
Teleponnya tak kunjung diterima Amaira, Aldrin pun menelepon Naufal.
"Halo."
"Kamu di mana?"
"Habis ngantar Amaira pulang."
"Amaira dah pulang?"
"Ya, dia tadi minta antar. Ada apa dengan kalian? Sepanjang jalan dia cemberut tuh"
Aldrin membisu sejenak. Dalam hatinya bertanya bahwa mungkinkah Amaira marah padanya.
"Halo Aldrin, kamu masih dengar aku, enggak?" tanya Naufal dari balik saluran telepon.
Aldrin tersadar dari lamunannya. "Iya, cepatlah ke sini! Aku ingin meminjam mobilmu menemui Amaira. "
"Aku terjebak macet di jalan. Kayaknya aku mau langsung pulang ke rumah. Kamu cari saja orang yang bisa antar pulang atau kalau kamu mau, kamu bisa numpang di mobilnya kak Zaki," tutur Naufal.
Aldrin mendengus. "Huuuff ... Ya sudah!"
"Tunggu ...." Naufal berkata kembali saat Aldrin hendak menutup panggilan. "kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya kamu harus lebih peka sama perasaan Amaira. Dia memang enggak cerita apa-apa sama aku, tapi aku bisa tahu kalau dia lagi kesal sama kamu. Cobalah lebih mengerti perasaannya!"
Ucapan Naufal sesaat menyadarkan Aldrin. Rasanya seperti tertampar berkali-kali. Ia langsung menutup telepon dan segera berlari keluar Hotel. Ia mencari taxi yang lewat dan menahannya, lalu meminta supir untuk mengantarnya ke sebuah alamat.
Aldrin turun dari taxi tepat di depan rumah Amaira. Ia melihat kamar Amaira telah gelap tanpa cahaya. Mungkinkah gadis itu telah tidur? Ia menelepon kembali Amaira, tetapi nomor teleponnya malah tidak aktif.
Aldrin dilanda kebingungan. Ingin berteriak tapi takut mengganggu orang-orang di dalam rumahnya. Aldrin mengembuskan napas kasar karena kesal. Ia menunduk dan melihat sebuah batu kecil. Sejenak ia tersenyum dan mengambil sebuah batu itu, kemudian melemparnya ke kaca jendela kamar Amaira. Ia menunggu beberapa saat, berharap Amaira akan menengok ke jendela seperti yang biasa gadis itu lakukan. Namun, beberapa menit berlalu. Kamar itu tetap gelap dan tak ada seseorang yang mengintip di balik gorden.
Aldrin kembali melempar batu kecil ke arah kaca jendela kamar Amaira. Ia duduk berjongkok sambil menunggu Amaira. Namun, lagi-lagi tak ada respon apa pun. Cowok itu mulai kesal, dan kali ini ia mengambil batu yang lebih besar. Saat hendak melempar, tiba-tiba lampu kamar Amaira menyala. Gadis itu membuka sedikit jendela kamarnya. Aldrin tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Sementara Amaira menatapnya dengan tatapan berbeda seperti biasanya.
Aldrin dan Amaira duduk di taman kompleks perumahan yang merupakan tempat favorit mereka berdua.
"Maaf kalau aku mengganggumu tidur," ucap Aldrin mengawali pembicaraan. Ia menatap Amaira yang tak bersuara dan tanpa ekspresi.
"Kamu marah, ya? Aku ... cuma bantu Maria kabur dari para wartawan. Dia sering membantuku masuk ke dunia musik. Jadi, enggak ada salahnya aku membantunya, 'kan?" Aldrin berusaha menjelaskan pada Amaira.
Gadis itu tertunduk. "Enggak masalah. Aku percaya dirimu."
Ucapan Amaira begitu pelan. Lagi-lagi gadis itu memaafkan dan mengatakan percaya padanya. Aldrin menatap langit gelap lalu menghela napas kasarnya. Ia menghampiri Amaira yang duduk di kursi taman, kemudian mengambil posisi jongkok di hadapan kekasihnya.
"Kalau kamu marah sama aku, katakan saja!" ucap Aldrin menatap bola mata Amaira sambil memegang kedua tangannya.
"Aku ... selalu percaya sama kamu," ucap Amaira kembali sambil menatap dalam bola mata.
"Jangan bilang kayak gitu. Jangan menaruh kepercayaan penuh padaku. Aku takut ... aku, aku tidak bisa memenuhinya dan—"
Aldrin terdiam. Bola matanya langsung berpindah arah tatapan. "Bukan itu maksudku, aku merasa kamu selalu maafin kesalahanku tapi aku terus-terusan membuatmu kecewa. Kalau kau mau marah, marah aja! Ungkapin semua isi hatimu. Dengan begitu, aku menjadi tahu apa yang kamu suka dan enggakk suka dari sifatku. Jangan terlalu menerima aku apa adanya."
