
Aldrin pelan-pelan membuka matanya. Ia tidak tahu berapa lama dirinya tidak sadarkan diri. Saat ini, yang tertangkap di penglihatannya hanya Naufal yang telah menjaganya dari tadi. Dia berusaha untuk duduk tetapi merasa nyeri di bagian kepalanya. Terlihat jelas beberapa memar di bagian wajahnya.
"Pelan-pelan, kepalamu baru saja di jahit," ucap Naufal.
Aldrin meraba dahinya, tampak sebuah perban melingkar di situ. Tak lama kemudian Tuan Adam bersama Zaki masuk ke ruang rawatnya. Tuan Adam terkejut melihat wajah Aldrin yang penuh luka. Tadinya ia berpikir Aldrin hanya terluka kecil.
"Apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?" tanya Tuan Adam tampak geram.
"Aku tidak tahu, mereka datang tiba-tiba terus langsung menyerangku," ucap Aldrin dengan ekspresi dingin.
Tuan Adam menoleh ke arah Zaki sambil berkata, "Zaki, kamu ke kantor polisi sekarang. Buat laporan tentang kasus penganiayaan. Mereka yang melakukan ini harus diproses."
Zaki terpangah mendengar perintah dari Ayahnya. Matanya membulat. Bibirnya sedikit bergetar. Tampak jelas raut wajahnya memucat. Otaknya memerintahkan dirinya untuk tetap tenang, tetapi jantungnya tidak berkata demikian. Jantungnya malah berdetak sedemikian kencang. Dia bergeming. Takut. Tentu saja karena pemukulan Aldrin ada hubungannya dengan dirinya.
Rupanya Aldrin menangkap ekspresi tegang dan ketakutan yang dimiliki Zaki saat ini. Ia lalu berkata pada ayah tirinya, "Enggak perlu. Tuan tidak perlu buat laporan. Aku yakin, siapapun orang yang melakukan ini, pasti dia sekarang tidak tenang, gugup dan panik."
Saat mengatakan hal itu, sorot mata Aldrin melirik tajam ke arah Zaki. Ia menyunggingkan senyum sinis ke arah Zaki sambil mengangkat kedua alisnya.
Di tengah ketegangan yang menghampiri Zaki, Naufal memberi informasi yang membuatnya terkejut. "Kakak, untungnya Kak Maria melihat Aldrin lagi digotong warga sekitar. Kak Maria juga yang bawa Aldrin ke rumah sakit. Aku bahkan tahu karena ditelepon kak Maria."
Ucapan Naufal, sontak membuat Zaki dan Aldrin sama-sama terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Maria berperan besar dalam insiden ini. Zaki masih memilih bergeming tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Raut wajahnya yang tegang seketika berubah menjadi kesal.
Bagaimana tidak, ia sengaja memberi pelajaran kecil pada Aldrin atas video yang sengaja diunggah. Namun, ternyata Aldrin malah ditolong oleh Maria. Bukankah ini benar-benar menjengkelkan?
Zaki memutuskan keluar dari ruangan rawat Aldrin. Pria maskulin itu mengembuskan napas kasar. Kekesalannya pada Aldrin menjadi berlipat-lipat. Ia mengambil ponselnya di saku lalu menekan sebuah panggilan telepon. Tidak menunggu waktu lama, telepon itu langsung terhubung.
"Apa yang kalian lakukan? Aku tidak suruh kalian menghajarnya sampai babak belur. Aku hanya minta kalian menakut-nakutinya!" ucap Zaki kesal pada seseorang dari sambungan telepon.
Setelah berbicara dengan seseorangx Zaki pun menutup pembicaraan. Ia kembali mendengus kesal. Ya, ia memerintahkan kelompok geng motor untuk menakut-nakuti Aldrin dengan sekadar memberinya pukulan kecil. Siapa sangka, mereka malah melakukan penganiayaan separah ini.
Zaki memutar badannya. Ia terperanjat melihat Naufal berdiri di depannya dengan tatapan menyelidik.
"A–ada apa?" tanya Zaki sedikit gugup.
"Kakak, apa kamu dalang dari kasus pemukulan Aldrin?"
"Apa maksudmu?" Zaki mencoba mengelak.
"Aku mendengar semua yang kamu katakan di telepon. Kenapa kamu melakukan itu pada saudara kita?" tanya Naufal dengan ekspresi kecewa.
"Ingat, ya, dia bukan saudara kita! Aku hanya punya kamu sebagai adikku," tegas Zaki.
"Kalau Kakak bisa terima ibu sebagai pengganti ibu kandung kita, kenapa Kakak tidak bisa terima Aldrin sebagai saudara?
"Karena dia parasit!" ucap Zaki penuh penekanan. Ia berusaha mengontrol suaranya agar tak meningkat. Saat mengatakan itu, pandangannya terarah ke tembok. Bukan ke Naufal.
