
"Tidak salah bukan, jika aku berdoa seperti itu?" tanya Keyla dengan polos hendak meminta pendapat Naufal.
Wajah Naufal menegang dengan rahang yang mengetat. Ia terdiam cukup lama dengan tetap menatap wajah Keyla.
"Salah!"
Ucapnya tegas setelah bergeming selama beberapa detik. Keyla menyipitkan matanya dan membela diri. "Apa kau berpikir aku sangat jahat?"
Kali ini ucapan Keyla menjadi sangat hati-hati karena melihat perubahan ekspresi di wajah Naufal.
"Keyla, kau sangat egois. Hanya demi kau bisa hidup panjang, kau tega meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawa seseorang?" ucap Naufal dengan nada tinggi dan sorot mata yang tajam.
"Bukankah semua orang akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku? Dokter mengatakan orang itu tak punya harapan untuk hidup lagi dan hanya tinggal menunggu waktunya saja—"
"Stop! Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah mendoakan seseorang yang tidak baik, karena doa itu akan berpulang pada dirimu sendiri!"
Masih dengan mata yang menyala tajam, Naufal kembali menekan suaranya, "Sebaiknya kita tak perlu bertemu lagi. Ini terakhir kalinya aku menemuimu di sini."
Naufal langsung berbalik meninggalkan Keyla di atas gedung itu. Bahkan ia tak memberi kesempatan gadis itu untuk menyentuhnya. Amarahnya memuncak dan darahnya merangkak naik ke otak saat gadis itu menceritakan tentang permohonannya pada Tuhan untuk segera mencabut nyawa Aldrin. Ia terus berjalan meninggalkan Keyla. Tak sedikit pun ia menoleh kembali meskipun gadis itu berkali-kali memanggil namanya.
Naufal memutuskan untuk kembali ke kamar perawatan Aldrin. Namun, langkahnya terhenti saat dari jauh ia melihat ibu Keyla sedang memohon setengah berlutut di depan Ardhilla dan juga Amaira.
"Mohon kasihani anakku, sepanjang hidupnya hanya dihabiskan di rumah sakit. Setidaknya dengan jantung yang baru, akan memperpanjang usianya," ucap ibu Keyla sambil memohon dengan menyatukan kedua tangannya.
Ardhilla langsung masuk ke dalam ruangan, memilih mengacuhkan ibu itu. Sementara Amaira mendekati ibu yang berlutut lalu dengan susah payah mengangkatnya sambil berkata, "Ayo bangun, Bu. Jangan seperti ini!"
Seorang ibu memohon sambil berlutut demi kesembuhan anaknya di depan seorang Ibu yang juga berharap anaknya segera sadar. Bukankah ini adalah pemandangan yang sangat miris?
Sungguh, apakah tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana berartinya kehidupan anak bagi setiap orangtua?
Melihat adegan itu, membuat hatinya sembilu. Ia seakan diterpa dilema dan hanya bisa memejamkan mata. Pikirannya seperti terbagi dua antara Aldrin yang telah lama ia kenal ataukah Keyla, gadis yang baru saja ia kenali.
Keyla memang pernah bercerita pada Naufal, bahwa dia pernah mendapat serangan jantung mendadak dan koma selama beberapa hari saat tak sengaja dikagetkan oleh temannya. Juga saat mengikuti pelajaran olahraga di sekolahnya. Sejak saat itu, sepanjang hidupnya hanya berdiam diri di rumah saja. Setelah itu, ia dilatih untuk selalu tetap tenang sepanjang waktu dan tidak boleh menerima adrenalin yang terlalu kencang agar usianya bisa lebih panjang.
Oleh sebab itu, Naufal mengerti perasaan ibunya saat ini dan juga mulai mengerti dengan tingkah Keyla saat berbicara dengannya barusan.
**
Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari dan mata Amaira masih siaga untuk menjaga Aldrin. Ia memegang punggung tangan suaminya dengan lembut. Membayangkan segala kenangan indah yang telah mereka ukir bersama. Semua kenangan silih berganti terbayang jelas dalam benaknya.
Bagaimana saat keduanya saling melepas perasaan mereka masing-masing. Mendengar pernyataan cinta Aldrin padanya melalui sambungan telepon. Kemudian menghadapi badai putus sambung hubungan mereka.
Tangan kiri Amaira memegang bibirnya sendiri, mengingat saat pertama kali Aldrin mengambil ciuman pertamanya. Sedang tangan kanannya semakin menggenggam tangan kanan milik Aldrin. Mengingatkan bahwa mereka pernah saling menghapus air mata dan saling menguatkan dari ujian hidup yang menerpa keduanya.
Amaira masih mengingat betul, bagaimana saat ia menyerahkan mahkota kewanitaannya pada pria itu, saat pertama kali mereka menjadi satu, saat detak jantung keduanya menyatu bersama, lalu saling menikmati. Dan saat itu pula, ia telah menjadi milik Aldrin seutuhnya.
Ya, Aldrin adalah cinta pertamanya.
**
Pada esok harinya, ketika matahari tak pernah absen memancarkan sinarnya dan langit tetap memilih awan sebagai pendampingnya.
