Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 150 : Secerca Kehidupan



Dalam kegelapan, Aldrin berdiri di tempat yang tak ia kenali. Tempat itu seperti sebuah lorong yang membatasi dua alam, dan dia berada di tengah-tengahnya. Aldrin masih berdiri mematung, dia bingung hendak melangkah ke mana?


"Aldrin!"


Tiba-tiba suara yang tak ia kenali terdengar dari kejauhan. Tubuh Aldrin menjadi kaku, suara siapakah ini? Ia kembali melihat sekeliling tempat yang begitu gelap. Hingga akhirnya sebuah cahaya datang dari kejauhan yang menyilaukan matanya. Dari cahaya itu samar-samar terlihat sosok cerah.


Sosok itu merupakan seorang pria. Siapa dia? Apakah Ayah Jefri? Tidak, ayahnya tidak memiliki postur tubuh tinggi seperti ini. Tuan Adam juga tak mungkin, karena usia pria itu masih terlihat muda. Mata Aldrin terbelalak seketika saat wajah pria itu terekspos jelas. Pria itu mempunyai tampang yang tampan rupawan. Namun, yang membuatnya terkejut, ia dan pria itu mempunyai kemiripan wajah terutama di bagian mata dan garis senyum.


"Aldrin, kemarilah! Ayo ikut denganku!" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Sesaat, Aldrin langsung tersadar, itu artinya ... Ia telah meninggalkan dunia nyata. Ya, dunia nyata!


"Aldrin, ayo ke sini! Kemarilah ... apa kau tidak mau menemaniku?" ucap pria itu sekali lagi.


Aldrin menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia berbalik arah dan berusaha berlari menuju pintu kehidupan di mana ia tinggal. Ketika tinggal dua langkah menuju pintu kehidupan, langkah kakinya terhenti. Ia kembali berbalik dan masih melihat pria itu menatapnya dengan penuh sesal.


"Aku menunggumu kembali ke sisiku!" ucap pria itu yang kemudian menghilang ditelan cahaya.


Saat ini, tinggal dua langkah lagi Aldrin menuju ke pintu gerbang dunia nyata. Sementara di belakangnya, pintu gerbang menuju dunia selanjutnya telah terbuka lebar.


Sepertinya Tuhan memberinya dua pilihan sulit. Memberinya sebuah kematian, tapi di sisi lain juga memberinya kesempatan untuk bertahan hidup.


"Aldrin, jangan tinggalkan aku ...."


Suara Isak tangis perempuan menggema di telinganya. Seketika, dunia gelap langsung tertutup oleh cahaya.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Amaira akhirnya terlelap setelah semalaman berjaga di samping Aldrin. Ia tertidur sambil terus menggenggam tangan Aldrin. Sudut matanya yang basah oleh sisa-sisa butiran air mata semalam, jatuh ke punggung tangan Aldrin.


Ujung jari Aldrin bergerak perlahan.


Gelap,


Terang.


Gelap,


Terang.


Kelopak mata itu terbuka secara bertahap dan langsung melihat langit-langit ruangan. Aldrin terperangah saat melihat tubuhnya penuh dengan peralatan medis. Monitor detak jantung, selang oksigen, selang infus.


Dia kembali?


Apakah dia benar-benar kembali ke dunia nyata?


Pandangannya yang masih ragu-ragu perlahan beralih ke sisi tempat tidur, ia melihat Amaira yang sedang tertidur dan membaringkan kepalanya di sisi kanan tubuhnya.


Aldrin mengangkat pelan tangannya untuk mengusap rambut Amaira. Senyum haru terlintas di sudut mulutnya. Dengan susah payah ia menepuk bahu Amaira.


"Sa–sayang ...," ucapnya tak jelas karena masih kesulitan berbicara.


Dalam sekejap, Amaira terbangun. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut menatap Aldrin yang pucat telah membuka matanya.


"Sayang ... kau sudah sadar?" Dia membungkuk dan memegang erat-erat tangan Aldrin yang masih lemah.


Amaira tidak tahu kata-kata apa yang cocok digunakan untuk mengekspresikan kegembiraan batinnya. Pada akhirnya, hanya sebuah pelukan yang ia berikan.


"Apa kau menangis sepanjang malam?" Bisik Aldrin di telinga Amaira dengan suara lemah.


Amaira tersenyum tipis sambil mengangguk tak berdaya. Di depan semua orang ia tampak kuat dan enggan menumpahkan air matanya. Namun, tak ada yang tahu jika wanita itu melewatkan tiap malam dengan deraian air mata.


"Maaf telah membuatmu khawatir." Suara lemah dan tidak jelas itu kembali terdengar dengan tatapan sendu.


Air mata Amaira kembali menetes, akan tetapi jenis air mata ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.


Amaira melepaskan tangannya sejenak. "Aku akan memanggil Ayah dan dokter ke sini!"


Amaira berlari keluar mencari Jefri. Dilihatnya tak jauh dari tempatnya berdiri, Jefri dan Ardhilla sedang duduk bersandar dengan wajah penuh keputusasaan.


"Ayah! Ibu!" teriak Amaira dengan riang.


Jefri dan Ardhilla berdiri dengan sigap. Jantung mereka terpompa cepat saat melihat Amaira berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, Amaira?" tanya Jefri penasaran.


"Aldrin ...." Amaira mengambil napas sesaat. Sementara Jefri dan Ardhilla tampak tak sabar.


"Ada apa dengan Aldrin?" tanya Jefri dan Ardhilla kompak.


"Benarkah?" Mata kedua orang itu membulat seolah tak percaya.


