
Dengan cepat Naufal menutup mulut Aldrin agar tak membaca seluruh tulisan dalam buku itu.
Amaira melangkah pelan ke dalam kelas. Kehadirannya pagi itu membuat seisi ruangan menatap ke arahnya. Mereka terperanjat melihat gadis itu sampai-sampai tak mengerjapkan mata. Bagaimana tidak, gadis yang baru saja masuk itu memiliki paras yang sangat cantik bak boneka hidup.
"Siapa dia? Kenapa masuk di kelas kita?" tanya salah satu dari anggota geng Angel.
Amaira berjalan sambil menunduk menuju tempat duduknya. Seisi kelas makin tercengang saat mengetahui gadis cantik itu duduk di bangku tempat murid aneh. Artinya, gadis itu adalah murid baru yang selama ini memakai masker. Benar-benar sebuah kejutan, bukan?
"Ter–ternyata dia siswa aneh itu!" ucap teman Angel menunjuk ke arah Amaira.
"Gila! Cantik banget! Lebih cantik dari Angel malah!" seru salah satu siswa laki-laki.
Sontak, Angel langsung melempar tatapan sinis ke arah Amaira. Kedua tangannya mengepal, dan raut wajahnya tampak menahan kekesalan. Sebab, semua teman-teman di kelasnya memuji kecantikan gadis aneh itu. Bahkan ada banyak pasang mata yang tak henti-hentinya menatap takjub ke arah Amaira.
Naufal dan Aldrin masuk ke kelas di saat semua siswa sedang heboh melihat penampilan terbaru gadis aneh itu. Aldrin masih terus mengusili Naufal setelah mengetahui isi buku yang ditulisnya.
"Sumpah! Aku enggak menyangka kamu bisa jatuh cinta sama cewek! Kirain cuma jatuh cinta sama buku pelajaran!" ejek Aldrin sambil terus tergelak.
Naufal membatu. Wajahnya merah padam. Tentu saja malu karena Aldrin telah mengetahui jika ia menyukai murid baru itu. Sialnya, dia sama sekali tidak bisa mengelak.
"Aku sudah curiga saat kamu tanya soal cokelat. Ayo, cepat katakan perasaanmu sama dia. Nanti keduluan sama orang lain, loh! Bakal tinggal gigit jari sambil menangis di pojokan deh, haha-haha," Aldrin kembali melempar kalimat ejekan.
Naufal bergeming. Ia malah menoleh ke belakang, menengok Amaira yang sedang duduk sambil membaca. Ada beberapa teman sekelasnya yang mendekati gadis pendiam itu untuk meminta nomor ponsel. Sayangnya, gadis itu memilih mengabaikan mereka dan tetap fokus dengan buku bacaannya.
Naufal berpikir, mungkin yang dikatakan Aldrin benar. Jika ia tidak segera mengungkapkan isi hatinya, maka akan ada orang yang lebih dulu melakukannya. Apa lagi sekarang gadis itu tidak menggunakan masker lagi.
Naufal masih menatap tak mengerjap ke arah gadis itu. Semakin lama ia menatapnya, semakin tumbuh rasa kagumnya. Semakin bersemi pula rasa cintanya. Tanpa ia sadari, Aldrin memperhatikan dirinya sedari tadi. Tentu saja dia tahu jika saudaranya itu sedang memandangi gadis yang disukainya.
"Woi!" teriak Aldrin sambil menepuk pundak Naufal.
Naufal tersentak kaget. Bahunya refleks terangkat bersamaan dengan membuyarnya lamunan cowok itu. Dia mengalihakan pandangannya ke arah Aldrin. Bengong.
"Dari tadi cuma berani lihat doang. Mau aku bantuin kasih tahu, enggak?"
"Jangan! Jangan bilang apa-apa! Aku, aku belum punya persiapan apapun."
"Hah? Cuma menyatakan cinta saja perlu pakai persiapan? Bukannya tinggal bilang, aku suka kamu. Mau enggak kamu jadi pacarku?"
Wajah Naufal kembali memerah. Apalagi Aldrin terus-menerus mengejeknya. Ia memegang telinganya. Lalu menggaruk kepalanya seolah sedang gatal. Malu, benar-benar malu! Betapa ia hendak lenyap dari ruangan itu dari pada harus menghadapi ejekan Aldrin.
Jam istirahat pun tiba. Naufal masuk ke kelas sambil memegang es krim di kedua tangannya. Ia bermaksud memberi salah satu es krim itu pada Amaira. Saat memasuki kelas, ia tertegun melihat tempat duduk gadis itu kosong.
"Kemana dia?" pikir Naufal saat ini.
Pandangannya beralih ke sekelompok cewek-cewek yang sedang bergosip di sudut kelas. Ia menghampiri mereka dan menanyakan apakah mereka melihat Amaira. Salah satu dari mereka mengatakan jika gadis itu tadi dibawa Angel dan kawan-kawannya menuju toilet paling ujung di sekolah itu.