Saat ini, Naufal tengah bersiap menuju Rumah Sakit. Semalam ia memutuskan pulang ke rumah untuk menenangkan dirinya, dan setelah merenung lama, ia sadar jika telah bersikap kasar pada Keyla. Jujur, ini pertama kalinya ia begitu marah pada seorang gadis. Mungkinkah gadis itu bersedih atas sikap dan ucapannya?
Sebelum ke rumah sakit, Naufal memutuskan untuk singgah ke toko bunga. Ia bermaksud mencari bunga untuk ia berikan pada Keyla sebagai permintaan maafnya ke gadis itu. Ketika dia sibuk memilih-milih bunga, seorang karyawan toko menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya ramah dengan bahasa Inggris yang terbatas.
"Aku mencari bunga untuk seorang wanita. Bunga yang spesial!" ucap Naufal sambil memegang sebuah buket bunga indah, ia merasa bunga itu sangat cocok untuk Keyla.
"Kalau begitu yang Anda pegang saat ini tidak cocok untuk orang yang spesial. Karena buket bunga itu untuk ungkapan duka cita," ujar karyawan memberi tahu Naufal bahwa bunga yang dipilihnya adalah bunga yang mewakili belasungkawa.
Naufal segera meletakkan bunga tersebut dan memilih bunga yang di rekomendasikan karyawan, yaitu buket bunga lili berwarna putih. Setelah selesai membeli bunga, ia bergegas membawa mobilnya menuju Rumah Sakit. Dengan tak sabar, ia melangkah cepat menuju ruang rawat Keyla sambil membawa buket bunga yang cantik.
Naufal menarik napasnya perlahan, sebelum membuka pintu kamar Keyla. Perasaan menjadi begitu was-was. Apakah gadis itu masih ingin bertemu dengannya? Apakah gadis itu masih akan menyambutnya dengan sebuah senyum?
Naufal langsung bertanya pada Suster yang kebetulan lewat, "Suster, di mana pasien yang dirawat di kamar ini?"
"Oh ... pasien penyakit jantung asal Indonesia?" tanya perawat itu memastikan.
Naufal mengangguk cepat menjawab iya.
"Dia telah meninggal dunia jam dua dini hari," ucap suster itu yang kemudian berlalu.
Naufal membelalakkan matanya. Ia menjatuhkan buket bunga yang di bawanya untuk gadis itu. Jantungnya berpacu cepat dengan irama yang tak karuan. Ia bagai tersengat aliran listrik saat mendengar informasi dari perawat tadi.
Meninggal dunia?
Dia meninggal dunia?
Gadis pelukis itu meninggal?
Benarkah? Bukankah mereka baru saja bertemu semalam?
Naufal berjalan lunglai meninggalkan kamar Keyla. Tatapannya menjadi gamang, kepalanya seperti berputar-putar dan ia memutuskan untuk berlari puncak menuju atap gedung rumah sakit. Di tempat ini, ia bertemu gadis itu tiap malam. Gadis yang memiliki karakter yang lembut sama seperti Amaira.
Naufal telah sampai di puncak tertinggi gedung Rumah Sakit. Persediannya melunglai dan ia ambruk ke lantai dengan posisi berlutut. Matanya mulai berkaca-kaca dan dadanya terasa sesak. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun, tak berhasil. Tangisnya pecah tak terbendung. Ia menangis dalam sesak dan menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menepuk-nepuk dadanya.
Apa yang sedang ia rasakan saat ini? Kenapa dia menangis? Apakah dia sedang meratapi kematian Keyla?
Oh ... dia sedang meratapi dirinya sendiri. Meratapi kebodohannya. Menyesali kata-kata yang ia keluarkan semalam pada gadis itu. Emosi membawanya lupa jika gadis itu tak boleh memiliki perasaan berlebihan seperti senang maupun sedih. Dia sedang menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian gadis itu.
Dan akhirnya terulang kembali seperti ini ....
Seperti kisahnya dengan Er yang berakhir dengan kepergian Er dari hidupnya yang entah ke mana. Sekarang pun begitu. Keyla meninggalkannya untuk selama-lamanya bahkan di pertemuan mereka yang begitu singkat, yaitu hanya sebelas hari sejak Aldrin dirawat.
Ia seperti tak dapat memaafkan dirinya sendiri. Dua gadis yang secara gamblang mengakui memiliki perasaan padanya, pada akhirnya berakhir sama. Bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkannya. Dan itu semua karena kebodohannya sendiri.
Angin berembus kencang, seolah ingin menerbangkan segala kepedihan dan seolah hendak menjadi pelipur laranya saat ini. Di tengah hatinya yang seperti teriris sembilu, ia dapat merasakan getaran ponsel di saku celananya. Ia menghapus genangan air di sudut matanya dan segera mengambil ponselnya.
Sebuah panggilan dari Ardhilla terbaca jelas di layar ponselnya. Ia berdehem sesaat agar dapat menetralkan suaranya sebelum menerima panggilan telepon.
"Naufal ...."
Ardhilla memanggil namanya dengan cepat begitu panggilan tersambung dan terdengar suara isaknya sehingga membuat Naufal menjadi panik.
"Kenapa, Bu?" tanya Naufal penasaran.
"Al--Aldrin ...." ucap Ardhilla dengan terbata-bata.
"Aldrin kenapa?" tanya Naufal mendesak diiringi detak jantung yang mulai berpacu cepat.
"Aldrin ... Aldrin telah sadar!" lanjut Aldhilla dengan suara tawa bahagia.
.
.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like