"Iya, dia bahkan telah berbicara padaku," ucap Amaira sambil terisak.


Jefri dan Ardhilla saling berpelukan. Tak lupa Jefri mengucap syukur pada Tuhan dan langsung berlari menuju ke ruang rawat Aldrin disusul Amaira. Ardhilla pun tak tinggal diam, dia juga hendak mengekor mereka, tapi langkahnya terhenti. Seperti ada keraguan di hatinya.


Apakah Aldrin akan menerima kehadirannya? Bukankah Aldrin selalu dingin padanya? Apalagi terakhir kali, ia tak memenuhi undangan Aldrin untuk menonton acara penghargaan musik.


Ardhilla mengurungkan niatnya untuk menemui Aldrin. Mungkin tidak tepat jika harus menampakkan mukanya sekarang. Ia mengambil ponselnya menekan sebuah panggilan ke nomor milik Naufal. Menyebarkan kabar baik tentang Aldrin. Setelah menghubungi Naufal, ia menghubungi Tuan Adam dan juga Zaki untuk mengabari hal serupa.


Setelah menerima telepon dari Ardhilla, Naufal hendak bergegas turun dari puncak gedung Rumah Sakit. Namun, langkahnya terhenti sesaat dan ia menoleh ke arah bangku yang sering diduduki Keyla setiap gadis itu melukis. Ia berjalan pelan menuju bangku itu dan melihat sebuah kertas putih yang diletakkan sebuah batu kecil di atasnya agar tak tertiup angin.


Kertas tersebut berisi sebuah tulisan tangan Keyla.


Kakak, saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak berada di dunia ini. Aku senang bisa berjumpa denganmu di sisa akhir hidupku. Malam itu, aku ingin memberitahu padamu, sebenarnya ... aku mendengar dokter berbicara pada ibuku bahwa hidupku tak 'kan lama lagi jika tidak melakukan pencangkokan jantung.


Aku sangat sedih saat mendengarnya. Akan tetapi, tak lama kemudian dokter mengatakan jika ada pasien pendonor jantung resmi yang sedang koma. Mendengar ucapan dokter, aku merasa masih mempunyai harapan. Harapan untuk hidup, dan harapan untuk mengenalmu lebih jauh.


Namun ...


Aku tidak mau mencintaimu dengan jantung orang lain. Aku ingin memiliki rasa cinta dan merasakan debaran dari jantungku sendiri. Bukan dari orang lain.


Terakhir,


Aku masih tetap mendoakan kebahagiaan untukmu. Semoga suatu saat nanti, kau benar-benar memiliki kisah yang bahagia dengan orang yang kau cintai.


Setelah membaca kata demi kata yang ditulis gadis itu, dada Naufal terasa berat dan napasnya terasa sesak. Ia membalikkan kertas tersebut, dan melihat sebuah lukisan indah yang menampilkan seorang pria dan wanita saling berpelukan di bawah cahaya malam.


Naufal menatap langit cerah berwarna biru lalu tersenyum hangat sambil meletakkan kertas tersebut tepat di jantungnya.


Tak menunggu waktu lama, Naufal telah menuju ke ruangan Aldrin. Ia masuk ke ruang rawat itu dengan terburu-buru dan melihat Aldrin benar-benar telah sadar. Tampak di sisi kiri dan kanannya ada Amaira dan Jefri.


"Aldrin, kau benar-benar sudah sadar?" Naufal menghampirinya lalu menggenggam tangannya.


Aldrin hanya dapat meresponnya dengan senyum karena meskipun telah siuman ia belum pulih sepenuhnya. Ia masih sulit untuk bicara apalagi menggerakkan anggota tubuhnya. Luka yang ia dapatkan dari kecelakaan itu begitu parah.


"Kamu masih ingat aku, 'kan?" tanya Naufal sambil melepas genggaman tangannya.


"Kamu pikir aku hilang ingatan?" ucap Aldrin pelan.


Mereka tampak bahagia di ruangan itu. Dari balik pintu ruangan yang tak terkunci rapat, Ardhilla hanya dapat menatap mereka sambil ikut tersenyum dan bernapas lega. Setelah mengetahui Aldrin membaik, ia pun menutup pintu dengan pelan.


Rupanya bayangan Ardhilla tertangkap langsung oleh Jefri. Pria itu bergegas keluar mengejarnya yang mulai berjalan menjauhi ruang kamar Aldrin dirawat.


Jefri menarik lengan Ardhilla seraya bertanya, "Kenapa kau tidak menemuinya?"


"Aku lelah dan ingin pulang. Lagi pula dia telah siuman, dan itu membuatku lega," ucap Ardhilla sambil memalingkan wajah, menolak untuk bertatapan dengan Jefri.


"Apa kamu tidak ingin bertemu anakmu?"


Ardhilla menghela napas. "Nanti saja, biarkan dia bersama istrinya dulu."


Jefri langsung melepaskan tangannya dari lengan Ardhilla dan membiarkannya pergi. Wanita itu masih keras kepala dengan gengsi yang begitu tinggi!


Amaira berjalan keluar kamar hendak mengambil resep obat yang diberikan dokter. Saat keluar dari pintu lift, ia bertabrakan dengan seseorang hingga resep obatnya terjatuh.


"Maaf," ucap Amaira terburu-buru sambil menunduk untuk mengambil resep yang jatuh di lantai.


"Amaira ...." Suara laki-laki terdengar tepat di hadapannya.


Amaira menengadahkan kepalanya untuk melihat orang yang memanggilnya.


"Bryan?"



.


.


.


.