Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 130 : Ajakan Er




Mereka tiba di rumah tempat sekarang Aldrin dan Jefri tinggal. Naufal melirik sekeliling rumah yang begitu sederhana dan sejuk. Aldrin membawa masuk barang-barang ke dalam. Naufal mengekornya dari belakang. Sampai di dalam rumah, ia berjumpa dengan Jefri.


"Halo, Paman. Paman masih kenal aku, enggak?" sapa Naufal.


"Tentu saja. Tidak terasa kamu sudah sebesar ini." Jefri menepuk pundak Naufal.


"Paman, masih terlihat sama seperti sepuluh tahun yang lalu," puji Naufal.


Setelah selesai membereskan barang-barang Aldrin, mereka makan siang bersama di pekarangan rumah. Menu makan siang itu begitu sederhana. Hanya tersedia nasi, sayur kuah bening dan tempe.


"Ini makanan rumahan yang sesungguhnya." Jefri menyendokkan nasi ke piring.


"Sejak aku pergi ke Amerika, aku enggak pernah makan makanan kayak gini lagi," ujar Aldrin.


Naufal hanya terdiam, ia mengambil sepotong tempe untuk dicicipi. Ya, ini adalah pertama kalinya Naufal melihat menu makanan yang sangat sederhana. Namun, ternyata lidahnya tak bisa menyesuaikan makanan itu.


Aldrin melihat ekspresi Naufal yang tak biasa. "Kamu enggak suka?" tanya Aldrin sambil tertawa geli.


"Rasanya enak juga kok," jawab Naufal sambil mengunyah.


"Dia terbiasa makan steak dan sekarang kita suruh dia makan tempe. Haha-haha ... " Aldrin terus meledek Naufal yang menunjukkan wajah kaku.


"Oh iya, mana sendoknya?" tanya Naufal sambil melihat-lihat di atas meja.


"Tidak ada. Makan pakai tangan lebih nikmat." Aldrin memberi contoh.


"Lihat! Ayahku sekarang telah menjadi anak konglomerat kaya di Dubai tapi dia enggak lupa dengan kehidupan sederhananya. Ayahku hebat, 'kan?" puji Aldrin.


Naufal mengangguk. "Paman, kehidupanmu sungguh menginspirasi."


Jefri hanya tersenyum. Ketiganya melanjutkan makan siang. Setelah selesai, Naufal memutuskan berpamitan pulang.


"Setelah pulang ke rumah, aku kesepian lagi," keluh Naufal dengan mimik wajah sedih.


"Jangan lebay. Lagian selama aku di sana, aku juga kan jarang di rumah."


"Ya, sudah. Aku balik dulu. Besok cepat datang ke sekolah, ya! "


Naufal masuk ke mobil, ia membunyikan klakson sebelum pergi. Saat di perjalanan, ia menerima sebuah pesan masuk. Setelah membaca pesan tersebut, ia memutar balik mobilnya berlawanan arah.


Naufal memarkirkan mobilnya tak jauh dari lokasi rumah Er. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan seseorang dari balik jendela kaca mobil. Ia membuka kaca jendela mobilnya.


"Masuk aja!"


Er masuk ke mobil dan langsung memakai sabuk pengaman di dadanya.


"Kenapa kamu ngajak ketemu?" tanya Naufal.


"Ayo kita jalan-jalan!" ajak Er dengan wajah tersenyum.


"Hah, sekarang?" tanya Naufal sedikit bingung.


"Iya, sekarang! Ayo kita nikmati hari ini bersama," ucap Er kembali.


"Memangnya kita mau ke mana?" Naufal terlihat sedikit malas.


"Kemana saja. Ke mall, bioskop, ke wahana, ke pantai, pokoknya terserah lo. Yang penting hari ini kita bersama," ucap Er penuh semangat.


"Sebenarnya hari ini aku agak malas keluar ...." Belum selesai Naufal berucap, Er langsung menangkupkan kedua tangannya seraya memohon. "Ayolah ... berikan waktumu untuk hari ini saja!"


Naufal tersenyum tipis melihat ekspresi memohon Er yang begitu lucu. "Baiklah ...."


Hari ini mereka melewatinya dengan jalan-jalan. Keduanya pergi ke wahana untuk menikmati beberapa permainan. Sebenarnya, Naufal tidak ingin ke sini. Selain mengingat tempat ini pernah ia datangi bersama Amaira, ia juga masih trauma untuk mencoba permainan roller coaster.


"Ayo kita naik itu!" seru Er menunjuk wahana permainan roller coaster.


Naufal menggelengkan kepalanya dengan mimik wajah takut, "Tidak! Kamu saja yang naik, aku tunggu sini!"


