Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 55 : Teddy Bear



"Aldrin mana mungkin suka sama dia. Dia bukan tipe ceweknya Aldrin. Yang aku tahu, Aldrin tuh suka cewek yang dewasa, soalnya dia selalu pacaran sama cewek yang lebih tua dari usianya. Dia juga suka cewek seksi. Kalau Amaira 'kan cewek polos dan pendiam. Gak mungkin Aldrin tertarik," tegas Naufal sambil memerhatikan Maria, "kayaknya Kak Maria cocok deh sama tipe cewek yang disukai Aldrin, bukan Amaira," imbuhnya.



Aldrin memang menyukai tipe wanita yang dewasa dari segi umur dan juga penampilan. Mantan-mantan pacarnya berusia paling tidak setahun di atas usianya. Dia bahkan pernah berpacaran dengan gadis yang lima tahun lebih tua darinya. Itulah kenapa saat pertama kali bertemu Maria, Aldrin sedikit tertarik dengannya.


Lelaki berandalan itu lebih nyaman berpacaran dengan gadis dewasa. Mungkin karena ia kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Oleh karena itu, ia selalu mencari kehangatan dari gadis dewasa. Namun, dia telah mengubah seleranya sejak kejadian sebuah telepon salah sambung yang membuatnya berkenalan dengan gadis polos itu.


"Oh begitu. Mungkin aku yang salah memahami kedekatan mereka." Maria tampak berpikir.


"Ya, mereka cukup dekat sejak dipilih guru dalam satu tim kelompok."


"Oh, mungkin karena itu aku sering melihat mereka jalan bareng."


"Oh, iya. Aldrin pernah pacaran sama teman sekelasku. Dia sangat cantik, primadona sekolah. Tapi, hubungan mereka tidak bertahan lama. Hanya dua minggu, Aldrin langsung minta putus," ucap Naufal sambil tertawa.


"Serius? Pasti kesal banget tuh cewek!" Maria ikut terkekeh.


"Ya, iyalah."


"Omong-omong, kamu dah bilang suka sama tuh cewek?"


Naufal menggelengkan kepala. "Aku belum berani. Soalnya ini pertama kalinya aku suka sama cewek."


"Dia sendiri gimana? Suka enggak sama kamu?"


"Aku enggak tahu. Tapi, kayaknya dia lagi patah hati. Aku takut bertanya lebih. Gara-gara itu aku juga jadi tunda menyatakan cinta." Wajah Naufal tampak murung.


"Dengar, ya. Sebenarnya, cewek tuh gampang banget tersentuh. Kalau kamu suka, kamu harus buat dia suka juga sama kamu. Buatlah hal-hal yang membuatnya tersentuh. Dengan begitu, cintamu enggak bakal bertepuk sebelah tangan," ucap Maria memberi saran.


Naufal berdiri sambil berkata, "Terima kasih atas sarannya, Kak Maria. Aku akan mengikuti saranmu."


Naufal pun pergi setelah cukup lama berbincang-bincang dengan pacar kakaknya itu.


Amaira berjalan menuju perpustakaan. Ia melewati deretan ruang kelas 1 dan melihat Aldrin berdiri di salah satu kelas sambil bercerita dengan Adik-adik kelas. Ia bahkan merayu beberapa siswi. Tampaknya Siswi-siswi kelas 1 itu sangat menggilai Aldrin. Mereka sangat senang ketika cowok bertindik itu menghampiri mereka. Bahkan ada yang tak segan memberikan nomor ponsel mereka padanya.


Amaira masuk ke ruang perpustakaan. Seperti biasa, ruangan itu begitu sepi tak ada pengunjung maupun penjaga. Ia menatap ke arah meja dan kursi yang sering didudukinya bersama Aldrin. Sekilas, ingatannya terputar ke masa-masa indah, saat awal mereka terlibat tugas bersama. Sayangnya, di tempat itu pula, Aldrin memutuskan hubungan mereka tanpa sebab yang jelas.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan kaca jendela yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Amaira menuju ke jendela itu. Ia membuka kaca jendela, menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak menemukan sesuatu yang ganjil.


Amaira kembali lagi ke tempat asalnya, tetapi bunyi ketukan kaca jendela terdengar lagi. Ia mengecek kembali jendela itu dan melihat sebuah boneka teddy bear berukuran sedang. Amaira tersenyum, lalu mengambil boneka itu. Ternyata di balik boneka itu, Naufal berdiri sambil melengkungkan senyuman di wajah yang menawan.



"Kaget, ya?"


Amaira tersenyum lebar hingga giginya yang tersusun rapi terlihat.


"Aku hampir enggak mau ke perpustakaan lagi. Kirain tempat ini berhantu!" seru gadis itu sambil tertawa.


Dengan masih tersenyum, Naufal menatap wajah indah yang berada di hadapannya. "Aku senang, akhirnya kamu mau tersenyum."


"Terima kasih." Amaira tertunduk malu.


"Ambillah boneka itu! Aku kirim dia untuk menjagamu. Peluklah Teddy jika kamu merasa sedih. Ceritakan padanya segala kesedihanmu. Teddy tidak bisa bicara, tapi dia bisa jadi pendengar yang baik," ujar Naufal sambil melirik ke boneka Teddy yang sekarang berada di pelukan Amaira.



Amaira terdiam sambil menatap boneka pemberian Naufal itu. Ia kembali memeluk Teddy bear dengan erat. "Sekali lagi, terima kasih," ucap Amaira yang tampak kehabisan kata-kata.


Naufal mengangguk, lalu kembali berucap, "Mungkin saat ini kamu belum bisa cerita sama aku tentang hal yang membuat kamu sedih. Tapi, aku akan selalu ada untukmu."


Amaira tertegun mendengar ucapan lelaki berkaca mata itu. Ia tersentuh. Ia menundukkan kepalanya, menarik napas sesaat lalu berkata, "Naufal, aku—"


"Tidak, jangan merasa tidak enak. Jangan memaksa diri untuk bercerita kalau kamu belum siap berbagi. Aku tidak akan memaksamu!" Naufal memotong ucapan Amaira.


Amaira kembali tersenyum lebar. Gadis itu merasa senang mendengar ucapan Naufal yang mengalun tenang di pendengarannya.



Naufal memang seperti air. Begitu tenang, lembut dan selalu berusaha menyejukkan hati orang lain.


Air mempunyai sifat yang dapat membersihkan. Naufal pun selalu berusaha membersihkan kesedihan orang-orang di sekitarnya.


Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Meskipun Naufal memiliki segalanya—kekayaan dan kecerdasan. Ia selalu berkawan dengan siapapun tanpa memandang status. Kehadirannya di kelas selalu membawa manfaat bagi teman-temannya dan ketidakhadirannya selalu membuat orang-orang terdekatnya rindu.


Ya, Naufal memang seperti air yang membawa banyak manfaat dan kerinduan bagi orang banyak. Ia mempunyai hati yang tulus seperti air yang bening dan tidak berbau.


kalian timnya siapa? Aldrin~ Amaira atau Naufal~ Amaira? kasih alasannya yaa jangan lupa like dan beri rating 5 bintang