Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 135 : Restu



"Ayo Mas, ikut saya ke ruang ganti untuk tes jas pengantinnya." Asisten itu mengulang ucapannya sekali lagi.


"Dia ... bukan calonku." Suara Amaira datang dari arah sana. Naufal menoleh kembali ke arah Amaira yang masih berdiri dengan gaun yang begitu cantik.


"Oh, maaf. Saya kira Mas calon pengantinnya. Kalau gitu mana calon pengantin pria?" tanya asisten itu.


"Dia lagi di luar. Tunggu sebentar," jawab Naufal.


Tidak lama kemudian Aldrin masuk kembali menghampiri Naufal. Mata lelaki itu langsung mengarah pada Amaira. Untuk beberapa detik mata itu masih memandang sosok cantik hingga tak berkedip sedikitpun. Amaira tertunduk malu mendapati dua lelaki tampan memandangnya seperti itu.


"Dia pengantin prianya," ucap Naufal pada asisten tadi.


"Mas silakan ke ruang ganti untuk tes bajunya," pinta asisten itu mengarahkan Aldrin masuk ke ruang ganti.


Selang beberapa menit kemudian, Aldrin keluar dengan jas pengantin berwarna putih.


"Wah ... kamu terlihat dewasa banget!" puji Naufal menepuk-nepuk pundak Aldrin.


Aldrin melihat penampilannya di cermin besar lalu ia menghampiri Amaira yang juga masih memakai gaun pengantin.


"Hei, kalian, ayo lihat ke sini!"


Naufal mengarahkan kamera ponselnya ke Aldrin dan Amaira. Ia mengambil beberapa pose foto calon pengantin tersebut. Setelah selesai fitting baju, mereka memutuskan untuk menemui Tuan Adam di Perusahaan Adam Grup.


Di tempat lain, Zaki sedang duduk bersama manajer yang mengurus karirnya di dunia musik piano.


"Ada kabar yang kurang menyenangkan," ucap sang manajer.


"Apa itu?" tanyanya santai sambil menyilangkan satu kaki ke atas pahanya.


"Aku mendapat info dari panitia penyelenggara, jika penghargaan untukmu sebagai pemain musik muda terbaik di Indonesia dibatalkan."


Zaki mengerutkan dahinya. "Kenapa?"


"Karena ada satu orang yang masuk dikategori yang sama denganmu. Kamu tahu siapa?"


Zaki mengernyitkan mata sambil menggeleng-geleng kepalanya tanda ia tak tahu.


"Aldrin!"


Zaki terhenyak seketika. "Aldrin?"


"Iya, Aldrin. Adik tirimu dulu. Saat ini dia juga sangat digandrungi remaja sama sepertimu. Aku sudah mengajukan komplain, tapi mereka bilang anak itu yang mendaftar sendiri ke kompetisi. Jadi mau tak mau kamu harus berhadapan dengannya untuk memenangkan kompetisi penghargaan bergengsi ini," terang manajer menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Zaki.


Zaki bergeming. Ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela, menatap lurus ke depan sambil tampak memikirkan sesuatu.


"Kalau kamu mau, aku akan mencari cara agar dia didiskualifikasi sebelum acara itu berlangsung," ucap manajernya kembali setengah berbisik.


"Tidak perlu!" tegas Zaki yang masih menatap lurus ke depan.


Manajernya menatap heran ke arahnya.


Zaki memalingkan wajahnya ke arah manajer seraya berkata, "Menang tanpa lawan bukanlah kemenangan yang sesungguhnya. Aku akan menjadi juara setelah mengalahkannya. Tenang saja!" Mata Zaki memancarkan kilauan cahaya yang penuh percaya diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldrin dan Amaira memasuki gedung perusahaan Adam Grup. Beberapa karyawan menyapa Aldrin karena masih mengenalnya sebagai anak yang pernah magang di perusahaan itu. Saat Aldrin dan Amaira masuk ke dalam ruang Presiden Direktur, Tuan Adam langsung berdiri dari tempat duduknya menyambut hangat sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah.