Aldrin memang bukan tipe cowok yang pengertian. Sebab, sebelum pacaran dengan Amaira ia hanya memacari gadis karena kesenangan sesaat. Itulah mengapa ia tak pernah peka jika berurusan dengan wanita. Sebaliknya Amaira adalah gadis pendiam yang tak pernah berani mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya. Ia lebih memilih menyimpan apa yang ia rasakan meskipun itu menyakitinya. Mereka memang bebar-benar pasangan langit dan bumi.
"Aku hanya tidak suka ... kamu pergi ninggalin aku sendiri," ucap gadis itu lirih.
Aldrin mengangguk, ia makin mempererat genggaman tangannya di kedua tangan Amaira.
"Ya, aku berjanji apa pun yang terjadi, aku enggak akan ninggalin kamu. Tidak akan!" ucap Aldrin tegas dengan tatapan serius.
Amaira melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Aldrin berdiri menarik Amaira ke dalam pelukannya.
"Aku sayang sama kamu," ucap Aldrin sambil mengusap lembut rambut Amaira.
"Aku juga."
Kedua tangan Amaira perlahan melingkar di pinggang Aldrin. Mereka saling berpelukan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, di kantor manajemen artis, Maria berbicara pada manajernya masalah kontrak brand ambassador yang diputuskan Adam grup secara sepihak.
"Mereka sangat keterlaluan! Ini sama saja dengan memalukan dirimu. Bahkan mereka menarik sponsor untuk sinetron-sinetron yang kamu bintangi! Perwakilan mereka berbicara di media, alasan mereka memutuskan kontrak denganmu karena kamu bukan artis yang bisa menjaga nama baik dan sering mabuk-mabukkan!" ucap manager Maria begitu panjang lebar dengan suara yang meledak.
Maria hanya terdiam. Pikirannya melayang. Ia tak menyangka Zaki akan berbuat seperti ini padanya. Seolah tak puas memalukannya di acara live semalam, hari ini bahkan perwakilan Adam grup mengklarifikasi di media penyebab mereka tiba-tiba memutuskan kontrak kerja sama. Alasan itu tentu menyudutkan dirinya.
"Maria, apa kamu mendengarku?" tanya sang manajer yang melihat Maria melamun.
Maria mengangguk cepat, tapi tetap tak bersuara. Ia kembali menatap televisi yang menampilkan berita tentang kandasnya hubungannya dan Zaki. Tentu saja berita tersebut dikaitkan dengan acara semalam. Bahkan, Ardhilla ikut diwawancarai untuk memberi tanggapan tentang putusnya Maria dan anak sambungnya. Di wawancara itu Ardhilla mengatakan jika dia setuju anaknya mengakhiri hubungan dengan pesinetron itu, karena Zaki masih bisa mendapatkan yang lebih baik.
"Kita tuntut saja mereka. Kita bisa bawa ini ke arah hukum, aku akan menyewakan pengacara hebat. Hotman Paris, OC. Kaligis, Sunan Kalijaga, atau Farhat Abbas, kamu tinggal memilih salah satunya. Aku akan segera menghubungi pengacara pilihanmu untuk menuntut perusahaan mereka," saran manejer pada Maria.
"Tidak. Aku tidak mau menuntut apa pun dari perusahaan itu. Tidak usah dibahas lagi. Serahkan saja semuanya padaku, aku akan bicara langsung pada Zaki," tegas Maria sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga.
"Kau akan meminta bantuan pada Zaki? Kau dan dia saja sudah putus!" Manager tak mengerti dengan jalan pikiran Maria.
Maria tak menghiraukan ucapan Manajer. Ia malah berdiri mengambil tasnya sebelum memutuskan beranjak pergi. Ia masuk ke mobilnya, mengendarai kendaraannya menuju kantor Perusahaan Adam Grup.
Setibanya di perusahaan, Maria melangkah menuju ruangan Zaki. Ia mengatakan pada sekertaris bahwa ingin bertemu pria itu. Sekertaris itu lalu menelepon Zaki memberitahukan jika Maria ingin menemuinya. Sekertaris muda nan cantik itu lalu mempersilakan Maria masuk ke ruangan Zaki.
Di dalam ruangan, Zaki tengah duduk santai sambil bersedekap, sedang Maria berdiri di hadapannya melempar tatapan tajam.
.