Naufal melepas lengan Er. "Tidak, aku enggak mau! Aku takut muntah!"


Mata Er membeliak diikuti tawa yang pecah seketika. "Lo takut muntah?" tanyanya tak percaya. Ia menatap ekspresi takut di wajah Naufal.


"Ayolah ...." Er kembali menariknya hingga Nufal mau tak mau menurutinya.


Mereka telah duduk di roller coaster dan bersiap.


"Tarik napas dan lo harus rileks. Sebisa mungkin lo menghilangkan rasa takut dan ... " Er dan Naufal saling bertatapan, "genggam tangan gue!" Er melanjutkan memberi instruksi pada Naufal.


Dengan ragu-ragu Naufal menggenggam tangan Er. Telapak tangan keduanya saling menyatu. Er dapat merasakan jika Naufal benar-benar takut, itu terlihat dari tangannya yang begitu dingin. Sementara Naufal merasakan kehangatan tangan Er yang membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.


Wahana telah jalan. Semua orang mulai berteriak tak terkecuali Naufal dan Er.


"Huuuaaaaaaaaaaaaaa ...."


Naufal mulai menikmati wahana itu, meskipun tadi ia gugup dan merasa takut kejadian bersama Amaira akan terulang. Setelah roller coaster berhenti, Naufal turun sambil berjalan sempoyongan. Dengan cekatan, Er memegang lengannya.


"Lo enggak apa-apa?" tanya Er khawatir.


"Tidak." Naufal mengedip-ngedipkan matanya. Ia merasa sedikit pusing.


"Kalau gitu ayo kita naik yang itu!" seru Er kembali sambil menunjuk wahana tornado.


Naufal menengok ke atas. Ia menatap ngeri sambil berkata, "Tidak ... tidak! Kamu saja, aku bisa mati naik itu!"


Er menarik kembali Naufal. Mereka saling tarik menarik. Hingga Er akhirnya mengalah dan memilih menaiki Ice Age yang tidak ekstrim. Setelah puas menaiki Ice Age, mereka mencoba menaiki komedi putar.


Naufal menatap wajah Er yang begitu ceria menaiki komedi putar. Ia selalu menyukai keceriaan dan kekonyolan gadis ini. Matanya tak lepas pandang melihat pipi Er yang merona merah akibat terlalu banyak tertawa. Naufal ikut tertawa, saat Er terlihat kacau begitu kuda-kuda itu mulai berpacu cepat.


Tiba-tiba Er berteriak dengan suara kencang hingga orang-orang menoleh pada mereka :


"NAUFAL, GUE SUKA SAMA LO! GUE SUKA LO!"


Mata Naufal terbelalak seketika. Ia melihat sekeliling orang yang menatap aneh ke arah Er. sementara, Er terus berteriak kalimat yang sama seolah tak acuh dengan sekitar.


"Er ... sstttt ... Er, jangan gila!"


Naufal berusaha memberi kode agar Er tidak berteriak lagi. Namun, yang ada gadis itu makin menjadi.


"GUE SUKA NAUFAL!" teriaknya lagi di sela-sela musik komedi putar. "Yuuhhuuuuiii!"


Er terlihat tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang. Sementara Naufal tampak malu, wajahnya memerah seketika. Ia hanya dapat tersenyum bodoh saat orang-orang menatap mereka.


Selesai mencoba beberapa wahana. Er kembali mengajak Naufal. "Kita ke pantai, yuk!"


Naufal kembali terkejut mendengar ucapan Er. "Kenapa kamu mau ke sana?"


"Tentu saja mandi-mandi dan menikmati sunset!"


"Enggak, ah! kita, kan, sudah lihat sunset pas naik Bianglala tadi," tolak Naufal. Masalahnya Er terus mengajaknya ke tempat yang mana ia dan Amaira pernah kunjungi.


"Ayolah ... Ayolah! Please?"


Lagi-lagi Naufal tak berdaya untuk menolak ajakan Er. Akhirnya ia mengangguk sehingga membuat Er berteriakan gembira.


Mereka telah sampai di pantai tempat Naufal dan Amaira pernah ke sana. Er langsung berlari menuju tepian pantai. Naufal berjalan santai mengekor gadis itu. Ia menatap tempat yang pernah Amaira duduki waktu itu. Ya, saat itu ia menenangkan Amaira yang sedang dilanda patah hati.


Naufal hanya bisa tersenyum mengenang kembali saat itu. Yang mana pertama kalinya Amaira mengatakan jika ia adalah sahabat terbaik gadis itu.


.


.


.


.