
Ardhilla pulang ke rumah dan menanyakan tentang suaminya ke kepala pelayan mereka. Kepala pelayan menjawab jika Tuan Adam sedang pergi berziarah ke kuburan bersama Naufal. Sedang Zaki masuk Rumah Sakit karena pingsan di kantor siang tadi.
"Hah ... sudah selama itu dia masih saja selalu menjenguk makam istrinya." Ardhilla bergumam kesal.
Ardhilla masuk ke kamarnya. Terdengar bunyi dering ponsel dari dalam tasnya. Ia segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan telepon.
"Halo."
"Ibu, apa ibu belum dengar aku masuk Rumah Sakit?" tanya Zaki dari balik saluran telepon.
"Ah ... benarkah? Apa yang terjadi denganmu? Ibu, kan, sudah bilang jangan mengingat wanita itu lagi!"
"Aku cuma kelelahan. Tapi, aku dan dia sudah balikan, Bu."
Ardhilla tampak terkejut. "Oh, ya? Baguslah! Kalau begitu kamu istirahat saja. Cepat sembuh, ya?"
"Ibu enggak datang ke sini?" tanya Zaki cepat karena takut Ardhilla duluan menutup telepon.
"Ibu masih banyak urusan. Tapi, kalau sempat Ibu pasti akan datang," ucap Ardhilla lembut, walaupun sebenarnya wajahnya menampakkan raut kesal.
Zaki terdiam sesaat. "Aku mengerti."
Zaki mengakhiri teleponnya. Raut wajahnya tampak kecewa. Ini pertama kalinya Ardhilla tak terlihat khawatir padanya. Namun, ia mencoba berpikir positif, mungkin saja ibunya sedang banyak kerjaan.
Ardhilla meletakkan ponselnya di atas meja rias. Ia menatap bayangan wajahnya di cermin. Wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu mengingat kembali kedekatannya dengan Jefri selama hampir satu bulan terakhir. Ia teringat ucapan Jefri terakhir kali saat mereka berbicara empat mata.
"Dulu aku mencintainya. Dan ... sekarang masih mencintainya. Hanya saja bedanya dulu aku tidak punya apa-apa jadi tak pantas untuk mencintainya. Sekarang pun lebih tidak pantas, karena dia telah menikah."
Suara Jefri terus terngiang di otaknya. Seperti membius akal pikirannya. Ia tersadar dan mulai membuka anting-anting di telinganya, lalu menghapus makeup di wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari, Aldrin dan Amaira berkencan di pusat kuliner malam kota Jakarta. Terakhir kali mereka ke tempat ini bersama Naufal. Keduanya mencoba beberapa jajanan yang tersedia di sana. Sepasang kekasih itu berjalan sambil berpegangan tangan.
Namun, tiba-tiba sesosok gadis menghampiri Amaira dan langsung mendorongnya dengan kasar hingga gadis itu jatuh terduduk. Ternyata gadis yang menolak Amaira adalah Er. Tentu saja Amaira tersentak mendapat serangan dari gadis tomboi yang tak ia kenali. Aldrin pun juga tak kalah terkejut.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Aldrin dengan mata melotot.
"Dasar gadis enggak tahu malu! Apa kurangnya Naufal sampai lo selingkuhin dia sama cowok lain?"
Amaira yang telah berdiri hanya dapat mengerutkan dahinya. "Naufal? Maksud kamu apa?" tanyanya pelan.
Masih dengan emosi yang meledak Er kembali berkata, "Lo udah jadian sama Naufal tapi lo malah jalan sama cowok lain. Lo tahu 'kan kalau Naufal sayang banget sama lo, tergila-gila sama lo, tapi kenapa lo malah khianati dia? Kalau lo mainin hatinya gue enggak segan rebut dia dari lo!" ucapnya kembali sambil menunjuk-nunjuk Amaira.
"Tunggu! Ada apa, sih? Aku enggak ngerti" ucap Aldrin sambil menatap lekat gadis tomboi itu. "Kamu ... bukannya gadis yang kami tolong di markas geng motor waktu itu kan? Naufal tuh saudaraku. Dan Amaira adalah pacarku. Kenapa kamu menyerang pacarku?" tanya Aldrin dengan kepala dingin.
Er ikut menatap Aldrin dengan saksama dan ia baru menyadari jika Aldrin adalah orang yang membantu mereka waktu itu. Namun, di pikirannya saat ini timbul pertanyaan, kenapa Aldrin mengatakan Amaira adalah pacarnya? Bukankah gadis cantik ini telah jadian dengan Naufal. Er terdiam. Ia tak bisa berpikir lebih.
"Kurasa kamu salah paham. Kamu kasir toko buku waktu itu, kan? Aku dan Naufal enggak pacaran. Kami berteman baik. Yang benar itu, aku pacaran sama saudaranya, nih dia!" kata Amaira sambil menggandeng tangan Aldrin, menunjukkan jika cowok itulah pacarnya yang sebenarnya.
