
Siska tampak serius menatap layar I-phone masih membaca artikel tentang Hussain Al-Fath.
"Ternyata dia punya anak angkat laki-laki. Anak angkatnya itu asal Indonesia. Seorang mantan TKI yang dulunya bekerja sebagai penjaga anaknya yang telah meninggal," ucap Siska setelah membaca artikel itu.
"Ya, kudengar bisnis yang akan dia kembangkan di Indonesia akan dikelola oleh anak angkatnya itu. Usianya saat ini sudah empat puluh empat tahun tapi dia masih lajang," sambung manajer.
"Menarik! Tadinya aku berpikir mungkin hidupku akan cepat menua kalau terus berurusan dengan tua bangka. Ternyata yang mengelola usahanya di Indonesia orang indonesia juga." Ardhilla tersenyum dan tampak bersemangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekolah telah memasuki akhir semester yang mana tidak lama lagi siswa kelas 1 dan 2 akan mempersiapkan diri ujian penaikan kelas, sementara siswa kelas 3 sebentar lagi akan lulus.
Naufal menghampiri Amaira yang sedang duduk sendiri di bangkunya.
"Mana Aldrin?"
"Mungkin lagi di atap gedung."
"Entar malam kalian mau ke pestanya kak Maria, enggak?"
"Enggak tahu. Sampai sekarang Aldrin enggak bilang apa-apa."
"Nanti aku yang maksa."
"Jangan! Aku juga enggak mau ke sana. Malu, enggak punya gaun pesta. Soalnya aku enggak pernah ke pesta sebelumnya."
"Oh, begitu."
Naufal bergegas menemui Aldrin di atap gedung sekolah. Terlihat Aldrin sedang berjongkok sambil menyalakan sebatang rokok. Pandangan mata Aldrin beralih saat Naufal mendekatinya.
"Kukira kamu udah berhenti merokok begitu pacaran sama Amaira!" ucap Naufal memosisikan duduk di sampingnya.
"Sekalipun Amaira larang aku merokok sama minum, aku tetap enggak berhenti. Gak ada yang bisa larang kebebasanku." Aldrin mengisap batang rokok dalam-dalam dan mulai membentuk kepulan asap.
Napas Naufal mengembus seiring kepalanya bergeleng-geleng mendengar jawaban Aldrin.
"Eh, nanti malam kamu mau ke pesta, enggak?"
"Enggak tahu. Males!"
"Ingat, kak Maria sudah undang kita. Ayo pergi, ajak Amaira juga. Mungkin dia bakal senang."
Aldrin menoleh. "Oke, aku dan Amaira bakal datang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel pulang telah berbunyi, Aldrin dan Amaira berpegangan tangan menuju tempat parkir. Telah banyak yang mengetahui jika mereka pacaran. Meski tak pernah memperlihatkan kemesraan di tempat umum, keduanya sering membuat pasangan lainnya iri.
Bukan hanya siswa saja, bahkan guru-guru pun telah mengetahui kedua siswa yang beda karakter itu berpacaran. Guru-guru tak habis pikir, lelaki yang tak pernah serius belajar dan selalu keluar masuk ruang BK itu bisa berpacaran dengan Amaira, gadis yang cerdas dan pendiam. Ya, mereka berdua adalah pasangan ibarat langit dan bumi.
Kadang-kadang, beberapa guru akan memperingati Amaira agar tidak terlalu dekat dengan Aldrin. Bahkan, ada guru yang menyarankan agar ia putus dengan Aldrin. Bukan apa, itu karena mereka takut Aldrin akan membawanya ke hal-hal negatif.
Bagi wali kelas sendiri, ia hanya berharap kehadiran Amaira membawa dampak positif untuk Aldrin. Setidaknya, saat ini Aldrin tidak pernah lagi bolos belajar, walaupun kadang-kadang masih tertidur di kelas seperti yang sering ia lakukan.
Aldrin memasangkan helm ke kepala Amaira, lalu berkata, "Kita ke mall, yuk! Cari gaun pesta buat malam nanti. Kita bakal datang ke pesta Maria."
Amaira hanya diam. Meski dalam hatinya menolak datang ke acara itu.
Aldrin dan Amaira telah sampai di Mall. Keduanya berjalan santai dengan tangan yang saling menggenggam. Mereka menuju gerai-gerai sepi yang menjual barang-barang mewah dan branded.
Di Mall yang sama, Naufal masuk ke sebuah gerai toko yang menjual fashion branded milik wanita. Produk-produknya dipajang dengan sentuhan artistik dan memiliki pramuniaga yang mengenakan jas dan dasi. Seorang pramuniaga berseragam putih mendekatinya. Pramuniaga tersebut tahu benar jika ia pasti bukan remaja biasa, itu terlihat dari seragam yang ia pakai.
"Ada yang bisa kami bantu?" Pramuniaga menawarkan bantuannya pada Naufal.
"Aku mencari sebuah gaun pesta untuk teman perempuanku. Dia seumuran denganku," jawab Naufal sambil melihat sekeliling.
Ia bingung hendak memilih yang mana karena tak tahu selera fashion perempuan. Jangan pun fashion perempuan, fashion lelaki pun ia tak ikut perkembangannya.
