
Naufal berlari kencang lalu berhenti di tengah lapangan. Badannya membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut. Napasnya tampak terengah-engah dengan peluh yang mengucur deras di wajahnya.
Saat masih kecil, aku menganggap cinta itu sederhana.Ternyata ia lebih rumit dari memecahkan soal fisika.
Pada usia tujuh belas tahun, untuk pertama kalinya Naufal merasakan jatuh cinta sekaligus patah hati. Ia tidak pernah serapuh ini, dan juga tak pernah mengalami masalah serumit ini.
Naufal berusaha menegakkan tubuhnya yang lelah, lalu mencoba menarik napas panjang dan mengembuskan ke udara.
Amaira memalingkan tubuhnya setelah melihat kepergian Naufal yang membawa sejuta dilema bagi dirinya. Wajahnya berubah sendu dengan mata yang sayu. Ketika ia meluruskan pandangan, iris matanya menangkap Aldrin yang berdiri tak jauh darinya.
"Naufal itu ... saudaraku," ungkap Aldrin lemah.
Amaira terperanjat. Sungguh, ia tidak mengetahui kalau Aldrin dan Naufal bersaudara, karena tak satu pun dari mereka yang mengatakan hal itu. Meskipun teman-teman sekelas mengetahui Aldrin dan Naufal bersaudara, tetapi Amaira tidak pernah bergaul atau bercerita dengan siapapun di kelas selain Naufal.
"Dia saudara tiriku, kami serumah. Ibuku menikah dengan ayahnya, dan kami ... menyukai gadis yang sama, yaitu ... kamu!" ucapnya kembali dengan nada tersendat-sendat dan wajah penuh tak berdaya.
Amaira membeku. Gadis itu bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud ucapan Aldrin. Kalimat yang baru saja Aldrin ucapkan cukup membuatnya paham apa yang terjadi.
"Maafkan aku ...." Amaira menundukkan kepalanya. "Maaf, telah menyulitkan dirimu," ucap Amaira kembali. Setidaknya ia telah mengerti apa yang membuat Aldrin berubah dan menjauh darinya.
Amaira berbalik membelakangi Aldrin. Hendak pergi dari cowok itu. Dia tidak mau menjadi tembok dalam persaudaraan mereka.
"Jangan pergi, Amaira. Aku sayang banget sama kamu."
Amaira terpaku. Sungguh, ia tidak pernah membayangkan akan dicintai oleh dua orang yang berbeda kepribadian itu. Ia terus salah paham terhadap perubahan Aldrin. Pikirnya, lelaki itu hanya menganggapnya mainan. Kemudian, ia datang pada Naufal untuk menceritakan seluruh isi hatinya tanpa menyadari cowok berkacamata itu diam-diam menyimpan rasa padanya.
"Aldrin, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ...." Amaira memejamkan matanya, kembali berucap, "aku juga sayang banget sama kamu, tapi aku tidak mau menyakiti Naufal."
Setelah mengatakan itu, Amaira berjalan perlahan meninggalkan Aldrin.
Bel panjang menandakan pulang telah berbunyi, semua siswa keluar kelas dengan membawa tas masing-masing. Naufal menuju tempat parkiran. Kedua bola matanya menangkap sosok gadis yang berdiri di samping mobilnya.
"Amaira," tegur Naufal sambil menghampirinya.
"Naufal ... terima kasih telah menyukaiku," ucap Amaira sambil tersenyum.
"Terima kasih selalu ada untukku.Terima kasih telah menjadi sahabatku. Aku tidak bisa memberimu harapan dengan mengatakan aku akan berusaha menyukaimu, Aku tidak akan mengatakan hal yang basi, seperti mengatakan kamu terlalu baik untukku. Tidak ... aku tidak akan mengatakan itu sama kamu. Aku hanya ingin bilang, kamu adalah sahabatku satu-satunya dan aku tidak mau kehilangan kamu dengan mengubah persahabatan kita menjadi cinta. Karena cinta itu bisa datang dan pergi semaunya, dan aku tidak mau ketika cintamu telah habis untukku kamu akan—"
"Amaira ...." Naufal memotong ucapan gadis itu.
"Hati tidak bisa memilih kepada siapa dia akan jatuh. Itu yang membuatku memaklumi perasaan Aldrin, dan juga perasaanku sendiri. Jangan khawatirkan tentang perasaanku, karena hatiku cukup keras kepala untuk mempertahankannya. Kamu mau anggap aku sebagai apa, aku tetap ada untukmu." Naufal melemparkan senyum pada Amaira. Senyum tulus seperti yang biasa lelaki itu kibarkan di wajahnya.
Sekali lagi, Naufal adalah air. Selama bertahun-tahun ia mengisi kekosongan hati Aldrin, lalu menjadi pengisi hari-hari Amaira yang dipenuhi kesedihan karena dicampakkan Aldrin. Sebagaimana air yang bisa mengisi ruang kosong dengan wujudnya melalui celah-celah yang ada.
Namun, ada kalanya air tidak bisa dibendung. Ia akan meratakan apa pun segala apa yang dilewatinya. Saat Naufal mengetahui gadis itu menyukai saudaranya sendiri, ia tidak pantang menyerah dan terus berusaha mendapatkan hati gadis itu meskipun dengan cara yang konyol.
Begitu pula saat ia mengetahui Aldrin mengkhianatinya, ia tak bisa menahan diri untuk marah dan meluapkan emosinya lewat pukulan yang ia layangkan ke saudaranya itu. Wajar, dia bukanlah malaikat yang selalu bersifat penolong dan tak punya emosi.
Ya, Naufal memang seperti air.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naufal mengendarai mobil menuju rumahnya. Lelaki itu melewati rute perjalanan yang tidak dari biasanya karena ingin mencari suasana yang baru. Sialnya, jalan yang ia lewati saat ini sedang terjadi tawuran antar anak SMA.
Naufal memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat tawuran. Terlihat beberapa kelompok pelajar yang saling serang. Mereka saling memukul dan beberapa dari mereka membawa kayu. Namun, yang menarik perhatiannya saat ini adalah sesosok gadis yang berada di antara kerumunan mereka.
Gadis itu memakai headband di kepalanya. Rambut panjangnya dikuncir. Auranya seperti seorang pemimpin di antara salah satu dari kelompok yang sedang bertarung. Dengan satu kali pukulan, ia melumpuhkan lawan yang ada di hadapannya.
.
.
.
.
.