Aldrin dan Amaira langsung menyalami tangan Tuan Adam.


"Apa kabar, Yah?" tanya Aldrin.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik. Ayo duduklah!" Tuan Adam mempersilakan keduanya untuk duduk di sofa.


"Seharusnya kalian datang malam ini di rumah biar kita bisa sekalian makan bersama," lanjut Adam.


"Tidak apa-apa. Lagi pula, masih banyak yang harus kami urus bersama," ucap Aldrin tersenyum.


Di tengah perbincangan Aldrin dan Tuan Adam, ternyata Zaki telah kembali ke kantor. Ia menuju ruang Presdir. Namun, langkahnya dihentikan sekertaris Tuan Adam.


"Maaf Manajer, Presdir sedang menerima tamu," ucap sekertaris menghalangi Zaki untuk masuk.


"Oh .... " Zaki menatap ke arah pintu Presdir. Dan ia bersedia menunggu di depan.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Aldrin dan Amaira berpamitan pulang. Saat membuka pintu, Aldrin dan Zaki langsung berhadapan dan bertemu muka. Keduanya terdiam untuk sesaat.


"Apa kabar?" tanya Aldrin berusaha memecahkan keheningan di antara mereka.


"Baik. Kudengar kamu akan menikah, ya?" Zaki menoleh ke arah Amaira yang berdiri di samping Aldrin.


"Ya, lusa. Aku telah menitip undangan ke Maria. Kalau kamu punya waktu, jangan lupa untuk datang," ucap Aldrin.


"Akan kupertimbangkan. Tapi, sepertinya aku tidak sempat, karena harus mempersiapkan diri untuk kompitisi yang semakin dekat." Sorot mata Zaki berubah menjadi tajam, dan senyum samar terukir di bibirnya.


Aldrin menaikkan salah satu ujung bibirnya, sambil mengangkat satu alisnya ia berkata, "Tidak datang juga tidak masalah. Kita masih bisa bertemu di Singapura, 'kan?"


"Tentu," jawab Zaki.


Setelah dari kantor, Aldrin mengantar Amaira pulang ke rumahnya.


"Istirahatlah! jaga kondisimu," ucap Aldrin sambil mengelus lembut kepala Amaira.


Amaira mengangguk pelan. "Kamu juga."


Aldrin tersenyum. "Aku masih ingin ke suatu tempat."


Aldrin mengendarai motornya dengan laju.


Sore hari, setelah bertemu Tuan Adam dan mengantar Amaira pulang, Aldrin menuju ke tempat pemakaman umum. Ia berjalan menuju ke pusara ayah kandungnya.


"Apa kabar?" tanya Aldrin sambil memandangi pusara ayahnya.


"Aku akan menikah dengan gadis pilihanku. Mohon restunya," ucapnya lanjut sambil menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit biru.


Aldrin menghela napasnya, lalu berjalan mendekat ke pusara dan meletakkan buket bunga di atas pusara. Terlihat dua buket bunga lainnya di atas tanah pusara. Buket-buket bunga itu adalah pemberian Aldrin setiap berkunjung ke makam ayahnya.


Aldrin membalikkan badannya hendak meninggalkan pusara tersebut, tetapi langkahnya terhenti seketika saat melihat seorang wanita berperawakan keibuan dengan memakai pakaian hitam dan payung di tangannya berdiri tepat di depannya.


"Jadi kamu yang selama ini meletakkan bunga-bunga itu di makam suamiku?" tanya wanita itu dengan dingin.


Aldrin terdiam, ia tak menjawab dan hanya memilih menundukkan pandangannya.


"Akhirnya ibumu benar-benar mengakui kalau kamu adalah anak hasil perzinahan mereka berdua," cibir wanita itu dengan nada menahan emosi.


