu kelegaan di hatinya. Perasaan yang ia pendam selama ini telah dimuntahkan. Pernyataan yang selama ini sulit keluar, akhirnya tersampaikan. Jika dulu ia selalu gugup dan gagap ketika ingin memulainya, sekarang semua pernyataan isi hatinya terkeluarkan dengan lancar. Meskipun kenyataan yang ada, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Saat ini, ia dan Amaira berdiri di taman sekolah, yaitu tempat pertama kali Amaira membuka Masker penutup wajahnya, hanya untuk menunjukkan wajah aslinya ke Naufal seorang. Ya, setidaknya Naufal adalah orang pertama yang mendapatkan kesempatan itu. Di tempat ini, ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Amaira. Di tempat ini pula, ia akhirnya menyatakan perasaan yang sebelumnya telah banyak kali tertunda, dan di tempat ini juga, ia mengalah dan harus berhenti mengejar cinta gadis itu.


Naufal telah kalah telak dari Aldrin, dan sebagai lelaki sejati, ia harus menerima kekalahan itu. Meskipun seandainya saat pertandingan tadi ia menang, sebenarnya ia pun tetap kalah. Sebab, Aldrin telah memenangkan hati Amaira. Ya, hanya ada Aldrin di hati Amaira.


Setelah Naufal mengakui kemenangan Aldrin. Ia meminta satu hal pada sahabatnya itu. Permintaannya adalah membiarkan ia mengungkapkan perasaannya pada Amaira. Setidaknya, Amaira harus tahu jika dirinya sangat menyukai gadis itu. Meskipun Amaira tidak pernah tahu, kelakuan-kelakuan konyol yang pernah ia lakukan untuk merebut hatinya.


Aldrin menyetujuinya. Sebagai ungkapan maafnya kepada Naufal, Ia membebaskan sahabat kecilnya itu untuk mengungkapkan isi hati pada Amaira. Ia telah berhianat pada temannya itu. Ia telah lancang jatuh cinta pada gadis yang juga dicintai lebih dulu oleh sahabatnya. Oleh sebab itu, dia bersedia menerima apabila Amaira menerima pernyataan cinta Naufal.


Naufal mengusap kedua matanya. Ia berlari pergi meninggalkan Amaira yang masih berdiri terpaku. Dari jauh, Aldrin berdiri di balik tembok. Ia menyaksikan keduanya sedari tadi. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Ia menang, tetapi tak merasa bahagia.


Bagaimana mungkin ia akan senang sementara ada hati yang terpatahkan akibat dirinya?




Bersambung...


kira-kira lagu apa yang cocok untuk mewakili perasaan naufal saat ini?? kasih tau donkk... jangan lupa like, beri bintang 5, vote dan komen yaaa