Naufal terlonjak. Firasatnya berkata ini pasti tidak beres. Ia langsung berlari menuju toilet yang dimaksud.
Angel bersama gengnya sedang menginterogasi Amaira di toilet siswa yang letaknya paling ujung di sudut area sekolah. Angel mendekati Amaira itu, menatapnya lekat-lekat seolah hendak menelannya. Gadis itu berdiri tersandar di tembok sambil menunduk.
"Bagus, ya akting lu! Pertama, sok-sok pakai masker dan bertingkah aneh biar menarik perhatian. Sekarang malah sok kecantikan. Lo pikir, lo paling oke, gitu?!" teriak Angel dengan mata yang melotot tajam sambil mendorong Amaira hingga membuatnya tersungkur di lantai.
"Lagi hits banget dia sekarang, semua orang pada penasaran. Kakak kelas saja sampai mondar-mandir di depan kelas. Lama-lama julukan siswa primadona bakalan dia ambil tuh!," ujar salah satu teman Angel sambil melempar tatapan jijik ke arah gadis itu.
Mendengar ucapan temannya, membuat Angel makin berang. Ia mengambil selang panjang, menghidupkan keran lalu mengguyur tubuh Amaira dari atas kepala.
"Lo pikir, wajah lo itu bisa menarik perhatian semua cowok yang ada di sekolah ini?" teriak Angel sambil terus menyiram Amaira dengan air.
Tubuh Amaira basah kuyup. Anehnya, dia tetap diam. Tak ada perlawanan sedikit pun. Seperti tikus yang masuk dalam perangkap. Tak berkutik. Hanya pasrah menerima guyuran air dari selang.
"Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara datang dari arah belakang.
Angel tersentak. Ia dan kawan-kawannya kompak menengok ke arah sumber suara. Saat ini, Aldrin berdiri tepat di depan pintu sambil menyandarkan tangannya di tiang. Lelaki itu tampak mengunyah permen karet.
Secara spontan, Angel menjatuhkan selangnya. "Selamat! kali ini Lo tertolong, tapi gue akan ngelanjutin besok. Siap-siap aja!" bisik Angel menepuk pipi gadis itu.
Angel lalu menghampiri Aldrin. Ia memegang bahu cowok berambut pirang itu sambil berkata, "Gue cuma lagi main-main sama anak baru kok. Tapi sekarang sudah selesai."
Setelah berkata, Angel dan kawan-kawannya memutuskan meninggalkan toilet itu. Kini, hanya ada Aldrin dan gadis malang itu. Aldrin melangkah pelan mendekati Amaira yang terduduk kaku dengan seluruh tubuh yang basah. Ia mematikan keran air, lalu mengulurkan tangannya.
Amaira menatap tangan Aldrin. Dengan ragu-ragu, ia menyambut uluran tangan itu dan berdiri dengan bantuan Aldrin.
Kini keduanya saling berhadapan. Namun, mereka sama-sama mematung. Merasa kasihan, tangan Aldrin mencoba menyentuh pundak gadis itu. Namun, ia menarik kembali tangannya.
Naufal pun tiba di tempat itu dengan napas yang tersengal-sengal akibat berlari kencang. Matanya tertuju ke arah Aldrin dan Amaira. Ia tersentak melihat pakaian Amaira yang basah kuyup. Dengan sigap, ia membuka almamaternya lalu memasangkan ke punggung gadis itu.
Siang itu, mereka bertiga berada di atap gedung sekolah. Di bawah terik matahari, Naufal mengambil seragam yang basah, lalu menjemurnya di seutas tali tambang yang diikat pada tiap ujung pilar. Setelah menjemur seragam, ia menoleh ke arah Amaira yang duduk terdiam sambil memeluk kedua lututnya. Saat ini, ia memakai seragam olahraga yang berukuran lebih besar dari ukuran tubuhnya. Rambutnya masih tampak basah.
Naufal menghampirinya. Ia turut berjongkok di hadapan Amaira. "Tunggulah sampai seragammu kering!"
Amaira masih duduk meringkuk dengan wajah yang ia sembunyikan di atas lututnya yang terlipat.
"Jangan takut! Mereka hanya usil," ucap Naufal kembali sambil memegang kedua pundak gadis itu.
Amaira menegakkan kepalanya. Namun, bukannya menatap wajah Naufal yang sekarang ada di hadapannya, ia malah mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Diam-diam, ia mencuri pandang ke arah Aldrin yang duduk di tepi atap sambil memandang langit cerah.
Cowok berambut emas itu tampak sibuk dengan dunianya. Ia bahkan mengabaikan Naufal dan Amairam Itu karena ia menyumbat telinganya dengan earphone yang tersambung pada pemutar musik.