Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 54 : Tidak untuk saat ini ....



Aldrin terkejut mendengar tawaran Ayah tirinya. Ia telah tinggal di Los Angeles- selama sembilan tahun, dan mengetahui jika kota itu mempunyai banyak sekolah musik yang menghasilkan musisi ternama. Ia sering melewati sekolah-sekolah musik tersebut. Hanya saja, saat itu ia masih kecil, masih takut untuk bermimpi besar. Pikirannya hanya tertancap jika dia harus secerdas Zaki dan juga Naufal.


"Bersekolah di sekolah musik?" Aldrin bertanya kembali seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Iya, kamu tinggal pilih sekolah mana yang kamu suka, aku akan mengurusnya," ucap Adam dengan penuh keyakinan.


Aldrin terdiam sejenak, tetapi matanya tetap menatap kedua bola mata pria tua yang ada di hadapannya. Raut wajah kedua pria yang usianya terpaut jauh itu sangat serius.


Dengan masih tetap berada dalam pandangan yang sejajar dengan ayahnya, Aldrin mencoba bicara.


"Aku mau ...."


Tuan Adam mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Aldrin.


"Tapi ... tidak sekarang!" Aldrin melanjutkan ucapannya yang membuat senyum Adam memudar.


"Tidak untuk saat ini," tegas Aldrin sekali lagi, "Untuk sekarang, aku tidak mau ke sana. Aku sudah mengalami banyak hal di sana. Aku tidak mau kembali ke masa itu. Di sini, paling tidak aku masih punya sahabat, aku masih punya Naufal. Biarkan aku menyelesaikan sekolahku di sini. Aku akan menjadi pemain biola dengan usahaku sendiri," ucapnya kembali.


Pria tua itu kembali tersenyum, sepertinya ia bisa menerima alasan penolakan anaknya. Pria ini adalah sosok Ayah yang bijak. Ia menyukai seseorang yang mempunyai keyakinan dan percaya diri yang kuat. Ia tak akan memaksa kehendak anak-anaknya, seperti Naufal yang tak mau berkecimpung di perusahaan dan memilih menjadi dokter.


"Aku suka dengan jawabanmu. Kamu harus menunjukkan padaku bahwa apa yang kamu bilang itu akan benar-benar terwujud," ucap Adam. Ia pun berdiri hendak beranjak keluar dari kamar tidur Aldrin.


"Aku juga akan menunggu Ayahku di sini!"


Ucapan Aldrin menghentikan langkah kaki Adam. Ia memalingkan badannya kembali, menatap Aldrin yang telah berdiri dari duduknya.


"Bagaimana ... kalau Ayahmu tidak kembali?" tanya Adam dengan hati-hati mencoba tak melukai hati anak itu.


"Tidak. Dia akan kembali, dia akan datang menemuiku," balas Aldrin dengan cepat tapi matanya berubah menjadi sendu. Ada sebuah genangan air di matanya.


Adam menarik napasnya, ia hanya bisa mengangguk lalu berbalik dan pergi meninggalkan Aldrin.


Aldrin terduduk kembali di pinggir ranjangnya. Ia menunduk dan menutup matanya. Tak terasa celananya membentuk sebuah bulatan kecil yang basah. Ya, air matanya telah jatuh.


Ia telah melewati banyak hal saat ia tinggal di Amerika tepatnya di kota Los Angeles-. Saat pertama kali berada di sana, ia sering di bully kawan-kawannya karena tidak lancar berbahasa inggris. Ketika usianya menginjak lima belas tahun, ia telah salah bergaul. Kemudian terjebak dengan dunia bebas di kota yang dijuluki kota Ratu para malaikat itu. Ia telah kecanduan minuman beralkohol, dan seks bebas di umur enam belas tahun. Semua itu sebenarnya hanya bentuk pelariannya dan sebuah pencarian jati diri yang tak terarahkan oleh orangtuanya.


***


Malam telah berganti menjadi pagi. Saat ini Naufal berjalan melewati taman sekolah. Sekolah ini sangat luas dan mempunyai bangunan megah, seperti sebuah Universitas. Wajar, karena yang sekolah di sini semuanya orang berada.


Ini adalah sekolah swasta bertaraf internasional. Di mana seragamnya berbeda dengan seragam anak SMA di sekolah negeri. Siswa di sini bebas untuk bergaya. Sekolah ini juga sering dijadikan lokasi syuting sinetron atau film yang bertema anak sekolah.


Naufal melewati sebuah lokasi syuting, ini pertama kalinya ia menemukan lokasi syuting sinetron karena ia jarang berjalan-jalan.


"Kak Maria!" sapa Naufal ketika melihat gadis yang merupakan pacar kakaknya.


"Naufal? Aku sudah hampir sebulan syuting di sini, tapi baru melihatmu." Maria menghampirinya.


"Ya. Aku juga barusan lihat Kakak."


Mereka berdua mengobrol santai di taman sekolah. Ketika Naufal menoleh ke arah barat, ia melihat Amaira dari kejauhan berjalan menuju ke perpustakaan. Maria memperhatikan arah pandangan Naufal.


"Kamu lihat apa?" tanya Maria.


"Kakak, jangan beri tahu kak Zaki ya. Aku sedang menyukai teman sekelasku," ucap Naufal dengan raut wajah bahagia.


"Oh ya? Jangan bilang kamu tidak pernah jatuh cinta sebelumnya! "


Naufal menggaruk-garuk kepalanya. "Aku tidak punya keahlian mendekati cewek." Cowok berkacamata ini tersipu malu.


"Aku penasaran seperti apa gadis yang kamu suka. Tunjukkan padaku! Aku mau tahu seleramu!" Maria tampak penasaran.


"Coba Kakak lihat ke sana. Itu dia!" Naufal menunjuk Amaira yang berjalan tak jauh dari pandangan mereka.


"Gadis yang berambut panjang itu?" tanya Maria kembali.


Naufal mengangguk penuh semangat.


Maria tampak berpikir. Ia menoleh kembali ke arah gadis yang ditunjuk Naufal.


"Kenapa?" tanya Naufal melihat ekspresi Maria yang aneh.


"Tidak. Tapi, bukannya gadis itu pacarnya Aldrin ...." ucap Maria yang masih terus memperhatikan Amaira.


"Hah? Aldrin?" Naufal membulatkan matanya saat mendengar ucapan Maria.


Maria mengalihkan pandangannya ke Naufal. "Iya, aku sering lihat mereka bersama!" imbuhnya. kali ini dia benar-benar yakin dengan ingatannya yang sering melihat gadis itu tengah bersama Aldrin.


.


.


.


.


bersambung...



Alhamdulillah, baru sebulan novel ini terbit, sudah mendapatkan kontrak dari pihak mangatoon/noveltoon. Aku senang, karena meskipun novel ini belum banyak pembaca tapi sudah mendapatkan kontrak tanpa revisi bab yang menghilangkan atau mengganti cerita. karena author sering baca curhatan author lain, banyak yang novelnya dah banyak pembaca tapi kontrak mereka di tolak. Ada juga yang di terima tapi harus merevisi kembali atau mengubah isi cerita terutama bagian-bagian vulgar.


Terima kasih untuk para pembaca, baik yang telah membaca novel ini dari awal atau yang baru bergabung. Tetap melebur bersama kisah ini..


Aotian Yu.