
Naufal menghidupkan laptopnya dan mulai mencari informasi di aplikasi mesin pencarian tentang siapa sosok yang memenangkan lelang biola tersebut. Tampak dalam sebuah artikel yang mereka baca biola yang diberi nama Lady Blunt Stradivarius itu, laku terjual 9,8 juta poundsterling.
"Waw ... harga biola ini sangat fantastis!" seru Naufal sambil terus membaca Artikel.
"Coba cari tahu siapa orang yang memenangkannya!" Tampaknya Aldrin sudah tak sabaran ingin mengetahui sosok yang memberikan biola itu padanya.
"Di artikel ini tidak ada."
"Kalau begitu baca di artikel lain!"
Naufal membuka satu persatu artikel yang membahas tentang pelelangan biola radivarius itu. "Biola itu dimenangkan oleh Tuan Yussef Alfath, seorang pebisnis asal Dubai yang merupakan anak dari konglomerat Hussein Alfath. Dia merupakan seseorang yang sangat mencintai musik biola." Naufal membaca isi artikel itu dengan perlahan.
"Tunggu, nama Yussef Alfath kok kayak enggak asing, ya?" Aldrin berpikir keras. Dia lalu mengingat sesuatu. "Ah ... aku tahu! Tuan Yussef Alfath adalah orang yang ngajak aku Dinner waktu itu. Tapi, aku enggak datang, sih."
Aldrin menyesal begitu mengingat kejadian itu bertepatan saat ia mengetahui jika Jefri bukanlah ayah kandungnya. Karena fakta itu, ia menghabiskan satu malam di rumah masa kecilnya dan lupa dengan ajakan dinner Tuan Yussef.
"Oh, iya, aku juga sempat baca kartu namanya waktu itu. Menurut artikel ini, dia pecinta musik biola. Tapi ... ada cukup banyak violinis ternama di Indonesia. Kenapa dia malah kamu, ya?"
Aldrin tertegun seketika. Ia juga sependapat dengan Naufal. "Oh, aku ingat! Soalnya waktu itu, kan, videoku yang lagi main biola di kota Tua sempat viral."
"Ya ... ya ... masuk akal. Sekarang, mana kartu namanya? Kamu bisa hubungi dia kalau emang niat cari tahu lebih tentang dia."
Aldrin tersadar seketika. Ia langsung berlari keluar dari kamar Naufal menuju kamarnya. Ia membuka tas sekolah, lalu mengobok-obok isi dalamnya. Namun, tak berhasil menemukan kartu nama tersebut. Ia membuka dompetnya dan mencari kartu tersebut di sela-sela deretan kartu yang ia miliki. Tidak ada. Ia membuka laci dan mengobrak-abrik isi dalam laci tersebut. Juga tidak ada!
Aldrin duduk di tepi ranjang, matanya kembali tertuju pada biola misterius itu.
"Yussef Alfath ... Yussef Alfath ...Yussef Alfath ...." Aldrin terus menerus mengucapkan nama itu seraya berpikir.
Tak lama kemudian, Naufal masuk secara tiba-tiba sambil membawa laptopnya. "Aku dapat informasi penting tentang Tuan Yussef. Ternyata dia orang asli Indonesia yang tadinya hanya TKI di Dubai."
Mata Aldrin terbelalak seketika. Napasnya menjadi berat. Ia langsung merebut laptop itu dari tangan Naufal dan membaca isi artikel tersebut seolah masih belum percaya dengan apa yang Naufal katakan barusan. Mata yang bulat besar itu makin membesar saat informasi yang ia baca mengatakan beberapa fakta tentang Yussef Alfath.
"Mana fotonya? Aku mau lihat fotonya!" ucap Aldrin dengan suara bergetar sambil terus mengarahkan kursor laptop.
"Tidak ada! Sepertinya dia memang sosok yang rendah hati dan tidak ingin terekspos media. Dia bahkan bakal bangun sebuah yayasan untuk anak-anak jalanan di Jakarta," terang Naufal kembali.
Aldrin menoleh ke arah Naufal. Dadanya makin terasa berat hingga terasa sulit bernapas. Ia memejamkan matanya, lalu membukanya dengan perlahan.
"Aku harus menemui orang itu!"
Aldrin kembali mencari kartu nama Yussef. Ia mengobrak-abrik isi kamarnya, tapi tetap tak menemukan benda yang ia cari. Aldrin mulai kelelahan. Ia membanting tubuhnya di atas ranjang.
Ayah ... apa itu kau? Jika memang benar, seharusnya kehidupanmu lebih baik dari yang dulu, 'kan? Seharusnya ... tidak lama lagi kita bertemu, 'kan?
Masih tak menyerah, Aldrin mengambil laptop yang ditinggal Naufal di atas tempat tidurnya. Ia kembali membuka aplikasi internet dan mencari tahu segala hal yang berhubungan dengan Tuan Yussef.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, tepatnya setelah pulang sekolah. Aldrin memasuki Hotel mewah berbintang 5. Ia menuju ke meja resepsionis.
"Apa Anda sudah memiliki janji dengan Tuan Yussef?"
"Belum."
"Kalau begitu Anda tidak bisa menemuinya. Anda harus membuat janji terlebih dahulu."
"Apa kau bisa memberiku kontak atau nomor hp Tuan Yussef?"
"Maaf, kami menjaga privasi tamu kami. Tuan Yussef adalah tamu eksklusif di hotel ini. Jadi kami harus membuat ia senyaman mungkin di hotel ini."
Aldrin mengangguk perlahan. Ia lalu membalikkan badannya berjalan menuju pintu keluar hotel. Sebelum benar-benar pergi, Aldrin menoleh kembali ke dalam hotel.
Tuan Yussef, apa Anda ada hubungan dengan Ayahku? Apa Anda mengenal Ayahku? Apakah ada informasi yang bisa kuterima darimu tentang ayahku?
Waktu terus bergulir bagai air yang mengalir, hingga tak terasa satu bulan telah berlalu. Di ruang dapur, para pelayan tengah bergosip tentang Nyonya mereka yang tidak pernah pulang ke rumah.
"Ini pertama kalinya Nyonya tidak pulang-pulang selama satu bulan, padahal Nyonya tidak sedang di luar kota," ucap salah satu pelayan.
"Iya, meskipun sibuk, Nyonya selalu menyempatkan pulang ke rumah. Kayaknya Tuan juga enggak peduli, deh." lanjut pelayan lainnya.
Tiba-tiba kepala pelayan datang dengan wajah yang begitu panik. "Aku datang membawa kabar penting! Sangat penting! Ini heboh!"
"Kabar apa?" tanya para pelayan penasaran.
"Apa kalian sudah menonton infotainment hari ini?" Kepala pelayan masih menunjukkan wajah tak biasa.
"Belum," jawab pelayan serempak.
Kepala pelayan meminta seluruh pelayan untuk mendekat. "Nyonya kita ... nyonya Ardhilla!"
"Iya, ada apa dengan Nyonya?" tanya para pelayan tak sabar akan info yang akan mereka terima.
"Nyonya kita menggugat cerai Tuan Adam!"
"Apa?! Serius?
"Ya, aku serius. Kuasa hukum Nyonya telah berbicara di media."
.
.
.
.