Erlin terdiam. Ia terlihat sangat malu. Apakah ini artinya ia salah paham? Ataukah Naufal yang telah membohonginya.
Er langsung berbalik dan bergegas pergi jauh dari mereka. Amaira menatap kepergiannya. Sementara Aldrin masih terlihat kesal.
"Dasar orang aneh! Sembarangan saja menuduh orang," umpat Aldrin.
"Kayaknya dia suka Naufal," kata Amaira.
"Ya, sepertinya dia punya hubungan spesial sama Naufal. Tapi, aku enggak suka cara dia nyerang kamu."
Amaira tak memedulikan keluhan Aldrin. Pikirannya malah terbang seraya mengingat kembali ucapan Er. Apa maksud gadis itu mengatakan jika Naufal sangat menyayanginya? Apakah mungkin sampai detik ini Naufal masih memiliki rasa padanya? Entahlah ... sejak ia memilih berpacaran dengan Aldrin, Naufal tak lagi menunjukkan perasaanya pada gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang dari kencan malamnya dengan Amaira, Aldrin masuk ke kamarnya. Ia mengambil sebuah biola pemberian seseorang yang belum diketahuinya dari kotak antik. Biola itu sungguh cantik dan terlihat berbeda dari biola umumnya.
Aldrin berjalan menuju balkon kamarnya. Ia Memosisikan biola di pundak kirinya dan mulai menggesek senar-senarnya, memperdengarkan alunan lagu yang berirama, begitu indah. Hingga alunan nada merdu itu menyeberang ke kamar sebelah menyusup dari celah ventilasi kamar, membangunkan Naufal yang telah tertidur. Suara alunan biola itu tak hanya membangunkannya, tetapi juga seakan membawanya keluar menuju balkon.
Naufal selalu saja menyukai permainan musik biola Aldrin. Ia adalah pendengar setia sang vionilis muda ini. Kepiawaian Aldrin memainkan biola tak diragukan lagi. Ia bak pemain profesional. Lagu Back in Time menjadi pengiring malam yang begitu gelap.
Aldrin menyudahi permainan biolanya. Tepukan tangan dari Naufal mengejutkan dirinya. Ia menoleh ke samping balkon dan melihat Naufal berdiri tersenyum sambil terus menepuk tangannya.
"Waw, kamu baru beli biola?" tanya Naufal melihat biola yang berbeda dari milik Aldrin.
Aldrin menggelengkan kepalanya, "Biola ini dikirim seseorang. Tapi aku enggak tahu siapa pengirimnya."
"Ah, masa, sih? Coba kulihat!" Naufal mengambil biola itu dari tangan Aldrin. "Ini ... seperti biola antik. Ya ... ini benar-benar biola antik yang dilelang. Aku pernah baca artikelnya." Naufal terkejut saat memeriksa biola itu.
"Iya aku tahu. Tapi ... kira-kira siapa ya orang yang ngasih ini cuma-cuma sama aku?"
"Penggemar rahasia kali. Cie ... yang dah punya fans!"
Aldrin menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Tadinya aku pikir, biola ini menjadi pertanda kembalinya ayahku. Entah kenapa firasatku mengatakan, barang ini pemberiannya. Tapi ... ayahku hanya orang biasa. Mana mungkin bisa memenangkan lelang biola ini."
Naufal terdiam. Ia memahami keyakinan Aldrin. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu. "Eh, kenapa kita enggak cari tahu saja siapa orang yang memenangkan lelang biola ini?"
Aldrin membulatkan matanya. "Kenapa aku enggak kepikiran ke situ, ya?"
Naufal tersenyum lalu memetik jarinya. "Kita bisa selidiki lewat internet."
.
.
.
Kata readers, author jahat. trus bkn hidup Aldrin sengsara, seneng dikit dibikin susah lagi.
Ini bukan film umum yang menceritakan anak badboy jatuh cinta sama cewe, trus tiba-tiba dia berubah jadi baek, sholeh, rajin menabung terus ending deh. Terlalu unreal kan? Ini novel yang bercerita tentang perjalanan hidup seorang aldrin. dari kehidupannya yang gelap menuju kehidupan yang terang. Setiap manusia penuh dengan ujian hidup mereka masing-masing. Orang yg hidupnya udah benar aja terus di uji Tuhan. Apalagi orang yg hidupnya dr awal dah bengkok. Ujiannya untuk hidup ke jalan yg lurus pasti byk rintangan dan godaan. 😊😊😊
oh, iya cerita ini sudah mengarah ke tahap penyelesaian konflik. jadi episode kedepannya konflik akan semakin memuncak untuk mendapatkan titik terang setiap masalah.