Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 72 : Perubahan Hak Waris



WARNING! chapter ini mengandung adegan yang tidak boleh ditiru anak usia 18 tahun ke bawah. ada pesan tersendiri kenapa Yu memasukkan Alur seperti itu :)


Keesokan harinya di kediaman Tuan Adam, seorang berpakaian serba putih datang berkunjung. Ia adalah dokter pribadi Tuan Adam. Hari ini, Adam tidak ke kantor karena kesehatannya sedang menurun. Ia telah menyerahkan seluruh pekerjaannya untuk dilakukan anak sulungnya, Zaki.


Ardhilla masuk ke kamar sambil membawa nampan yang berisi air hangat. Ia menuntun suaminya untuk minum obat setelah dokter memeriksa kesehatannya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ardhilla cemas.


"Beliau hanya lelah dan butuh istirahat," jawab dokter.


"Jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa," ucap Adam pada istrinya sambil bersandar di kepala ranjang.


Selang beberapa menit kemudian, setelah dokter pribadi Tuan Adam pergi, kepala asisten rumah tangga memberitahukan jika kuasa hukum Tuan Adam telah datang. Ardhilla terhenyak. Ia tidak tahu jika Adam memanggil kuasa hukum datang ke sini. Pasalnya, sudah sepuluh tahun ia tak pernah memanggilnya. Selama itu pula ia belum pernah merubah hak warisnya.


Tuan Adam berusaha turun dari tempat tidur dibantu oleh Ardhilla. Ia berjalan ke ruang keluarga untuk menemui kuasa hukum.


"Apa kabar, Pak, sudah lama sekali Anda tidak memanggil saya ke sini." kuasa hukumnya berjabat tangan dengan Tuan Adam dan juga Ardhilla. Mereka bertiga sama-sama duduk di sofa.


"Kesehatanku kurang membaik akhir-akhir ini, dan kamu pasti sudah tahu maksud aku memanggilmu," ujar Adam sambil memegang dadanya.


Entah mengapa mendengar ucapan Adam membuat hati Ardhilla berdebar-debar. Sudah pasti yang akan mereka bicarakan adalah mengenai warisan. Wajah cantik itu menegang dan dia berusaha lebih sedikit tenang.


"Ya ... saya telah membawa berkas yang Anda minta. Sepuluh tahun lalu daftar hak waris Anda adalah Zaki Ardhani, Naufal Ardhani beserta istri Anda, Nyonya Ardhilla. Zaki mendapat hak penuh perusahaan utama yang Anda miliki, satu anak cabang perusahaan, serta setengah dari harta Anda. Naufal akan mempunyai hak atas seluruh yayasan dan properti yang Anda bangun juga setengah dari harta kekayaan. Sementara Nyonya Ardhilla akan memiliki hak atas kepemilikan rumah ini dan juga vila yang ada di Bali," papar kuasa hukum mengingatkan kembali warisan yang telah Adam buat sepuluh tahun lalu.


"Iya, kali ini saya ingin mengubahnya! Saya mau menambahkan Aldrin dalam daftar hak waris," pinta Adam sambil terbatuk.


Ardhilla terkejut. Ini adalah keinginan yang paling ia impikan selama ini. Dan juga merupakan alasan kenapa ia membawa Aldrin ke rumah itu. Tentu saja agar anaknya bisa mendapatkan bagian dari hak waris lelaki ini.


Sebenarnya ini semua ia lalukan karena Adam hanya akan mewariskan rumah dan vila padanya. Sementara aset besar serta harta lainnya hanya akan dikuasai oleh kedua anak Tuan Adam. Akan tetapi mendengar pernyataan Adam barusan, membuat Ardhilla tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Saya ingin Aldrin Ardhani masuk ke dalam daftar hak waris dan hak waris diubah. Istriku tetap akan mendapatkan rumah ini serta vila. Sementara ke tiga anakku memiliki seluruh aset dan hartaku." lanjut Adam.


"Itu artinya harta Anda akan dibagi tiga?" tanya kuasa hukum memastikan kembali.


"Iya, Aldrin juga akan mendapatkan pembagian harta yang sama dengan Zaki dan juga Naufal, serta memiliki anak perusahaan dari Adam Grup," tegas Adam.


Rona bahagia tergambar jelas di wajah Ardhilla. Senyum lebar langsung terpatri jelas di wajahnya. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Meskipun selama beberapa tahun ini Aldrin selalu membuat masalah, dan memberi rasa cemas padanya dengan semua tingkah buruk, tapi siapa sangka hati Adam tergerak untuk memberinya warisan. Ini suatu kejutan yang membuatnya benar-benar senang.


"Tapi ... untuk Aldrin ada syaratnya!" potong Tuan Adam sesaat.


Wajah Ardhilla berubah ketika Adam baru saja mengatakan kalimat itu.


"Aldrin akan menerima warisan itu ketika dia telah menikah dengan gadis baik-baik dan dengan cara yang baik-baik diusia minimal dua puluh lima tahun," lanjut Adam.