Naufal menyadari jika kakaknya sedang emosi saat ini. Makanya ia memilih diam tak melanjutkan pembahasan mereka. Zaki menoleh ke arah Naufal yang masih menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Merasa terpojok, Zaki memutuskan untuk beranjak pergi. Ia melewati adiknya yang masih terpaku di tempat. Namun, ketika langkahnya tepat berada di belakang Naufal, ia kembali berbalik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aldrin duduk bersandar di ranjang Rumah Sakit. Ia masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya, terutama di bagian kepala. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Namun, badannya masih terasa sakit akibat dihantam beberapa pukulan.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Ruangan itu begitu hening. Suara jarum dinding terdengar menusuk telinga. Rasa bosan menerpa dirinya. Matanya menatap ke langit-langit ruangan itu. Sontak, ucapan Naufal beberapa menit yang lalu kembali hadir di ingatannya.
"Kakak, untungnya Kak Maria melihat Aldrin lagi digotong warga sekitar. Kak Maria juga yang bawa Aldrin ke rumah sakit. Aku bahkan tahu karena ditelepon kak Maria."
Aldrin tersadar. Ia mengumbar video itu untuk membuat Zaki kesal, tetapi ia melupakan perasaan Maria sendiri. Bahkan tidak memedulikan apa yang akan di hadapi gadis itu karena perbuatannya. Bukankah Maria sangat baik padanya? Kenapa ia harus melibatkan Maria dalam permasalahan antara dirinya dan juga Zaki? Ia pun merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
Tiba-tiba, terdengar suara kenop pintu kamar yang terputar. Pintu ruangan yang terbuka membuat Aldrin langsung menoleh ke arah pintu. Seorang Pria berpenampilan wanita masuk membawa buket bunga dan buah-buahan segar. Dia adalah Siska, asisten sekaligus MUA pribadi Ardhilla. Dia telah bekerja di sisi Ardhilla selama lima belas tahun. Tentu saja Aldrin mengenalnya.
"Hai, Ganteng," sapa lelaki itu dengan suara yang dibuat mirip seperti seorang wanita.
Begitu melihatnya, Aldrin memajukan bibirnya seraya membuang wajahnya. Ia mendengus sambil bersedekap.
Siska menghampirinya sambil tersenyum. "Sudah memar-memar begitu kok wajahnya masih keliatan ganteng," puji Siska sambil meletakkan buah-buahan bersama dengan buket bunga yang dibawanya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Aldrin ketus.
"Ibumu menyuruhku datang ke sini untuk menitipkan ini sama kamu," kata waria itu sambil menyerahkan kartu kredit yang berwarna silver.
Aldrin bergeming. Ia hanya menatap kartu kredit yang disodorkan padanya tanpa berniat mengambilnya. Siska lalu meletakkan kartu kredit itu di atas meja karena Aldrin tak mau mengambilnya.
"Ibumu bilang, kamu bisa pakai kartu itu sepuasnya. Ibumu sekarang lagi di bandara. Dia tidak bisa jenguk kamu, soalnya akan berangkat ke Finlandia untuk menghadiri acara ulang tahun teman sosialitanya," jelasnya kembali.
Aldrin menyunggingkan sudut bibirnya ke atas. "Sejak kapan juga dia perhatian sama aku?" sindirnya sinis.
"Eh, eh, enggak boleh bilang gitu! orangtua mana yang tidak perhatian sama anaknya," bela Siska.
"Lihat saja, dia lebih mementingkan pergi ke ulang tahun temannya dari pada ke sini. Dia pikir aku senang dengan kartu kredit ini? Cih!" bentak Aldrin dengan suara lantang.
"Itu karena ...." Siska berpikir sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Hum ... mungkin karena kamu sudah terlalu sering berkelahi, jadi dia menganggap itu hal biasa."
"Mendingan kamu keluar, deh. Bikin aku muak, tahu!" cetus Aldrin memasang wajah bengis seakan hendak menelan asisten itu.
"Ya ampun! Sudah seperti ini masih saja galak sama aku. Padahal aku ini pengagummu, loh! Seandainya ibumu mau mengorbitkan kamu jadi artis, aku mau jadi asistenmu juga. Sayang, ibumu maunya kamu masuk perusahaan ayahmu."
"Aku mau jadi apa terserah aku!"
"Ya sudah, aku pergi dulu. Cepat sembuh, ya, Ganteng. Bye-bye."
Siska mengedipkan sebelah mata sambil melakukan sun jauh ke Aldrin sebelum keluar dari ruangan itu. Seketika, ruangan menjadi hening kembali. Aldrin menatap kartu kredit yang terletak di atas meja samping tempat tidur. Ia hanya tersenyum kecut dan memilih membaringkan tubuhnya. Lalu memejamkan matanya.