Lagi-lagi Aldrin hanya diam. Tidak mungkin untuk menjelaskan jika ia tahu hal itu dari sampel tes DNA yang ia ambil sendiri, bukan?


"Kenapa kamu rutin mengunjungi makam suamiku? Apa kamu mau dapat pengakuan dari keluarga Arnold? Ingin menggantikan posisi Bryan sebagai cucu tunggal keluarga Arnold?" Masih dengan nada emosi, wanita itu menyerbunya dengan pertanyaan.


"Aku baru mengetahui jika beliau adalah ayahku. Selama tujuh belas tahun aku tidak pernah mengunjungi makamnya. Jadi aku rutin mengunjunginya untuk menggantikan waktu-waktu yang telah berlalu," jawab Aldrin perlahan.


Masih dengan sorot mata yang hendak menerkam, wanita itu kembali mencibir, "Hah ... kamu hanyalah anak liar dari ibumu yang tidak tahu malu!"


"Nyonya, Anda sangat membenci ibuku. Tapi Anda tidak membenci suami Anda. Anda bahkan rutin mengunjunginya juga. Padahal, kenyataannya suamimu telah berkhianat dan menghasilkan aku. Dalam kasus ini, suamimu lebih bersalah dari aku dan juga ibuku. Jika, dia sangat mencintaimu ... dia tidak akan selingkuh dengan ibuku. Dan Anda ... juga salah." Terang Aldrin dengan tatapan tak berkedip.


"Aku salah katamu?" tanya wanita itu kembali.


"Ya. Kesalahan Nyonya adalah mencintai orang yang telah mengkhianati makna pernikahan. Tapi, anggaplah itu semua karena Anda memiliki sifat pemaaf. Lantas, jika Anda bisa memaafkan suami yang telah berkhianat ... kenapa Anda tidak bisa memaafkanku yang tidak tahu apa-apa?" sambung Aldrin.


Mendengar ucapan Aldrin, membuat wanita itu terdiam seketika. Ia memalingkan wajahnya berusaha menghindari tatapan mata Aldrin. Sementara Aldrin melangkahkan kakinya melewati wanita itu dan berjalan pergi meninggalkan pusara ayahnya. Wanita itu mendekat ke makam suaminya dan melihat bunga-bunga yang Aldrin bawakan.


Aldrin membawa motornya melaju kencang. Sepanjang jalan ia mengilas balik kembali perjalanan hidupnya. Saat ia mengamen, saat ia diambil ibu kandungnya dan berpisah dengan ayah angkatnya, saat hari-hari sepinya ditemani Naufal, saat ia hidup di Amerika dan salah pergaulan, saat ia pulang ke Indonesia dan berjumpa dengan Amaira, dan saat satu per satu fakta di hidupnya terungkap. Tentang Jefri yang bukan ayah angkatnya, tentang dia anak hasil hubungan gelap, tentang ia dan Bryan terikat hubungan darah. Semuanya seperti terputar kembali di benaknya seolah seperti sebuah rekaman film yang telah ditonton dan diulang kembali.


Adakah orang di dunia ini yang hidup sempurna? Adakah orang di dunia ini yang hidup tanpa masalah? Tanpa mendapat ujian dari Tuhan? Keadaan ini memaksaku untuk bangun dan beranjak hingga menjadikan aku, pribadi yang kuat.


Aldrin menambah laju gas motornya. Ia berhenti di sebuah lokasi. Yang mana lokasi itu adalah tempat akan diadakan pesta pernikahannya nanti. Mereka memilih tema pernikahan outdoor dengan dekorasi pernikahan kasual di taman, menyesuaikan umur mereka yang masih muda.


Dalam hitungan waktu yang berputar begitu cepat, lokasi yang masih kosong itu telah berubah begitu indah dan romantis, lengkap dengan dekorasi pernikahan yang diidamkan Amaira dan Aldrin.


.


.


.


.


.