Ardhilla kembali mengukir senyum. Bukankah tidak masalah dengan syarat itu? Bahkan syarat itu terlalu mudah untuk Aldrin. Hanya tinggal menjaga agar Aldrin agar tidak menikah sampai umur dua puluh lima tahun serta tak menghamili seorang perempuan, maka semua akan baik-baik saja. Mengenai warisan untuk Aldrin, anak itu pasti tak akan peduli dengan itu. Saat semua itu tiba, ia akan merubah kepemilikan harta Aldrin menjadi atas namanya sendiri. Pikiran yang sangat brilian, bukan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


"Kita mau ke mana?"


"Aku akan membawamu ke suatu tempat. Ayo, cepat naik!"


Aldrin dan Amaira berboncengan menuju suatu tempat. Mereka telah sampai di kawasan kumuh padat penduduk. Amaira memerhatikan sekeliling lokasi yang tak pernah diinjaknya. Namun, ia tetap mengikuti langkah Aldrin yang membawanya menuju sebuah gubuk yang biasanya disebut sebagai rumah kardus.


Aldrin membuka gembok rumah tersebut. "Ini rumahku dan tempatku dibesarkan. Maaf rumah ini berdebu. Aku enggak sempat bersih-bersih."


Aldrin masuk ke rumah tua itu diikuti Amaira dari belakang. Mata gadis itu berkeliling menatap sebuah ruangan yang begitu sederhana. Hanya terdapat ranjang yang beralas kasur tua, meja makan dan juga lemari serta peralatan dapur yang sudah dimakan usia. Sungguh memprihatinkan!


"Kamu pasti enggak menyangka kalau orang kayak aku akan hidup di tempat ini?" tanya Aldrin sambil mengelap debu di atas meja


Amaira tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Tapi ini satu-satunya tempat ternyaman yang aku miliki," lanjut Aldrin apa adanya.


Aldrin lalu meminta Amaira untuk menunggunya di sini karena ia akan pergi membeli aneka cemilan dan minuman dingin. Gadis itu menyetujuinya. Setelah Aldrin pergi, Amaira hanya berdiam diri dan memilih untuk duduk di tepi ranjang sambil tetap melihat sekeliling.


Tiga puluh menit kemudian, Aldrin datang kembali dengan membawa minuman kaleng serta cemilan. Ia terperangah melihat isi rumahnya telah rapi dan bersih.


"Kamu yang melakukannya?" tanya Aldrin menunjuk dengan wajah bingung.


"Hum ...." Amaira mengangguk tersenyum. "sambil tunggu kamu, dari pada bosan," jawabnya.


Keduanya lalu duduk di tepi ranjang. Aldrin membukakan kaleng minuman untuk Amaira dan juga untuknya. Mereka sama-sama meneguk minuman tersebut.


"Jika dia masih ada, aku pasti telah mengenalkan kamu sama ayahku!" ucap Aldrin sambil terus meneguk minuman kalengnya.


"Ke mana Ayahmu?"


"Aku tidak tahu, aku telah berusaha mencarinya. Tapi aku tidak bisa menemukannya. Aku ... juga takut untuk mengatakan jika dia telah tiada." Raut wajah Aldrin tiba-tiba berubah menjadi sendu.


Seketika, keheningan merajalela di ruangan tersebut. Amaira mendekatkan tangannya bermaksud menggenggam tangan Aldrin dengan lembut. Cowok tampan itu tersentak, ia menatap tangan lembut yang sedang menggenggam tangannya. Kemudian matanya beralih menatap dalam kedua bola mata indah milik gadis itu. Sontak, ia terbawa suasana dan mendekatkan wajahnya ke wajah Amaira.


Amaira telah tahu dengan apa yang akan Aldrin lakukan, ia berusaha menghindar sambil menunduk. Namun, dengan lembut Aldrin menangkap dagu lancip Amaira dengan satu tangannya. Dinaikkan dagu itu, lalu ia membenamkan bibirnya ke bibir mungil gadis itu. Bibir mereka tertempel sempurna.


Perlahan ciuman sederhana itu berubah menjadi pagutan lembut. Aldrin menggerakkan bibirnya untuk memagut bibir atas Amaira. Gadis itu memejamkan matanya dalam-dalam dan mencengkram kuat tangan Aldrin. Cowok itu mengangkat tangan yang saling menggenggam itu ke depan dadanya sambil terus memagut bibir kekasihnya dengan pelan seolah meresapi setiap rasa manis yang ada di daging bertulang milik gadis itu.


Perlahan, ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman panas yang memabukkan. Wajah Aldrin memerah, napasnya perlahan mengalir. Ia memeluk Amaira dengan erat sambil memperdalam tautan bibir mereka. Suhu tubuh cowok berwajah tampan meningkat. Keinginan yang tak dapat dijelaskan secara bertahap muncul.


Amaira berusaha melepaskan diri dari ciuman panas ini. Namun, kekuatan Aldrin yang lebih mendominasi membuatnya tak berdaya. Kedua napas mereka saling memburu. Perlahan, Amaira telah jatuh ke dalam ritme yang dikendalikan oleh Aldrin.


Aldrin menghentikan ciuman itu, dengan mata setengah sayup dan wajah yang sangat dekat ia menatap dalam mata Amaira.


"Sayang, aku mau lebih. Boleh, ya?"


Suara memesona, mata yang menghipnotis serta napas seksi keluar dari mulut Aldrin.