"Dia cantik. Badannya lumayan tinggi dan langsing. Dia sangat lembut dan juga feminim." Naufal membayangkan wajah Amaira saat mendeskripsikan gadis yang ditanyai pramuniaga.
"Baiklah, tunggu sebentar! Akan saya cari gaun yang cocok."
Naufal mematung di toko itu. Sebenarnya ia malu berada di tempat ini. Selain karena tidak pernah datang ke sini, ia juga takut jika ada orang yang mengenalnya dan melihatnya belanja di sini.
Tak lama kemudian, pramuniaga tadi datang membawa sebuah gaun cantik berwarna putih.
"Menurutku ini sangat cocok dengan karakter yang Anda sebutkan. Gaun ini limited edition. Hanya ada dua saja di gerai kami," ucap pramuniaga sambil menunjukkan gaun tersebut.
Naufal mengangguk pelan, lalu berkata, "Aku mau."
"Kalau begitu silahkan menuju kasir."
Pramuniaga menuntunnya ke kasir. Naufal membayar gaun mewah itu menggunakan kartu kredit. Pramuniaga segera membungkusnya di sebuah kotak cantik sebelum mengisinya dalam tas belanja yang tertulis nama toko mereka. Naufal mengambil barang belanjaannya disertai ucapan terima kasih dari pramuniaga pria.
Tepat saat Naufal berbalik, ia melihat Aldrin dan Amaira memasuki gerai toko itu. Seketika, wajah Naufal menggelap. Dengan segera, ia menyembunyikan belanjaannya tadi di belakang badannya.
"Naufal!" tegur Amaira saat matanya menangkap Naufal.
Aldrin dan Amaira terkejut melihat Naufal yang masih berdiri di depan meja kasir.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Aldrin.
"A-aku ... aku ... membeli jas untuk kupakai ke pesta nanti malam," jawab Naufal dengan suara sedikit gugup
"Beli jas di toko fashion wanita?" Aldrin melihat sekeliling toko. Ya, hanya ada gaun wanita di toko itu.
Naufal semakin gugup. Bagaimana bisa ia menjawab jika sedang membeli jas di toko yang menjual gaun.
"Aku ... aku juga membeli kado untuk kak Maria," jawabnya cepat.
"Oh ... kebetulan aku juga mau beli gaun untuk Amaira. Kayaknya toko ini menyediakan gaun-gaun terbaik."
Naufal mengangguk tipis lalu berpamitan kepada mereka dan langsung pergi. Cowok berkaca mata itu terburu-buru meninggalkan toko. Setelah cukup jauh berjalan meninggalkan Aldrin dan Amaira, Naufal berhenti melangkah. Ia menatap kembali tas belanjaannya. Wajahnya mengekspresikan kekecewaan. Bagaimana tidak, gaun itu akan ia berikan pada Amaira berharap akan dipakai malam nanti. Namun, melihat Aldrin datang ke situ untuk membeli gaun juga, membuatnya merasa gaun yang akan ia berikan tak ada artinya.
Aldrin memilih beberapa gaun lalu meminta Amaira untuk memakainya. Ia mempunyai selera fashion yang tinggi karena ia lama tinggal di Los Angeles, yang mana kota tersebut terkenal akan pusat fashion Amerika. Selain itu, ia juga pernah dekat dengan beberapa wanita dewasa sehingga sangat mengetahui selera fashion wanita.
Amaira mengambil empat lembar gaun hasil pilihan Aldrin. Ia langsung berjalan menuju fitting room untuk mencoba gaun-gaun tersebut. Aldrin duduk di tempat duduk yang di sediakan tepat di depan kamar ganti sembari menunggu kekasihnya mencoba gaun.
Seorang balita laki-laki berusia sekitar dua tahun lebih mendekatinya dan memegang tangannya. Aldrin tampak tak acuh, ini karena ia sama sekali tak tertarik dengan anak kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah jet pribadi mewah jenis Boeing 767- 33A dengan penerbangan dari Dubai ke Jakarta mendarat sempurna di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Beberapa saat kemudian, sang pemilik jet tersebut keluar diikuti segerombolan Bodyguard yang menjaganya berjalan memasuki bandara. Ia memakai surban lengkap dengan ring hitam yang melingkar di kepalanya. Tak lupa pula kacamata hitam melekat di matanya.
Wajah pria itu terlihat bersih walaupun ada bekas janggut yang baru tercukur di dagunya. Badannya tidak setinggi pria-pria timur tengah, hidungnya juga tak semancung orang Arab pada umumnya. Senyumnya begitu manis dan hangat. Ia lebih terlihat seperti orang indonesia asli.
"Ahlan wa sahlan." Seseorang datang menyambutnya sambil menjabat tangannya.
"Ahlan bika," jawabnya tersenyum ramah sambil mengusap punggung lelaki yang ada di hadapannya lalu berbisik, "Aku orang Indonesia asli jadi Anda tidak perlu menggunakan bahasa Arab."
"Jefri!"
"Jefri!"
Seorang wanita memanggil-manggil nama tersebut.
.
.
.
.